
Obsession-Is It Normal?
Hopefull|Bersambung
- Jumlah kata
- 5.3K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 5
- Jumlah kata
- 5.3K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 5
Sinopsis
Aku jatuh cinta pada seorang wanita yang batu kutemui 20 menit yang lalu, keindahannya membuatku terhipnotis dan menjadi aneh, semenjak pertemuan singkat itu, hari-hariku menjadi tidak sama lagi, aku benar-benar mulai tidak waras.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Pertemuan singkat
Aku jatuh cinta pada seorang perempuan yang kutemui beberapa menit lalu. Matanya, rambut hitam panjang yang dibiarkan tergerai tertiup angin, dan wajahnya yang sangat sempurna, untuk sesaat aku merasa dia terlalu sempurna. Aku belum mengenalnya, baru melihatnya berjalan keluar dari toko pakaian sambil menenteng beberapa tas belanja, lalu aku mengikutinya yang menuju ke sebuah restoran Italia yang jaraknya hanya beberapa meter dari toko pakaian. Aku terlihat seperti penguntit yang berjalan pelan dibelakangnya tanpa ketahuan, bersikap senatural mungkin agar orang-oranh disekitar pun tidak tau apa yang sedang aku lakukan.
Ia duduk di sebuah meja dekat jendela, terlihat seorang pramusaji wanita menghampiri dan aku yang duduk diseberangnya pun dapat mendengar suara itu, suara si cantik yang amat merdu dan memanjakan telinga, dari sini dapat kulihat lesung pipi yang muncul ketika ia tersenyum pada pramusaji. Aku seperti tersihir, baru kali ini aku melihat ada manusia seindah itu.
Setelah mencatat pesanan si cantik, pramusaji itu menghampiriku, menanyakan apa yang hendak aku pesan karena memang sudah disediakan menu di masing-masing meja. Aku kelabakan dan cepat-cepat membuka buku menu, menunjuk asal menu best seller yang ada di halaman depan, lalu menyebutkan minuman yang selalu tersedia di restoran manapun, air putih. Pramusaji itu mengangguk dan segera pergi, membuatku lega karena sekarang aku bisa melihat wanita cantik itu lagi, yang kini tengah tersenyum sambil menatap layar ponselnya, kira-kira apa yang dia lihat? apa yang membuatnya tersenyum? apa yang lucu? aku ingin tau! Semuanya, aku ingin tahu semua tentangnya tanpa terkecuali.
Tanpa sadar, atau mungkin aku sadar tapi memilih untuk tidak peduli? entah apapun itu, yang pasti kini tanganku sudah menggenggam ponsel yang sedari tadi ada di saku jaket, membuka aplikasi kamera, tidak lupa mematikan flash dan suaranya, lalu memotret diam-diam wanita yang duduk sendirian di meja dihadapanku, sekali, dua kali, tiga kali, aku terus menekan layar ponselku beberapa kali, dan berhenti ketika sudah merasa puas, entah dia sadar atau tidak, aku harap hanya aku yang tau kelakuanku.
Makananku dan pesanannya sampai dalam waktu cukup dekat, dari caranya mengangkat garpu dan menggunakan sendok sebagai tumpuan, caranya menyuapkan pasta kedalam mulut, bibirnya yang berwarna semerah cerry tidak tipis namun tidak tebal itu terkatup ketika ia mengunyah, semua terlihat elegan, manis dan anggun. Aku terpana, jadi begini rasanya melihat bidadari makan pasta.
Aku beruntung karena saat ini aku sedang menggunakan kacamata, karena pantulan cahaya dari jendela lebar disekeliling restoran yang tidak terlalu besar ini pasti menyilaukan matanya saat melihat kearah kacamataku. Sehingga tatapan yang sejak tadi tertuju padanya pasti tidak akan terlalu ketara, atau malah tidak ketahuan, mungkin lain kali aku akan menggunakan kacamata hitam dan penyamaran yang sempurna.
Sambil menikmati makananku yang ternyata juga sepiring pasta, aku mempelajari gerak geriknya yang sejak tadi terlihat fokus pada ponsel berwarna hitam yang tidak banyak aksesoris, tidak seperti kebanyakan wanita yang selalu memenuhi tas maupun ponsel pintarnya dengan hiasan mengganggu, salah satu alasan aku tertatik pada si cantik ini ya itu, dia terlihat berbeda dari perempuan lain. Sebenarnya apa yang sedang ia lihat, kenapa pandangannya tidak lepas dari ponsel? ia bahkan sampai menghentikan makan hanya untuk menekan layar seperti sedang membalas pesan, siapa yang sedang berkirim pesan padanya?
Selain itu ia juga sibuk melihat keluar, tidak, bukan yang seperti kebanyakan orang menikmati pemandangan luar restoran sambil makan, tapi dia melihat keluar jendela sambil melihat layar ponsel, bolak balik terus seperti itu sambil sesekali menyuapkan pasta kemulutnya. Ia terlihat seperti sedang menunggu seseorang. Dan benar saja, tidak lama seorang pria datang sambil menenteng tas belanja yang serupa dengan wanita cantik itu...
"Ethan dan Erin, dari nama aja sudah keliatan banget kita tuh berjodoh, nanti kalau punya anak laki-laki bisa kita kasi nama Edward dan perempuan bisa dikasi nama Ella, or Elly? bayanginnya aja udah lucu banget iya kan beb?"
tidak ada jawaban dari lawan bicaranya, Erin pun menoleh kearah Ethan yang sedang tertidur pulas sehabis berhubungan badan dengan kekasihnya, meninggalkan Erin yang sedari tadi ternyata berbicara sendiri. Erin memutar bola matanya dan beranjak dari kasur, memungut pakaiannya dan pergi ke kamar mandi untuk menghangatkan diri dengan air panas. Selalu begini, tiap kali menghabiskan waktu bersama, Ethan selalu tidak bersemangat, bahkan saat berhubungan pun Ethan hanya melakukannya dengan cepat dan hanya tampak bergairah karena sedang mabuk. Membuat Erin kesal dan merasa direndahkan, padahal dia kekasih Ethan bukan wanita bayaran.
Air panas cenderung hangat meluncur dari shower yang digantung diatas kepala, membasahi seluruh tubuh Erin tanpa terkecuali, sedetik kemudian badannya terasa rileks, ia bisa merasakan lelahnya berkurang jauh saat terkena air hangat. Pikirannya lari ke beberapa jam yang lalu, saat Ethan pulang dalam keadaan mabuk dan berantakan, ia bahkan tidak membayar uang taksi yang membuatnya dikejar supir taksi sampai kedepan pintu, dengan malu Erin pun membayarnya, membawa masuk Ethan kedalam dan kejadian panas itu pun terjadi, Ethan mulai memaksa mencumbu Erin dan melucuti pakaiannya, menggiring Erin menuju kamar dan membantingnya diatas kasur, disela-sela cumbuan itu Erin mendengar kekasihnya meracau tidak jelas mengucapkan sesuatu, seperti nama seseorang, tapi yang Erin tau itu judul sebuah lagu favorite Ethan.
Selesai membersihkan diri, Erin kembali ke kamar dan melihat Ethan sudah bangun, ia duduk sambil memainkan ponselnya, dilantai hanya menyisakan baju, sementara celananya sudah dipakai, dari raut wajahnya tampak serius mengutak atik benda kotak yang super canggih itu, memang Erin mandi agak lama, sekitar 2 jam ditambah berendam di bathtub, kulit di jari kaki dan tangannya bahkan sampai keriput karena terlalu lama berendam.
" mandi sana, aku mau ganti bed cover!" ucap Erin dengan nada ketus, entah kenapa ia mengeluarkan kalimat dengan nada seperti itu, mungkin karena ia masih kesal dicuekin.
Tanpa menjawab apapun, Ethan berjalan keluar kamar sambil terus sesekali menatap layar ponselnya ia bahkan tidak berniat mengutip bajunya yang masih tergeletak, melewati Erin yang sejak tadi hanya berdiri di depan pintu. Membuat Erin semakin kesal dan berteriak " kau buta ya sampai tidak melihat bajumu sendiri di lantai?!"
Ethan segera berbalik dan memungut bajunya tanpa melihat Erin yang masih diposisi yang sama, didepan pintu, berjalan melewatinya dan pergi tanpa sepatah kata, membiarkan kekasihnya yang tampak sedang berusaha meredam amarah, namun tidak berhasil ditahan, malah dari mulutnya keluar sebuah kalimat " Kamu pikir aku pelacur? "
bersambung
Daftar bab
5 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








