

DARAH YANG MENOLAK LUPA DAN MENYAMBUT TAKDIR.
Glegaaaarrrr!
Petir menyambar dan meledak keras.
Di kamar kecil seorang pemuda,
"Argh! Kepalaku! Sialan, kepalaku mau pecah! Tubuhku panas sekali, seperti disengat listrik ribuan Volt. Aaagghhh!"
Rangga mencengkeram rambutnya kuat-kuat. Tubuhnya tersungkur di atas tanah becek pinggiran sungai Sampurna Jaya. Malam itu hujan turun deras dan petir menyambar besar, dinginnya menusuk tulang, tapi keringat bercucuran di dahi pemuda itu.
"Rangga? Kau kenapa, Nak? Hei!"
Seorang lelaki tua bertubuh kekar, dengan bekas luka melintang di pipi, Barja, pemimpin begal yang paling ditakuti di wilayah itu, berjongkok panik. Tangannya yang kasar memegang bahu Rangga.
"Jangan sentuh aku! Pergi!" teriak Rangga. Suaranya bukan lagi suara pemuda dua puluh lima tahun yang biasanya tenang. Ada getaran purba di dalam dirinya dan ledakan energi panas yang tak lazim.
"Ini aku, Ayahmu! Kau kenapa? Apa racun dari pendekar tadi masih bekerja?"
"Ayah? Kau bukan ayahku..." Rangga mendongak. Matanya yang biasanya hitam kecokelatan kini berkilat kemerahan dalam gelap. "Kau... kau yang memungutku dari air dingin ini, 'kan? Kau yang menemukan mayat bayi yang sudah membiru ini?"
Barja tertegun. Genggamannya melemah. "Rangga, apa yang kau bicarakan? Kau bicara seolah kau sedang mengigau!"
"Suara itu... suara keris itu..." Rangga tidak mendengarkan. Telinganya berdenging. Di dalam kepalanya, pemandangan berganti. Hujan di pinggir sungai itu lenyap, digantikan oleh aroma kemenyan dan sutra mahal di sebuah kamar megah.
Flashback dalam benak Rangga...
"Bunuh dia, Rawe! Jangan ragu! Darahnya adalah kutukan!"
"Tapi Gusti Adipati Tungga Jaya... dia putra kandungmu. Dia baru saja menghirup napas pertamanya."
"Hanya karena dia keluar dari rahim istri sahku, bukan berarti dia manusia! Narsih benar, lihat tanda di punggungnya! Itu segel Dasakala! Jika dia hidup sampai dewasa, Jawa akan runtuh dalam kegelapan! Cepat, Patih Rawe! Sebelum Mangkubumi datang menghalangiku!"
"Baik, Gusti. Ampuni hamba, pangeran kecil..."
Rangga merasakan dingin yang luar biasa. Bukan dingin hujan, tapi dinginnya mata pisau yang menembus jantung bayi yang lemah. Dia merasakan rasa sakit yang tak terlukiskan, rasa dikhianati oleh darah daging sendiri.
"Hahaha! Bagus, Rawe! Buang mayatnya ke sungai paling deras! Biar dia membusuk di dasar samudera!"
Suara tawa seorang wanita. Narsih Winarni. Selir narsistik itu berdiri di sudut ruangan dengan senyum kemenangan.
*Kembali ke masa kini...*
"Bajingan!" Rangga memukul tanah hingga amblas beberapa sentimeter. "Dia membunuhku... Ayah kandungku sendiri membunuhku karena ramalan murahan seorang selir!"
"Rangga! Sadar! Kau bicara apa?!" Barja mengguncang tubuh Rangga. "Aku ayahmu! Aku yang membesarkanmu dengan darah dan hasil rampokan! Jangan bicara aneh-aneh!"
Rangga menoleh. Tatapannya dingin, setajam sembilu. "Terima kasih sudah membesarkan wadah ini, Barja. Tapi bayi yang kau temukan di pinggir sungai dua puluh lima tahun lalu itu memang sudah mati. Jasadnya membeku, jantungnya berhenti. Hanya karena darah Mangkubumi yang mengalir di jiwaku, aku bisa merebut raga putra kandungmu yang mati kedinginan itu."
Barja mundur selangkah, wajahnya pucat. "Bagaimana kau... bagaimana kau tahu cerita itu? Aku tidak pernah memberitahumu kalau aku menemukanmu di sungai dalam keadaan... mati."
"Karena aku mengingatnya sekarang. Semuanya. Setiap tetes darah yang tumpah di lantai keraton itu. Setiap kata kutukan yang diucapkan Adipati Tungga Jaya Mahesa."
Rangga berdiri pelan. Tubuhnya mengeluarkan uap panas meskipun diguyur hujan. Luka-luka di tangannya akibat pertarungan sebelumnya menutup dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
"Dua puluh lima tahun," gumam Rangga, melihat telapak tangannya sendiri. "Garis takdir ini akhirnya tersambung. Aku tidak hanya membawa nyawa bayi begal ini, aku membawa dendam Rangga Mahesa yang asli."
"Rangga... kau menakutiku, Nak," suara Barja bergetar. Dia meraba hulu pedangnya, sebuah insting bertahan hidup dari seorang predator yang merasa terancam.
"Jangan takut, Barja. Kau merawatku dengan baik. Meskipun kau seorang begal, kau lebih punya hati daripada seorang Adipati yang dipuja rakyatnya." Rangga melangkah mendekat. "Tapi mulai malam ini, anakmu yang penurut sudah tidak ada."
"Lalu siapa kau?"
"Aku akan menjadi bencana yang diramalkan wanita jalang itu. Aku akan menjadi kutukan yang mereka takuti. Dan aku... adalah Rangga Mahesa, pewaris sah Mangkubumi yang menolak untuk tetap mati. Aku benci pakai nama Mahesa. Itu menjijikkan!"
Tiba-tiba, dari balik semak-semak, muncul lima orang pria berpakaian hitam dengan senjata terhunus. Anak buah dari kelompok saingan Barja yang mengejar mereka sejak tadi.
"Itu mereka! Habisi Barja dan si anak ingusan itu!" teriak salah satu dari mereka sambil menerjang.
Barja bersiap mencabut pedangnya, tapi Rangga lebih cepat. Gerakannya bukan lagi gerakan silat jalanan begal. Itu adalah gerakan aristokrat yang mematikan, cepat, dan penuh tenaga dalam yang meluap-luap.
*Crat!*
Tanpa senjata, hanya dengan tangan kosong, Rangga menghantam dada penyerang pertama. Terdengar bunyi tulang rusuk yang remuk seketika. Pria itu terpental jauh, menghantam pohon hingga tumbang.
"Satu," ucap Rangga datar.
Empat orang lainnya ragu-ragu. "Sial! Apa yang terjadi dengan anak itu? Matanya... matanya menyala!"
"Maju kalian semua!" tantang Rangga. Suaranya menggelegar, membuat air sungai seolah berhenti mengalir sesaat. "Aku baru saja bangun dari tidur panjang, dan aku butuh pemanasan sebelum aku memenggal kepala seorang Patih dan meruntuhkan sebuah Kadipaten!"
"Gila! Dia gila! Serang!"
Ketiga orang itu maju bersamaan. Rangga hanya berdiri diam. Saat pedang-pedang itu hampir menyentuh lehernya, dia menghilang dalam sekejap mata.
*Zlap!*
"Di mana dia?!"
"Di belakangmu, kawan."
Rangga sudah berdiri di belakang mereka. Dengan satu gerakan memutar yang anggun namun brutal, dia menyambar kepala dua orang dan membenturkannya satu sama lain dengan kekuatan yang menghancurkan tengkorak.
Dua jasad jatuh berdebum.
Tersisa satu orang yang gemetar hebat, menjatuhkan pedangnya. "Ampun... ampun..."
Rangga mendekat, mencengkeram leher pria itu dan mengangkatnya ke udara hanya dengan satu tangan. "Katakan padaku. Siapa penguasa tertinggi di wilayah Sampurna Jaya sekarang?"
"A-Adipati Tungga Jaya Mahesa... Gusti..." jawab pria itu terbata-bata di ujung napas.
"Bagus. Berarti dia masih hidup. Berarti dia masih punya waktu untuk merasakan ketakutan." Rangga melepaskan cengkeramannya. Pria itu jatuh tersungkur, terbatuk-batuk. "Pergilah. Beritahu tuanmu, atau siapapun yang kau temui. Katakan bahwa air sungai tidak bisa menenggelamkan takdir. Katakan... Rangga Mahesa telah kembali."
Pria itu lari terbirit-birit masuk ke dalam kegelapan hutan tanpa menoleh lagi.
Barja hanya bisa terpaku melihat pemandangan itu. Anak yang dia besarkan selama dua puluh lima tahun kini terasa seperti orang asing yang sangat kuat dan mengerikan.
"Rangga... apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Barja lirih.
Rangga menatap ke arah timur, ke arah di mana Kadipaten Tungga Jaya berada. Matanya kini tenang, namun pancaran dendamnya tak bisa disembunyikan.
"Aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku, Barja. Mahkota, kehormatan, dan nyawa mereka yang mencoba membuangku seperti sampah."
Rangga melangkah maju, membelah kegelapan malam. "Garis takdirku baru saja dimulai hari ini. Dan Jawa... akan mengingat namaku dengan gemetar."
Angin bertiup kencang, membawa aroma darah dan hujan. Di kejauhan, petir menyambar, seolah menyambut kembalinya sang pemilik darah Mangkubumi yang telah lama hilang.
"Ayo, Barja. Kita punya banyak hal yang harus diselesaikan."
Rangga tidak menoleh lagi. Setiap langkahnya kini meninggalkan jejak kaki yang dalam di tanah, simbol dari beban masa lalu yang kini dia pikul sepenuhnya. Ingatan tentang bayi yang menangis di ujung keris Rawe kini menjadi bahan bakar api yang tidak akan padam sampai semuanya rata dengan tanah.
"Ayah... Tungga Jaya Mahesa... tunggu aku. Putra terkutukmu ini akan pulang. Menjemput ajalmu!"
"Aku akan memberitahu yang sebenarnya padamu, mengatakan bahwa wadah dasakala yang sebenarnya adalah putra yang kau sayangi, putra dari wanita iblis yang sudah menfitnah ibunda dan aku! Dwipangga Mahesa!"
"Sampai jumpa di Kadipaten!"
Rangga meninggalkan rumah Braja, hanya ingin mengetahui situasi di sana.
"Bagaimana hidup mereka sekarang?"