Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sistem Harem Pengubah Nasib

Sistem Harem Pengubah Nasib

Naee Hava | Bersambung
Jumlah kata
86.9K
Popular
735
Subscribe
189
Novel / Sistem Harem Pengubah Nasib
Sistem Harem Pengubah Nasib

Sistem Harem Pengubah Nasib

Naee Hava| Bersambung
Jumlah Kata
86.9K
Popular
735
Subscribe
189
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalSistemHaremMengubah Nasib
Raden Arga Wijaya, mahasiswa miskin yang hampir bunuh diri, mendapatkan [Sistem Penciptaan Nasib] yang memberinya poin setiap membantu wanita cantik untuk ditukar dengan kekuatan dan kekayaan. Lewat berbagai misi, ia bangkit dari lumpur kemiskinan menuju puncak kejayaan dan dicintai banyak wanita.
Bab 1 — Mulai Mengeras

"Arga, ini bulan ketiga kamu telat dalam seminggu." Suara Pak Tono dingin, tidak ada belas kasihan di matanya. "Saya sudah cukup sabar."

Raden Arga Wijaya terdiam. Dia baru saja tiba di depan pintu kafe "Kopi Senja" dengan tubuh basah kuyup. Jas hujan murahannya yang berlubang masih meneteskan air ke lantai keramik.

Sepatu kets second hand—hasil thrifting-nya dengan harga lima puluh ribu rupiah—menciptakan genangan kecil di depan kaki bosnya yang berdiri dengan tangan bersilang dan wajah masam.

"Pak, maaf, hujannya—"

"Nggak ada alasan!" Pak Tono menghentikan kalimatnya. "Kamu tau berapa banyak anak muda yang antre pengen kerja di sini? Anak-anak dengan IPK 3.5 ke atas, penampilan rapi, dan selalu tepat waktu. Kamu pikir saya butuh alasan kamu?"

Arga menunduk, air dari rambutnya menetes ke lantai. Malu. Lagi-lagi malu. Rasanya dia sudah terbiasa dengan rasa tidak berharga ini, rasa menjadi beban, menjadi orang paling tidak beruntung di dunia.

Tiga jam sebelumnya, Arga masih berlari menyusuri trotoar Jalan Sudirman yang tergenang air. Sepatunya terinjak genangan dalam hingga membuatnya berjalan dengan susah payah.

Shift kerja part-time-nya dimulai pukul 19.00. Dengan kondisi seperti itu, paling cepat dia sampai pukul 19.15. Dan Pak Tono memang bukan tipe orang yang pemaaf.

Arga sudah mempercepat langkahnya sampai paru-parunya terasa terbakar. Tubuhnya yang kurus—tinggi 170 cm dengan berat badan hanya 52 kg—tidak dibuat untuk lari cepat. Asma ringan yang dideritanya sejak kecil kembali mengingatkan keberadaannya, membuat napasnya terengah-engah seperti orang tenggelam mencari permukaan air.

Tiga bulan terakhir memang mimpi buruk yang tidak pernah berakhir. Ayahnya meninggal karena serangan jantung, meninggalkan utang judi sebesar tujuh puluh juta rupiah kepada rentenir.

Ibu yang sakit-sakitan di kampung membutuhkan biaya pengobatan rutin sebesar dua juta per bulan. Adiknya yang duduk di kelas dua SMA membutuhkan uang sekolah dan uang jajan.

Dan Arga? Dia hanyalah mahasiswa semester enam jurusan Manajemen di Universitas Negeri Jakarta dengan IPK 2.8, jauh di bawah standar beasiswa. Tubuhnya lemah, wajahnya biasa saja dengan bekas jerawat, dan dompetnya selalu menipis.

"Pak Tono, saya benar-benar butuh banget kerjaan ini. Biaya kuliah saya—"

"Sudah!" Pak Tono mengangkat tangan. "Ambil gaji minggu ini. Kamu nggak perlu datang lagi besok."

Arga membuka mulut untuk membujuk, namun melihat ekspresi bosnya yang keras, dia tahu sudah tidak ada gunanya. Dengan tangan gemetar, dia menerima amplop berisi uang Rp 350.000 untuk lima hari kerja.

Dua ratus ribu untuk uang kos bulan ini. Seratus lima puluh ribu untuk makan seminggu. Tidak ada yang tersisa untuk ibu dan adiknya.

Arga keluar dari kafe dengan langkah gontai. Hujan masih turun, tapi dia tidak peduli lagi. Biarkan basah. Biarkan dingin. Mungkin sakit bisa menjadi alasan yang valid untuk tidak melakukan apa-apa. Mungkin mati adalah solusi yang lebih mudah.

Pikiran gelap itu terlintas di benaknya, tapi Arga segera mengusirnya. Dia tidak bisa mati. Ibu dan adiknya masih membutuhkannya. Meski hidupnya tidak berharga, meski dia adalah sampah masyarakat, dia masih punya tanggung jawab.

Ponselnya bergetar. Arga mengeluarkan smartphone dengan layar retak di sudut kanan bawah. Meski murah dan tua, bagaimana pun itu warisan dari ayahnya.

Pesan dari adiknya, Sinta:

"Kak, Ibu udah minum obat. Tapi obatnya tinggal buat tiga hari lagi. Kakak baik-baik aja? Jangan lupa makan ya. Aku sayang kakak."

Air hujan yang membasahi pipinya menyamarkan air matanya yang terus menetes. Dia balas dengan jari-jari dinginnya yang gemetar:

"Iya. Kakak baik. Nanti Kakak kirim uang. Kamu belajar yang rajin ya."

Dia berbohong. Dia tidak baik-baik saja. Dan dia tidak punya uang untuk dikirim.

Arga berjalan tanpa arah, melewati gedung-gedung pencakar langit yang bercahaya megah. Jakarta di malam hari adalah kota yang kejam. Ia memamerkan kemewahan yang tidak pernah bisa diraih oleh orang-orang seperti Arga.

Di sebuah halte bus yang sepi, Arga duduk dengan tubuh lemas dan perut lapar. Sangat lapar. Dia belum makan sejak pagi. Uang Rp 350.000 di sakunya terasa membakar. Namun, dia tahu harus menghematnya.

Ponselnya bergetar lagi. Kali ini, nama yang muncul membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Ayu Lestari. Pacarnya selama dua tahun. Gadis cantik dari jurusan Akuntansi dengan IPK 3.9 dan keluarga berada. Arga tidak tahu apa yang dilihat Ayu darinya yang hanya laki-laki miskin dan biasa. Namun, Ayu menerimanya, mengatakan cinta sejati tidak melihat materi.

Arga membuka pesan dengan harap-harap cemas:

"Arga, kita perlu ngomong. Aku di Starbucks dekat kampusmu. Bisa datang sekarang?"

Harapan kecil menyala di dada Arga. Mungkin Ayu ingin memberinya semangat. Mungkin Ayu tahu dia sedang dalam kesulitan dan ingin membantu.

Meski harga diri Arga besar, dalam kondisi seperti ini, dia tidak punya pilihan. Dia akan menerima bantuan apapun.

Dia berdiri dengan susah payah, kakinya terasa seperti timah. Berjalan tiga ratus meter ke Starbucks dengan pakaian basah kuyup dan penampilan seperti gelandangan. Dia tidak peduli. Yang penting bertemu dengan Ayu.

Namun, apa yang ditemukannya di sana menghancurkan apa yang tersisa dari hatinya.

Ayu duduk di sudut dekat jendela, cantik dengan gaun putih dan rambut dikepang rapi. Di seberangnya, seorang pria tinggi dengan setelan jas mahal tersenyum lebar. Tangan mereka berpegangan di atas meja.

Arga mengenal pria itu. Fandi Wijaya—anak pemilik perusahaan tambang terbesar di Kalimantan, ketua BEM kampus, dan dulu, sahabatnya sendiri.

Fandi melihat Arga pertama kali. Senyumnya melebar. Bukan senyum ramah, melainkan senyum kemenangan. Dia sengaja mengangkat tangan Ayu yang berpegangan dengannya, menunjukkannya pada Arga seperti trofi.

Arga berdiri terpaku di ambang pintu, air masih menetes dari tubuhnya, menciptakan genangan kecil di lantai marmer kafe itu.

Ayu akhirnya melihatnya. Wajah cantiknya menunjukkan ekspresi tidak nyaman. Tidak terlihat rasa penyesalan di wajah itu, hanya ada rasa bersalah yang dangkal, seperti orang ketahuan mencuri permen.

"Arga...." Ayu berdiri, tangannya tidak melepaskan tangan Fandi.

"Jadi ini yang kamu maksud 'perlu ngomong’?" Suara Arga parau, terdengar asing di telinganya sendiri.

"Arga, dengerin aku." Ayu mendekat, tapi tetap menjaga jarak, seolah takut basah kuyupnya menular. "Kita udah nggak bisa bareng lagi. Aku... aku butuh masa depan yang jelas. Fandi bisa ngasih itu. Kamu ngerti, kan?"

Arga menatapnya, mencoba mencari jejak cinta yang pernah ada di mata itu. Sayangnya tidak ada. Yang tersisa hanya egoisme berbalut logika dingin.

"Kita udah dua tahun, Ayu. Dua tahun aku mencintai kamu dengan tulus. Apa semua itu nggak berarti apa-apa?"

"Dua tahun yang menyedihkan." Fandi berdiri, meletakkan lengan di bahu Ayu dengan penuh klaim kepemilikan. "Ayu udah cukup bersusah-susah sama kamu. Lihat dirimu. Nggak punya uang, nggak punya masa depan, bahkan nggak punya harga diri buat datang ke tempat umum dengan pakaian begitu."

Arga mengepalkan tangan. Dia ingin memukul wajah sombong itu. Namun, dia tahu konsekuensinya. Fandi bisa memenjarakannya dengan uang, sementara dia tidak punya apa-apa untuk melawan.

"Lagipula," Fandi melanjutkan dengan suara mengejek, "Ayu udah tidur sama aku. Dua bulan lalu, pas kamu sibuk kerja part-time. Dia bilang, itu pengalaman terbaik dalam hidupnya. Nggak kayak pas lagi sama kamu yang miskin dan nggak punya pengalaman."

Wajah Arga memerah menahan amarah yang meluap. Dia melihat Ayu, mencari penyangkalan. Perihnya, gadis itu hanya menunduk, membenarkan semuanya.

"Kamu... kamu... " Arga tidak bisa melanjutkan. Tenggorokannya tercekat.

"Udahlah, Arga," Ayu berkata dengan nada memohon. "Jangan bikin ini lebih sulit. Kita putus. Makasih untuk dua tahunnya. Aku harap kamu beruntung di masa depan."

Dia berbalik, kembali ke pelukan Fandi, meninggalkan Arga berdiri di tengah kafe dengan tatapan orang-orang yang menyaksikan drama memalukan itu.

Arga keluar dengan langkah tertatih-tatih. Hujan masih turun pun dia sudah tidak merasakannya lagi. Yang dia rasakan hanyalah kekosongan, sebuah lubang hitam di dada yang menelan segala emosi. Dia berjalan tanpa arah, melewati jalan-jalan yang tidak dikenalnya.

Tepat tengah malam, dia menemukan dirinya di sebuah taman kota yang sepi. Taman Menteng yang gelap dan sepi di malam hari.

Arga duduk di bangku basah, menatap langit yang tertutup awan hitam. Tidak ada bintang. Tidak ada cahaya. Hanya kegelapan yang mencerminkan hidupnya.

Mengapa aku dilahirkan? dia bertanya pada diri sendiri. Apa gunanya hidup jika hanya untuk menderita?

Dia mengeluarkan pisau lipat kecil, alat yang selalu dibawanya untuk keperluan darurat. Pisau itu berkilau redup di bawah cahaya lampu taman yang jauh.

Satu gerakan cepat. Itu saja yang dibutuhkan. Tidak ada lagi utang. Tidak ada lagi tanggung jawab. Tidak ada lagi penderitaan.

Arga mengangkat pisau itu, menatap ujung tajamnya. Tangan gemetar, namun tekad mulai mengeras.

Lanjut membaca
Lanjut membaca