

Sebuah perusahaan yang bahkan namanya jarang disebut orang.
BRAK!
Telapak tangan seorang pria paruh baya menghantam meja kerja dengan keras. Suara benturan itu menggema di dalam ruangan sempit yang dipenuhi tumpukan berkas dan bau kopi dingin.
“Kau ini gimana sih?!” bentaknya.
“Kerja nggak becus, sering telat pula. Kamu itu sebenarnya niat kerja apa nggak?!”
Di hadapannya berdiri seorang remaja berusia dua puluh tahun. Tubuhnya tegap, tapi bahunya sedikit turun, seolah sudah siap menerima apa pun yang akan datang. Namanya Aldi.
“Maaf, Pak…” ucap Aldi pelan.
Pria paruh baya itu mendecak kesal, menyandarkan punggungnya ke kursi. Wajahnya jelas menunjukkan rasa muak.
“Hedeh… sudahlah,” katanya dingin. “Saya capek ngurusin kamu. Sekarang beresin barang-barang kamu, lalu keluar dari kantor saya.”
Aldi terdiam sejenak.
“Tapi, Pak—”
“Tidak ada tapi-tapi!” potongnya sambil meninggikan suara.
“Pergi!”
Bentakan itu seperti palu terakhir yang memaku keputusan tersebut.
Aldi menundukkan kepalanya. Tanpa berkata apa pun lagi, ia membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruangan itu.
Lorong kantor terasa lebih sunyi dari biasanya.
Ia berjalan menuju mejanya, sebuah meja sederhana di sudut ruangan. Dengan gerakan pelan, Aldi mulai mengemasi barang-barangnya—beberapa dokumen, botol minum, dan laptop yang sudah menemaninya lembur berkali-kali.
Saat itulah seseorang mendekat.
“Hey, kawan,” ucap seorang pria sambil menyandarkan tubuhnya ke meja sebelah.
“Kenapa muka lu lesu banget? Terus itu… lu mau ke mana, beres-beres kayak gitu?”
Pria itu bernama Reza, rekan kerja Aldi.
Aldi berhenti sebentar. Ia menoleh sekilas, lalu kembali menutup tasnya.
“Gua mau pergi, Za,” katanya singkat.
“Gua dipecat.”
Mata Reza langsung membesar.
“Eh?! Serius lu?”
Namun Aldi tidak menjawab. Ia menggendong tasnya, meraih laptop, lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
“Hey, Aldi!” panggil Reza dari belakang.
“Lu beneran keluar?!”
Langkah Aldi tidak berhenti.
Suara itu perlahan tertinggal di belakangnya, bersama tempat kerja yang baru saja menutup satu-satunya pintu yang ia miliki.
Dan tanpa ia sadari—
itulah awal dari jalan yang akan terulang kembali.
Aldi sudah berada di luar gedung kantor itu.
Langkahnya menyusuri trotoar dengan bahu turun dan pandangan kosong. Suara kendaraan berlalu-lalang terdengar samar di telinganya.
“Sialan…,” gumamnya pelan.
“Gua harus kerja di mana lagi anj***…”
Tangannya mengepal. Kepalanya penuh, tapi tidak ada satu pun jawaban.
Ia terus berjalan tanpa arah yang jelas, sampai akhirnya berbelok masuk ke sebuah gang sempit—lorong yang jarang dilewati orang, dengan dinding kusam dan lampu jalan yang remang.
Langkah Aldi melambat.
Tiba-tiba—
“TOLONG!”
Teriakan seorang wanita menggema dari dalam lorong.
Aldi refleks mengangkat kepalanya.
Di depan sana, ia melihat dua orang—seorang pria dan seorang wanita—terdesak di sudut gang. Tubuh mereka gemetar. Di hadapan mereka berdiri lima preman berbadan besar, wajah-wajah keras dengan ekspresi tak sabar.
“Hey!” bentak salah satu dari mereka.
“Cepat bayar utang kalian. Kalau nggak—hari ini juga kita habisin!”
Wanita itu mencengkeram lengan pria di sampingnya.
“Sayang… gimana ini?” suaranya bergetar.
Pria itu menelan ludah.
“Maaf, Bang… saya belum ada uangnya,” katanya terbata.
“Minggu depan… minggu depan saya bayar.”
Preman itu tertawa pendek, sinis.
“Hah?”
“Mau berapa kali lu ngomong kayak gitu, brengsek?”
Ia melangkah maju, lalu meraih tongkat besi di sampingnya.
“Sekarang mending lu mati aja.”
Tongkat itu terangkat tinggi.
Tanpa pikir panjang—
Aldi melempar tas yang masih ia pegang.
DUK!
Tas itu menghantam bahu preman tersebut.
Preman itu terhuyung setengah langkah, lalu menoleh tajam ke belakang.
Tatapannya langsung mengunci Aldi.
“Siapa lagi nih?” ucapnya dingin.
“Pria lesuh dari mana pula…”
Aldi menelan ludah.
“Ah—maaf… aku nggak sengaja,” ucapnya gugup.
“Nggak sengaja?”
Preman itu menyeringai.
“Heh. Enak aja lu ngomong.”
Ia meludah ke tanah, lalu menunjuk ke arah Aldi.
“Habisi dia.”
Beberapa preman lain langsung bergerak.
Aldi merasakan jantungnya jatuh ke perut.
Ketakutan menelan seluruh pikirannya.
Ia berbalik dan berlari.
Namun—
Kakinya tersandung.
Tubuhnya terhempas ke aspal sebelum ia sempat bangkit kembali.
Detik berikutnya, hujan pukulan dan tendangan menghantamnya dari segala arah. Tidak ada kata, tidak ada peringatan. Hanya rasa sakit yang datang bertubi-tubi.
Napasnya tersengal.
Penglihatannya mulai kabur.
Salah satu preman meraih tongkat besi yang tergeletak di pinggir gang.
Tanpa ragu—
TANG!!!!
Satu hantaman keras menghantam kepala Aldi.
Dunia seketika berputar.
Darah mengalir di pelipisnya. Tubuhnya terkulai, tak lagi mampu bergerak. Rasa sakit menyebar ke seluruh tubuhnya, lalu perlahan memudar.
Di kejauhan, suara sirine polisi terdengar semakin dekat.
Namun bagi Aldi—
suara itu terasa semakin jauh.
Kelopak matanya menutup.
Dan di gang sempit itu, di antara bau aspal dan bayangan lampu jalan yang berkedip,
Aldi menghembuskan napas terakhirnya.
Gelap.
Sangat gelap.
Aldi tidak tahu di mana ia berada. Tidak ada suara, tidak ada rasa, seolah seluruh dunia ditelan kegelapan yang pekat.
Lalu—
Ia terbangun.
Aldi terengah pelan dan refleks mengangkat kedua tangannya. Ia menatap telapak tangannya, lalu menyentuh lengan dan dadanya sendiri. Tidak ada luka. Tidak ada rasa sakit.
“Huff…”
“Untung cuma mimpi,” gumamnya lega.
Namun perasaan itu hanya bertahan sesaat.
Aldi menoleh ke kanan.
Lalu ke kiri.
Suara riuh memenuhi telinganya—tawa, obrolan ringan, kursi yang digeser, suara pulpen jatuh. Di sekelilingnya, banyak siswa dan siswi sedang asyik mengobrol, beberapa tertawa, beberapa sibuk dengan ponsel, beberapa menunduk menulis.
Alis Aldi mengernyit.
“Tunggu…”
“Ini di mana?” bisiknya bingung.
Ia kembali menatap sekeliling dengan lebih saksama.
Meja kayu yang penuh coretan.
Papan tulis di depan kelas.
Jam dinding tua yang berdetak pelan.
“Tunggu…”
“Ini… ruang kelas?”
Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Sekolah?” batinnya tercekat.
Aldi menurunkan pandangannya ke tangan kirinya. Dengan ragu, ia mencubit kulitnya sendiri.
“—ugh.”
Rasa sakit itu nyata.
Aldi mendesah pelan.
“Jadi ini… bukan mimpi,” ucapnya lirih.
Tempat ini—ia mengenalnya.
Ini adalah ruang kelasnya saat SMA.
Bagaimana mungkin?
“Apa yang sebenarnya terjadi…?” pikir Aldi, kepalanya mulai dipenuhi tanda tanya.
Dan saat itulah—
Sebuah panel berwarna biru muncul melayang di hadapannya.
Tulisan putih terpampang jelas di permukaannya.
> Selamat datang, Tuan Rumah.
Anda telah kembali ke masa lalu.
Anda akan menjalani hari-hari Tuan Rumah dari awal.
Aldi menatap panel itu tanpa berkedip.
“…”
“Apa… aku mulai gila?” batinnya ragu.
Panel itu bergetar pelan.
Tulisan di dalamnya berubah.
> Tuan Rumah kini dapat memperoleh kekuatan dan kekuasaan.
Dengan menerima Sistem ini, masa depan dapat diubah.
Apakah Tuan Rumah bersedia menerimanya?
Di bagian bawah panel, dua pilihan muncul.
> [YA] [TIDAK]
Aldi menelan ludah.
Ia tidak mengerti apa yang sedang ia lihat.
Tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Namun satu hal jelas—
Hidup yang tadi berakhir di gang sempit itu…
telah memberinya kesempatan kedua.
Dan di hadapannya sekarang,
sebuah pilihan menunggu untuk dijawab.
Suasana kelas masih dipenuhi kebingungan Aldi.
Pikirannya belum sempat menyatu dengan kenyataan, sampai—
BRAK!
Pintu kelas terbuka keras.
Semua kepala refleks menoleh.
Di ambang pintu berdiri seorang remaja dengan senyum menyebalkan di wajahnya. Di belakangnya, dua orang lain berdiri santai, seolah tempat itu milik mereka.
Dada Aldi langsung terasa sesak.
Ia mengenal mereka.
Terlalu mengenal.
Tiga orang yang dulu sering membullynya saat SMA.
Yang berdiri paling depan bernama Bobby.
Dan dari cara ia melangkah masuk ke kelas itu, Aldi tahu—kedatangan mereka tidak membawa niat baik.
Bobby tersenyum lebar saat melihat Aldi. Ia berjalan mendekat dengan langkah santai.
“Heh, Aldi,” sapa Bobby.
“Lu keliatan asik banget hari ini.”
Aldi mengalihkan pandangannya, berpura-pura sibuk dengan mejanya.
Namun sebuah tangan tiba-tiba mencengkeram pundaknya.
“Hey,” suara Bobby berubah dingin.
“Jawab omongan gua.”
Cengkeramannya menguat.
“Lu mau mati, ya?”
Aldi terdiam. Tubuhnya kaku. Ingatan lama menyeruak—rasa takut yang sama, situasi yang sama.
Bobby terkekeh pelan, lalu duduk di atas meja Aldi.
“Lu tau gak,” katanya santai,
“hari ini gua lagi kesal.”
Aldi tidak menjawab.
“Maka dari itu—”
BUGH!
Pukulan keras menghantam kepala Aldi.
Tubuhnya terjungkal bersama kursinya. Suara teriakan langsung memenuhi kelas. Beberapa siswa berdiri panik, beberapa lainnya hanya terpaku.
Bobby turun dari meja dan melangkah mendekat.
Aldi terduduk di lantai. Kepalanya berdengung. Dunia terasa goyah.
Ia tidak tahu harus berbuat apa.
Seperti dulu.
Dan sama seperti dulu—
ia tidak bisa melakukan apa pun selain pasrah.
Langkah Bobby semakin dekat.
Saat itulah—
Panel biru itu muncul kembali.
> Tuan Rumah kini dapat memperoleh kekuatan dan kekuasaan.
Masa depan dapat diubah.
Apakah Tuan Rumah akan menerimanya?
[YA] [TIDAK]
Bayangan masa lalu dan masa depan tumpang tindih.
Gang sempit.
Darah.
Kematian.
Dan sekarang—
kejadian yang sama terulang.
Bobby sudah berada tepat di depannya.
Kakinya terangkat.
Tanpa berpikir—
“YAA!” teriak Aldi.
Segalanya berhenti.
Waktu membeku.
Panel di hadapannya berubah.
> Tuan Rumah telah menerima berkah Sistem.
Silakan isi nama Anda.
Aldi terengah.
“...Aldi.”
Huruf-huruf itu muncul di panel.
> Nama terkonfirmasi.
Selamat datang, Tuan Rumah.
Waktu kembali berjalan.
Tendangan Bobby meluncur ke arahnya.
BUGH!
Namun—
Aldi mengangkat satu tangan.
Dan menahannya.
Hanya dengan satu tangan.
Bobby membelalak.
Dua temannya terpaku.
Seisi kelas terdiam membeku.
Panel sistem kembali muncul.
STATISTIK
NAMA : ALDI
UMUR : 17 TAHUN
STATUS : N/A
KEKUATAN : ERROR
KECEPATAN : ERROR
POTENSI : S+
KEPINTARAN : S
KETAHANAN : ERROR
Dan untuk pertama kalinya—
jalan yang dulu mengakhiri hidupnya,
mulai berbelok ke arah yang berbeda.