
Kembali Ke Takhta Sang Milyarder
Aditya Eko Prabowo|Bersambung
- Jumlah kata
- 114.2K
- Popular
- 2.2K
- Subscribe
- 163
- Jumlah kata
- 114.2K
- Popular
- 2.2K
- Subscribe
- 163
Sinopsis
Zayn dibuang oleh orang tuanya di sebuah gubuk reyot. Ia kemudian dirawat dengan penuh cinta oleh pasangan kakek-nenek petani di desa. Zayn tumbuh menjadi pemuda yang cerdas dan kuat. Saat Zayn mulai beranjak dewasa, masa lalu yang selama ini tersembunyi perlahan terbuka. Ia mengetahui bahwa dirinya bukan anak biasa. Darah seorang pengusaha paling berpengaruh di Asia mengalir di dalam tubuhnya. Kekuasaan yang besar kini menjadi miliknya. Bocah yang dulu dibuang pun kembali setelah seluruh dunia berada dalam genggamannya.
Ulasan
9 ulasan
Kutu buku
3/10/26 10:46
Keren parah novelnya ka. bahasa dan alur mudah di pahami. semoga terus berkembang dan di tunggu update selanjutnya ka
PILIHANIndra018171
7/10/26 04:26
Alur cerita bagus dan terarah sekali. jadi enak bacanya, semoga bisa lebih berkembang dan bisa update setiap harinya ya tor..
Anak yang Dibuang
Malam itu, hujan turun begitu deras...
Langit seolah menumpahkan seluruh isinya ke bumi. Kilat menyambar silih berganti, membelah awan hitam yang menggantung rendah di atas hamparan persawahan. Suara petir menggema hingga ke pelosok desa, membuat pepohonan bergoyang dan atap-atap rumah sederhana bergetar diterpa angin.
Jalan kecil yang membelah persawahan berubah menjadi kubangan lumpur. Tidak ada satu pun warga yang berani keluar rumah. Semua memilih bersembunyi di balik dinding, menunggu hujan reda.
Namun, di tengah kesunyian malam itu, sebuah mobil mewah berwarna hitam melaju perlahan menyusuri jalan sempit menuju area persawahan.
Lampu depannya menembus derasnya hujan. Roda mobil itu beberapa kali tergelincir karena jalan yang licin, tetapi kendaraan tersebut tetap melaju hingga berhenti di dekat sebuah gubuk tua.
Gubuk itu berdiri sendirian di tengah sawah.
Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang sudah mulai lapuk. Sebagian atapnya bocor, sementara rerumputan liar tumbuh di sekelilingnya. Dalam keadaan seperti itu, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk berada di sana.
Pintu mobil terbuka.
Seorang laki-laki turun terlebih dahulu. Ia mengenakan pakaian rapi dan mantel panjang berwarna gelap. Meski hujan membasahi bahunya, wajahnya tetap terlihat tenang.
Beberapa detik kemudian, seorang perempuan keluar dari sisi lain mobil.
Perempuan itu memeluk sebuah benda yang dibungkus selimut putih. Tangannya bergetar, entah karena dingin atau karena sesuatu yang sedang berkecamuk di dalam pikirannya.
Mereka berjalan menuju gubuk.
Tidak ada percakapan panjang di antara keduanya. Hanya suara hujan yang menghantam atap dan tanah.
Ketika sampai di depan gubuk, perempuan itu berhenti.
Ia menatap bungkusan dalam pelukannya.
Dari balik selimut putih, terdengar suara tangisan kecil.
Tangisan seorang bayi.
Perempuan itu menggigit bibir. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Apa kita benar-benar harus melakukan ini?” tanyanya pelan.
Laki-laki di sampingnya tidak langsung menjawab.
Ia menoleh ke arah jalan, lalu kembali melihat bayi tersebut. Wajahnya terlihat tegang, tetapi tidak ada sedikit pun keberanian untuk membatalkan keputusan itu.
“Tidak ada pilihan,” jawabnya singkat.
“Tapi dia anak kita.”
Laki-laki itu mengepalkan tangan.
“Justru karena itu, semuanya tidak boleh sampai diketahui.”
Perempuan itu menundukkan kepala. Air matanya bercampur dengan air hujan yang mengalir di pipinya.
Dengan perlahan, ia meletakkan bayi tersebut ke dalam sebuah wadah kecil dari anyaman bambu. Selimut putih yang membungkus tubuh mungil itu ditarik hingga menutupi sebagian tubuhnya.
Di samping bayi itu, perempuan tersebut menyelipkan selembar kertas kecil.
Tangisan bayi semakin keras.
Perempuan itu kembali mengulurkan tangan, seolah ingin mengangkatnya lagi. Namun laki-laki itu segera memegang pergelangan tangannya.
“Sudah,” katanya.
Perempuan itu menatap bayi tersebut untuk terakhir kalinya.
“Maafkan Ibu...” bisiknya.
Kemudian mereka berdua bergegas kembali ke mobil.
Pintu tertutup.
Mesin menyala.
Tidak lama kemudian, mobil mewah itu berbalik dan menghilang di balik derasnya hujan, meninggalkan seorang bayi yang baru lahir sendirian di dalam gubuk tua.
Tangisannya terus terdengar.
Kecil.
Lemah.
Seolah memanggil seseorang agar datang menolongnya.
---
Tidak jauh dari sana, seorang laki-laki tua berjalan perlahan di tengah persawahan.
Tubuhnya kurus dan sedikit membungkuk. Ia mengenakan jas hujan plastik berwarna kuning yang sudah robek di beberapa bagian. Celananya basah hingga ke lutut, sementara sepasang sandal tua yang dipakainya hampir tenggelam di dalam lumpur.
Namanya Bejo.
Warga desa lebih sering memanggilnya Mbah Bejo.
Malam itu, ia seharusnya berada di rumah bersama istrinya. Namun sejak sore, hujan turun tanpa henti. Mbah Bejo khawatir saluran air di sawahnya tersumbat dan membuat tanaman padinya terendam.
Karena itulah, meski hujan masih deras, ia memutuskan untuk keluar dan memeriksa sawah.
“Semoga tidak ada yang rusak,” gumamnya sambil berjalan.
Ia menyalakan senter kecil yang dibawanya. Cahaya redup itu bergerak mengikuti langkahnya.
Saat melewati pematang, Mbah Bejo tiba-tiba berhenti.
Di antara suara hujan dan angin, ia mendengar sesuatu.
Samar.
Seperti suara anak kecil.
Mbah Bejo mengerutkan kening.
Ia menoleh ke kanan dan kiri.
“Suara apa itu?” gumamnya.
Tangisan itu kembali terdengar.
Kali ini lebih jelas.
Mbah Bejo berdiri diam. Ia mencoba memastikan arah suara tersebut.
Tangisan itu berasal dari dekat gubuk tua di tengah sawah.
Dengan langkah perlahan, ia berjalan menuju tempat itu. Kakinya beberapa kali terperosok ke dalam lumpur, tetapi rasa penasaran membuatnya terus maju.
Semakin dekat, suara tangisan semakin terdengar.
“Jangan-jangan ada orang yang terjebak,” pikirnya.
Namun ketika sampai di depan gubuk, tidak ada siapa pun di sana.
Hanya ada sebuah wadah anyaman bambu yang diletakkan di sudut ruangan.
Wadah itu tertutup selimut putih.
Mbah Bejo berdiri beberapa saat.
Perasaannya mulai tidak nyaman.
Di tengah malam, saat hujan deras, siapa yang meninggalkan sesuatu di tempat seperti ini?
Tangisan itu kembali terdengar.
Kali ini berasal dari dalam bungkusan.
Mbah Bejo menarik napas.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mendekati wadah tersebut.
“Astaghfirullah...” ucapnya pelan.
Ia berjongkok.
Tangannya perlahan membuka ujung selimut.
Ketika selimut itu tersingkap, Mbah Bejo langsung terdiam.
Matanya membesar.
Di dalam wadah anyaman itu terdapat seorang bayi laki-laki.
Tubuhnya masih sangat kecil. Kulitnya kemerah-merahan dan wajahnya basah oleh air mata. Kedua tangannya bergerak lemah, sementara tangisannya terus menggema di dalam gubuk.
Mbah Bejo tidak mampu berkata apa-apa.
Ia hanya menatap bayi itu.
“Bayi...” bisiknya.
Di samping tubuh bayi tersebut terdapat selembar kertas kecil yang mulai basah.
Mbah Bejo mengambilnya dan membaca tulisan yang tertera.
> *Tolong jaga dan rawat dengan baik. Berilah nama Zayn.*
Mbah Bejo membaca tulisan itu berulang kali.
Zayn.
Nama itu terus terngiang di dalam pikirannya.
Air mata mulai mengalir di wajah tua Mbah Bejo.
Selama puluhan tahun menikah, ia dan istrinya, Mbah Lasmi, selalu berharap memiliki seorang anak. Mereka telah berdoa berkali-kali.
Setiap malam, Mbah Lasmi selalu meminta kepada Tuhan agar diberikan seorang anak yang bisa mereka rawat.
Namun waktu terus berjalan.
Rambut mereka mulai memutih.
Tubuh mereka semakin lemah.
Dan harapan itu perlahan berubah menjadi doa yang hanya mereka simpan di dalam hati.
Mbah Bejo kembali memandang bayi tersebut.
Tangisannya mulai melemah.
Bayi itu tampak kedinginan.
Tanpa berpikir panjang, Mbah Bejo membuka bagian depan jas hujannya. Ia mengangkat bayi itu dengan hati-hati, lalu memeluk tubuh kecil tersebut di dadanya.
“Tenang, Nak...” katanya dengan suara bergetar. “Mbah ada di sini.”
Anehnya, setelah beberapa saat berada dalam pelukan Mbah Bejo, tangisan bayi itu perlahan berhenti.
Bayi tersebut membuka matanya.
Mbah Bejo tersenyum sambil menangis.
“Zayn...” panggilnya.
Seolah mengenali nama itu, bayi kecil tersebut menggenggam salah satu jari Mbah Bejo.
Genggamannya sangat kecil.
Namun bagi Mbah Bejo, genggaman itu terasa seperti jawaban atas doa yang telah ia panjatkan selama puluhan tahun.
Ia menatap langit yang tertutup awan.
“Ya Tuhan,” ucapnya. “Kalau ini jawaban dari doa kami, kami akan menjaganya. Kami akan merawatnya seperti anak kami sendiri.”
Mbah Bejo kemudian membungkus tubuh Zayn dengan lebih rapat.
Tanpa memedulikan hujan dan lumpur, ia berjalan pulang.
Di sebuah rumah sederhana di pelosok desa, Mbah Lasmi sedang duduk di dekat lampu minyak.
Ia mulai cemas karena suaminya belum pulang.
Ketika pintu rumah terbuka, Mbah Lasmi segera berdiri.
“Pak Bejo? Dari mana saja? Hujannya masih deras—”
Kalimatnya terhenti.
Matanya tertuju pada sesuatu yang berada di dalam pelukan suaminya.
“Itu... apa?” tanyanya.
Mbah Bejo tersenyum.
Air mata masih terlihat di wajahnya.
“Bu,” katanya pelan. “Sepertinya doa kita akhirnya dijawab.”
Mbah Lasmi mendekat.
Ketika melihat bayi kecil itu, kedua tangannya langsung menutupi mulut.
“Ya Allah...”
Mbah Bejo menyerahkan bayi tersebut kepada istrinya.
Mbah Lasmi menerima Zayn dengan tangan gemetar.
Bayi itu membuka mata dan menatap wajah perempuan tua tersebut.
Air mata Mbah Lasmi langsung jatuh.
Ia memeluk Zayn erat.
“Mulai malam ini,” ucap Mbah Lasmi, “kamu tidak sendirian lagi.”
Di luar, hujan masih turun.
Namun di dalam rumah sederhana itu, sebuah kehidupan baru telah dimulai.
Seorang bayi yang dibuang oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya, justru menemukan keluarga di tempat yang tidak pernah ia duga.
Malam itu, Zayn kehilangan masa lalunya.
Namun tanpa ia ketahui, ia juga menemukan rumah.
Dan kelak, anak kecil yang ditinggalkan di tengah hujan itu akan tumbuh menjadi seseorang yang mengguncang dunia.
Seseorang yang akan kembali kepada orang-orang yang pernah membuangnya.
Bukan sebagai anak yang meminta pengakuan.
Melainkan sebagai pemilik dunia.
Daftar bab
91 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








