

Sore itu, langit berwarna kelabu gelap. Hujan gerimis turun membasahi Kota Solo.
Di depan swalayan di dekat kampus ternama. Lampu luar menyala otomatis, meskipun hari belum malam. Cahaya putihnya menerangi tubuh hitam dan kurus Ananta Jago Sarwana (21). Rompi oranye kusam menempel di dadanya. Jas hujan plastik tipis membungkus tubuhnya, robek di beberapa bagian.
“Parkir, Mas…”
Suara Ananta kecil. Kalah oleh deru mesin, klakson, dan tawa mahasiswa yang lewat begitu saja.
Sebuah motor sport berhenti mendadak di depannya. Seorang mahasiswa, gagah nan tampan turun bersama seorang gadis cantik, memakai pakaian minim yang memperlihatkan lekukan tubuh dan kulit putih mulusnya. Helm mahal mereka disampirkan sembarangan, nyaris jatuh. Mereka tidak melihat Ananta atau sengaja tidak mau.
Ananta tetap bekerja. Tangannya yang kurus hitam mengarahkan motor sport itu ke garis putih yang hampir lenyap, catnya terkikis oleh waktu dan ban kendaraan.
Saat Ananta membentangkan perlak plastik untuk menutup jok, gadis itu menoleh dengan wajah masam.
“Eh, jangan pakai itu!” bentaknya. “Jijik. Bisa bikin gatal kulitku.” Ia bergidik, seolah perlak itu kotor, seolah tangan Ananta membawa penyakit.
“Masih gerimis, Mbak,” kata Ananta. Suaranya nyaris seperti meminta izin. Tangannya tampak ragu untuk mengambil perlak itu.
Mahasiswa itu langsung menatap tajam. “Jangan bantah! Amel – cewek gue anak kedokteran, harus higienis,” katanya.
Ananta mengangguk dan cepat cepat mengambil perlak plastiknya.
Sebelum melangkah, mahasiswa itu mendorong tubuh Ananta, “Dan jangan lihat cewek gue lama-lama.” Katanya dengan nada kasar. Ironisnya tidak hanya Ananta yang menatap pacarnya.
Ia merangkul pacarnya, menekan tubuh gadis itu ke sisinya, lalu berjalan cepat menuju swalayan. Punggung mereka menjauh, kering dan aman.
Ananta berdiri di tempatnya. Perlak plastik terlipat kembali di tangannya. Gerimis kini jatuh lebih rapat, menembus jas hujan murahan.
Pintu swalayan terbuka lagi. Seorang perempuan muda.. Cantik, keluar. Novi, pelayan swalayan. Jaketnya rapi, tas tersampir di bahu. Wajahnya bersih, wangi parfum tercium bahkan dari jarak beberapa langkah. Ia berhenti, menatap Ananta dari ujung kaki sampai kepala.
“Hah… kamu masih di sini?” katanya. Bukan heran. Tapi seperti jijik.
Ananta menunduk sedikit. “Iya, Mbak.”
Novi berdecak. “Pantes bau. Dari tadi kehujanan ya?” Ia mengibaskan tangan di depan hidungnya, berlebihan. “Ya ampun, Mas… kalau berdiri jangan deket-deket pintu dong. Pelanggan bisa nggak nyaman.”
Ananta bergeser setengah langkah ke samping. Aspal basah menggesek sandal tipisnya.
“Terus itu…” Novi menunjuk perlak plastik di tangan Ananta. “Jangan dipakai sembarangan. Kelihatan jorok. Ini swalayan, bukan pasar rombeng.”
“Iya, Mbak,” jawab Ananta cepat.
Novi tersenyum tipis. Senyum yang bukan ramah. “Kamu tuh harusnya tahu diri. Kerja cuma tukang parkir aja sok ngatur motor orang.”
Kalimat itu diucapkan santai. Namun nadanya sangat ketus.
Belum sempat Ananta membalas, pintu swalayan terbuka lagi. Mahasiswa dan pacarnya keluar sambil tertawa. Novi langsung berubah. Senyumnya lebar, suaranya naik setengah oktaf.
“Makasih ya, Mas. Hati-hati di jalan,” katanya manis.
Mahasiswa itu menoleh ke Ananta. “Eh, parkirnya bego. Jok motor gue basah.”
Novi ikut melirik. “Ya maklum, Mas,” katanya ringan. “Orang-orang kayak gini mana ngerti motor mahal.”
Ananta tersentak. Kata kayak gini menusuk lebih dalam dari makian. Ananta hanya bisa diam. Kalau bicara pasti akan salah lagi.
Mahasiswa tertawa, lalu merogoh saku. Sebuah koin seribu dilempar sembarangan. Koin itu memantul, lalu menggelinding ke selokan kecil.
“Ambil tuh,” katanya. “Lumayan buat makan.”
Amel, pacar mahasiswa itu, terkikik riang, merasa senang mendapat hiburan.
Novi ikut tertawa kecil. “Mas Anan, jangan lupa diambil. Itu rezeki, dosa menolak rezeki” katanya, sambil menatap selokan itu. “Kamu kan butuh.”
Hujan turun lebih rapat lagi.
Ananta berdiri diam. Dadanya panas, tenggorokannya kering. Semua mata mengarah padanya. Menunggu apa yang akan dilakukan oleh Ananta.
Akhirnya Ananta jongkok. Air kotor membasahi lutut celananya. Jarinya menyentuh koin dingin berlumpur. Saat ia berdiri lagi, Novi menatapnya sambil mengernyit.
“Ih… jangan pegang pintu habis itu ya,” katanya cepat. “Najis.”
Mahasiswa itu menyalakan motor dan pergi, meninggalkan cipratan air dan tawa.
Novi melangkah pergi ke arah parkiran karyawan. Sebelum benar-benar menjauh, ia berhenti sebentar.
“Oh ya, Mas,” katanya tanpa menoleh. “Kalau hidupmu begini terus, jangan nyalahin orang lain ya. Salah sendiri.” Lanjutnya dan terus melangkah pergi.
Ananta berdiri sendirian. Koin seribu itu masih tergenggam di tangannya. Lumpur menempel di garis-garis telapak, seperti noda yang tak mau hilang.
Baru saja Ananta kembali ke emper swalayan untuk berteduh. Suara langkah sepatu berat terdengar dari arah pintu swalayan.
“Eh. Kamu An.”
Pak Satpam yang tubuhnya tinggi besar. Perutnya maju duluan. Seragamnya rapi, kering, dan hangat. Tongkat hitam tergenggam longgar di tangan kanannya, tapi cukup untuk mengingatkan siapa yang berhak memukul.
Ananta menoleh cepat. “Iya, Pak.”
“Sudah berapa kali aku beri kamu peringatan. Jangan di situ!” Nada suaranya Pak Satpam agak meninggi.
“Maaf Pak, saya cari rejeki buat makan.” jawab Ananta. Hujan menetes dari ujung jas hujannya.
Pak Satpam melirik garis putih yang hampir hilang.
Ia mendekat setengah langkah. Bau rokok dan kopi hangat tercium.
“Tahu nggak, kamu bikin pembeli risih. Mereka terus komplain.”
Ananta ingin bicara. Ingin menjelaskan. Tapi yang keluar Cuma dua kata
“Tolong Pak.”
Satpam itu tersenyum tipis. “ Sudah pergi sana, cari makan jangan di sini.”
Tongkat hitam itu diketukkan ke aspal, keras sekali meskipun hanya satu kali. “Kalau masih aku lihat kamu di depan swalayan ini, aku angkut ke pos.”
Ananta mengangguk cepat “Iya, Pak.” Ucapnya dan segera melangkah pergi karena takut.
Ananta bergeser beberapa langkah menjauh swalayan. Ia berdiri di emperan toko alat tulis dan perkantoran. Di sebelah swalayan.
“Mas, boleh di situ. “ ucap laki laki pemilik toko,“ tapi jangan paksa pembeliku bayar parkiran.”
Ananta mengangguk, “Iya Pak, terimakasih.”
Malam turun perlahan. Hujan telah reda, namun toko alat tulis itu tetap sepi pengunjung hingga jam tutup tiba.
Ananta melangkah menyusuri jalan raya yang masih basah. Lampu lampu jalan memantul di genangan air saat ia berbelok masuk ke gang sempit menuju kostnya.
Begitu sampai di depan kost, seorang gadis manis nan imut berdiri dengan tangan berkacak pinggang. Cindy , anak ibu kost.
“Hei, kamu tukang parkir jelek!” teriaknya sambil menatap Ananta tajam.
“Ada apa, Mbak?” tanya Ananta hati hati.
“Kamu sudah janji sama Mama, kan, bayar kost bulan ini?” Nada suaranya sedikit menurun. “Sekarang sudah tanggal dua puluh tujuh. Mana?”
“Maaf, Mbak… uangnya belum cukup,” jawab Ananta lirih.
“Pokoknya bayar sekarang!”
Cindy mendengus kesal. Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah ke halaman kost, mendekati Ananta.
“Kalau belum cukup, berarti sudah ada,” katanya dingin. “Ayo, buka kamarmu.”
Ananta tertegun. “Mbak, jangan gitu..”
“Buka.” Ucap Cindy sambil mendorong pundak Ananta dengan kasar.
Dengan langkah berat, Ananta mengeluarkan kunci dari saku celananya. Pintu kamar itu terbuka, memperlihatkan ruangan sempit.. kasur tipis terhampar di lantai, meja kayu usang.. di atasnya teko plastik berisi air putih. Tas kain berisi pakaian tergeletak di lantai.
Cindy langsung masuk. Matanya menyapu setiap sudut seolah mencari kesalahan.
“Apa ini?” Ia membuka laci meja dan mengeluarkan beberapa lembar uang kusut. Cindy menghitung uang itu dan memang belum cukup untuk bayar uang kost.
“Itu masih saya kumpulkan dulu Mbak, dan buat makan .” kata Ananta pelan.
Cindy tidak menjawab. Ia langsung mengambil uang itu. Tangannya beralih ke tas kain yang teronggok di lantai , mengobrak-abrik isinya. Dompet tua ikut jatuh ke lantai. Ia memungutnya dan membuka resletingnya. Isinya hampir kosong. Tak ada uang. Hanya kartu identitas Ananta dan selembar foto usang almarhum kedua orang tuanya.
Cindy terdiam sejenak. Wajahnya berubah, tapi hanya sesaat. Ia lalu berdiri tegak.
“Dengar ya,” katanya. “Mama sudah sabar sama kamu. Uang ini aku bawa. Kalau sampai akhir bulan nggak lunas. Barang-barangmu aku keluarkan.”
Ananta menunduk. Tangannya mengepal, lalu mengendur. “Saya usahakan, Mbak,” ucapnya lirih. “Saya janji.”
Cindy langsung membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar.
Setelah Cindy pergi. Ananta menutup pintu kamar. Ia mengisi perut kosongnya dengan air putih yang ada.
Ananta duduk di atas kasur tipis.. Malam itu, tubuhnya terasa lebih berat dari biasanya. Bukan hanya lelah. Ada tekanan aneh di dadanya, seperti sesuatu menunggu untuk keluar.
Ananta merebahkan diri, memejamkan mata. Beberapa menit kemudian..
Dunia pun jatuh ke dalam gelap.
Ia berdiri di sebuah pendopo tua. Kayunya menghitam dimakan usia. Lampu minyak menggantung, menyala tenang.
Di depannya, seorang kakek duduk bersila. Memakai baju lurik gelap dan bawahan kain batik.
Rambutnya putih panjang, digelung. Wajahnya penuh garis waktu. Matanya tajam.. terlalu hidup.
“Kamu datang juga, Le,” kata kakek itu pelan.
Ananta menelan ludah.
“Siapa… siapa sampeyan Mbah?”
Kakek itu tersenyum tipis.
“Aku orang yang terlalu lama menunggumu.”
Ia mengangkat tangan, menunjuk dada Ananta .
“Tubuh manusia itu bukan daging semata. Ada jalan-jalan halus yang tak pernah diajarkan di sekolah.”
Ananta ingin bertanya, tapi lidahnya kelu.
Kakek itu berdiri. Dalam sekejap, jarak di antara mereka lenyap. Jari keriput itu menyentuh dada Ananta, tepat di antara tulang rusuk.
Sekejap kemudian, rasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Tubuh manusia adalah peta, urat adalah jalan, ” bisik sang kakek. “Syaraf adalah kunci. Niat adalah penentunya. Dan kau… adalah pewarisnya.”
Pendopo bergetar.
“Bangunlah, Jago!” suara itu menggema. “Hidupmu yang lama sudah selesai.”