Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Takdir Sang Penyegel

Takdir Sang Penyegel

Arrafina | Bersambung
Jumlah kata
93.9K
Popular
100
Subscribe
13
Novel / Takdir Sang Penyegel
Takdir Sang Penyegel

Takdir Sang Penyegel

Arrafina| Bersambung
Jumlah Kata
93.9K
Popular
100
Subscribe
13
Sinopsis
HorrorHorrorThrillerTumbalSpiritual
Arga, seorang Editor Konten, hidup dengan rasa tertekan karena tanda merah misterius di wajahnya yang ia anggap kutukan. Tanda itu ternyata adalah Segel Kehancuran yang ditakdirkan untuk melumpuhkan kekuatan iblis. Kekuatan itu dimiliki oleh Black Dark, seorang pejabat elite kejam yang membuat janji dengan setan. Black Dark melakukan pembunuhan berantai terhadap jiwa-jiwa murni (dimulai dari artis Joon) untuk mencapai keabadian dan menguasai dunia. Saat Arga secara tak sengaja mulai menyelidiki kasus Joon, tanda merahnya aktif, mengungkap fakta bahwa hanya dialah yang mampu memutuskan janji kekal Black Dark. Arga harus menerima takdirnya sebagai Sang Penyegel sebelum Black Dark berhasil mengumpulkan kekuatan terakhir dan menjadi tak terhentikan. Apakah Arga mampu menguak siapa dibalik nama Black Dark sebenarnya?
Kematian Aneh Seorang Artis

Pagi di kota J selalu terasa mendidih, bahkan sebelum matahari mencapai puncaknya. Namun, bagi Arga, suhu kota tak sebanding dengan rasa terbakar yang ia rasakan setiap kali menatap wajahnya cermin. Di bawah alis tebalnya, memanjang hingga tulang pipi kirinya, adalah tanda merah darah itu. Tanda lahir yang tak pernah pudar, sebuah goresan anomali yang selalu menarik perhatian orang. Entah itu tatapan jijik atau kasihan.

Arga menghela napas, menutupi tanda itu dengan foundation yang tebal, ritual pagi yang sudah berlangsung selama dua puluh lima tahun hidupnya. Ia tahu riasan itu tak sempurna menutupi, tapi setidaknya mengurangi intensitasnya. Ia adalah Arga Pramana, seorang Editor Konten di InvestigasiToday, sebuah media online yang berspesialisasi dalam membongkar kasus-kasus gelap dan konspirasi elite. Sebuah pekerjaan yang ironis, mengingat dirinya sendiri adalah misteri berjalan.

Saat Arga tiba di kantor, suasana sudah riuh. Bukan karena deadline investigasi korupsi mingguan mereka, melainkan karena berita yang baru pecah dini hari tadi.

“Arga, lihat ini!” seru Clara, reporter senior, menyodorkan tablet ke wajahnya.

Berita utama terpampang besar: "Tragedi Pagi Hari: Joon, Bintang Muda Paling Bersinar, Ditemukan Tewas di Apartemen Elite."

Arga merasakan dingin menjalar di punggungnya, sensasi yang tak biasa.

Joon.

Siapa yang tidak kenal Joon? Artis pria berumur dua puluh empat tahun, face of the year selama dua tahun berturut-turut. Karakternya bersih, image-nya murni, nyaris tidak tersentuh gosip. Dunia mengenalnya sebagai representasi kesempurnian yang rapuh.

“Polisi bilang bunuh diri, Ga,” ucap Clara, suaranya sedikit bergetar. “Melompat dari balkon lantai sembilan. Tapi aneh, tidak ada surat wasiat. Dan Joon baru saja menandatangani kontrak film bernilai miliaran.”

Arga menatap foto Joon di layar. Wajahnya yang damai, mata cokelatnya yang jernih. Jiwa murni, pikir Arga tanpa sadar, entah dari mana istilah itu muncul di kepalanya.

“Kita harus turunkan tim investigasi segera,” putus Arga, naluri Editor-nya langsung mengambil alih. “Gosip bunuh diri terlalu nyaman. Cari tahu apakah ada rekaman keamanan, cek riwayat finansialnya. Kita butuh liputan eksklusif, bukan sekadar mengulang rilis polisi.”

Dua jam kemudian, Arga berada di luar Imperial Tower, apartemen paling mewah di pusat kota. Apartemen Joon berada di lantai delapan. Meskipun polisi sudah menyelesaikan evakuasi dan menutup tempat kejadian, Arga berhasil menyelinap masuk bersama tim fotografernya, menggunakan kartu pers dan sedikit "uang pelicin" untuk melewati penjaga yang lengah.

Lantai delapan hening. Bau disinfektan bercampur samar dengan aroma parfum mahal. Pintu apartemen Joon, Unit 902, disegel pita kuning polisi. Arga mengabaikannya.

Saat kakinya melangkah melewati ambang pintu, kedinginan tadi kembali, kali ini lebih intens. Ini bukan dingin pendingin ruangan; ini adalah dingin yang mematikan, seolah energi panas telah disedot dari udara.

Apartemen itu luas, dengan jendela kaca setinggi langit-langit. Ruangan tamu didominasi warna monokrom mewah. Semuanya tertata rapi. Terlalu rapi untuk seseorang yang baru saja mengambil nyawanya sendiri.

Arga langsung menuju balkon. Jendela sliding yang lebar terbuka setengah. Di tepi lantai balkon yang terbuat dari marmer hitam, ada bercak kecil, sedikit lebih gelap dari warna lantai, yang disamarkan oleh debu sepatu polisi. Arga berlutut, memeriksanya.

"Darah," bisiknya. "Sedikit. Tapi ini ada di bagian dalam balkon, Ga," kata fotografernya, Rangga.

"Seorang yang bunuh diri dengan melompat dari ketinggian tidak akan berdarah di dalam sebelum dia melompat," jawab Arga, suaranya datar. "Kecuali..."

Mereka kemudian masuk ke kamar tidur utama, yang merupakan pusat tragedi.

Kamar itu gelap. Tirai tebal masih tertutup. Dan di sini, dinginnya terasa paling menusuk.

Di tengah karpet beludru abu-abu, meskipun sudah dibersihkan, Arga bisa melihat sisa-sisa yang tertinggal. Sebuah pola aneh yang seharusnya dicatat polisi sebagai sisa darah. Bukan genangan, melainkan goresan atau guratan tipis, seolah cairan kental ditarik dengan jari. Pola itu melingkar, hampir menyerupai simbol yang tidak Arga kenali, namun entah mengapa terasa familiar, gelap, dan sangat kuno.

Pemandangan itu memicu sakit kepala yang tajam pada Arga. Ia refleks menyentuh tanda merah di wajahnya. Rasa panas yang terpendam muncul dari bawah kulitnya.

"Perhatikan tempat tidur," perintah Arga.

Seprai putih mewah itu kusut, tapi tidak berantakan. Namun, di bantal, ada dua tetes cairan yang mengering. Arga menyentuh salah satunya. Kental. Cokelat kehitaman.

"Kopi?" tanya Rangga.

"Bukan. Ini... minyak atsiri yang sangat aneh," kata Arga, mencoba mengidentifikasi aromanya. Bau yang kuat dan pahit, seolah dicampur dengan belerang yang samar. "Bau ini bercampur dengan bau besi, Rangga. Bau darah yang sangat banyak, yang sudah diserap karpet, tapi bau itu masih tertinggal."

Arga mengamati sekeliling. Tidak ada perlawanan. Tidak ada barang pecah. Tidak ada tanda-tanda perjuangan fisik.

“Joon tidak bunuh diri dan Joon tidak dibunuh secara kasar,” simpul Arga, matanya menyipit. “Dia mungkin tidak sadar ketika dibunuh, atau dia terhipnotis.”

Tiba-tiba, mata Arga tertuju pada sebuah meja rias yang terbuat dari kayu eboni. Di atasnya, tergeletak dompet Joon, jam tangan mewah, dan ponselnya. Ponselnya mati. Namun, di samping ponsel itu, terdapat selembar kertas kecil berwarna hitam pekat.

Arga mengambilnya. Itu bukan kertas. Itu adalah sepotong kain linen yang sangat halus, dipotong persegi. Dan di tengahnya, terdapat goresan tinta merah pekat yang nyaris kering, membentuk sebuah inisial:

B. D.

"Mungkinkah ini sebuah nama seseorang?" gumam Arga bingung.

Inisial itu sebuah tanda dari pembunuh bahwa korban memang dibunuh. Saat jemari Arga menyentuh tinta merah itu, tanda merah di wajahnya terasa terbakar. Rasa panas yang hebat itu mengalir ke seluruh tubuhnya, diikuti oleh bisikan yang begitu dingin hingga menembus tulang:

—Segel kehancuranmu telah aktif. Jiwa murni telah diambil. Pemburu abadi telah bangkit.—

Arga tersentak, menjatuhkan kain hitam itu. Ia tahu sekarang. Kematian Joon adalah awal. Dan inisial B. D. itu adalah benang merah yang akan menariknya ke dalam lubang kegelapan yang telah menunggu dirinya, si pembawa Segel, sejak ia dilahirkan.

"Apa maksudnya?? Segel apa yang aktif?" ucap Arga meneguk salivanya berulang kali.

Setelah rasa panas yang membakar seluruh tubuhnya, Arga mencoba menyentuh kembali kertas tersebut, tetapi tak ada rasa panas seperti tadi namun matanya memancarkan sebuah cahaya dan inisial tadi terlihat jelas menjadi sebuah tulisan yang tak pernah dia duga sebelumnya.

"Bla--" Arga menghentikan kalimatnya ketika Rangga memanggilnya dan menemukan sebuah bukti di dalam saku celana korban.

"Apa yang kau temukan, Rangga?" tanya Arga sangat penasaran dan lekas mengikuti Rangga dari belakang menuju ke jasad korban.

Arga mengernyitkan dahinya melihat bukti merupakan jam tangan mewah dengan bercak penuh darah.

"Rangga, periksa jam tangan ini. Apakah ini miliki korban atau milik pembunuh?"

Lanjut membaca
Lanjut membaca