Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sistem Penebusan: Meratukan Istri dan Ketiga Putriku

Sistem Penebusan: Meratukan Istri dan Ketiga Putriku

KINURUNG | Bersambung
Jumlah kata
74.0K
Popular
3.6K
Subscribe
228
Novel / Sistem Penebusan: Meratukan Istri dan Ketiga Putriku
Sistem Penebusan: Meratukan Istri dan Ketiga Putriku

Sistem Penebusan: Meratukan Istri dan Ketiga Putriku

KINURUNG| Bersambung
Jumlah Kata
74.0K
Popular
3.6K
Subscribe
228
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeTime TravelSistemMengubah Nasib
Tahun 2026, Radin mati sebagai pecundang yang kaya raya. Meskipun ia konglomerat yang sukses secara materi, ia justru gagal total sebagai ayah dari ketiga putrinya dan almarhum istrinya. Namun, takdir memberinya sebuah Sistem Penebusan. Radin kembali terbangun di tahun 1995, ke masa di mana ia masih menjadi pria kasar, penjudi, dan ayah yang menganggap anak perempuan sebagai beban. Berbekal pengetahuan masa depan, dan bantuan sistem misterius, Radin memulai mengubah nasib keluarga dari kemiskinan menjadi dinasti bisnis. Di kehidupan ini, ia bersumpah akan menjadikan ketiga putrinya ratu dunia, meski ia harus mempertaruhkan nyawanya melawan takdir masa depan yang berusaha menariknya kembali.
1. Kembali ke Tahun 1995

"Tolonglah Mbak, sekali ini saja. Bapak sudah kritis. Malam ini mungkin—"

Suara asisten Radin menggantung di udara, patah sebelum sempat selesai. Pria itu buru-buru menutup telepon saat melihat kode jari Radin yang bergerak lemah dari atas ranjang. Ia mendekat, matanya sudah memerah sejak tadi.

"Butuh sesuatu, Pak?" tanyanya lirih.

Radin menggeleng pelan.

Sudah tiga hari ia terbaring di ruang perawatan itu, tubuhnya melemah digerogoti komplikasi yang selama bertahun-tahun diam-diam menghabisinya sedikit demi sedikit. Dada tuanya naik turun dengan susah payah, dibantu selang oksigen yang tidak pernah lepas dari hidungnya. Mesin di samping ranjang berbunyi pelan, setia menemaninya dengan bunyi teratur.

Kondisinya semakin memburuk. Dokter sudah menyarankan keluarga untuk berkumpul. Bersiap kemungkinan buruk yang akan terjadi.

Tapi sudah panggilan kesekian kali, anak-anak Radin tidak ada yang mau menjenguknya. Sampai asisten Radin memohon mereka datang. Tidak ada satu pun yang bersedia. Bahkan ketika disambangi ke rumah masing-masing, mereka memutuskan menutup pintu.

Tidak ada yang mau diajak ke rumah sakit. Hanya sekadar bersimpati melihat wajah ayah mereka untuk terakhir kali pun enggan. Seolah lelaki yang kini terbaring lemah itu bukan siapa-siapa.

"An … anak-anak …."

Suara Radin serak, hampir tidak terdengar. Bibirnya bergetar hebat, matanya yang cekung bergerak gelisah ke arah pintu kamar rawat. Seperti menunggu pintu dibuka dari luar. Lalu muncul tiga putrinya.

Atau mungkin jika tidak bisa semua. Salah satu dari mereka akan datang.

Namun sudah tiga hari berlalu. Yang datang dan pergi hanya dokter dan perawat. Juga asistennya yang datang jika akan mengabarkan sesuatu.

Radin menatap langit-langit, lalu perlahan memejamkan mata. Di sudut pelupuknya, air mata merembes keluar, jatuh menyusuri keriput wajah yang selama ini tampak keras, arogan, dan tidak tersentuh.

Kini, di penghujung hidupnya, lelaki itu justru terlihat begitu rapuh.

Ia teringat wajah mendiang istrinya.

Perempuan yang dulu selalu setia bersamanya. Yang selalu sabar meladeni segala amarah. Selalu mengalah dan tetap diam jika Radin sudah memukul akibat pengaruh minuman keras dan kalah berjudi.

Satu kalimat yang ia ingat, saat ia kalah judi besar dan ada ketiga anaknya yang merengek belum makan, Radin justru memukuli ketiganya. Istrinya bersimpuh di hadapannya. "Kalau tidak bisa jadi suami yang baik, setidaknya jangan hancurkan anak-anak kita. Tolong jangan pukul mereka apa pun yang terjadi."

Radin tetap tidak mendengarkan. Tetap kasar pada mereka. Ayah yang seharusnya melindungi, justru menjadi alasan anak-anaknya hidup tidak aman.

Baru setelah istrinya meninggal sepuluh tahun lalu, ia berubah. Tidak ada lagi minuman keras dan berjudi.

Bahkan ia membangun usahanya dari nol dengan sisa hidup yang ada.

Tidak disangka uang dan kekuasaan datang.

Rumah-rumah bagus dibelikannya. Mobil, tabungan, semua ia siapkan. Ia pikir harta bisa menjadi permintaan maaf yang tak sanggup ia ucapkan. Ia pikir dengan harta luka di hati anak-anaknya bisa sembuh.

Semua sudah terlambat. Sebab anak-anak yang dulu ia abaikan telah tumbuh menjadi perempuan-perempuan dewasa dengan hati yang telanjur penuh retak.

Mereka menerima semua yang ia beri. Tapi tidak pernah lagi memberinya tempat di hati.

"Pak…" suara asistennya pecah, begitu prihatin pada bosnya yang delapan tahun ini membantunya dari kesulitan. "Saya sudah berusaha."

Radin membuka mata sekali lagi. Di penghujung akhir hidup, masih saja berharap, "Jika bisa mengulang waktu, Bapak janji akan membahagiakan kalian berempat."Setetes air mata membasahi pelupuk matanya, bersamaan dengan nafasnya yang semakin tersenggal-senggal. Matanya mulai melemah dan kembali terpejam. Samar-samar ia bisa mendengar teriakan asistennya yang sibuk memanggil dokter. Namun, ia tau bahwa ajalnya sudah mendekat. 

Dalam hembusan napas terakhirnya, Radin masih membawa penyesalan itu.

***

1995

Radin tersentak bangun dengan napas terengah dan kepala yang terasa berputar. Ia meraba tubuhnya dengan heran. Ia seharusnya sudah mati, tapi mengapa ia kini justru terbangun dan memakai baju lusuh yang longgar, bukan lagi pakaian rumah sakit.

"Aw … Mas tolong. Perutku sakit sekali."

Lalu sekarang, ia mendengar jeritan dari suara familiar di sebelah sisinya."Mas, tolong, aku tidak tahan lagi."

Mata Radin menoleh ke samping. Melihat wajah perempuan pucat yang menggeliat kesakitan. Tangan satu menggenggam lengannya erat, sedangkan yang satu meremas perut yang menonjol.

Perut yang buncit terlihat bergelombang. Gerakan kaki bayi menendang-nendang terlalu kuat sampai si ibu kesakitan. Wajahnya berkeringat menahan sakit.

Ia adalah Sumaira. Istri Radin yang tampak masih muda. Sebelum jatuh sakit dan terlihat tua.

"Mas, aku mau melahirkan."

Radin terdiam sejenak. Mencerna situasi. Sampai ia melihat penanggalan. Tanggal menunjukkan 5 Oktober 1995.

"Aku terlahir kembali?"

Tiba-tiba, sebuah kilatan biru transparan muncul tepat di depan matanya. Hanya dia yang bisa melihatnya.

[SISTEM PENEBUSAN DIAKTIFKAN]

Inisialisasi Host: Radin Gumilang

Status: Kembali ke Titik Penyesalan Terbesar.

"Tujuan utama saat ini: Antar istri Anda ke rumah sakit dengan aman. Jangan biarkan anak lahir di rumah seperti di kehidupan pertama."

"Kondisi Saat Ini: Miskin, hanya punya uang Rp2.500."

"Selesaikan misi ini akan dapat hadiah kekuatan fisik meningkat. Jika gagal, Anda akan disetrum selama lima menit."

"Mas! Kok malah diam!" Sumaira menangis. Sudah tidak tahan dengan kontraksi.

Radin tersadar sepenuhnya. Di kehidupan pertama, malam ini ia justru sedang berjudi di pos ronda dan baru pulang saat Salsa, anak ketiganya sudah lahir di lantai rumah hanya dibantu dukun beranak. Sumaira hampir meninggal karena pendarahan saat itu, dan Radin malah memaki karena bayinya perempuan lagi.

Sekarang, ia dapat kesempatan kedua, sekaligus sistem yang bisa membantunya.

"Maira maafkan aku," suara Radin bergetar. Ia langsung menyambar tubuh istrinya, menggendongnya dengan sisa tenaga yang ia miliki. "Kita ke rumah sakit sekarang. Aku tidak akan membiarkanmu kesakitan di sini."

"Tapi uangnya, Mas? Tabungan kita habis kamu pakai main." Maira bicara terbata-bata di sela rintihannya.

"Persetan dengan uang!" bentak Radin, tapi kali ini bukan bentakan amarah, melainkan tekad. "Aku akan cari caranya. Pegang aku yang kuat, Maira."

Radin berlari keluar rumah. Udara malam tahun 1995 yang lembap menerpa wajahnya. Di ujung jalan, ia melihat tukang ojek yang sedang mangkal.

[SISTEM]

"Di depan ada tukang ojek. Anda bayar 10x lipat besok."

Radin terlihat bimbang. Suara sistem menggema kembali, tapi ia ragu untuk dapat membayarnya.

[SISTEM ANALISIS AKTIF]

"Anda dapat kasih jaminan jam tangan palsu. Cepatlah, istrimu bisa-bisa brojol di sini."

Radin berlari ke arah Parman. "Man! Tolong antar istriku ke rumah sakit sekarang! Cepat!"

"Waduh, Din, bensin bisa nggak cukup, belum diisi, lagi mahal soalnya," sahut Parman ragu.

Radin melepas jam tangan "Rolex" palsunya, satu-satunya harta yang dia banggakan untuk bergaya. "Ambil ini sebagai jaminan. Besok aku bayar ongkosnya sepuluh kali lipat. Tolong, Man! Anak dan istriku taruhannya!"

Parman terkejut melihat tatapan mata Radin. Bukan mata pecundang judi yang biasanya, melainkan mata seorang pria yang siap menanggung dunia istri dan anak-anaknya.

Siapa yang tidak tahu Radin Gumilang di kampung ini. Terkenal dengan penjudi, peminum keras. Istri dan anak-anaknya tidak dihiraukan. Mereka dibiarkan berhutang di warung-warung sampai menumpuk.

Jika dapat uang, bukannya untuk biaya keluarga, Radin justru melemparkan di meja judi. Tidak peduli dengan omongan orang yang menasihati. Kepuasan batinnya nomor satu.

"Man, tolonglah."

Parman tersentak dari lamunannya. Lantas mengangguk. "Naik, Din. Cepat!"

Lanjut membaca
Lanjut membaca