
- Jumlah kata
- 89.2K
- Popular
- 951
- Subscribe
- 55
Sinopsis
Kuedarkan pandangan mencari-cari keberadaan ranselku. Hanya ada bayang-bayang samar diantara kegelapan pekat. Aku tidak bisa membedakan mana gerumbulan semak, mana batuan besar. Semuanya berupa bayangan kegelapan. Semua?? Uh ... sepertinya tidak! Pandanganku menangkap sesuatu di sudut di ujung sana. Aku menahan Napas. Ada dua nyala kecil di sana. Mata! Itu adalah sepasang mata yang sedang menatapku! Sekelompok remaja pencinta alam, terjebak dalam misteri supranatural yang merebak dan meneror masyarakat. Memaksa mereka memilih antara mundur, dan menjalani hidup normal mereka ... atau maju, dan mengubah jalan hidup semuanya ... selamanya! Dan misteri kali ini, ternyata merupakan suatu gerbang ... ujung awal dari sebuah lorong labirin misteri besar, sebuah konspirasi global!
Ulasan
7 ulasan
Hasyim Ashari
25/5/26 14:58
Walau waktu awal pace-nya agak lambat, ternyata seru juga. Ngeri nya terus dibangun tanpa perlu buru-buru. Cerita ini bakal terus bisa meningkat dan berkembang mesti.🔥🔥🔥
PILIHANMi.A.Fi.Ars
22/9/26 18:28
kak...bagus...aku suka bacanya....semangat trus kak....aku gak suka mendaki jadi pen coba mendaki...walaw masih banyak takutnya .
Medini
FEAR OF THE DARK
Buku 1: Temaram
Medini
Tubuhku menggigil kedinginan. Kucoba lagi untuk bangkit. Sengatan rasa nyeri membuatku berhenti mencoba. Aku tahu, kesalahan penanganan pada kecelakaan dapat menjadikan lumpuh permanen. Aku tenangkan dulu napas yang terasa sesak di dada.
Kubuka mata lebar-lebar, mencoba mengamati keadaan sekitar. Leherku pun masih kaku untuk menoleh. Apakah aku akan bisa berjalan lagi?
Tidak! Ini bukan saatnya untuk melemahkan diri! Kucoba untuk terus berpikir positif.
Aku ingat, aku jatuh sore hari menjelang Ashar. Ini jelas sudah malam hari, hampir-hampir tidak bisa melihat apapun. Dimana carrier-ku? Semua peralatan, ponsel, makanan dan minuman ada di sana. Beruntung, jaket tebal ini terus kupakai waktu turun gunung.
Tim pencari pasti juga berusaha menghubungi nomorku. Aku juga heran, kok bisa ransel di punggung terlepas begitu saja saat aku jatuh?
Kuedarkan pandangan mencari-cari keberadaan ransel itu. Hanya kegelapan samar diantara kegelapan pekat. Aku tidak bisa membedakan mana gerumbulan semak, mana batuan besar. Semua hanya berupa bayangan kegelapan. Semua?? Uh ... sepertinya tidak!
Pandanganku menangkap sesuatu di sudut di ujung sana. Aku menahan napas. Ada dua nyala kecil di sana. Mata! Itu adalah sepasang mata yang sedang menatapku!
....
“Uff ....”
Kusingkirkan lagi bayang masa lalu yang kerap menghantuiku itu. Kuyakinkan diriku lagi, fokuslah pada saat ini ke depan.
Kusibakkan jambulku yang kuyu karena rintik hujan.
Gerimis ini tambah lebat saja ... nanti sajalah sampai masjid, bongkar carrier ambil mantel ....
Yah, beginilah risiko nyusul kemping sendirian ... kesorean lagi. Kalau sampai perkebunan teh Medini lebih dari jam lima sore, aku bakalan harus jalan malam untuk sampai ke Promasan, desa terakhir di kaki Gunung Ungaran. Kupercepat lagi langkahku menyusuri jalanan desa.
Sungguh aku tak menyangka, aku yang dulu waktu kecil sempat jadi anak penakut, sampai kalau ke kamar mandi malam hari harus minta diantar Popoku--begitu aku biasa memanggil Papaku, sekarang bisa berjalan sendiri melintasi pedesaan dan alam bebas. Keputusanku bergabung dengan kelompok pecinta alam SMA ini memang sangat cocok buatku.
Sebenarnya, sebelum ini, sudah terlanjur kunyatakan, pelantikan anak-anak pencinta alam kali ini, aku tidak bisa ikut.
“Sori banget Sobs, sudah jadwalku ke Wonosobo,” kataku kala itu. Aku biasa memanggil sobat-sobat gunungku dengan panggilan 'sobs'. Memang sudah jadwalku menyisihkan waktu libur akhir tahun ajaran buat nyantri.
“Tapi inikan pelantikan, Fikaar!!” suara tinggi Zahra membalas.
“Kali ini saja Fik, Adik-adik yang mau dilantik itu butuh kamu. Kita juga butuh kamu. Bukan cuma tenaga, tapi kehadiran-mu!” tukas Satya, ketua angkatanku. Akhir kalimatnya sengaja dia tekankan. Aku menunduk terdiam.
“Lagian kau tidak kelihatan tambah alim sepulang dari sana tahun lalu,” tambahnya memelan.
Mungkin, kata-kata Satya itu ada benarnya, namun tak urung, hal itu juga menyinggungku.
“Karena itulah aku harus terus kesana!” Suaraku naik terlalu tinggi kurasa, aku menyesalinya.
“Ini sudah keputusanku. Tolong pamitkan ke adik-adik dan kakak-kakak senior, juga para alumni yang datang. Aku cabut dulu!” kataku dengan cepat sambil bergegas keluar kelas. Dari sudut mata bisa kulihat Zahra terisak-isak di pojok kelas. Pedih rasanya harus meninggalkan mereka seperti ini.
“I see the fire in your eyes, but a man got to make his way ...."¹ bisik batinku menguatkan hati saat itu.
....
¹ Kulihat api di matamu, tapi seorang pria harus menjalani jalannya.
....
“Zahra ....” desisku sambil tersenyum kecil. Ada nyala kecil di dada. Akhirnya aku bisa di sini ... hanya untuk melihatmu lagi.
Entah kenapa bayangan Si Lucu itu terus muncul mengitari benakku. Betapa culunnya dia dulu, waktu awal ikut ekskul pencinta alam ini. Mungkin waktu itu, dia baru taraf coba-coba, namun ternyata dia terus dan terus nongol. Bahkan kurasa, karena Zahra pulalah, aku bisa bertahan sampai sekarang.
Yah, aku juga tak menyangka Mbahyai Gun, setelah cuma dua hari melatih, malah mengatakan pertemuan kali ini sudah cukup. Beliau cuma memberikan segulungan lembaran lusuh dengan pita hitam.
“Buka ini sewaktu Anakmas benar-benar sudah lega. Insyaallah kita bisa ketemu lagi kalau Anakmas sudah bisa mengerti. Sekarang, pergilah! Selesaikan tugasmu!”
Heran aku, Mbahyai ini seperti paham anak muda saja. Mungkin ... karena beliau memergoki aku sering bengong ya? Pokoknya yang jelas, tadi siang aku langsung pamit dan bergegas ke sini, hanya dengan berbekal perlengkapan seadanya ... perlengkapan nyantri, bukan kemping.
....
Sesampainya di Masjid Medini, tak tampak satu pun batang hidung anak-anak. Kulangkahkan kaki untuk salat Magrib sebelum melanjutkan perjalanan. Sebentar lagi langit bakal benar-benar gelap.
Gerimis tinggal rintik-rintik kecil, jaket andalanku masih bisa menahannya. Dingin dan sepi berpadu rasa. Ah, jalan sendirian di saat seperti ini memang melangutkan hati. Yowis ... great-lah! Kurutuk nasibku sendiri.
Kurogoh ponsel di kantong dan mengetik pesan grup. Seseorang di sana harus tahu aku menyusul. Tak ada gunanya main kejut-kejutan. Kalau ada apa-apa, aku yang terkejut sendiri.
Salahku juga ... coba kalau aku infokan bakal datang lebih awal. Mungkin saja bisa disediakan seseorang untuk menunggu dan jalan bersama ke Promasan. Apalagi kalau yang ditugaskan si Za ... ah sudahlah! malah jadi senyum-senyum sendiri aku, kayak orgil ....
Tak seberapa lama berjalan, jalanan berbatu mulai susah terlihat. Kabut putih melintas turun. Pemandangan perkebunan teh mulai kabur.
“Hmm, ni dia nih.”
Kusibakkan kembali rambutku. Di depanku ada satu percabangan. Jalan setapak ke kiri, adalah jalan pintas melalui hutan gelap di depan sana. Sementara jalan utama yang biasa dilewati truk perkebunan, walau sama-sama kearah Promasan, bedanya bisa berlipat jarak dan waktu tempuhnya. Jalan truk berbatu itu terus berkelok-kelok mengikuti jalur terlandai menaiki kaki gunung.
Bisa kubayangkan, lewat jalan pintas malam-malam begini, melintasi parit kecil, tebing dengan belukar, jalan yang samar tak terlihat ... mana sendirian dan minim pencahayaan, hhh ... pasti sulit sekali! Disisi lain, kalau ikut jalan truk, bakalan lebih lama dan jauh, walau lebih mudah dan jelas jalannya.
Sebal rasanya terpaksa harus lewat jalan memutar, tapi mau bagaimana lagi? Mendaki jalan setapak dengan hanya mengandalkan lampu flash ponsel untuk penerangan, yang tak pasti bisa tahan berapa lama ... itu sih gila! Lagipula gulungan awan juga sering menghalangi bulan, menjadikan gelap tiba-tiba menyelimuti pandangan.
Suasana temaram magrib awalnya masih memungkinkanku bisa berjalan tanpa harus buru-buru menyalakan lampu flash, namun tak lama, semua berubah semakin gelap. Kaki ini beberapa kali harus meleyot menginjak batu yang tidak beraturan.
Kau tahu, ada semacam rasa enggan aku lewat jalur ini sendirian. Beberapa kali kudengar cerita tentang rute ini. Cerita yang ... yah, tidak begitu menggembirakan.
Cerita dari temannya teman, dia bertemu satu sosok bercaping, penutup kepala khas pedesaan dari anyaman daun atau bambu. Sewaktu sosok itu disapa, dia membuka capingnya, dan ... Bhuaa! Satu kepala halus tanpa wajah terpampang! 'Sering banget itu terjadi di sini', imbuhnya ngeri.
Parahnya lagi, cerita itu ditambahi dengan beberapa cerita penampakan ‘mr. poci’ disini. Sampai dikatakan, disini adalah markas hantu bungkus tersebut. Hhh ... kusingkirkan segala cerita yang sudah terlanjur menempel di kepala.
Ah, itu kan hanya cerita untuk meramaikan perapian waktu anak lintas pencinta alam pada kumpul. Hanya untuk seru-seruan saja, kucoba untuk menenangkan hati.
Aku bukan anak penakut sih. Waktu kecil dulu mungkin. Yah ... walau belum bisa dibilang pemberani juga, karena aku tidak pernah saja, melihat hal-hal jelek kayak gitu. Semoga saja gak bakal kejadian dah!
....
Daftar bab
94 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








