Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
PESONA SANG AKTOR PENGGANTI

PESONA SANG AKTOR PENGGANTI

KEZHIA ZHOU | Bersambung
Jumlah kata
29.7K
Popular
100
Subscribe
29
Novel / PESONA SANG AKTOR PENGGANTI
PESONA SANG AKTOR PENGGANTI

PESONA SANG AKTOR PENGGANTI

KEZHIA ZHOU| Bersambung
Jumlah Kata
29.7K
Popular
100
Subscribe
29
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalZero To HeroHarem21+
❗ WARNING❗ KONTEN DEWASA❗ "NGGHH...! KAU BEGITU SEKSI MALAM INI..” "LEBIH DALAM JOE! AKU SUKA!” ** "ROLLING — KAMERA — ACTION!! "----------------------- JOE HANYALAH AKTOR PENGGANTI --------------------- Di dunia perfilman, ia terbiasa jatuh dari gedung tinggi, atau menerima pukulan demi adegan sempurna, tanpa pernah mendapatkan sorotan kamera. Namanya juga tak pernah tercetak di layar. Gajinya pas pas an. Kehadirannya sering dianggap tidak penting. ---------------------- Termasuk oleh wanita yang sangat dia cintai. ---------------------- Hingga sebuah liontin warisan mendiang ibunya mengubah segalanya. Sejak itu, sesuatu dalam dirinya bangkit. ---------------------- Ia adalah pusat hasrat. Pusat kuasa. Pria yang dipuja. Bahkan tak hanya satu wanita yang memintanya bercinta. Bagaimanakah akhir perjalanan hidup dan cinta sang STUNTMAN? Akankah Joe tetap menjadi pengganti?
PRIA TANPA MASA DEPAN

"Aku yakin Anita akan menyukai ini.” Ucapnya kepada dirinya sendiri, sembari menatap kotak kecil yang sedari tadi dia genggam.

Joe melangkah dengan mantab. Hari ini adalah ulang tahun Anita, kekasihnya. Gadis yang sudah tiga tahun bersamanya.

“Apakah Anita akan marah padaku, karena aku datang terlambat? Hufh..” katanya sambil berlari kecil mempercepat langkahnya.

Begitu memasuki ruangan, langkahnya terhenti. Matanya terbelalak, ketika mendapati kekasihnya dengan gaun cantik bak Cinderela sedang berciuman dengan seorang pria berjas. Tangan kanan pria itu melingkar mesra di pinggang Anita.

Tepuk tangan tamu undangan memenuhi ruangan yang dihiasi dengan dekor mewah.

Joe akhirnya melangkah mendekat. Tangannya semakin erat menggenggam kotak kecil itu.

“Anita.. apa yang kau lakukan?”

Wanita cantik itu menoleh, menatap Joe dengan senyum. Tidak ada penyesalan. Seolah semua ini memang sudah direncanakan.

Joe berdiri dihadapan Anita.

“Kau bertanya padaku apa yang sedang kulakukan?” jawabnya dengan nada ketus.

Joe terdiam.

“Kita putus Joe!” ucap wanita itu tanpa basa basi.

Joe terkejut.

“A-apa maksudmu?”

Pria yang tadi menciumnya melangkah, tangannya melingkar dengan santainya di pinggang Anita.

“Aku sudah punya kekasih Joe. Dia adalah seorang pengusaha hebat. Bukan sepertimu.”

DEG!

Joe menatap Anita dan pria itu bergantian. Dadanya berdegup cepat. Ada amarah yang dia tahan mati matian.

“Seharusnya kau mengatakan ini sejak awal, Anita. Jadi aku tidak harus berkorban banyak untukmu.”

Ucapnya dengan tenang.

“SERET DIA KELUAR!” Perintah pria disamping Anita yang merasa tidak nyaman dengan kehadiran Joe.

Beberapa pria langsung menarik lengan Joe, namun Joe bertahan. Matanya menyala marah.

“Kau sama saja dengan wanita murahan diluar sana.” Ucap Joe.

PLAAAAKKK...!!!

Tangan Anita menampar keras wajah Joe, membuat wajahnya menoleh ke kanan. Tangan Anita segera mencengkeram rahang Joe menatapnya dengan hina.

“Kau tampan. Itu benar, Joe. Tapi wajah tampanmu tak bisa membayar hidupku.”

Joe menggerakkan kepalanya, membuat cengekeraman tangan Anita terlepas.

“Apakah kau pikir aku bisa hidup dengan pria sepertimu? Kau bahkan tak punya masa depan.”

“Yang aku butuhkan adalah pria berduit. Pria kaya. Pria yang sukses.”

Ucapan itu seolah menamparnya lebih keras. Namun Joe hanya tersenyum kecut.

“Baiklah kalau begitu. Aku harap setelah ini, kau tidak akan menyesalinya.”

Joe mengibaskan badannya. Melepaskan diri dari cengkeraman pria pria yang akan menyeretnya.

“Kalian tidak perlu menyeretku keluar, aku bisa sendiri." Ucapnya.

Joe pun berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan ruangan dengan hati yang hancur. Langkahnya lebih lambat dari sebelumnya. Namun tidak ada air mata.

Joe menunduk, memandang kotak kecil yang sejak tadi dia genggam. Dibukanya perlahan. Kilau permata dari cincin itu begitu berkilau. Tanpa banyak berfikir, dia membuangnya ke dalam sampah.

Joe kembali melangkah pergi.

Melupakan wanita itu.

“Joe...” Teriakan seorang wanita terdengar melengking dibelakangnya.

Joe berbalik, menyipitkan matanya. Kemudian tersenyum. Wanita itu berlari kecil menghampirinya.

“Bianca? Kau darimana?” Tanya Joe begitu mengenali siapa yang memanggilnya.

Gadis itu adalah Bianca. Gadis cantik dengan gaya minimalis, tidak berlebihan seperti Anita mantan kekasihnya.

“Aku hanya sedang lewat saja, tiba tiba melihatmu.” Ucap Bianca dengan senyum ramahnya.

Namun senyum itu seketika hilang, ketika Bianca menyadari sesuatu. Tangannya terangkat, hendak menyentuh pipi kiri Joe.

“Joe, kenapa pipimu merah? Kau habis ditampar?” tanyanya.

Joe menghindari sentuhan wanita itu. Lalu mengusap pipi kirinya yang memerah, kontras dengan kulit putih bersihnya.

“Bagaimana kalau kita ngobrol sambil minum teh?” Tanya Bianca.

Joe hanya mengangguk. Tidak jauh dari sana ada sebuah kedai sederhana. Mereka masuk dan duduk berhadapan.

Uap teh panas mengepul di ruangan siang itu. Joe meniup tehnya dan mulai menyeruput.

Diam diam Bianca memandang Joe. Memperhatikan wajah lelah pria itu.

“Aku putus dengan Anita.” Ucap Joe.

“Apa? Benarkah? Kenapa?” Tanya Bianca.

Joe menoleh memandang ke jendela, melihat kendaraan yang berlalu lalang.

“Kau tau kan, sejak lama Anita ingin aku berhenti dari pekerjaanku? Karena katanya bekerja sebagai Stuntman tidak punya masa depan. Tidak ada duitnya.”

“Lalu sekarang dia punya pria lain, begitu? Kejam sekali.”Ucap Bianca terlihat ikut kesal.

Joe hanya tersenyum kecil, memandang cangkir panas di hadapannya. Perlahan tangan Bianca terulur, mengusap punggung tangan Joe. Menenangkan pria itu, seolah dia berkata bahwa semuanya akan baik baik saja.

“Kalau kau butuh teman bicara, aku siap mendengarmu Joe.”Ucapnya.

Joe tersenyum kecil, menarik tangannya perlahan. Tidak kasar, namun tetap tegas. Tangannya terangkat menatap jam di tangannya.

“Ah, maafkan aku Bianca, aku harus bekerja. Aku ada syuting siang ini.”Ucapnya sambil berdiri.

Bianca mengangguk dan tersneyum.

“Tidak apa Joe. Lain kali kita masih bisa bertemu. Kali ini aku yang traktir, ya.”Ucapnya.

Joe terdiam sejenak, sebelum akhirnya tersenyum.

“Baiklah. Aku pergi dulu.”

“Hati hati dijalan Joe...” teriak Bianca memandangi punggung tegap pria yang diam diam dia sukai, mulai menjauh pergi.

**

Tidak memerlukan waktu lama ketika Joe sudah tiba di lokasi syuting, segera masuk ke ruang ganti.

Gudang tua disulap menjadi arena perkelahian brutal. Kamera besar mengarah ke tengah ruangan, tempat seorang aktor papan atas berdiri dengan jas mahal.

Disudut ruangan, Joe berdiri.

Memakai kostum yang sama. Rambutnya dibuat sedikit berantakan.

“Kau siap Joe? Masih ingat adegannya kan?” Tanya seorang staff.

Joe mengangguk.

“Stuntman siap!” teriak sang sutradara sambil melipat tangan.

Joe melangkah mendekat, mengangkat ibu jarinya tanda bahwa dia sudah siap.

“Joe!” teriak asisten sutradara lagi.

“Siap jatuh dari tangga besi, guling tiga kali, terus terima pukulan besi di bahu. Jangan salah timing.”

Joe hanya mengangguk.

Tak ada tepuk tangan.

Tak ada perhatian khusus.

Ia sudah terbiasa.

Aktor utama menghampirinya, menepuk bahunya pelan.

“Pastikan kau jatuh dengan bagus, ya. Jangan bikin mukaku kelihatan bodoh.”

Joe menatapnya sebentar. Hanya mengangguk.

“ROLLING!”

“CAMERA!”

“ACTION!”

Aktor utama berlari ke arah musuh. Tepat sebelum pukulan mendarat—CUT!

Joe masuk.

Pukulan besi menghantam bahunya sungguhan.

Suara benturan keras menggema.

Ia terhuyung, jatuh dari tangga besi setinggi tiga meter, tubuhnya membentur lantai beton, lalu berguling sesuai koreografi.

Sakitnya nyata.

Tapi wajahnya tetap datar.

“LANJUT!” teriak sutradara.

Aktor utamapun melanjutkan syuting hingga selesai. Joe melangkah masuk ke dalam ruangan.

“Joe, kau baik baik saja?” Tanya seorang lelaki berperawakan lebih kecil darinya. Teman yang sudah dia kenal lama sebagai seornag Stuntman.

Joe hanya mengangguk, sambil memegangi bahunya yang sakit. Pria itu duduk disamping Joe yang mulai mengganti pakaiannya.

“Kalau aku jadi kamu, pasti aku sudah keluar sejak lama. Aku tidak akan memberikan tubuhku untuk dipukuli begitu saja.” Ucapnya.

Joe tersenyum kecil. Hanya menoleh sedikit. Lalu mengambil sebotol air putih, meneguknya dengan cepat.

“Aku butuh uang.”Jawabnya singkat.

Lalu Joe duduk disamping pria itu.

“Kau tau kan, sejak ayah dan ibuku meninggal, aku harus bekerja sendiri mencari uang.”Ucapnya.

Pria disampingnya memang tau bagaimana kondisi kehidupan Joe. Dia hanya mengusap punggung pria itu. Sebelum akhirnya Joe berdiri dan kembali memakai jaketnya.

“Yah... begitulah kehidupan. Kadang tidak selalu manis. Tapi bagaimanapun aku harus tetap bertahan. Aku pergi dulu ya, besok aku harus kembali bekerja.”Ucap Joe.

Lalu dia melangkah pergi. Motor lamanya menyala, membawanya pulang. Tidak memerlukan waktu lama ketika motornya tiba didepan rumah kecil, dengan cat hijau yang sudah mengelupas.

KREEEKK..!

Pintu kayu berderit, saat Joe mendorongnya.

Plafon sedikit retak. Bau lembap bercampur debu. Rumah peninggalan ayah dan ibunya—jauh dari kata layak, tapi satu-satunya tempat yang ia punya.

Joe menutup pintu, melempar tasnya ke sudut ruangan.

Ia duduk di lantai. Bersandar pada dinding yang dingin.

“Benarkah aku tidak punya masa depan?”

Ia mendengus pelan, mengingat ucapan Anita tadi.

Joe berdiri pelan. Berjalan ke lemari kayu tua yang pintunya sedikit miring. Hendak mengambil baju ganti. Namun matanya terpaku pada sesuatu disudut lemari.

Sebuah kotak kayu tua.

Tempat foto-foto lama disimpan.

Ia terdiam sejenak. Lalu mengambilnya.

Joe kembali duduk di lantai. Membuka kotak itu perlahan.

Satu per satu foto lama ia keluarkan.

Ayahnya—tersenyum lebar dengan tangan penuh oli.

Ibunya—tertawa lembut, memeluknya saat kecil.

Sudut bibir Joe terangkat tipis.

“Sepertinya aku merindukan mereka...”

Ia mengusap debu di permukaan foto dengan ibu jarinya. Pelan. Seolah satu sentuhan kasar saja bisa merusak kenangan yang tersisa.

Sunyi.

Hanya suara napasnya sendiri memenuhi ruangan sempit itu.

Lalu—

Sesuatu terlepas dari sela-sela foto.

Ting.

Benda kecil itu jatuh ke lantai.

Joe menunduk.

Sebuah kalung.

Rantai perak sederhana dengan liontin bulat polos. Tak ada ukiran. Tak ada nama.

Ia memungutnya perlahan.

“Apa ini...?”

Joe mengangkat liontin itu ke arah cahaya lampu yang redup. Permukaannya kusam, tapi entah kenapa terasa… hidup.

Aneh.

Ia yakin tak pernah melihat benda ini sebelumnya. Joe memegangnya lebih erat.

“Ahh—”

Ujung jarinya tiba-tiba tergores bagian tajam di sisi liontin.

Setetes darah menetes.

Mengenai permukaan bulat perak itu.

Satu detik. Dua detik.

Tiba tiba, liontin itu menyala.

Cahaya hangat muncul dari dalamnya. Bukan pantulan lampu. Bukan ilusi.

Cahaya itu berdenyut.

Joe terbelalak.

“A-apa—?!”

Refleks, ia melemparkan liontin itu ke lantai.

Kalung itu terjatuh dengan bunyi keras.

Joe mundur selangkah.

“A-apa itu..”

Lanjut membaca
Lanjut membaca