Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Rumah Kos Eyang Putri: Pusat Semesta Para Gadis

Rumah Kos Eyang Putri: Pusat Semesta Para Gadis

Ruby Gaze | Bersambung
Jumlah kata
113.1K
Popular
4.2K
Subscribe
530
Novel / Rumah Kos Eyang Putri: Pusat Semesta Para Gadis
Rumah Kos Eyang Putri: Pusat Semesta Para Gadis

Rumah Kos Eyang Putri: Pusat Semesta Para Gadis

Ruby Gaze| Bersambung
Jumlah Kata
113.1K
Popular
4.2K
Subscribe
530
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeKayaPewaris21+
Area 21+. Harap bijak dalam membaca, efek samping, ditanggung masing-masing......... | Sebuah warisan, sebuah keputusan nekat, dan sebuah rumah yang menjadi medan permainan hasrat yang tak terduga. Arjuna Ignis—seorang editor senior berusia 30 tahun—hidupnya teratur, tenang, dan bisa ditebak. Sampai suatu hari, warisan sebuah rumah kosong dua lantai peninggalan eyangnya menghancurkan semua rutinitas itu. Dengan bibi yang pulang kampung, rumah besar itu terancam sepi dan terlantar. Dalam keputusasaan, Juna—sapaan akrabnya—mengambil langkah berani: menjual apartemennya, meninggalkan kariernya, dan membuka kos-kosan. Tapi yang tidak pernah dia duga: semua pendaftar yang datang adalah perempuan—masing-masing membawa api, rahasia, dan caranya sendiri untuk menggoda. Kini, di bawah satu atap yang sama, Juna tidak lagi sekadar seorang pemilik kos. Dia menjadi pusat perhatian yang diam-diam diperebutkan. Di setiap sudut rumah, di balik pintu kamar yang tertutup, bisikan godaan dan pandangan penuh arti menjadi permainan sehari-hari. Juna terjebak dalam pusaran rasa ingin tahu, cemburu, dan gairah yang mulai menghanguskan logikanya. Pertanyaannya bukan lagi bagaimana ia mengelola rumahnya, tapi bisakah ia mengendalikan keinginannya sendiri ketika setiap malam, ada yang mengetuk pintu kamarnya—bukan hanya pintu kayu, tapi juga pintu hatinya yang paling dalam?
Warisan dan Pintu yang Terbuka

Langit Jakarta sore itu berwarna jingga kemerahan, memantulkan sisa-sisa terik matahari yang mulai menyerah pada malam. Arjuna Ignis berdiri di depan pagar besi yang menjulang tinggi dan berkarat, menatap rumah dua lantai peninggalan Eyang Putri yang seakan menyimpan ribuan kenangan sekaligus misteri. Rumah bergaya kolonial itu masih kokoh, meski cat putihnya sudah kusam dan tanaman-tanaman di halaman tumbuh liar tak terurus. Rumah yang berdiri sendiri dengan megahnya, memiliki halaman luas jauh dari rumah warga.

"Sudah tiga bulan sejak Eyang meninggal," bisikku lirih pada angin sore yang mulai dingin. Ada rasa rindu yang mampir sejenak.

Juna—begitu aku biasa dipanggil—adalah editor senior di sebuah kantor penerbitan "Kata Hati". Di usiaku yang ke-30, hidup melajang berjalan linear: bangun pagi, kerja, pulang tepat waktu, tidur. Kolega-kolega selama ini seperti segan karena kedisiplinan dan profesionalisme yang aku punya, tapi sedikit yang tahu bahwa di balik ketenanganku, tersimpan rasa hampa yang semakin menggerogoti dan membuat dingin.

DERING—

"Halo, Mas Arjuna? Ini Bi Sari." Suara bibi pembantu yang dua hari lalu ijin pulang ke kampung halaman, terdengar parau dari telepon. "Maaf Mas, Bibi harus terus berada di kampung. Suami Bibi disini kondisinya memburuk... maaf kalau tidak bisa kembali dan merawat rumah Eyang lagi."

Juna menghela napas. "Bibi tidak perlu khawatir. Aku akan urus semuanya disini. Salam untuk keluarga disana ya, Bi."

Setelah menutup telepon, aku memasuki rumah itu. Bau khas rumah tua—campuran kayu usang, debu, dan kenangan—menyambutku. Mata langsunh menyapu ruang tamu yang masih diisi perabotan antik peninggalan Eyang. Foto-foto hitam putih masih tergantung rapi di dinding, menyaksikan bagaimana waktu berlalu tanpa ampun mulai aku turunkan dan aku ganti dengan lukisan biasa yang tersimpan di ruang galeri milik Eyang. Aku simpan dengan baik foto-foto Eyang disana.

Aku mulai membersihkan rumah Eyang Putri di setiap akhir pekan. Dimulai dari menyapu daun-daun kering di halaman, membersihkan sarang laba-laba di langit-langit, hingga mengelap perabotan antik yang mulai berdebu. Setiap sapuan kain seakan membuka kembali lembaran kenangan masa kecilku bersama Eyang. Aku teringat bagaimana Eyang Putri selalu menyuguhkan teh hangat dan kue kering setiap kali aku berkunjung, sambil mendongengkan cerita-cerita tentang masa mudanya yang penuh petualangan. Sayang, selama ini aku jarang datang walau sekedar menjenguk beliau saat masih hidup.

​Semakin lama, aku semakin menikmati rutinitas baruku. Aku bahkan mulai mengecat ulang semua bagian dinding yang sudah kusam dan memperbaiki keran air yang bocor. Rumah itu perlahan-lahan hidup kembali di bawah sentuhanku. Aku juga memutuskan untuk memasang CCTV di beberapa sudut rumah, baik di dalam maupun di luar "hanya untuk keamanan". Aku sampai memanggil beberapa tukang dan teknisi untuk membantu pemasangan, memastikan setiap sudut terliput dengan baik.

Dua Minggu Kemudian

"Ck, kau serius, Jun?" tanya Ren, teman sekantorku, satu-satunya yang dekat denganku, sambil meminum kopi pahitnya. "Mau pindah ke rumah warisan di kota sebelah? Mau melupakan kehidupan sosialmu disini?"

Aku tersenyum getir. "Aku tidak punya pilihan lain, Ren. Rumah itu adalah satu-satunya peninggalan Eyang untukku. Tidak mungkin aku biarkan rusak. Saat ini cuma aku yang bisa merawatnya."

"Tapi meninggalkan pekerjaanmu di sini? Kau editor terbaik yang kita punya!"

"Justru karena itu," jawabku mantap. "Aku butuh perubahan. Sudah terlalu lama hidup dalam rutinitas yang membosankan. Aku rasa butuh suasana baru."

Percakapan singkat antara aku dengan Ren di pantry kantor sore itu, semakin yakin aku untuk segera membuat keputusan.

Satu Bulan Kemudian

Keputusan itu akhirnya aku ambil. Aku menjual apartemen kecilku di ibukota, mengundurkan diri dari pekerjaan, dan pindah ke rumah Eyang. Minggu-minggu pertama kuhabiskan untuk membersihkan dan merenovasi kecil-kecilan. Rumah itu memiliki cukup banyak kamar—terlalu besar untukku sendiri. Aku juga mulai mencicil membeli perabotan dan alat-alat elektronik kekinian.

Suatu malam, sambil duduk di teras belakang, ide itu datang secara tiba-tiba.

"Kenapa tidak aku jadikan kos-kosan saja?"

Iklan sederhana segera aku pasang keesokan harinya. Promosi kosan dipasang di beberapa platform online, aku beri nama: "Kosan Eyang Putri". Tulisan yang aku buat mencakup lokasi yang strategis, fasilitas lengkap, harga terjangkau.

Responsnya datang begitu cepat. Terlalu cepat. Dalam dua hari, sudah ada banyak peminat. Namun ada satu pola yang membuatku mendadak bergidik heran: semuanya PEREMPUAN.

"Tidak mungkin, kan? Jelas disana aku tulis kos campuran," gumamku sambil menatap layar laptop. "Apa ada kesalahan?"

Ada beberapa pesan masuk ke akunku untuk meminta keterangan lebih jauh dan juga harga sewa. Setelahnya, hanya tersisa beberapa perempuan saja yang lanjut dan tertarik untuk datang langsung ke rumah melihat kamar kosnya.

Matahari pagi menyapu hangat teras depan rumah kos Eyang Putri. Aku berdiri dengan secangkir kopi di tangan, mencoba menenangkan saraf yang bergetar tak karuan. Hari ini, calon penghuni pertama akan datang melihat kamar. Membuatku harao-harao cemas.

Yang pertama, namanya Adinda dari profilnya, ia bekerja sebagai marketing executive di sebuah perusahaan tak jauh dari sini.

Ting. Tong. Ting. Tong!

Bel pagar berbunyi nyaring membuatku kaget. Jantungku berdebar kencang. Kuatur napas sebelum berjalan menuju pintu pagar dan membukanya.

Dan di sana, berdiri seorang perempuan yang membuatku sempat kehilangan kata-kata. Cantik.

Adinda. Rambut hitamnya terurai rapi di atas blazer navy yang sempurna, mata tajamnya seakan bisa menembus jiwa. Senyum profesionalnya terukir rapi, tapi ada sesuatu dalam caranya berdiri—penuh keyakinan—yang membuatku sedikit grogi.

"Selamat pagi. Saya Adinda," ujarnya dengan suara yang jelas dan terukur. "Saya ada janji dengan pemilik rumah jam sepuluh untuk melihat kamar kos?"

"I-iya, benar. Silakan masuk," kataku, membuka pintu lebar-lebar. "Saya Arjuna, pemilik tempat ini."

Matanya menyapuku sekilas sebelum melangkah masuk. Aroma parfumnya yang ringan tapi memikat memenuhi udara.

"Rumah yang menarik," ucapnya sambil matanya menjelajah setiap sudut ruang tamu. "Bergaya kolonial, ya? Asli masih terawat baik."

Aku mengangguk, sedikit terkejut dengan pengetahuannya. "Warisan dari Eyang saya. Saya hanya berusaha untuk tetap merawatnya."

Adinda berjalan mendekati jendela, jarinya menyentuh kusen kayu. "Fasilitas lengkap seperti yang di iklan, kan? WiFi, listrik, air, kebersihan umum?"

"Ya, semuanya termasuk. Laundry juga ada, mesinnya di ruang belakang. Ada kolam renang juga disamping."

"Bagaimana dengan keamanan?" tanyanya sambil menoleh padaku. "Pintu pagar otomatis? Kamar berkunci ganda?"

"Pagar pakai kunci manual, tapi setiap kamar sudah pakai deadbolt lock baru."

Dia mengangguk, lalu mengambil smartphone-nya dan mulai mencatat sesuatu. "Listrik pakai token atau batas daya?"

"Token. Tapi saya yang tanggung untuk pemakaian wajar. Jika berlebihan, kita bisa bicarakan lagi nanti."

Matanya berbinar, seakan menghargai jawabanku yang sedikit blak-blakan. "Oke, fair enough. Boleh lihat kamar yang tersedia?"

"Tentu. Ada di lantai dua."

Kubawanya naik, menyadari betapa dekatnya dia berjalan di sampingku. Aromanya semakin terasa, campuran vanilla dan sesuatu yang lebih tajam, seperti amber.

"Ini kamarnya," kataku membuka salah satu pintu kamar pertama di lorong atas. "Ada jendela menghadap taman belakang."

Adinda masuk, langkahnya penuh perhitungan. Dia mengetuk-ngetuk dinding, membuka-buka lemari, bahkan mengecek tekanan air di kamar mandi dalam.

"Kamar mandi dalam, bagus. Tapi shower-nya perlu pemanas, Pak Arjuna. Perempuan butuh air hangat."

"Panggil saja Juna. Anda benar, akan saya pasang besok."

Dia tersenyum untuk pertama kalinya—senyum yang membuat wajahnya yang semula tegas menjadi lebih lembut. "Baik, Juna. Saya suka kamarnya. Tapi saya punya beberapa pertanyaan lagi."

"Silahkan Nona Adinda."

"Dapur boleh dipakai untuk masak sehari-hari? Dan ada peraturan khusus tentang jam malam?"

"Dapur bebas dipakai, asal dibersihkan setelahnya. Tidak ada jam malam, tapi harap menghormati ketenangan penghuni lain setelah jam sebelas."

Adinda mengangguk mengerti, kembali mencatat sesuatu di ponselnya. "Terakhir... tentang Anda sendiri. Juna tinggal di mana tepatnya di rumah ini?"

"Aku di kamar ujung, lantai satu. Dekat pintu masuk."

"Jadi Anda selalu ada di rumah?" tanyanya dengan nada penasaran.

"Sebagian besar waktu, ya. Setelah keluar dari pekerjaan kantoran, aku lebih banyak di rumah mengurus tempat ini."

Dia memandangku lama, seakan mencoba membaca sesuatu. "Menarik. Seorang pemilik kos yang selalu ada di rumah."

Ada sesuatu dalam caranya berkata yang membuatku merasa dia bukan sekadar mencari tempat tinggal. Seperti ada rasa penasaran yang lebih dalam.

"Oke, Juna," ujarnya akhirnya, menyimpan ponselnya. "Saya tertarik. Kapan bisa pindah?"

"Kapan saja anda mau. Kamar sudah siap."

"Bagaimana kalau besok?" tanyanya sambil mengulurkan tangan. "Saya bayar deposit dan sebulan pertama sekarang juga."

Kupandangi tangannya yang terulur, lalu berjabat tangan. Genggamannya kuat, penuh keyakinan.

"Deal," kataku, mencoba menyembunyikan getar di suaraku.

Saat tangannya melepaskan genggaman, ada sesuatu dalam matanya—sekilat kepuasan, atau mungkin sesuatu yang lebih dalam—yang membuatku bertanya-tanya: apa aku baru saja membuat keputusan yang akan mengubah hidupku, atau justru membuka pintu untuk sesuatu yang tak pernah kuduga?

Dan saat aku mengantarnya keluar, menyaksikan langkahnya yang percaya diri menuju mobilnya, satu hal yang kusadari: Adinda bukan sekadar calon penghuni biasa. Dia adalah badai pertama yang akan menerpa kehidupan tenangku.

Lanjut membaca
Lanjut membaca