
SISTEM TAKDIR: Dari Rakyat Jelata ke Penguasa Dunia
arta|Bersambung
- Jumlah kata
- 2.4K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
- Jumlah kata
- 2.4K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
Sinopsis
Darma, seorang rakyat jelata yang mati secara hina di dunia lamanya, terbangun di dunia lain sebagai anak miskin di wilayah kerajaan terbuang. Saat semua orang menganggapnya tidak berbakat, sebuah suara dingin bergema di kepalanya. [Sistem Takdir Aktif] Takdir bukan untuk diterima. Takdir untuk direbut. Dengan sistem yang memberinya misi, level, dan pilihan takdir, Darma mulai menapaki jalan berbahaya dari prajurit rendahan, bangsawan, hingga sosok yang mengguncang kerajaan. Namun dunia ini tidak sederhana. Para bangsawan busuk, organisasi bayangan, dan makhluk purba mulai bergerak. Dan satu hal pasti Takdir dunia ini akan berubah karena satu orang
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Mati tanpa Nama
Darma mati tanpa kehormatan.
Tubuhnya tergeletak di lorong sempit yang bau darah dan lumpur, sementara hujan turun tanpa belas kasihan mencuci jejak hidupnya seperti ia tak pernah ada.
Tidak ada yang menolong.
Tidak ada yang mengenalnya.
Dunia seolah sepakat:
rakyat jelata tidak layak diingat.
Ia tidak punya nama besar.
Tidak punya kekuatan.
Dan pada akhirnya
tidak punya hak untuk hidup.
Saat kesadarannya runtuh, satu pikiran terakhir berdenyut lemah di benaknya.
Jika aku terlahir kembali
aku tidak ingin hidup seperti ini lagi.
Gelap menelan segalanya.
Napas.
Darma tersentak dan terbatuk keras, seolah dipaksa kembali ke dunia yang menolaknya. Udara dingin menyergap paru-parunya, membawa bau kayu lapuk dan jerami basah bau kemiskinan yang menusuk ingatan.
Ia membuka mata.
Atap reyot.
Balok kayu penuh retakan.
Cahaya redup menyelinap melalui dinding tanah liat yang rapuh.
Di… mana ini?
Suaranya serak.
Terlalu tipis.
Terlalu muda.
Darma duduk tertatih, lalu membeku saat melihat kedua tangannya kecil, kurus, penuh bekas luka lama. Bukan tangan pria dewasa.
Jantungnya berdegup liar.
Tubuh… anak-anak?
Kenangan asing membanjiri pikirannya, bukan sebagai mimpi, melainkan kenyataan yang dipaksakan.
Seorang bocah yatim piatu.
Desa miskin di perbatasan Kerajaan Arven.
Wilayah buangan tempat manusia gagal dikumpulkan dan dilupakan.
Nama bocah itu
Darma.
Jadi ini… reinkarnasi?
Belum sempat ia mencerna kenyataan itu, suara langkah kaki terdengar di luar gubuk.
Anak itu masih hidup?
Entahlah. Kalau mati juga bukan urusan kita.
Pintu didorong kasar. Seorang pria berbadan besar masuk, zirahnya kusam, matanya dingin seperti besi tak diasah.
Bangun, katanya singkat.
Kalau masih bisa berdiri, ikut kerja. Kalau tidak
Pandangan pria itu berhenti sejenak di tubuh Darma, lalu mendengus.
Percuma.
Ia pergi, meninggalkan pintu terbuka dan kehinaan yang menggantung di udara.
Darma mengepalkan tangan kecilnya.
Rasa marah yang pernah menguburnya hidup-hidup… kembali bangkit.
Di dunia lama, ia diinjak.
Di dunia baru, ia kembali dibuang.
Tuhan macam apa yang mengulang penderitaan yang sama?
Saat emosi itu memuncak
DING!
Suara dingin menggema, bukan dari luar, tapi langsung di dalam pikirannya.
Darma membeku.
【 Sistem Takdir Telah Diaktifkan 】
Cahaya biru transparan muncul di hadapannya dingin, netral, dan tak berperasaan.
【 Mendeteksi Jiwa dari Dunia Lain… 】
【 Sinkronisasi Berhasil 】
Napas Darma tercekat.
Sistem…?
Ia pernah membaca kisah-kisah seperti ini.
Namun saat sistem itu menatapnya balik, yang ia rasakan bukan harapan melainkan tekanan.
【 Status Awal 】
Nama: Darma
Usia: 10 Tahun
Level: 1
Kekuatan: 2
Kecepatan: 2
Mental: 5
Takdir: ❌ Tidak Ditetapkan
Takdir… tidak ditetapkan?
【 Peringatan 】
Individu dengan Takdir Tidak Ditetapkan memiliki tingkat kematian ekstrem.
Sudut bibir Darma terangkat tipis.
Jadi sejak awal… aku memang seharusnya mati.
【 Jawaban: Takdir bukan untuk diterima. 】
【 Takdir untuk direbut. 】
Detak jantungnya menguat.
【 Misi Pertama: Bertahan Hidup 】
Deskripsi: Bertahan hidup selama 24 jam di Wilayah Terbuang.
Hadiah:
+5 Poin Status Acak
Hak Memilih Takdir Awal
Hukuman Gagal:
Kematian Permanen
Sunyi.
Dua puluh empat jam.
Dengan tubuh anak kecil.
Di tempat yang bahkan dunia pun enggan mengakuinya.
Keji sekali, gumam Darma.
Ia tertawa pelan bukan karena lucu, melainkan karena akhirnya mengerti.
Di dunia lama, ia mati tanpa perlawanan.
Di dunia ini
bahkan kematian pun harus ia rebut.
Darma berdiri perlahan, menahan lapar dan nyeri. Ia melangkah keluar dari gubuk reyot itu, menatap desa kumuh yang penuh wajah putus asa.
Bangsawan membuang mereka ke sini.
Kerajaan melupakan mereka.
Namun dunia
memberinya satu hal.
Kesempatan.
Dan Darma bersumpah
ia tidak akan hidup sebagai rakyat jelata selamanya.
Daftar bab
4 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








