

Malam itu, hujan turun dengan angkuh di atas Kota Jakarta, seolah ingin mencuci bersih harga diri Evan yang sudah tinggal seujung kuku. Di dalam ruang makan mewah kediaman keluarga Adijaya, denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangan batinnya.
Evan berdiri di pojok ruangan, tangannya memegang nampan berisi botol wine mahal. Di meja itu, duduk mertuanya, Wijaya Adijaya, dan istrinya, Sarah, bersama seorang tamu istimewa. Rendy, putra mahkota dari grup properti ternama yang juga mantan kekasih Sarah.
"Evan, kenapa diam saja? Tuangkan wine untuk Rendy. Dia tamu terhormat, bukan seperti kamu yang hanya bisa menghabiskan oksigen di rumah ini," suara Wijaya memecah keheningan dengan nada meremehkan.
Evan melangkah maju tanpa suara. Saat dia menuangkan wine, tangannya sedikit gemetar karena rasa lelah setelah seharian disuruh membersihkan seluruh gudang. Satu tetes wine tak sengaja jatuh mengenai jam tangan emas Rendy.
Prak!
Rendy menggebrak meja, berdiri dengan wajah merah padam. "Bodoh! Kau tahu berapa harga jam tangan ini? Kau bahkan tidak akan bisa membelinya meski kau menjual ginjalmu!"
Wijaya berdiri, matanya menatap Evan seolah sedang melihat kotoran di sepatu mahalnya. "Keterlaluan! Benar-benar beban tidak berguna. Evan, berlutut dan bersihkan jam tangan Rendy sekarang juga!"
Evan terpaku. Dia menatap Sarah, istrinya, berharap ada secercah pembelaan. Namun, Sarah hanya membuang muka, sibuk dengan ponselnya seolah keberadaan suaminya adalah sebuah aib yang tidak layak dipandang.
"Sarah ... tolong," bisik Evan lirih.
Sarah mendongak, matanya dingin. "Lakukan saja apa yang Papa bilang, Evan. Jangan membuat malu keluarga ini lebih jauh lagi. Aku sudah cukup sabar memiliki suami yang hanya tahu cara bernapas tanpa menghasilkan apa pun."
Di balik tatapan dingin itu, Evan teringat bagaimana tiga tahun lalu Sarah memohon padanya untuk menikahinya demi menghindari perjodohan, berjanji akan saling mendukung dalam suka dan duka. Namun kini, janji itu menguap bersama aroma parfum mahal Sarah yang menyesakkan dada.
"Dulu kau bilang aku adalah tempatmu pulang, Sarah. Apa semua itu hanya sandiwara agar kau punya pelayan gratisan?" suara Evan bergetar, menuntut secercah kemanusiaan yang mungkin masih tersisa.
Sarah tertawa kecil, nada yang biasanya terdengar merdu kini terdengar seperti parutan logam. "Dunia berubah, Evan. Cinta tidak bisa membeli tas branded atau membayar iuran arisan sosialitaku. Kau hanya masa lalu yang memalukan, dan jujur saja, melihatmu setiap hari di rumah ini membuatku ingin muntah."
Rendy menimpali dengan seringai kemenangan, "Dengar itu? Bahkan istrimu sendiri merasa jijik. Seharusnya kau bersyukur kami masih membiarkanmu makan sisa makanan kami selama ini."
Hati Evan hancur. Kalimat itu lebih tajam dari sembilu mana pun. Dengan lutut gemetar, dia perlahan merendahkan tubuhnya, berlutut di bawah kaki Rendy. Di bawah tawa mengejek Rendy dan tatapan jijik mertuanya, Evan mengelap jam tangan itu dengan ujung kemeja murahnya yang sudah kusam.
"Bagus. Seperti anjing yang penurut," ejek Rendy sambil sengaja menumpahkan sisa wine di gelasnya ke kepala Evan.
Cairan merah itu mengalir di wajah Evan, bercampur dengan air mata yang mati-matian dia tahan. Di detik itu, Evan menyadari satu hal bahwa di rumah ini, dia bukan manusia. Dia hanyalah bayangan yang tidak diinginkan.
"Cukup!" Wijaya berteriak. "Aku sudah muak. Sarah, berikan surat itu."
Sarah mengeluarkan sebuah map dari tasnya dan melemparkannya ke lantai, tepat di depan wajah Evan yang masih bersimbah wine.
"Surat cerai. Tanda tangani, lalu pergi dari sini. Malam ini juga. Kami tidak butuh beban tambahan di keluarga ini," ujar Wijaya dingin.
"Malam ini? Tapi di luar sedang badai, Pa ...."
"Jangan panggil aku Papa! Keluar sekarang, atau aku akan memanggil satpam untuk menyeretmu seperti sampah!"
Tanpa kata lagi, Evan meraih pulpen, menandatangani surat itu dengan tangan gemetar. Dia berdiri, menanggalkan celemek yang dikenakannya, dan berjalan menuju pintu tanpa membawa apa pun kecuali harga dirinya yang hancur.
Saat dia melangkah keluar ke bawah guyuran hujan badai, suara tawa dari dalam ruang makan masih terdengar samar. Evan berjalan tanpa arah, pakaiannya basah kuyup, kedinginan hingga ke tulang. Di tengah keputusasaan itu, dia melihat sebuah gang sempit.
Di sana, seorang kakek tua berpakaian compang-camping sedang dipojokkan oleh tiga preman berbadan besar.
"Berikan tasmu, Tua Bangka! Atau kau ingin mati di sini?" salah satu preman menghunuskan pisau.
Evan yang merasa hidupnya sudah tidak berharga lagi, tiba-tiba merasakan dorongan amarah. Bukan pada preman itu, tapi pada ketidakadilan dunia.
"Hentikan!" teriak Evan sambil berlari menerjang preman terdekat.
Bugh!
Satu pukulan mendarat di pipi Evan. Dia tersungkur, tapi dia bangkit lagi. Dia dipukuli, ditendang, hingga sudut bibirnya robek. Namun, dia terus memeluk kaki preman itu agar sang kakek bisa lari.
"Lari, Kek! Lari!" teriak Evan di tengah rasa sakit yang luar biasa.
Hingga akhirnya, para preman itu kabur karena mendengar suara sirine polisi di kejauhan. Evan terkapar di aspal basah, napasnya tersengal, pandangannya kabur oleh darah dan air hujan.
Si kakek tua mendekat, bukannya lari, dia justru berdiri tegak. Auranya mendadak berubah, tidak lagi terlihat seperti pengemis, melainkan seperti seseorang yang menguasai dunia.
"Anak muda," suara kakek itu berat dan berwibawa. "Di saat duniamu runtuh, kau justru memilih menyelamatkan orang lain. Hatimu ... terlalu murni untuk dunia yang kotor ini."
Si kakek menyentuh dahi Evan dengan jari telunjuknya yang bersinar redup keemasan.
"Aku telah mencari pewaris selama seribu tahun. Dan malam ini, pencarianku berakhir."
Tiba-tiba, sebuah suara mekanis yang dingin tapi megah bergema tepat di dalam kesadaran Evan.
[Sistem Pewaris Tak Terbatas Diaktifkan.]
[Pemilik: Evan Ardiansyah]
[Status: Menantu Tercampak (Level 0)]
[Memulai Pembersihan Tubuh dan Sinkronisasi Aset Global ... 1% ... 50% ... 100%]
[Selamat. Keberuntungan Dunia Kini Ada di Tangan Anda.]
Seketika, rasa sakit di tubuh Evan hilang. Luka-lukanya menutup dalam sekejap. Dia merasakan aliran energi hangat yang luar biasa mengalir di setiap sel tubuhnya. Dan di saat yang sama, ponsel di sakunya bergetar hebat.
Evan merogoh ponselnya dengan tangan gemetar. Sebuah pesan singkat muncul di layar yang retak.
[Bank Central Global: Saldo masuk sebesar Rp 10.000.000.000.000,00. Sisa saldo: Tak Terbatas.]
Evan terpaku. Dia mendongak, namun kakek tua itu sudah lenyap ditelan kegelapan malam. Hanya ada satu kalimat yang tersisa di udara.
"Ambillah apa yang seharusnya milikmu, Evan. Dan buat mereka berlutut."
Evan berdiri tegak. Hujan masih turun, tapi dia tidak lagi merasa kedinginan. Tatapan matanya yang semula layu kini setajam elang. Malam ini, menantu sampah itu telah mati. Dan seorang penguasa baru saja dilahirkan.