

Langit Avellion menggelap lebih awal, dipenuhi oleh gumpalan awan kelabu dan sinar artifisial dari menara-menara Kristal. Di trotoar yang basah oleh gerimis, Arven Gorat berjalan dengan punggung sedikit membungkuk, seperti membawa beban tak kasat mata yang telah menempanya sejak kecil. Bau ozone dari kendaraan anti-gravitasi tercampur dengan aroma basah dari gang-gang sempit di distrik Bronze. Dia menyeberangi jembatan penghubung yang memisahkan zona industri kumuh dengan kilauan cahaya Permata Universitas Royal Avellion. Di sini, di perbatasan, dua dunia bertabrakan.
Kampus itu adalah monumen kesenjangan. Rumputnya hijau sempurna, dirawat oleh robot berkasta Bronze seperti dirinya. Bangunan utamanya berlapis kaca fotokromik, memantulkan wajah-wajah mahasiswa Silver dan Gold yang percaya diri. Arven, dengan seragam biru pudar dan lengan yang sudah aus di siku, adalah kontras yang menyedihkan. Tas kulit sintetisnya menepuk pinggulnya dengan ritme yang akrab.
Lima menit sampai laboratorium teknik mesin, pikirnya, matanya mengawasi lingkungan. Hindari lorong utama. Lewat jalur servis. Instingnya selalu waspada. Di Avellion, seorang Bronze yang menonjol adalah undangan bagi masalah.
Tapi hari ini, nasib buruk itu lebih cepat.
“Gorat! Hei, sampah gak guna!”
Suara itu memotong udara lembap, berasal dari kelompok mahasiswa di dekat air mancur. Pemimpinnya, Kairon Vellard, bersandar di bangku marmer. Seragam putihnya tanpa noda, insignia Diamond di sakunya menyala lembut. Wajahnya tampan, tapi matanya datar dan dingin seperti koin.
Arven membeku. Darahnya berdesir dingin. Jangan balas. Cepat jalan. Dia mempercepat langkah, mencoba mengabaikan tawa yang mengikutinya.
“Rupanya telinga Si Sampah itu budek!” Kairon berdiri, diikuti dua rekannya. Langkah mereka berderap di ubin halus, mengejar. “Aku bicara padamu!”
Sebelum Arven mencapai pintu servis, sebuah tangan mencengkeram bahunya dengan kuat, memutarnya dengan kasar. Arven tersentak, berhadapan dengan senyum Kairon yang penuh kecongkakan.
“Lupa etiket dan status mu…? Kau harus menunduk saat berpapasan dengan seorang Diamond.” Nafas Kairon berbau mint mahal.
“Saya harus ke lab,” kata Arven, suaranya datar, berusaha keras menekan getar yang mulai menggerogoti nadanya. Jarinya menggenggam tali tas.
“Lab?” Kairon mengejek. “memperbaiki pipa yang bocor? Itu saja kemampuan kalian.” Teman-temannya tertawa. Beberapa mahasiswa Silver berhenti, menjadi penonton yang diam. Tidak ada yang hendak mencampuri urusan Diamond.
“Saya punya proyek simulasi,” Arven membisu, menatap dada Kairon daripada matanya. Itu adalah sikap submisif yang diharapkan.
“Oh, proyek?” Kairon berpura-pura tertarik. “Yang membuat nilai sintesis desainmu lebih tinggi dari milikku?” Suaranya tiba-tiba tajam. “Itu mustahil. Seorang Bronze mengalahkan Diamond? Hanya ada satu penjelasan: kamu curang.”
Panik mulai menjalar. “Tidak. Saya tidak curang. Saya berusaha”
“Berusaha?” hardik Kairon. “Kau pikir kerja keras itu relevan? Kau lahir dari kotoran, Gorat. Tempatmu di selokan, bukan di simulator canggih.” Dia meraih tas Arven.
Naluri Arven memuncak. Dia menarik tasnya kembali. “Jangan!”
Senyum Kairon pudar, digantikan kilat amarah di matanya. “Berani kau melawan?” Dia mengangguk pada salah satu anak buahnya, seorang pria kekar dengan rahang persegi. Orang itu mendorong Arven dengan keras hingga ia tersandung mundur, punggungnya membentur dinding beton. Tasnya direbut.
“Tolong, itu berisi semua dataku” Arven mencoba meraih, tetapi Kairon dengan mudah menghindar.
“Mari kita lihat ‘data’ si jenius Bronze sampah ini” Dengan gerakan dramatis, Kairon membalikkan tas. Isinya berhamburan ke genangan air kotor, buku catatan dengan sampul plastik usang, tabung nutrisi rasa tawar, pensil mekanik murah, dan selembar tablet rusak. Yang paling menyakitkan, beberapa cetakan sketsa desain mesin tercurah keluar.
“Lihatlah! Sampah untuk orang sampah!” Kairon menginjak selembar sketsa dengan sepatu bot kulitnya yang mahal. Karya Arven selama berminggu-minggu, dengan perhitungan presisi dan detail inovatif, sekarang sobek dan kotor.
Sesuatu di dalam Arven meledak. Sebuah teriakan tercekik keluar dari kerongkongannya. “Bastard!” Dia melompat ke depan, tinjunya terkepal, ditujukan ke rahang Kairon.
Itu adalah kesalahan fatal.
Kairon, terlatih dalam seni bela diri elit, menghindar dengan mudah. Gelang logam di pergelangannya berkedip biru, enhancer otot. Tinjunya yang cepat, menghantam perut Arven.
“Ugh!” Udara keluar dari paru-parunya dalam desisan. Rasa sakit yang membakar menyebar. Sebelum ia jatuh, pukulan kedua mendarat di rusuk kirinya. Suara retak yang tumpul terdengar, diikuti gelombang mual yang memabukkan.
Arven terjatuh, di atas karyanya yang hancur. Dunia berputar. Dia mendengar tawa, teriakan, tapi semuanya seperti dari bawah air. Tendangan mendarat di punggungnya, di pinggangnya. Setiap hentakan adalah ledakan putih di kesadarannya.
Tidak… pikirnya, putus asa. Tolong hentikan. Tapi tidak ada yang menghentikan. Penonton, para Silver malah menjauh, wajah-wajah mereka campuran jijik dan ketakutan. Seorang Bronze yang dipukuli adalah pemandangan biasa, melibatkan diri adalah tindakan bodoh.
Kairon membungkuk, menarik rambut Arven sehingga wajahnya yang bengkak terangkat. “Dengar baik-baik, gear rusak,” desisnya, nafasnya panas di telinga Arven. “Keluarlah dari universitas ini. Avellion tidak butuh Bronze ambisius sepertimu. Kalau kau masih terlihat besok, aku akan mematahkan lebih dari sekadar tulangmu.”
Dia melepas cengkeramannya, dan kepala Arven menghantam lantai dengan keras. Bintang-bintang menari di pandangannya.
“Sudah, Kairon. Dia sudah cukup babak belur,” kata seorang Diamond lainnya, suaranya agak tidak nyaman.
“Baiklah. Aku bosan.” Kairon mengusap sepatunya di rumput untuk membersihkan lumpur. “Bubar…bubar. Pertunjukan selesai.”
Langkah-langkah mereka menjauh. Kerumunan bubar. Arven tergeletak di sana, hujan gerimis mulai membasahi tubuhnya yang bergetar. Rasa sakit itu begitu besar, begitu mendalam, hingga menenggelamkan segalanya. Dia merasakan kehangatan darah di bibirnya. Rusuk kirinya berdenyut-denyut sakit setiap kali bernapas. Ini akhir, pikirnya dengan ketenangan yang mengerikan. Mereka akhirnya menghancurkanku.
Air mata panas bercampur dengan air hujan dan darah di pipinya. Bukan karena sakit fisik, tapi karena rasa tidak berdaya yang begitu mati total. Karena semua kerja keras, semua penghindaran, semua ketabahannya, ternyata sia-sia. Di dunia ini, garis lahirmu adalah segalanya. Dia hanyalah sebuah noda yang perlu dihapus.
Kesadarannya mulai mengambang, tertarik ke dalam kegelapan yang dingin dan menenangkan. Lebih baik begini, bisik sesuatu di kepalanya. Lepaskan saja.
Tiba-tiba, sebuah sensasi aneh menusuk tengkoraknya. Bukan sakit, tapi getaran logam, seperti garpu tala raksasa yang beresonansi di dalam otaknya.
[...Koneksi darurat terdeteksi. Host dalam kondisi terminal. Sisa umur: 12 menit 34 detik.]
Suara itu bukan suara. Itu adalah data murni yang langsung tercetak di kesadarannya, dingin dan tanpa intonasi.
Halusinasi… pikir Arven, setengah sadar.
[Memindai konteks sosio-politik lokal… Selesai. Hierarki kasta: Bronze, Silver, Gold, Diamond, Apex. Ketidaksetaraan ekstrem. Konflik: personal dan sistematis.]
Sebuah bidang visi berwarna biru pucat, penuh dengan retakan digital seperti kaca yang hampir pecah, muncul di hadapannya. Tulisan-tulisan aneh berkedip dalam bahasa yang tidak dikenal, lalu berubah menjadi tulisan Bahasa dunianya yang patah-patah.
[Serpihan Sistem ‘Hakim’ teraktivasi. Asal: Masa Depan Alternatif. Status: Rusak parah. Tujuan asli: Tidak dapat diakses.]
Arven mencoba menggerakkan tangannya, tapi tidak bisa. Apa ini? Sekarat?
[Sistem menawarkan Kontrak Simbiosis. Host menyediakan tubuh dan pengalaman sebagai konteks operasi. Sistem menyediakan alat untuk ‘memperbaiki ketidaksetaraan’ dan mempertahankan hidup host.]
Memperbaiki ketidaksetaraan? Arven hampir tertawa getir, yang berubah menjadi serangan batuk berdarah.
[Pilihan: (1) Terima Kontrak. Sistem akan melakukan penyembuhan darurat dan mengintegrasikan diri. (2) Tolak Kontrak. Sistem akan terputus. Host akan meninggal dalam 11 menit 02 detik akibat perdarahan internal dan trauma organ.]
Di bidang visinya, dua tombol besar muncul. Satu hijau pucat bertuliskan TERIMA. Satu lagi merah padam bertuliskan TOLAK.
Kematian. Itu pilihan kedua. Akhir dari semua rasa sakit, semua penghinaan. Dunia ini tidak adil. Mengapa harus bertahan? Untuk menderita lebih lama?
Tapi kemudian, gambaran Kairon yang tersenyum menghina muncul di pikirannya. Gambaran sepatu botnya yang menginjak-injak sketsa desainnya. Tawa kosong para penonton. Api kemarahan yang kecil, yang nyaris padam oleh rasa sakit, menyala kembali. Itu adalah bara terakhir dari harga dirinya.
Tidak. Pikiran itu mengeras, seperti baja yang ditempa. Aku tidak mau mati. Tidak oleh tangannya. Tidak seperti ini.
Dengan sisa-sisa kekuatan kehendaknya, Arven memusatkan seluruh kesadarannya pada tombol hijau.
[Kontrak Diterima.]
Sensasi listrik yang membekukan membanjiri sistem sarafnya. Bukan kejang, tapi aliran terkendali yang terasa seperti es mencair di pembuluh darahnya. Dia merasakan tulang rusuknya yang patah bergerak, menyambung kembali dengan rasa tidak nyaman yang dalam. Memar dan luka di kulitnya mengencang, gatal, lalu memudar menjadi kulit merah muda yang baru. Kekuatan mengalir kembali ke anggota tubuhnya, lemah tapi nyata.
[Penyembuhan Darurat Selesai. Statistik Host Dinormalisasi.]
Layar biru di visinya berubah, menunjukkan sederetan grafik dan angka:
ARVEN GORAT | Kasta: Bronze
· Kekuatan: 4.5 (Rata-rata Bronze: 5.0)
· Ketahanan: 3.8 (Rata-rata Bronze: 4.0)
· Kecepatan: 5.2 (Rata-rata Bronze: 5.0)
· Kecerdasan: 7.1 (Rata-rata Diamond: 6.5)
· Koin Sistem: 0
Dia bisa bernapas lega. Rasa sakitnya hilang, digantikan oleh kelelahan yang dalam dan sebuah keanehan yang menggelitik di pikirannya. Dia duduk perlahan, melihat tangannya. Kulitnya bersih, hanya sedikit kotor. Tapi seragamnya masih robek dan berlumpur, bukti fisik dari apa yang baru saja terjadi.
[Misi Perdana Tersedia.]
Kata-kata itu muncul dengan efek seperti tetesan air.
[‘Penindasan Balik’. Target: Kairon Vellard. Tujuan: Buka data hitam target di hadapan publik. Hadiah: 50 Koin Sistem. Batas Waktu: 72 jam.]
Data hitam? Apa itu?
[Catatan Sistem: Kegagalan = Penalti progresif. Penarikan diri dari kontrak = Pemusnahan segera.]
Jadi, tidak ada jalan mundur. Arven menarik napas dalam-dalam, udara malam yang lembap terasa tajam di paru-parunya. Dia berdiri, tubuhnya ringan tapi dipenuhi oleh realitas baru yang berat. Matanya, yang sebelah masih sedikit bengkak, menatap ke arah Asrama Diamond di puncak. Satu jendela di lantai tujuh menyala terang. Kamar 704. Kairon.
Dia bukan lagi korban yang sekarat. Tapi apa dia sekarang? Alat dari sistem yang rusak? Penuntut balas dendam?
[Sistem mendeteksi kebingungan host. Penjelasan: Data hitam adalah informasi terenkripsi tentang pelanggaran, kejahatan, atau kebohongan target. Sistem ‘Hakim’ dirancang untuk mengungkap ketidaksetaraan dengan membongkar korupsi para elit.]
Suara itu masih datar, tapi seolah menjawab pertanyaannya.
“Jadi, kau ingin aku menjatuhkan Kairon dengan membongkar rahasianya?” gumam Arven, suaranya serak.
[Konfirmasi. Itu adalah permulaan.]
Permulaan. Kata itu menggantung di udara. Arven melihat ke bawah, pada kertas-kertas sketsanya yang hancur, larut dalam lumpur. Karya otaknya, diinjak-injak. Kemarahan yang dingin, lebih tajam dari sebelumnya, merambat di tulang belakangnya. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup. Ini tentang perubahan.
Dia memungut sisa-sisa isi tasnya yang jatuh, memasukkan barang-barang yang masih bisa diselamatkan. Gerakannya metodis, penuh tekad baru. Saat dia melakukannya, layar sistem berkedip lagi.
[Target Terkunci. Lokasi: Asrama Diamond, Kamar 704. Data Hitam Tersedia untuk Diunduh: 1 berkas – ‘Proyek Penipuan Beasiswa’. Peringatan: Unduhan memerlukan 10 Koin Sistem. Koin Sistem Anda: 0.]
Arven berhenti. Mulutnya terkatup rapat. Jadi, untuk membongkar Kairon, ia butuh koin. Dan untuk mendapatkan koin, ia harus menyelesaikan misi yang mustahil tanpa koin. Sistem ini seperti teka-teki yang kejam.
Tiba-tiba, dari arah asrama Diamond, ia melihat sosok keluar ke balkon kamar 704. Siluetnya ramping, dengan postur percaya diri. Kairon. Dia membawa gelas yang berisi sesuatu , melihat ke arah kota. Kemudian, entah mengapa, kepalanya berputar, dan seolah-olah matanya menatap langsung ke arah bayangan di mana Arven berdiri.
Dia tidak mungkin melihatnya. Jaraknya terlalu jauh, cahaya terlalu redup. Tapi untuk sesaat, Arven merasa dilihat. Sebuah sentuhan naluri primitif, peringatan.
Kairon mengangkat gelasnya sedikit, seolah memberikan salam yang sinis, lalu berbalik dan masuk ke dalam kamar. Lampu di balkon padam.
[Misi Aktif. Waktu berjalan: 71 jam, 58 menit.]
---
Di dalam kamarnya, Kairon meletakkan gelasnya, wajahnya yang biasa percaya diri sedikit berkerut. Smartwatch-nya bergetar dengan peringatan aneh.
'Upaya akses tidak sah terdeteksi pada arsip pribadi - Diblokir.'
Siapa yang berani mencoba meretas data seorang Diamond? Senyum tipis muncul di bibirnya. Mungkin ini akan menjadi permainan yang lebih menarik daripada sekadar memukuli Bronze.
Dia tidak tahu bahwa ancamannya bukan lagi seorang mahasiswa miskin yang terluka, melainkan sebuah sistem dari masa depan yang menjadikannya target pertama dalam perang baru.