Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Warisan Tangan Sakti : Pak Surya

Warisan Tangan Sakti : Pak Surya

gundet | Bersambung
Jumlah kata
92.6K
Popular
1.2K
Subscribe
182
Novel / Warisan Tangan Sakti : Pak Surya
Warisan Tangan Sakti : Pak Surya

Warisan Tangan Sakti : Pak Surya

gundet| Bersambung
Jumlah Kata
92.6K
Popular
1.2K
Subscribe
182
Sinopsis
18+FantasiFantasi TimurDukunKekuatan SuperUrban
Seorang pria tua 50 tahun bernama Surya yang mendapat warisan teknik pijat leluhur tapi tak mau menggunakan nya, tapi saat dia terpaksa menggunakan nya, jalan hidupnya berubah menjadi dikelilingi wanita muda sebagai pasien.
Warisan yang Terabaikan

Matahari baru saja menggeliat di ufuk timur, namun Pak Surya sudah lebih dulu menyapa tanah. Di usianya yang genap 50 tahun, tubuhnya masih sekokoh batang jati, meski rambut putih mulai menyelinap di antara helaian rambut hitamnya yang legam.

"Sabar ya, Nak," ucapnya sambil menepuk pelan punggung kerbau tuanya. "Sedikit lagi kita sampai di ujung petak ini, setelah itu kamu boleh sarapan rumput segar."

Surya adalah tipe pria yang selalu punya senyum untuk siapa saja. Jika ada tetangga lewat di pinggir sawah, dia pasti akan berteriak sekadar untuk melempar lelucon receh.

"Woi, Kang! Hati-hati jalannya, jangan lihat ke sawah terus, nanti jatuh cinta sama padi saya!" tawanya pecah, menggema di antara hamparan hijau.

Menjelang siang, Surya pulang ke rumah kayu sederhananya. Di ambang pintu, Siti, istrinya, sudah menunggu dengan segelas teh hangat dan piring berisi singkong rebus. Siti adalah wanita yang sabar, meski tatapan matanya terkadang menyiratkan kerinduan yang sama dengan Surya.

Sudah puluhan tahun mereka menikah. Di umur mereka yang sudah kepala lima, suara tangis bayi yang mereka dambakan tak kunjung hadir. Kamar kecil di sudut rumah yang dulu mereka siapkan kini hanya menjadi gudang alat pertanian.

"Capek sekali hari ini, Pak?" tanya Siti sambil memijat bahu suaminya yang lebar.

"Begitulah, Bu. Tanah sedang keras-kerasnya. Tapi selama masih bisa bercanda dengan kerbau, Bapak masih kuat," jawab Surya dengan kerlingan mata jenaka.

Sesaat kemudian, seorang tetangga, Pak RT, datang menghampiri teras rumah mereka sambil memegangi pinggangnya yang miring.

"Aduh, Surya... kebetulan kamu di rumah. Tolonglah, pinggangku sepertinya mau copot habis angkut karung tadi. Kamu kan tahu teknik urut keluarga kamu itu tersohor dari kakekmu dulu," keluh Pak RT dengan wajah memelas.

Surya terdiam sejenak. Dia melirik telapak tangannya sendiri. Ada sesuatu yang aneh setiap kali dia melihat garis-garis di tangannya—seperti ada hawa hangat yang ingin meledak keluar. Namun, dia segera mengepalkan tangannya dan menggeleng sambil terkekeh.

"Aduh, Pak RT... saya ini baru pulang dari sawah. Tulang saya sendiri rasanya sudah seperti kerupuk disiram air. Kalau saya pijat Bapak, yang ada malah kita berdua pingsan karena capek. Coba ke dukun pijat di ujung desa saja, dia lebih luang waktunya."

Itu adalah jawaban standar Surya. Bukan karena dia sombong, tapi ada rasa enggan yang mendalam setiap kali orang meminta bantuan "tangan"-nya. Baginya, menjadi petani sudah cukup menguras tenaga. Dia tidak ingin terlibat dengan urusan otot dan urat orang lain, apalagi dia merasa ilmu yang diturunkan ayahnya hanyalah tradisi kuno yang melelahkan.

Hari-hari di desa itu selalu punya ritme yang sama, namun kehadiran Pak Surya adalah bumbu yang membuatnya tidak pernah hambar. Bagi penduduk desa, Surya bukan sekadar petani; dia adalah radio berjalan yang frekuensinya selalu disetel pada gelombang komedi. Pagi itu, saat kabut tipis masih menyelimuti pucuk-padi yang mulai menguning, Surya sudah berada di warung Kopi Mak Inah, tempat berkumpulnya para petani sebelum berangkat ke sawah.

"Mak, kopi satu! Gula dikit aja, soalnya lihat senyum Mak Inah saja sudah manis kebangetan, takut saya kena diabetes," celetuk Surya sambil menarik kursi bambu.

Gelak tawa langsung pecah di warung kecil itu. Mak Inah yang sudah keriput hanya bisa geleng-geleng kepala sambil memukulkan serbet ke bahu Surya. "Dasar kamu, Sur! Sudah kepala lima masih saja mulutnya kayak anak muda."

"Lho, Mak, umur itu cuma angka di KTP. Di dalam sini," Surya menunjuk dadanya, "masih ada konser dangdut tiap hari!"

Sepanjang jalan menuju sawah, Surya tak henti-hentinya melempar banyolan. Saat berpapasan dengan Kang Dadang yang sedang mengangkut rumput hingga mukanya tertutup seikat besar pakan ternak itu, Surya berteriak, "Woi, Dang! Hebat kamu sekarang ya, bisa berubah jadi semak-semak berjalan!"

Begitulah Surya. Baginya, hidup yang belum dikaruniai momongan bukan alasan untuk bermuram durja. Meski terkadang, saat ia melihat anak-anak kecil berlarian mengejar layangan di pematang sawahnya, ada kilat sendu yang lewat sekejap di matanya. Namun, secepat kilat itu datang, secepat itu pula ia menutupinya dengan tawa. Ia lebih memilih menjadi sumber kebahagiaan bagi orang lain daripada menjadi beban pikiran bagi istrinya, Siti.

Matahari baru saja tergelincir ke arah barat, mewarnai langit desa dengan semburat jingga yang hangat. Pak Surya, dengan caping yang miring ke kiri dan cangkul di pundak, berjalan menyusuri pematang sawah sambil bersiul kecil. Di sepanjang jalan, tak henti-hentinya dia melontarkan banyolan kepada setiap orang yang ditemuinya.

"Eh, Mas Jarot! Itu pipinya kenapa merah begitu? Habis dicium istri atau habis kena teflon?" serunya kepada seorang pemuda yang sedang mencuci motor. Suara tawa Surya yang renyah membuat suasana desa yang tenang menjadi lebih hidup. Surya memang magnet keceriaan; baginya, hidup tanpa tawa adalah hidup yang lebih berat daripada memanggul sepuluh karung gabah.

Sesampainya di halaman rumah, Surya dikejutkan dengan sebuah mobil SUV hitam mengkilap yang terparkir gagah di depan rumah adiknya, yang letaknya hanya selisih dua rumah dari rumahnya sendiri. Di sana, kerumunan kecil tetangga tampak sedang berdecak kagum.

"Waduh, ada kapal mendarat di darat rupanya," gumam Surya sambil terkekeh, menyeka keringat di dahi dengan handuk kecil yang melilit di lehernya.

Rupanya, keponakan kesayangan Surya, Bima, baru saja tiba. Bima adalah anak dari adik laki-laki Surya yang sudah lama merantau. Pemuda itu kini telah menjadi seorang perwira kapal niaga yang sukses. Bima tidak pulang sendiri; di sampingnya berdiri seorang wanita luar biasa cantik bernama Maya, istri yang baru dinikahinya satu bulan lalu di desa ini dalam pesta yang sempat menjadi buah bibir warga.

"Pakde!" seru Bima begitu melihat Surya. Dia segera berlari kecil dan menyalami tangan Surya dengan takzim.

"Wah, ini dia si Kapten! Kamu ini pulang atau kapalnya karam sampai ke sini?" Surya memeluk keponakannya erat-erat, lalu mengangguk sopan pada Maya yang tampak anggun meski wajahnya terlihat lelah akibat perjalanan jauh dari kota.

Bima tertawa keras. "Pakde ini tidak berubah, selalu saja bercanda. Kenalkan Pakde, ini Maya. Kami rencana mau menetap di rumah yang baru saya beli di ujung jalan itu. Saya tak tega meninggalkan dia sendiri di kota kalau saya harus berlayar lagi nanti. Lebih baik dia dekat dengan Bapak, Ibu, dan tentu saja dekat dengan Pakde yang paling lucu ini."

Malam itu, keluarga besar berkumpul di rumah adik Surya. Suasana hangat menyelimuti ruang tamu yang beralaskan tikar pandan. Surya terus menghibur keluarga dengan cerita-cerita konyol tentang kerbaunya yang katanya "sedang mogok kerja karena minta naik gaji". Namun, di tengah gelak tawa itu, Bima tiba-tiba meringis. Dia mencoba meregangkan leher dan bahunya yang tampak kaku.

"Aduh, Pakde... rasanya seluruh badan saya ini seperti dipukuli ombak. Perjalanan darat tadi macetnya luar biasa, ditambah stres mengurus dokumen keberangkatan kapal minggu depan," keluh Bima.

Adik Surya, ayahnya Bima, langsung menyeletuk, "Mas Surya, tolonglah si Bima ini. Kamu kan tahu cara 'megang' urat. Dulu Bapak kan selalu bilang tanganmu itu yang paling mirip dengan tangan kakek. Pijatlah sedikit biar dia bisa tidur nyenyak sebelum pindahan besok."

Surya yang tadinya tertawa lebar, langsung memasang wajah "lelah" yang dibuat-buat, meski sebenarnya dia memang benar-benar pegal habis dari sawah. "Waduh, jangan saya. Ini tangan sudah seharian pegang cangkul, kalau saya pijat si Bima, yang ada dia bukan sembuh tapi malah jadi rata dengan lantai karena tenaga saya tenaga kuli!"

"Halah, Mas! Sama keponakan sendiri masa begitu? Ini dia mau berangkat tugas jauh lho, ke tengah samudra," desak adiknya lagi.

Maya, istri Bima, ikut tersenyum dan membujuk lembut, "Iya Pakde, kalau tidak merepotkan. Bima sejak tadi mengeluh kepalanya pusing karena otot lehernya kaku sekali."

Melihat wajah cantik Maya yang memohon dan wajah Bima yang memang tampak pucat karena kelelahan, pertahanan Surya runtuh. Dia menghela napas panjang, namun tetap menyelipkan candaan.

"Ya sudah, ya sudah. Tapi jangan salahkan saya kalau nanti setelah saya pijat, Bima malah jadi lupa jalan pulang ke kota karena terlalu nyenyak tidurnya," ucap Surya sambil bangkit berdiri dan mendekati keponakannya.

Surya duduk di belakang Bima. Dia mulai menyingsingkan lengan bajunya. Di dalam hatinya, dia hanya ingin melakukan pijatan biasa, pijatan santai seperti yang sering dia lakukan pada dirinya sendiri jika pegal. Dia tidak sadar, bahwa saat dia mulai menggerakkan jemarinya, ada sesuatu yang tidak biasa terjadi pada sirkulasi darah di telapak tangannya. Dia tidak sadar bahwa warisan itu tidak butuh mantra, hanya butuh sebuah sentuhan yang tulus.

"Sini kamu, Perwira. Jangan kaku begitu, nanti dikira saya sedang memijat tiang listrik," kata Surya sambil meletakkan kedua jempolnya di pangkal leher Bima.

Itulah saat pertama kalinya, setelah sekian puluh tahun terkubur dalam diam, "gerbang" dari warisan rahasia keluarganya mulai berderit terbuka, tepat di bawah remang lampu bohlam ruang tamu desa yang tenang itu.

Ruang tamu itu mendadak sunyi saat Surya meletakkan kedua telapak tangannya di pundak Bima. Cahaya lampu bohlam 15 watt yang menggantung di langit-langit seolah sedikit meredup, atau mungkin hanya perasaan mereka saja karena suasana yang tiba-tiba menjadi khidmat.

Surya mengembuskan napas panjang. Dia tidak merapal doa-doa aneh atau mantra keramat. Baginya, memijat hanyalah tentang memahami ke mana arah aliran lelah itu pergi. Sejak kecil, dia sering melihat kakeknya bekerja, memperhatikan bagaimana jempol sang kakek menemukan titik-titik saraf seolah mata kakeknya ada di ujung jari. Surya memiliki kemampuan visualisasi yang luar biasa; di kepalanya, dia bisa melihat otot-otot Bima yang melilit kencang seperti simpul tali kapal yang salah ikat.

"Jangan ditahan napasnya, Bim. Kamu itu mau dipijat, bukan mau disuntik mati," celetuk Surya memecah keheningan, memancing tawa kecil dari Siti dan Maya yang memperhatikan dari sudut ruangan.

Begitu jempol Surya menekan titik di bawah tulang belikat Bima, sebuah sensasi aneh menjalar. Itu bukan rasa sakit yang tajam, melainkan gelombang panas yang menjalar lembut namun bertenaga. Surya merasakan sensasi seperti menyentuh aliran air yang tersumbat sampah; dia hanya perlu menyingkirkan "sampah" itu dengan sedikit tekanan presisi.

Klik.

Bima tersentak. Matanya terbelalak lebar, mulutnya menganga tanpa suara. Dia merasakan seolah-olah ada beban seberat 50 kilogram yang baru saja diangkat dari punggungnya dalam sekali tekan. Rasa pusing yang menghimpit pelipisnya selama tiga hari terakhir mendadak sirna, berganti dengan perasaan ringan yang hampir membuatnya merasa seolah-olah dia bisa melayang.

"Pakde... itu... barusan apa?" bisik Bima dengan suara bergetar. Dia merasa ada aliran "listrik" alami yang memperbaiki sirkulasi darahnya secara instan.

Surya, yang sebenarnya juga terkejut merasakan betapa pasnya jemarinya menemukan titik saraf itu, segera menutupi ekspresinya. Dia justru mempercepat gerakan jarinya dengan ritme yang jenaka, seolah-olah sedang memainkan piano di punggung keponakannya.

"Itu namanya lemak jenuhmu lagi protes, Bim! Makanya, kalau di kapal jangan cuma makan daging, makan sayur juga. Tadi itu bunyi tulangmu yang protes karena kelamaan duduk di mobil mewah," sahut Surya sambil tertawa lepas, menyembunyikan rasa heran di hatinya karena tangannya terasa begitu hangat.

Surya terus bekerja. Gerakannya sangat alami, mengalir tanpa keraguan. Dia menekan titik di pangkal leher, lalu menarik otot bahu dengan teknik yang terlihat sederhana namun sangat akurat. Setiap tarikan seolah mengembalikan posisi anatomi tubuh Bima ke tempat yang seharusnya. Ini bukan sihir, ini adalah puncak dari bakat pengamatan bertahun-tahun yang tersimpan di bawah alam sadar seorang petani.

Bima memejamkan mata. Dia merasa seolah-olah setiap sel di tubuhnya sedang "bernapas" kembali. "Pakde, ini bukan pijat biasa. Saya pernah ke terapis profesional di kota, bahkan ke fisioterapi di luar negeri saat bertugas, tapi tidak ada yang rasanya seperti ini. Badan saya... rasanya baru."

Maya yang duduk di dekat mereka melihat perubahan nyata di wajah suaminya. Wajah Bima yang tadinya pucat dan kuyu, kini kembali segar dengan rona merah di pipi. "Iya, Mas Bima kelihatan jauh lebih segar, Pakde. Hebat sekali," puji Maya tulus.

Surya segera menarik tangannya dan menepuk punggung Bima dengan keras hingga keponakannya itu terbatuk kecil.

"Sudah, sudah! Jangan dilebih-lebihkan. Itu tadi cuma keberuntungan petani. Mungkin karena tangan saya kasar karena sering pegang cangkul, jadi sarafmu kaget terus bangun," seloroh Surya sambil bangkit berdiri dan menuju dapur untuk mencuci tangan.

Dia melihat telapak tangannya di bawah kucuran air. Ada sedikit getaran halus di sana, sebuah kepuasan batin yang sulit dijelaskan. Namun, Surya tetaplah Surya. Dia tidak ingin hidupnya yang tenang di sawah terganggu oleh orang-orang yang datang meminta kesembuhan.

"Lagipula," teriak Surya dari dapur, "Jangan sering-sering minta pijat sama saya. Tarif saya mahal, satu jam harganya satu karung pupuk subsidi!"

Adik Surya hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa. "Kamu itu, Mas. Punya bakat warisan Bapak yang paling hebat malah dipakai buat bercanda terus."

Bima berdiri, merentangkan tangannya, dan merasa sangat bugar. Dia menatap punggung Pakdenya dengan rasa kagum yang baru. Dia tahu, apa yang baru saja dia alami bukanlah sekadar pijat biasa, tapi dia juga tahu Pakdenya tidak akan pernah mau mengakuinya secara serius.

Malam itu, Surya tidur dengan perasaan aneh. Untuk pertama kalinya, dia merasa tangannya memiliki "suara" sendiri. Namun, sebelum pikiran itu melangkah lebih jauh, dia sudah mendengkur pelan, memimpikan sawahnya yang besok harus dipupuk.

Lanjut membaca
Lanjut membaca