Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
DENDAM DARAH: LAHIR UNTUK MEMBUNUH

DENDAM DARAH: LAHIR UNTUK MEMBUNUH

LYKIRLAN | Bersambung
Jumlah kata
35.8K
Popular
100
Subscribe
3
Novel / DENDAM DARAH: LAHIR UNTUK MEMBUNUH
DENDAM DARAH: LAHIR UNTUK MEMBUNUH

DENDAM DARAH: LAHIR UNTUK MEMBUNUH

LYKIRLAN| Bersambung
Jumlah Kata
35.8K
Popular
100
Subscribe
3
Sinopsis
18+FantasiFantasi TimurPedangThrillerBalas Dendam
Pandu, pemuda 20 tahun berdarah campuran Indonesia-Linggala dengan mata tertutup kain putih, memulai perjalanan balas dendam untuk menemukan dan membunuh perwira Linggala yang memperkosa sang ibu. Dilatih menjadi pendekar mematikan, ia berburu tanpa ampun—membunuh satu per satu, mencari kebenaran di balik darah yang mengalir dalam tubuhnya.
BAB 1: MIMPI GELAP DAN PERJALANAN DIMULAI

BAB 1

MIMPI GELAP DAN PERJALANAN DIMULAI

Teriakan. Rasa Sakit. Air Mata. Darah. Api.

​Udara berbau besi dan tanah basah. Dalam remang, ia tampak seperti martir yang hancur—berlutut dengan tangan melindungi sesuatu yang tak terlihat. Gelak tawa itu terdengar seperti gesekan logam. Pisau berkilat, darah muncrat menodai bumi. Jeritannya menyayat malam, sebelum akhirnya berubah menjadi parau yang mematikan.

"Lari... jangan lihat ke belakang...'

Pandu tersentak bangun, kesadarannya dipaksa kembali ke dunia nyata. Napasnya terputus-putus, paru-paru yang terasa menciut. Keringat dingin merembes dari pori-porinya, membasahi dahi dan leher.

Jemarinya mencengkeram tanah, mencabut rumput liar dengan gerakan gemetar seolah sedang berpegangan pada nyawanya sendiri. Napasnya memburu, pecah dalam sunyi.

Mimpi itu lagi. Selalu labirin yang sama: wajah ibu yang hilang dalam kabut, jeritan yang menyayat udara, dan warna merah yang membanjiri segalanya.

Ia duduk perlahan, menatap kosong ke depan. Kain putih transparan menutupi matanya, tapi ia bisa merasakan cahaya pagi menyusup melalui serat tipis kain itu.

Gemericik air terjun di sampingnya terdengar tenang, kontras dengan detak jantungnya yang masih bergejolak. Udara pegunungan dingin menusuk kulit, membawa aroma tanah lembab dan dedaunan basah.

Pandu bangkit. Tubuhnya tinggi, tegap—otot-otot terlatih membentuk lengan dan bahunya, namun tidak berlebihan.

Tubuh seorang pendekar. Rambutnya hitam, sedikit panjang, diikat ke belakang dengan karet pada bagian atas, membiarkan sisa rambut jatuh melewati tengkuk. Wajahnya tampan dengan garis rahang tegas, namun dingin—sedingin batu.

Mata sipitnya tersembunyi di balik kain putih yang transparan, pemberian Mbah Emi.

Bekas luka kecil di dahinya, kenangan dari lemparan batu warga saat ia masih kecil.

Ia melangkah menuju air terjun. Air jernih mengalir deras dari tebing batu, menabrak bebatuan besar di bawahnya, menciptakan kabut tipis yang menari-nari di udara pagi.

Pandu melepas pakaiannya—kain sederhana itu terlepas, memperlihatkan tubuh yang lelah oleh perjalanan panjang. Pandu menyerahkan dirinya pada pelukan air yang sedingin es. Ia tidak bergeming; rasa dingin itu justru membantunya merasa 'hidup' kembali setelah mimpi buruk tadi.

Ia menutup mata, merasakan tiap tetes air menghanyutkan beban yang melekat di kulitnya. Di bawah permukaan air, dunia terasa sunyi—hanya ada dia dan aliran yang membasuh segala sisa luka

Setelah beberapa saat, ia keluar. Tubuhnya menetes, tapi ia tidak terburu-buru mengeringkan diri. Ia mengambil pakaian baru dari tas kecil yang tergeletak di bawah pohon—kain sederhana berwarna gelap. Ia mengenakan pakaian itu dengan gerakan efisien, tanpa buang waktu. Lalu ia berjalan menuju pedangnya.

Pedang itu tergeletak dalam sarung kulit tua, bersandar di pohon besar. Pandu mengambilnya, menarik pedang sedikit dari sarungnya. Bilah pedang mengkilat—panjang sembilan puluh sentimeter, lurus, tajam. Gagang kayu sederhana dililitkan kain hitam.

Tidak ada karat. Baik. Ia memasukkan kembali pedang ke dalam sarung, lalu mengikatnya di punggungnya dengan tali kulit. Beban yang familiar. Beban yang menenangkan.

Ia mengambil tas kecilnya—hanya berisi sedikit roti kering, sebotol air dan uang. Tidak ada yang lain. Tidak ada yang ia butuhkan. Ia berdiri di sana sejenak, menatap air terjun—atau setidaknya menghadapnya.

Kain itu menutup matanya, tapi tidak dengan pandangannya. Pandu menangkap dunia lewat riak udara dan tarikan energi yang halus. Tanpa cahaya, ia justru tahu persis apa yang ada di depannya.

Sebuah keahlian yang dibayar mahal dengan didikan keras Mbah Emi. Sekarang, gurunya itu telah mati, dan Pandu adalah satu-satunya saksi atas ilmu terlarang yang ia tinggalkan.

Ibu. Mbah Emi. Semua sudah pergi.

Jemarinya mengepal hingga buku-bukunya memutih. Di dalam dadanya, kebencian itu mendidih—cairan hitam yang panas dan menyesakkan.

Orang-orang Linggala. Nama itu adalah kutukan yang mengalir dalam darahnya sendiri.

Mereka tidak hanya menjajah tanah ini, mereka menjajah rahim ibunya. Mereka menciptakan Pandu sebagai bukti kekejaman yang tak bisa dihapus. Ia adalah anak yang lahir dari sisa-sisa kehancuran, dibuang oleh darah sang ayah dan ditolak oleh bangsa sang ibu.

Terasing, terkutuk, penuh dendam dan kebencian.

Aku akan membunuh mereka semua.

Tekadnya sederhana. Tidak ada rencana rumit. Hanya satu tujuan: temukan orang-orang Linggala yang terlibat. Bunuh mereka satu per satu. Hingga pada target utamanya: bajingan yang menanamkan benih busuk di rahim ibunya.

Ayah kandungnya akan mati di tangannya, dan ia akan memastikan pria itu tahu bahwa kematiannya datang dari darah dagingnya sendiri

Darah Linggala yang mengalir di nadinya terasa seperti racun yang membakar kulit. Ia ingin memuntahkannya, namun karena tidak bisa, ia akan memuntahkan darah mereka ke tanah.

Pandu berbalik, meninggalkan air terjun. Kakinya melangkah memasuki hutan. Pepohonan tinggi menjulang di sekitarnya—batang-batang besar tertutup lumut, akar-akar menonjol di tanah.

Cahaya matahari pagi menyusup melalui celah dedaunan, menciptakan garis-garis emas yang bergoyang-goyang di tanah. Burung-burung berkicau di kejauhan. Angin sepoi-sepoi membawa aroma daun basah dan tanah lembab.

Ia berjalan sendirian. Tidak ada suara langkah selain miliknya. Tidak ada yang menemani. Tidak ada yang peduli. Dunia ini luas, tapi ia sendirian. Selalu sendirian.

Tidak apa. Aku tidak butuh siapa pun.

Tapi kekosongan di dadanya tetap ada—lubang besar yang tidak bisa diisi. Ia mencoba mengabaikannya. Fokus pada misi. Fokus pada dendam yang penuh kebencian. Itu yang membuatnya tetap berjalan.

Perjalanan melalui hutan memakan waktu. Matahari naik perlahan, menghangatkan udara. Keringat mulai membasahi punggungnya. Kakinya tidak pernah berhenti—langkah demi langkah, terus maju. Ia melewati sungai kecil, melompati batu-batu licin. Ia melewati semak-semak berduri, menghindar dengan gerakan halus. Ia melewati pohon tumbang, memanjat dengan mudah.

Tidak ada pikiran lain selain misi. Tidak ada perasaan lain selain kebencian. Hanya itu yang tersisa di dalam dirinya.

Setelah berjam-jam, hutan mulai menipis. Pepohonan semakin jarang. Cahaya matahari semakin terang. Lalu ia keluar—keluar dari hutan, berdiri di tepi sebuah bukit kecil.

Di bawah sana, di lembah, sebuah desa kecil terlihat. Rumah-rumah kayu sederhana tersebar tidak teratur. Asap tipis naik dari beberapa atap—tanda kehidupan pagi hari. Sawah-sawah hijau membentang di sekitar desa. Jalan tanah sempit menghubungkan rumah-rumah itu.

Pandu berdiri diam, menatap desa itu dari kejauhan. Kekosongan di dadanya semakin besar. Tidak ada kehangatan. Tidak ada harapan. Hanya tekad dingin yang membeku.

Di sana. Mungkin ada yang tahu.

Ia mulai berjalan menuruni bukit. Langkahnya pasti, tidak tergesa. Kain putih di matanya berkibar tertiup angin pagi. Pedang di punggungnya bergoyang sedikit mengikuti langkahnya.

Matahari terbit penuh di ufuk timur, menyinari dunia dengan cahaya keemasan—cahaya yang hangat, cahaya yang penuh harapan.

Tapi Pandu tidak merasakannya. Yang ia rasakan hanya dingin. Dingin yang tidak akan pernah hilang.

Misinya dimulai.

Lanjut membaca
Lanjut membaca