Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
PERJANJIAN TERLARANG DI ATAS KANVAS

PERJANJIAN TERLARANG DI ATAS KANVAS

Velwhite_ | Bersambung
Jumlah kata
45.9K
Popular
100
Subscribe
9
Novel / PERJANJIAN TERLARANG DI ATAS KANVAS
PERJANJIAN TERLARANG DI ATAS KANVAS

PERJANJIAN TERLARANG DI ATAS KANVAS

Velwhite_| Bersambung
Jumlah Kata
45.9K
Popular
100
Subscribe
9
Sinopsis
18+HorrorHorrorSpiritualMisteriDunia Gaib
Julian adalah seorang mahasiswa perfeksionis di salah satu Universitas: Intitut Seni Rupa yang ada di bandung. Julian terjebak dalam rasa frustasi karena lukisannya dianggap tidak berjiwa. Ditengah keputus-asaannya, ia menemukan galeri rahasia dan bertemu 1 sosok entitas gelap yang menawarkan sebuah kuas kuno dengan kekuatan magis spritualnya. Perjanjian pun dibuat. Julian bisa menciptakan mahakarya yang tampak hidup dan bernapas, namun dengan harga yang mengerikan: Julian harus menggunakan tetesan darahnya sebagai tinta, Keringatnya sebagai tenaga dan energi, air matanya sebagai pemberian memori yang indah. Seiring lukisannya yang sudah dipuja oleh dunia, dan diterima banyak penikmat seni, banyak perubahan yang dilihat oleh teman-teman julian, dari kemeja putihnya setiap melukis selalu dipenuhi noda darah, kulitnya yang mulai memucat, bahkan pikirannya mulai terbawa arus oleh bisikan-bisikan dibalik kanvas. Julian tidak menyadari bahwa perjanjian dengan sosok itu merupakan awal dirinya akan dimiliki oleh sosok tersebut, dan ia sedang tidak memberikan Seni melainkan memberikan dirinya sendiri untuk dikuasai olehnya. Di dunia dimana keindahan menuntut nyawa, sanggupkah julian berhenti sebelum kuas terakhir merenggut nyawanya?
Bab I

Lantai marmer putih yang dingin di universitas institut seni rupa, tepatnya di salah satu daerah buah batu di kota bandung, ada seorang lelaki dengan rambut goldnya yang berantakan yang sedang berdiam diri di dalam studio tempat dimana para mahasiswa/i dari universitas ini menuangkan kreativitasnya ke dalam lukisan yang mereka buat.

Di depan julian sudah ada sebuah kanvas besar berdiri tegak di tengah ruangan, dengan dikelilingi patung-patung malaikat yang bersayap tanpa wajah yang seolah sedang menghakiminya.

Julian melepas jas hitamnya, dan menyisakan kemeja putih polos yang ia kenakan hari ini.

Ia menatap pantulan dirinya ke sebuah salah satu cermin di pojok ruangan yang tidak jauh dari tempatnya duduk. dengan kuas di jarinya dan kanvas itu sudah terlihat sebagian lukisan wajah yang abstrak, dengan warna-warna kontras pada lukisan yang sedang ia kerjakan. untuk ia presentasikan kepada profesor besok saat jam pelajaran dimulai.

"Masih mati." Bisiknya parau, menatap potret lukisan yang ada di depannya.

Tak lama pintu ruangan studio itu langsung tergeser, tanda seseorang masuk ke dalam studio ini. Julian menolehkan kepalanya, dan ternyata itu adalah temannya.

"Sudah kuduga, apabila kau tidak ada di kantin Maka kau sedang berada distudio pengap ini."

Julian tersenyum kikuk, ia hanya bisa terkekeh kepada cibiran halus sang sahabatnya, Riyana.

"Besok adalah giliranku untuk presentasi, dan aku mau lukisan ini sudah siap."

Riyana mendekatkan dirinya kepada kanvas untuk melihat seperti apa lukisan yang sudah dibuat berjam-jam lamanya oleh temannya ini sampai lupa bahwa jam makan siang sudah tiba 3 menit yang lalu. Riyana menghela nafasnya, selalu saja apabila julian sedang melukis maka ia akan melupakan semuanya, bahkan tidak akan perduli dengan apa yang terjadi diluar.

"Besok saat presentasi, aku yakin pasti kau akan mendapatkan nilai A+ lagi dari Profesor Adi."

Julian yang mendengar itu hanya menatap dalam kepada lukisan di depannya, entah kenapa saat ia melukis akhir-akhir ini ia tidak mendapatkan feelnya, lukisan ini memang bagus namun sepertinya ada yang kurang, lebih tidak hidup. Beda dari pertama ia mulai melukis di usia 10 tahun, saat goresan pertama yang ia berikan ke kanvas pemberian ayahnya saat dihari ulangtahunnya, di saat itulah julian merasa kanvas itu hidup, ia seperti masuk ke dalam dunia yang sudah ia gambar di kanvas putih itu.

"Lukisan ini memang indah untuk dilihat, hanya untuk dilihat, riyana. Tapi untuk nilai penjiwaannya.. aku sepertinya kehilangan rasa itu, aku tidak tahu apakah nilai A+ itu masih bisa layak kudapatkan, dari profesor adi."

Mendengar keluhan julian membuat riyana ikut sedih. Namun riyana memilih untuk tidak menggubris apa yang sudah julian katakan, riyana justru malah mengeluarkan dari kantong plastik, beberapa bakso bakar, sosis bakar, dan otak-otak bakar yang sudah ia beli untuk julian.

"Makan dulu, aku membelikan ini untukmu."

Riyana, mengambil satu tusuk bakso bakar, lalu menyuapin ke mulutnya julian.

Julian menerima suapan yang diberikan riyana, dan berakhir mengunyahnya. "Kau membelikanku tidak pedas, bukan?"

"Tentu saja, aku tahu apa yang kau suka dan tidak kau suka."

Hari ini setelah percakapan singkatnya bersama riyana, julian memutuskan untuk pulang ke asrama lebih cepat. Kampus julian memang sudah difasilitasi dengan dormitory bagi mahasiswa/i yang berkuliah di universitas tersebut, bahkan jaraknya saja tidak terlalu jauh dari universitas karena letaknya yang strategis tepat dibelakang kampus. Saat dalam perjalanan pulang, julian mendapatkan notifikasi ponselnya, dan julian langsung mengeluarkan ponselnya.

Ternyata pesan dari ibunya julian yang mengatakan untuk pulang dulu, mengambil beberapa makanan yang bisa julian bawa ke dormitorynya, karena jarak rumahnya dengan kampus memakan waktu hampir 1 jam lamanya di perjalanan, maka julian memutuskan untuk menginap semalam saja di rumah keluarganya.

Lagipula julian juga sudah lama tidak pulang ke rumah hanya sekedar menjenguk orangtua dan adiknya. Julian langsung memberhentikan taksi biru yang saat itu menawarkan tumpangan kepada julian, beruntungnya julian hari ini, karena disaat pukul 7 malam seperti ini bis akan susah sekali ditemui, bahkan angkutan umum pun jarang ada yang lewat.

"Ke jalan komplek bendera hitam ya pak."

"Baik kak, baru pulang kak?"

"Iya, saya baru pulang."

"Oh, anak saya juga dulu alumni di universitas tempat kakaknya berkuliah, dia lulusan generasi 3 tahun yang lalu."

Julian tidak menanggapi apa yang dikatakan supir taksi tersebut, ia hanya membalasnya dengan senyuman dan kalimat seadanya saja, karena julian merupakan anak introvert yang terlalu kaku saat berbicara dengan orang baru.

"Ini kakaknya mau pulang ke rumah atau bagaimana kak? Karena yang saya tau kampus itu bukannya sudah menyediakan dormitory juga ya, karena dulu anak saya juga jarang pulang kak, sebulan bisa kali hanya 1 minggu aja, itupun kalo saya yang minta, kalo kita ga minta ya mana mau anak saya pulang."

"Iya pak, ke rumah orangtua saya."

Supir taksi itu menganggukan kepalanya, dan berakhir julian harus mendengarkan supir taksi ini membanggakan anaknya yang sudah bekerja menjadi design grafis di perusahaan terkenal, di kota jakarta. Setelah puas mendengarkan cerita dari supir taksi tersebut, suasana di dalam mobil itu hanya hening, dan diiringi musik yang dilatunkan dari radio yang sudah menyala.

Julian melemparkan pandangan matanya ke jendela samping, dan terlihat satu galeri seni yang sangat tua sekali, dan nampaknya sudah lama terbengkalai, namun bagaimana bisa banyak pengunjung yang mengantri untuk masuk ke dalam galeri tua tersebut, bahkan sebagian dari mereka seperti sedang menatap julian yang didalam mobil. Julian mengernyitkan dahinya, tatapan mereka sangat intens saat mobil taksi biru ini melewati galeri tersebut.

Julian melemparkan kembali tatapannya ke depan, dan menyenderkan punggungnya ke belakang kursi penumpang, karena rasa penasaran julian ia pun berakhir bertanya kepada supir taksi tersebut yang sedang menyanyikan lagu dari radio.

"Pak, maaf saya mau tanya."

Supir taksi itu mengecilkan volume radionya.

"Kenapa kak? Tadi kakak bilang apa, Maaf ya kak ga kedengeran."

Julian menghela nafasnya. "Saya mau tanya pak."

"Oh tanya! Iya boleh kak, silahkan. Mau tanya apa?" Suara supir taksi ini cukup keras.

"Galeri yang barusan kita lewati, itu masih aktif atau tidak ya pak? Soalnya tadi sangat ramai namun sepertinya cukup tua."

Entah kenapa, atmosfir di dalam mobil itu mulai merasa mencekam, karena julian merasakan perubahan ekspresi supir taksi ini, yang tadinya ramah kini mulai menatap dingin ke arah julian lewat spion di depannya, julian terlonjak kaget.

"Galeri itu sudah tua, tidak ada yang berkunjung sama sekali setelah tragedi kebakaran itu terjadi begitu singkat. namun walikota memang merenovasi ulang galeri tersebut, jadi nampak seperti terbengkalai."

"Ga ada yang berkunjung? Ngaco ah pak, saya tadi lihat kok antriannya sampai keluar pintu galeri itu."

Supir taksi itu mulai terdiam membeku, dan menatap seolah-olah terkejut dengan apa yang dilihat julian, namun supir taksi itu daripada menanggapi dan takut membuat pelanggannya ketakutan dengan menaiki mobil taksinya, maka ia tidak berani mengambil resiko tersebut, supir taksi itu hanya memilih terdiam, dan tidak ingin ikut campur kembali ke dalam percakapan tersebut, jadi ia memilih memberhentikan pertanyaan julian.

"Saya ingatkan ya kak, jangan sekali-kali kakak memasuki galeri tersebut." Julian memiringkan kepalanya, lalu terkekeh tipis. "Kenapa emangnya pak?"

"Saya takut saja kalau kakaknya kenapa-napa, galeri tua itu memang sudah direnovasi. Tapi belum terbuka secara umum, kak. Karena masih banyak yang harus diperbaiki, jadi belum resmi bisa di kunjungi oleh publik."

Dengan nada suara dingin namun datar yang dikeluarkan dari mulut supir taksi itu, membuat bulu kuduk julian berdiri, dan jujur jantungnya cukup berdetak dengan kencang, ia hanya takut bahwa taksi yang ia naiki justru bisa membahayakan dirinya, Belum lagi saat julian mendengarkan larangan dari bapak yang ada di depannya. julian merasakan hembusan angin kencang dari AC mobil semakin dingin, hingga menusuk ke tulang-tulangnya.

Ini aneh. Sangat aneh..mengapa dia melarangnya untuk ke galeri itu. Pikir Julian dalam-dalam.

...

Lanjut membaca
Lanjut membaca