
- Jumlah kata
- 120.4K
- Popular
- 306
- Subscribe
- 19
Sinopsis
Hanya karena lahir setelah ramalan tentang kelahiran Raja Pendekar, Ali yang pengecut lemah harus menghadapi Aliansi Gagak Hitam yang berniat mendominasi Wilayah Besar bagian Timur. Hingga suatu hari potensi benih api Ali terbuka, saat itulah mereka menjadi semakin menginginkannya dan mengharuskan dia pergi dari kampung halaman.
Ulasan
1 ulasan
Mangan Turu
6/9/26 14:39
kpd yg terhormat xavien saya ingin mengajak anda bekerja sama, untuk membuka konten berbasis ai, saya akan mengerjakan cerita" novel anda menjadi lebih banyak jangkauan dan pupuler
PENGECUT
Salah satu Wilayah Besar bagian Timur, Negeri Timur Tengah, Pulau Hira.
"Tidak! Tolong! Jangan lagi!"
Ali yang belum selesai membasuh diri di tempat pemandian umum, tiba-tiba dihampiri tiga orang yang kerap mengganggunya sejak kecil.
Mereka menyeringai dan tertawa girang dengan tangan mengepalai, bersiap melayangkan pukulan.
Panik dan terkejut, Ali yang ketakutan pun bergegas keluar dari kolam pemandian, memanjat pagar di dan berlari ke sepanjang wilayah padang pasir dengan bertelanjang dada.
Ali berlari pontang-panting sampai menuju ke pemukiman, napasnya memburu tak beraturan sembari tangannya mencengkeram erat selembar kain yang melilit pinggangnya. Di belakangnya, para perundung berwajah beringas itu masih mengejar dengan penuh ambisi.
"Lari saja terus, dasar pengecut!" seru salah satu pengejar dengan nada mengejek yang kemudian berhasil meraih lengan Ali, lalu menjambak rambutnya di saat bersamaan.
Pemuda itu pun langsung tersungkur begitu tertangkap. Lalu mereka dengan girang melayangkan pukulan ke tubuh dan wajahnya seiring tawa getir memekakkan telinga.
"Serius, nih? Dia sama sekali tidak bergerak!" sahutnya sambil tersenyum girang.
"Dia cuman bisa bertahan seperti kura-kura yang masuk ke dalam cangkangnya saja! Pengecut!" Salah satu lainnya menimpali seraya memukul habis-habisan.
Pemuda lain dengan wajah beringasnya pun ikut berkomentar sinis selagi tendangan kakinya membuat si pengecut itu gemetar.
"Tidak ada yang peduli kau itu anak pemimpin negeri atau bukan! Jangan sombong kau, Ali!"
Pengecut itu bernama Ali. Anak dari pemimpin Negeri Timur Tengah. Namun, dia hanyalah seorang pengecut yang sama sekali tidak bisa mengeluarkan energi dalam.
Itulah mengapa begitu mudahnya dia tertangkap. Ali hanya bisa pasrah dipukul atau ditendang sambil meringkukkan tubuhnya yang gemetar. Berharap dia bisa bertahan dari semua itu.
Dia begitu takut tubuhnya hancur jika mereka bertiga menggunakan energi dalam, karena itulah dia bertahan sampai mereka puas.
"Orang sinting! Melawan saja tidak, payah!"
"Dia takut kalau kita menggunakan kekuatan!"
"Bisa jadi, ya. Namanya juga pengecut, haha."
Seringai lebar mulai menghiasi wajah mereka yang sesaat menghentikan perundungannya. Sadar mereka tidak berniat menghentikan ini dan akan memulai hal ekstrem, Ali perlahan mengangkat tubuhnya dari tanah berpasir sambil membuka mulut, lalu bicara.
"Tolong jangan ... aku, aku takut jika—"
Kalimat itu langsung terpotong ketika salah satu dari mereka menarik kerah bajunya dan mengangkat Ali ke atas. Sekali lagi mereka menunjukkan wajah puas dan terus tertawa.
"Ali, tenang saja aku akan pelan-pelan."
Ali terhenyak, matanya terbelalak kaget. Saat dia hendak mengatakan sesuatu lagi, pukulan kembali melayang.
BUUAAKKK!!
Tubuh Ali yang sudah tak sanggup menerima serangan lagi itu, kini kembali dihantam sebuah pukulan bertenaga kuat dan juga berat. Angin hasil energi dalam dari seorang pendekar membuat tubuhnya langsung terpelanting jauh hingga membentur bebatuan besar.
Perut mendadak mual, Ali pun langsung memuntahkan semua isi perutnya yang bercampur dengan darah. Nyeri tidak hanya datang dari perut, tapi di sekujur tubuh yang kini gemetar bukan karena takut, melainkan kesakitan.
"Kalau pukulannya mengenai jantung, aku pasti mati," gumam Ali.
"Kau benar. Jadi setidaknya kau harus lari."
Seseorang menyahut omongannya. Lalu terdengar suara desingan dari logam yang ditarik keluar.
Adik tirinya yang dua tahun lebih muda, Ammar. Dia datang dari belakang sambil menempelkan ujung pedangnya ke leher Ali.
Seakan bersiap untuk menebas.
"A-apa yang kau—"
Belum sempat menyelesaikan kalimat, Ammar menarik pedangnya yang juga menyayat pelipis Ali secara bersamaan.
Panik, pengecut itu langsung berdiri dari tempatnya duduk dan menjaga jarak sejauh mungkin. Semua bekas luka perundungan barusan bahkan tidak ada apa-apanya dengan aura hitam yang menyelimuti tubuh Ammar.
Gelap gulita, culas, dan tajam bagai ribuan jarum yang panjang. Ini adalah hawa membunuh sekaligus energi dalamnya yang kuat!
"Kau ingin membunuhku, ya?!" amuk Ali.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Ammar melesat
Sementara Ali hanya bisa menggerakkan kedua kakinya untuk melangkah dan berlari seperti pengecut. Staminanya terkuras cukup banyak ketika sampai di mulut gua. Ali yang sudah tak sanggup lantas berbalik badan.
Tubuhnya membeku. Dia tersentak kaget lantaran hawa membunuh si adik membuatnya bergidik merinding.
Ammar bersiap menghunuskan pedang. Ali selangkah mundur dengan cepat hingga tak sadar punggungnya membentur dinding gua.
Tak cukup waktu untuk berpikir. Dalam kondisi tidak bersenjata, si pengecut itu hanya bisa bertahan dengan tangan kosong yang terpaksa menahan bilah pedangnya.
"Aku tidak apa masalahmu! Tapi kenapa sampai ingin membunuhku?"
"Karena kau terlalu lemah. Aku bahkan tidak percaya bahwa kita punya ayah yang sama."
"Hanya karena kau lebih berbakat dariku? Hanya karena energi dalam yang jadi patokan kekuatan para pendekar?!"
"Bukankah sudah jelas? Kau tidak ada gunanya di tempat ini, jadi berhentilah bermain-main dengan senjata."
"Seenaknya saja kau bersikap sombong. Mentang-mentang kau yang paling kuat di pulau ini," gerutu Ali seraya mengerutkan keningnya, gelisah.
Ammar mendengus seraya menatapnya tajam. Lantas berkata,"Kau bahkan tidak pantas menjadi saudaraku!"
Kemudian dia menarik pedangnya, berbalik badan dan pergi. Meninggalkan Ali yang gemetar di sana.
***
Malam telah tiba. Binatang reptil ataupun buas akan segera bermunculan dari bawah pasir. Namun, Ali tidak bergegas pulang, dia justru masuk ke area Makam Pedang yang terletak di belakang gua.
Berdiri di hadapan ribuan senjata yang menggunung. Ali mengepalkan kedua tangannya sambil menggigit bibir.
"Apa gunanya aku berlatih pedang kalau ujung-ujungnya aku tidak bisa mengeluarkan energi dalam?"
Grasak-grusuk terdengar dari arah belakang, Ali menoleh. Sumber suaranya dekat, itu berasal dari gua.
"Siapa di sana?"
Angin berhembus dan menerpa rambut hitam panjang yang mencuat dari sisi gua, seorang gadis keluar dari tempat persembunyian dengan wajah kalut.
Ali terkejut. Matanya melebar, namun bukan karena gadis itu melainkan karena kehadiran sosok lain yang berdiri di belakangnya.
"Berhati-hatilah, di belakangmu!"
Sesosok bayangan besar muncul dari sana. Ali secara spontan menarik salah satu senjata dari gundukan, lalu berlari menghampirinya.
Raungan memekik dan menghempaskan keduanya. Kemudian sosok monster itu muncul, seekor kalajengking berukuran raksasa berdiri di hadapan mereka.
Ali terhenyak dengan mata makin melebar ketakutan. Kedua tangannya yang memegang pedang rongsokan itu hanya bisa gemetar hebat.
"La-larilah dari sini," ucap Ali yang terbata-bata lirih.
Pemuda itu hanya bisa berdiri dengan lutut gemetar. Berpasang badan demi menyelamatkan gadis yang bahkan tidak dikenalnya.
Namun, sungut ekor kalajengking tidak menunggu. Setelah memastikan ada mangsa, mahluk itu langsung menusuk tubuh Ali.
"Sekarang, larilah!" pekik Ali.
Gelapnya malam, kabut makin menebal. Setetes demi tetes darah pun diserap wilayah berpasir. Ali diam tak berkutik, tapi anehnya insting pemuda itu bergerak cepat. Dia mengangkat pedang lalu membalas serangan.
Tubuh Ali mulai memanas seiring dia menghujamkan pedang berulang kali hingga patah, dan kalajengking pun menarik ekornya dengan gelisah.
Ali berjalan tertatih-tatih sambil menggenggam erat pedang patah yang perlahan mengeluarkan bayangan terang.
Energi dalam.
Energi dalam itu pun mulai membentuk bilah yang baru. Ali kemudian tanpa ragu kembali menyerang kalajengking tepat di bagian bawah tubuhnya.
"KAU TAKKAN BISA LARI!"
Kalajengking itu menjerit kesakitan. Makhluk itu hanya berputar-putar di tempat tanpa bisa menyerang lagi, hingga akhirnya tubuhnya terbelah menjadi dua oleh pedang berenergi Ali.
Setelah berhasil menghabisinya, tubuh Ali yang baru saja mengeluarkan energi dalam, secara mendadak kaku dan dia mulai kesulitan bernapas.
Daftar bab
113 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
113 bab








