
Aura Mistis Rahasia di Balik Kesuksesan Joko (Godaan Para Wanita)
asap tembakau|Bersambung
- Jumlah kata
- 58.6K
- Popular
- 672
- Subscribe
- 146
- Jumlah kata
- 58.6K
- Popular
- 672
- Subscribe
- 146
Sinopsis
GENRE : MISTERI, HOROR, DEWASA (25+) PASTIKAN USIA ANDA SESUAI, SEGALA AKIBAT DITANGGUNG PEMBACA. Joko, pemuda usia 17 tahun yang melakukan perjanjian dengan dukun sakti untuk memperoleh keberuntungan, bahkan sampai banyak orang iri dengan aura dan kharisma yang dimiliki oleh Joko.
Ulasan
2 ulasan
ada wong
22/9/26 01:20
gak niat updte cuma 1 atau 2 bab ja. kalau niat jadi penulis update 10 babb. payah betul niatnya....
darkcom
26/8/26 07:41
mana lanjutannya thorrrrrrrrrrrrrrrrrrr lama amat nukis nyaaaaaaaaaaaaaaaa novel dewasa yg elegantttttttttt
Bab 1 Kepahitan Joko
“Tuhan dimanakah engkau?, aku sungguh berharap bantuanmu,” ucap Joko sambil mengusap tanah kuburan milik kedua orangtuanya.
“Tuhan, apakah aku memang ditakdirkan sebagai anak yatim piatu yang miskin dan terhina begini?” lanjut Joko sambil mengusap air mata yang di pipinya.
Suasana di kuburan malam itu sungguh mencengkram, burung saling sahutan membalas kicauan burung lainnya.
Yap, besok Joko akan diadili oleh warga di kantor balai desa, sebab ia telah melakukan dosa besar menurut pak Lurah.
Duarrrr.. tiba tiba pohon tersambar petir, dan pohon itu tumbang tepat di depan mata Joko. Joko berdiri dan mendekati pohon itu, tidak ada rasa takut baginya lagi, sebab mungkin besok adalah hari terakhir baginya untuk bernafas.
..
..
Pagi ini suasana kantor balai desa sungguh ramai.
Tentu semua warga berkumpul untuk melihat bagaimana Joko akan adili.
“Joko, apa ada kata kata terakhir sebelum kami melakukan evakuasi kepadamu,” tanya salah satu pegawai balai desa sambil memandang Joko dengan tatapan hina.
“Saya Joko, berani bersumpah atas nama Tuhan, atas nama almarhum kedua orang tuaku, saya bukan pengedar narkoba, saya bukan pemakaian narkoba, dan saya hanya mendapat pekerjaan sebagai kurir, saya tidak tahu jika itu adalah narkoba,” ucap Joko dengan lantang sambil menggenggam tanah kuburan milik kedua orang tuanya.
“Begini Joko, hukum itu melihat fakta, dan fakta itu mengatakan jika telah di temukan 20 kg sabu sabu di rumahmu,” ucap pak lurah dengan nada tenang.
“Silahkan kamu pilih Joko, mau penjara seumur hidup, atau langsung itu,” kata sekretaris desa sambil menunjuk pedang yang sudah sangat siap digunakan untuk menggorok tenggorokan Joko.
Joko melihat pedang itu sambil menelan air ludahnya.
Dan tiba tiba.
Tukkk..Tukk..Tuk.
Suara orang berjalan mendekati Joko sambil membawa kayu yang membantunya berjalan.
“Siapa kamu?!?” Tanya sekretaris desa kepada orang itu.
“Perkenalkan saya Raden, salah satu warga baru di sini, saya mendengar ada sidang di balai desa, jadi saya ingin melihat, izinkan saya usul sesuatu ide,” ucap Pak Raden dengan tenang tapi berwibawa.
“Walah warga baru, belum juga tahu sejarah desa ini sudah mau–”
“Pak sekdes, kita dengarkan dulu ide pak Raden,” potong pak lurah yang membuat sekretaris desa itu langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
“Silahkan pak Raden,” lanjut pak lurah.
“Melihat dari keberanian Joko yang tetap datang ke balai desa meski bisa aja kemarin dia kabur setelah mendapatkan izin mengunjungi makam orang tuanya, kenapa kita tidak mencari siapa orang yang menyuruh Joko mengantar narkoba itu?” bela pak Raden sambil tetap berdiri di samping Joko.
Joko melihat pak Raden dengan tatapan terharu, Joko merasa hatinya terguncang sambil berkata dalam hati “oh ternyata begini rasanya dibela, ternyata begini rasanya ada yang memihak” tanpa sadar mata Joko berkaca-kaca.
“Mengingat harga sabu sabu itu tidak murah, sangat mustahil bagi seorang Joko untuk menjadi pengguna. Kenapa kalian tidak melakukan tes narkoba?” lanjut pak Raden.
“Pak Raden warga baru jadi wajar kurang paham. Jadi orang tua Joko itu meninggal, apa pak Raden tahu penyebabnya?” Jawab pak sekretaris desa dengan ketus.
“Sudah sudah, jadi lari kemana-mana topiknya,” tutup pak lurah yang memang kematian orang tua Joko tidak ada sangkut pautnya dengan hari ini.
“Pak Raden saya luruskan sedikit ya, jadi untuk tes kesehatan harus ke kota besar dan biaya tidak murah, dan keputusan ini tidak saya ambil sepihak, melainkan hasil musyawarah dengan pejabat desa dan warga,” jawab pak lurah dengan tenang.
“Untuk biaya akan saya tanggung, saya juga akan menyewa anjing pelacak, karena bisa saja di rumah warga lainnya ada yang menyimpan jenis narkoba lainnya,” jawab pak Raden dengan nada kesal.
Ucapan pak Raden langsung mengandung banyak reaksi dari warga yang menonton, dan yang paling mencolok adalah ekspresi sekretaris desa.
“Siapa dia? Siapa pak Raden itu? Kerja apa dia?” Bisik bisik warga yang terdengar di telinga Joko dan Pak Raden.
“Saya jadi curiga jangan jangan pak Raden orang yang meminta Joko untuk mengantar narkoba itu, karena pak Raden sangat melindungi Joko,” jawab sinis sekretaris desa itu.
Pak Raden tertawa mendengar ucapan lucu dari sekretaris desa itu. Dan mengatakan “Baiklah, jika pak lurah berkenan, 1 desa akan tes kesehatan termasuk juga saya. Besok orang kesehatan dan anjing pelacak akan datang ke desa ini, untuk biaya saya yang tanggung, kalian cukup diam dirumah saja, sekian ide dari saya pak lurah silahkan diputuskan,”
“Baik keputusan untuk hukuman Joko akan kita putuskan besok, saya rasa cukup untuk hari ini,” ucap pak lurah sambil berdiri dan keluar dari ruangan.
Semua orang keluar dan meninggalkan pak Raden dan Joko di ruangan itu.
“Terimakasih sudah membela saya, saya, saya tidak tahu harus membalas bagaimana,” ucap Joko.
“Nanti sore datanglah ke rumahku, rumahku paling ujung dekat pabrik gilingan padi, rumah warga coklat,” ucap pak Raden sambil berjalan meninggalkan Joko yang saat ini seorang diri di balai desa.
“Tentu tentu saya akan datang, terimakasih pak Raden, terimakasih banyak,” jawab Joko sambil berkali kali menganggukan kepalanya sebagai tanda kalau dia pasti akan datang ke rumah pak Raden.
..
..
Joko mengelilingi beberapa rumah di dekat gudang ataupun pabrik penggilingan padi, mata Joko terhenti dengan rumah warna coklat yang tampak sederhana tapi asri, Joko memasuki halaman rumah itu dan suara anjing tiba tiba menggonggong,
Gukkk…Gukk..Guk
Sontak Joko lari, dan tak lama pemilik rumah itu keluar, Yap benar Pak Raden keluar.
Pak Raden mendekati anjing itu dan membelainya sambil mengatakan “jangan bikin dia takut, sebentar lagi dia akan menjadi tuanmu juga.”
Joko yang masih bingung dengan perkataan itu hanya bisa bengong. Pak Raden mempersilahkan Joko masuk kerumah. Joko terpesona dengan desain rumah pak Raden sangat estetik.
“Pak Raden ini perlengkapannya,” ucap wanita cukup muda yang menjadi asisten pak Raden sambil memberikan kantong kain yang cukup besar.
“Oh Joko, kenalkan ini Bella, asistenku, dia yang akan membantumu dalam melakukan ritual ini,” ucap pak Raden sambil memberikan kantong kain itu kepada Joko.
Joko yang masih bingung tapi tetap menerima kantong kain yang diberikan kepadanya.
“Silahkan mas Joko sebelah sini,” ucap Bella sambil mempersilahkan Joko untuk mengikutinya.
Joko menurut dan mengikuti Bella, walau dalam hati dia sangat sangat bingung, ingin bertanya tapi bingung untuk mengatakannya.
Yap, Joko disuruh mandi, ternyata isi kantong itu hanya perlengkapan mandi, kaos polos, dan celana pendek.
Setelah selesai mandi, Joko di persilahkan makan bersama pak Raden di meja makan, pak Raden sudah menunggu, dan mereka makan. Di pertengahan makan Joko memberanikan diri untuk bertanya.
“Maaf pak Raden, sebenarnya pak Raden itu siapa? Karena saya sudah 17 tahun menjadi warga di desa ini, dan saya tidak mengenal pak Raden?” Tanya Joko dengan nada pelan dan sangat hati-hati.
“Bahasa mudahnya, saya adalah dukun,” jawab pak Raden santai, tapi tidak untuk Joko.
Joko langsung melihat sekelilingnya, tapi tidak ada satupun seperti keris, dupa, ataupun penunjang bahwa pak Raden ini dukun.
“Bisa aja bercandanya pak Raden ini,” jawab Joko sambil melanjutkan makannya.
“Jika kamu melihat dukun dengan harus adanya dupa ataupun keris, maka kamu salah Joko.”
Joko menghentikan kunyahan makanan di mulutnya dan melihat wajah pak Raden.
“Kamu melihat orang yang mengambil uang rakyat sampai milyaran bahkan triliunan, apa mereka berpakaian seperti maling?”
Joko terdiam, mengangguk dan paham poin dari perkataan pak Raden.
Daftar bab
52 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








