

Hay, kenalin nama gue Varel Agung Laksono, gue anak bungsu dari 5 bersaudara.
Hari ini hari ke-10 semenjak Ayah meninggal, sekaligus orang terakhir di generasinya penerus keluarga Laksono, dan hari ini kami berlima berkumpul di kediaman pengacara ayah Pak Leonardo Simanjuntak untuk mendengarkan wasiat ayah.
Ibu gue dah tiada sejak gue berumur 13 tahun. Sejak itulah gue bareng ayah tanpa ibu dan beberapa pengasuh dan pembantu di rumah utama.
Udah 4 tahun lalu tinggal di kost dekat kampus, padahal kakak gue udah siapin apartemen buat gue kuliah, tapi gue lebih nyaman kalo dekat ma temen-teman kampus, lagian di tempat kost gue juga ada tempat parkir yang luas kok, cukup buat parkir motor sama mobil sih.
---
"Selamat pagi tuan Varel, anda sudah ditunggu pak Leo didalam" sapa seorang pegawai pak Leonardo, padahal gue belum juga menjauh dari motor.
"Selamat pagi pak, terima kasih" sapa gue balik penuh hormat padanya.
Begitu sampe ruang tamu ternyata sudah ada kak Sita Ayu Laksono, dia adalah anak ke 3 sekaligus anak perempuan satu satunya di keluarga Laksono, dia juga seorang dokter spesialis bedah saraf sekaligus direktur rumah sakit Laksono milik ayah.
"Halo kak sudah lama disini?" Sapa gue ke kak Sita.
"Baru sampai koq dik, gimana sidang skripsi mu? Sukses"
"Lancar terkendali kak" jawab ku singkat saja.
"Halo Varel"
"Halo pak Leo, apa kabar, oh iya pak saya bawa sesuatu untuk pak Leo sebagai buah tangan dari aku" gue sapa pak Leo sambil tunjukan jam saku antik yang gue beli beberapa bulan lalu di toko barang antik milik teman kampus.
Sebenarnya arloji antik itu gue suka banget, hanya saja kan ga enak kalau ketemu pak Leo tanpa barang bawa. Apalagi diacara yang sakral begini. Arloji itu pas dibuka bakal ngehasilin 2 suara engsel yang ngebuka, stereo banget dan ketika ditutup suara kedap udara yang bisa menghentikan detak jantung seketika. Sungguh arloji kesayangan.
"Terima kasih Varel, ini mungkin sangat mahal tentunya, lihat ukirannya ini sungguh luar biasa, saya pasti selalu membawa nya Varel, kamu memang luar biasa, hahahaha"
Ya kan seneng banget tuh pak Leo ma arloji antik gue, gue tau pasti selera aki aki sih.
"Ah biasa aja koq pak, itu saya beli di toko barang antik milik orang tua teman kuliahku di mangga dua"
"Hahaha" suara ga asing itu kedenger sangat familiar diteling gue. Pasti ini gundiknya kak Setia.
"Tuan Leo memang suka bercanda, hahaha, toko barang antik di mangga dua mana ada barang mahal, paling paling itu seharga 20 ribuan saja"
Nah itu Santi Dharmawan istri dari kakaku ke 2 yang bernama Setia Budi Laksono, keluarga Dharmawan memang keluarga terkaya di negri ini sih, ya tapi kelakuannya juga selalu diukur dengan harta, dimatanya gue ini hanyalah sampah yang ga berguna sama sekali.
"Halo kak Santi, halo kak setia" aku sapa mereka sambil menundukan sedikit badan, buat nghormati mereka tentunya.
Tapi ya mau gimana lagi ya kan, walaupun mereka balas ma buang muka juga gue sih terima aja, gue dah ga ada orang yang belain gue lagi, dia dah ga ada 10 hari lalu. Tapi tetep aja gue sih senyumin aja.
"Halo pak Leo, salam dari keluarga Dharmawan untuk anda"
"Terima salam nyonya. Silahkan nyonya dan tuan, silahkan duduk"
Ya kan segitu sungkannya seorang pengacara hebat aja ke keluarga Dharmawan, lah gue apaan sih, cuma semut kecil aja seakan jurang pemisah gue begitu jauhnya.
Tapi biarlah tinggal tunggu 2 kaka lagi kayaknya dimulai deh.
Bener aja kan belum juga kak Setia duduk, suara khas mobil Lamborgini terdengar sampai kesini, itulah kakak gue Chandra biar kata dia anak ke 4 tapi umur dia 6 tahun diatas gue. Nih orang paling nyebelin dikehidupan gue, gimana ngga sifat jahil nya ini ga ada obat, maklum bungsu ga jadi.
"Selamat pagi semuanya" suara kak Bima mengagetkan semuanya.
Ini kak Bima Agus Laksono si sulung keluarga gue. Dia memang sangat berwibawa, selain ayah hanya dia lah yang dekat, ya mungkin memang sudah diajarkan ayah sebagai anak sulung.
Kak Bima ini terpaut 20 tahun ama gue, sangat dewasa.
"Halo kak Bima, halo kak Chandra" gue nyapa kedua kakak gue yang datang bersamaan.
"Hey Varel, gimana kabar skripsi mu katanya sidangmu sukses" sapa kak Bima sambil menjabat tangan gue lalu peluk gue, begitu hangat dan tulus sepertinya dia cuma satu satunya orang dikeluarga gue.
"Sukses banget kak, terima kasih, semua berkat kakak aku bisa lewati nya dengan mulus tanpa kendala" gue coba meyakinkan ke semua orang kalau gue juga tulus berterima kasih ke kakak gue ya kan.
"Halah, apa sih yang lu bisa" dengan nada menghinanya chandra sambil menepuk lengan gue.
"Ya memang begitu kak Chandra"
Gue sih awalnya ga berharap ditanya lebih lagi ma nih orang yang bernama Chandra, pasti ujungnya juga bakal ngehina koq.
"Halah sudah lah ga usah banyak bacol lu Varel, kita mulai saja ya pak Leo" ucap Chandra yang memang sudah ga anggap penting lagi kehidupan gue.
Mungkin memang yang tertarik hanyalah wasiat ayah kali ya.
"Baiklah karena semua sudah berkumpul kita mulai saja ya untuk mempersingkat waktu, silahkan tuan dan nyonya untuk duduk di tempat yang telah saya sediakan"
Suasana mendadak hening ketika kita semua sudah duduk di kursi kecuali 2 orang pegawainya pak Leo yang tegap memegangi masing masih 2 buah koper hitam.
"Saya bacakan surat wasiat pertama. Teruntuk anak sulungku Bima Agus Laksono, saya wariskan untukmu untuk menjadi kepala keluarga Laksono beserta group perusahaan dan juga Kamar Dagang Laksono. Ini cincin giok tanda kepala keluarga dan ini berkas perusahaan group dan berkas kamar dagang laksono, mohon diterima"
"Terima kasih pak Leo, saya terima" sahut ka Bima sambil mengambil koper berisi berkas perusahaan yang diwariskan ayah.
Begitulah semua akhirnya kebagian warisannya. Kakak ke 2 Setia Budi Laksono dapat perusahaan Property yang sudah kesebar kemana mana bahkan hotel apartemen di luar negeri semua usaha property ayah diwarikan padanya.
Kak Sita Ayu Laksono juga dapat warisan perusahaan dibidang kesehatan, baik itu rumah sakit, klinik, laboratorium, bahkan perusahaan farmasi, semua jadi milik kak Sita.
Perusahaan logistik pun diwariskan ke Chandra Adi Laksono, dia diwarisi usaha ayah berupa Logistik disemua sektor bahkan dermaga di beberapa pelabuhan pun sekarang miliknya, gudang dan juga beberapa hanggar di bandara pun sekarang dia penguasanya..