Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
KAIZEN

KAIZEN

Lavender | Bersambung
Jumlah kata
45.7K
Popular
261
Subscribe
39
Novel / KAIZEN
KAIZEN

KAIZEN

Lavender| Bersambung
Jumlah Kata
45.7K
Popular
261
Subscribe
39
Sinopsis
PerkotaanSekolahBadboyCinta SekolahUrban
Kaivan adalah mantan pemimpin geng Black Venom, geng yang paling ditakuti karena kemahiran mereka dalam menguasai jalanan. Karena suatu hal, Kaivan terpaksa harus pindah sekolah dan menjauhi dunia gelapnya. Di sekolah baru, ia bertemu dengan gadis yang selalu mengikutinya, bernama Zenna. Masa lalu Kaivan yang mengerikan membuatnya melakukan berbagai cara untuk mengusir Zenna, apalagi ketika Kaivan mengetahui satu fakta mengenai asal-usul Zenna yang ternyata berhubunga dengannya. Namun, perlahan sosok Zenna masuk dan menguasai perasaannya dan dari sanalah bahaya mengintai. Kaivan harus melindungi Zenna dengan cara apapun termasuk nyawanya sendiri. Bahkan mungkin, ia terpaksa harus menunjukkan jati dirinya pada semua orang.
Bab 1 - Insiden Malam Itu

Suara perkelahian di sudut gang dengan penerangan tipis berlangsung lama. Masing-masing anggota dari dua geng yang berseteru itu, tampak enggan untuk mengalah.

Sekalipun wajah dan tubuh mereka babak belur, tapi ikatan solidaritas dan pantang menyerah membuat mereka enggan untuk kalah.

Bugh!

Satu pukulan keras berhasil mendarat mulus pada pipi seorang laki-laki yang wajahnya sudah babak belur. Satu pukulan tadi berhasil membuat darah keluar dari sudut bibir laki-laki itu.

Pelakunya tak lain adalah dari salah satu anggota lawan. Laki-laki yang menjadi satu-satunya orang yang belum tersentuh pukulan apapun itu, tersenyum miris melihat lawannya terhuyung hingga jatuh ke tanah.

"Masih belum nyerah?" tanya laki-laki yang memakai jaket hitam dengan tulisan 'Black Venom' di belakang punggungnya.

"Masih mau nyari gara-gara lagi sama gue?" lanjutnya lagi.

Sorot lampu jalan berwana kuning keemasan menyorot wajah pemuda yang memiliki tatapan dingin tersebut. Meski lampu disana redup, tapi tetap mampu memberi siluet wajah tampan milik pemuda bersuara berat nan dingin itu.

"Cuih! Gue nggak takut!" balas si lawan.

Lagi lagi senyuman misterius terbit dari sosok pemuda yang memiliki aura mengerikan. Ia mendekat dan siap untuk memberi pelajaran pada lawannya satu itu, namun suara sirene polisi terdengar nyaring dan seperti mendekati mereka.

"Kai! Kabur! Ada polisi!" teriak pemuda lain yang memakai jaket mirip seperti pemuda dingin itu.

"Ayo kabur!" teriak pemuda itu, sambil menarik lengan pemuda yang tadi dipanggil dengan nama Kai.

"Sial!" umpat Kai.

Dalam hitungan singkat, gang yang tadi menjadi tempat baku hantam itu, berubah semakin ricuh dengan para pemuda yang panik untuk melarikan diri. Mereka semua tak mau tertangkap petugas keamanan.

Termasuk, Kai, yang juga kabur demi menyelamatkan diri. Pemuda yang menjadi ketua geng itu membantu mengamankan anggotanya terlebih dahulu sebelum menyelamatkan diri.

"Semuanya, kita mundur!" teriak Kai. Ketika ia tengah fokus mengamankan teman-temannya, secara tak terduga ada seseorang yang mendorong tubuhnya. Kai seketika waspada, namun ketika ia berbalik badan, seseorang menubruk tubuhnya. Atau lebih tepatnya, jatuh dan menabrak tubuhnya.

Prang!

Sebuah pisau jatuh.

Belum siap mencerna, Kai langsung sigap menahan tubuh seseorang yang ternyata adalah salah satu teman satu gengnya.

"Zevran?"

Kai terdiam, apalagi ketika menyadari jika tangannya terasa basah oleh cairan kental.

"Darah?"

Tubuh Kai membeku. Tangannya bergetar. Ia langsung menangkan tubuh Zevran yang lemah. Kai tau, pasti baru saja ada seseorang yang menikam Zevran.

"Zevran? Bangun, Zev!" teriak Kai mengguncang tubuh Zevran. Namun, pemuda itu sudah kehilangan kesadaran.

-

-

Dua minggu berlalu setelah kepergian Zevran. Ya, pemuda yang menjadi salah satu teman satu geng Kai harus kehilangan nyawanya setelah ditikam oleh orang yang tak lain adalah musuh mereka.

Duka mendalam begitu terasa bukan hanya bagi keluarga Zevran, tapi juga oleh teman-temannya. Terutama Kai, yang menjadi korban hanya demi melindungi dirinya.

"Kaivan!"

Pemuda bernama Kaivan itu menoleh ketika seseorang memanggil namanya. Sang ayah lah yang memanggilnya. Terpaksa, pemuda yang sudah memakai seragam sekolah itu menoleh.

"Kamu mau kemana?"

Kaivan, sosok pemuda berwajah dingin itu menatap datar sang ayah. "Apa kurang jelas?" jawabnya malas.

"Kembali ke kamarmu. Kamu sudah tidak sekolah disana lagi. Kamu akan pindah ke sekolah lain. Sekolah baru di mana kamu harus mengubah pergaulanmu."

Kaivan mengernyit kan dahinya. "Bisa ulangi lagi?"

Pria yang juga memiliki wajah tegas itu berjalan mendekati putranya. "Kamu tau alasannya kenapa kamu pindah. Kalau bukan karena ayah, kamu pasti sekarang sudah mendekam di penjara. Menjadi mantan napi dan tidak punya masa depan. Hidupmu akan hancur jika terus bersama anak-anak bermasalah itu."

Kini, Kaivan berhadapan dengan sang ayah. Tangannya mengepal, tanda jika ia tidak terima dengan keputusan sepihak ayahnya.

"Aku nggak suka diatur."

"Hidup harus punya aturan. Kamu masih membutuhkan uang dari ayah, masih butuh perlindungan dari ayah. Bahkan ayah harus memberi kompensasi besar atas kematian temanmu itu. Jadi sebagai gantinya, kamu harus berubah. Jangan membuat masalah dan jadilah anak penurut! Kamu belum pernah melihat ayah benar-benar marah dan bersikap tagas padamu, kan?"

"Sekarang masuk, dan renungan kesalahan kamu. Jangan pergi dari rumah, sebelum kamu tau apa kesalahanmu!"

"Aku, nggak peduli!" jawab Kaivan menentang.

Pemuda yang sudah kepalang kesal itu pergi begitu saja meninggalkan sang ayah. Tak mengindahkan peringatan yang baru beberapa detik terucap dari bibir Aditya.

Brak!

Bahkan pemuda itu sampai membanting pintu begitu ia keluar. Benar-benar anak yang sangat menakutkan.

-

-

Kaivan menarik gas motornya sampai kecepatan di atas rata-rata. Rasa marah karena kepergian sahabat sekaligus anggota gengnya, membuat Kaivan selalu menyalahkan dirinya sendiri.

Tapi, kata-kata dan sikap ayahnya yang ikut menyalahkan, membuat ia semakin geram. Selama ini, hubungannya dengan sang ayah memang tidak terlalu baik.

Mereka berdua memiliki pemikiran berbeda dan selalu bertolak belakang.

Hal itu lah yang membuat Kaivan menjadi anak muda yang nakal dan banyak masalah.

Soal ibu jangan ditanya. Kaivan sudah kehilangan sosok ibu sejak ia lahir. Bisa dikatakan, Kaivan tumbuh tanpa sosok seorang ibu. Hal itu pula yang membuatnya menjadi sosok yang dingin dan acuh pada orang lain.

Pemuda tampan pemimpin geng Black Venom itu akhirnya sampai di depan sebuah bangunan sekolah yang selama ini menjadi tempat dimana ia bisa bertemu dengan sosok kawan yang memiliki nasib seperti dirinya.

Diacuhkan oleh keluarganya sendiri.

Kaivan menghela nafasnya. Sepertinya, hari ini adalah hari terakhir ia bertemu kawan-kawannya di sekolah karena mulai besok, Kaivan harus memulai kehidupan baru di sekolah pilihan sang ayah.

"Bos!"

Suara seseorang membuat pemuda tampan itu menoleh. Ia melepas helm, lalu menyugar rambutnya hingga berantakan.

Dua pemuda yang memakai seragam sama sepertinya mendekat dengan motor masing-masing. "Tumben lo nggak masuk duluan, Bos?" tanya Nathan salah satu teman Kaivan yang juga masuk anggota inti Black Venom.

Kaivan menghela nafasnya. "Gue nggak bisa masuk. Gue udah bukan murid SMA Harapan Bangsa lagi. Gue udah keluar."

"Hah? Maksudnya, lo dikeluarin Bos? Bukannya kita cuma di skors, ya?" tanya Vano. Orang kedua yang juga masih teman Kaivan.

Kaivan menghela nafasnya. "Itu nggak penting. Yang jelas gue kesini cuma mau ngasih tau kalian buat bikin pengumuman ke anak-anak buat kumpul di markas nanti malam. Ada pengumuman penting yang mau gue bahas, atau lebih tepatnya sebuah keputusan."

Vano dan Nathan saling berpandangan. "Maksudnya keputusan?"

"Jangan bilang lo mau mundur dari jabatan ketua karena masalah Zevran kemarin?" sahut Vano.

Kaivan hanya mengedikkaan bahunya, acuh. "Kita lihat aja nanti," ucap Kaivan sebelum akhirnya ia kembali menyalahkan motor besarnya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca