
Pesona Pendekar Perkasa
Joy Boy|Bersambung
- Jumlah kata
- 41.8K
- Popular
- 2.6K
- Subscribe
- 300
- Jumlah kata
- 41.8K
- Popular
- 2.6K
- Subscribe
- 300
Sinopsis
Dengan bekas luka bakar di sekujur tubuhnya, Rangga tak memiliki kepercayaan diri menjalani hidupnya. Ia selalu dihina, dianggap pembawa sial, bau, dan menjijikkan. Suatu hari, Rangga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Ia melompat masuk ke dalam sebuah sumur tua di hutan. Sayang sekali bukan kematian yang ia dapatkan, namun wajah baru yang sangat tampan, tubuh yang sangat gagah kekar berisi, dan juga kesaktian yang membuatnya seketika menjadi pendekar pilih tanding
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Mengakhiri Hidup
Matahari baru sepenggalahan naik, memancarkan terik yang menyengat punggung Rangga. Pemuda berusia delapan belas tahun itu berjalan terseok-seok menembus debu jalanan Desa Karangjati. Di pundaknya bertumpu seikat kayu bakar kering yang diikat dengan kulit bambu. Setiap langkahnya terasa berat, bukan hanya karena beban di punggung, melainkan karena beban hidup yang telah lama menghimpit dadanya hingga nyaris remuk.
Hidup Rangga penuh dengan kesialan. Sepuluh tahun lalu, sebuah kebakaran hebat melahap habis rumah besar milik ayahnya, merenggut nyawa kedua orang tuanya dalam semalam. Rangga selamat, tetapi api durjana itu meninggalkan tanda abadi: sekujur tubuhnya, dari leher hingga ujung kaki, tertutup bekas luka bakar mengerikan. Kulitnya berkerut, belang-belang merah kehitaman, menyerupai daging buah nangka yang membusuk.
Rangga melangkah menuju pelataran pasar tempat kedai-kedai makan berjejer. Ia berharap bisa menukar seikat kayu bakar dengan sisa nasi atau entah apa untuk mengganjal perutnya yang sejak pagi tadi hanya diisi air mentah. Namun, belum sempat ia menurunkan ikatan kayu bakarnya, sebuah suara bentakan membuyarkan niatnya.
"Hei, kotoran! Pergi dari sini! Kau tidak melihat, di sini sedang ada acara dan ada banyak tamu. Tampangmu bisa membuat semua orang di sini jijik!"
Rangga mendongak. Ia melihat Damar berdiri di ambang pintu kedai, bersama Wulandari istrinya dan juga tiga orang pengikut setianya, pemuda-pemuda kampung yang gemar mencari hiburan di atas penderitaan orang lain.
"Aku... aku hanya ingin mengantar kayu bakar, Den Damar, seperti biasa… menukarnya dengan makanan,” balas Rangga dengan suara gemetar.
Damar mendengus jijik, melangkah mendekat sambil menutup hidungnya seolah-olah bau bangkai baru saja lewat. "Kayu bakarmu basah oleh keringat busukmu! Kau mau membuat pelanggan kedai ini muntah? Cepat enyah dari sini!"
"Tapi aku butuh makan, Den... sedekah sedikit saja," pinta Rangga, merendahkan diri sedemikian rupa hingga harga dirinya lenyap tak bersisa.
“Rangga! Tidak bisakah kau mengerti? Di sini sedang ada banyak tamu. Semua orang bisa jijik padamu jika kau muncul!” kata Wulandari dengan nada ketus, dengan tatapan jijik.
“Wulan… tolong berbaik hatilah. Dulu kita teman masa kecil…” kata Rangga memelas.
“Dulu ya dulu. Sekarang kau tak lebih baik dari seekor binatang. Kau menjijikkan rangga! Enyahlah. Kau membuat semua orang mual!” kata Wulandari.
Gemetar Rangga mendengarnya. Sedih sekali rasanya. Andai bukan Wulandari yang mengatakannya, Rangga tak akan merasa sehancur itu.
Wulandari, si bunga desa cantik itu, dulunya adalah teman bermain Rangga ketika mereka masih kecil, sebelum kebakaran itu merenggut segalanya.
Sejak kecil, Rangga selalu menyukai Wulan, sebagai teman bermain. Dan bahkan setelah kebakaran, saat mereka dewasa, Rangga hanya bisa menatap Wulan dari jauh, mendoakan yang terbaik untuknya, karena ia sadar diri, ia menjijikkan dan tak lagi berharga di mata wanita itu.
Mendengar ucapan tajam istrinya kepada Rangga, Damar sangat senang. Ia tertawa terbahak-bahak dan menoleh ke arah teman-temannya dan orang-orang pasar yang mulai berhenti berjalan untuk menonton.
"Dengar itu? Si anak setan ini meminta belas kasihan. Padahal wujudnya sudah seperti siluman!" Damar mendengkus, lalu menendang ikatan kayu bakar Rangga hingga berserakan. "Ambil kayu busukmu dan bersihkan tanah ini dengan wajahmu!"
"Jangan, Den..." Rangga bergeser mundur, tetapi salah satu pengikut Damar sudah lebih dulu mencengkeram kerah bajunya, merobek kain kusam itu dan mengekspos sebagian dada Rangga yang penuh kerutan luka bakar.
Jeritan kecil tertahan lolos dari bibir para wanita yang lewat. Beberapa orang membuang muka, sementara yang lain meludah ke tanah sambil berbisik penuh kebencian.
"Lihat kulitnya! Menjijikkan!" teriak salah satu orang yang ada di sana.
"Kenapa anak sial ini tidak ikut mati saja bersama orang tuanya dulu?" sahut yang lain.
“Benar. Dia pembawa sial. Lihat nasib Pak Marto, dia satu-satunya orang yang mau menolong dan merawat dia dari kebakaran itu. Tapi setahun kemudian, Pak Marto mati…” sahut yang lainnya lagi.
“Betul itu. Kabarnya, dulu dia itu lahir saat gerhana matahari. Kabarnya, anak yang lahir tepat di hari itu, dia akan membawa sial, terutama bagi keluarganya! Benar kan, usaha ayahnya bangkrut, kekayaan dari eyangnya perlahan-lahan habis, dan puncaknya, saat usianya 13 tahun, rumahnya kebakaran…”
Ucapan orang-orang yang terdengar jelas di telinga Rangga itu semakin membuatnya sangat sedih.
Damar tersenyum puas melihat penderitaan Rangga. "Hajar dia! Biar dia tahu di mana tempat sampah yang sesungguhnya!"
Bugh! Sebuah tendangan telak mendarat di perut Rangga, membuatnya tersungkur ke dalam debu kotor. Hantaman demi hantaman pukulan dan tendangan melayang bertubi-tubi ke tubuhnya. Rangga tidak melawan. Ia hanya meringkuk, mendekap kepalanya rapat-rapat, membiarkan debu jalanan dan ludah penghinaan bercampur di atas kulitnya yang cacat.
Namun, rasa sakit di fisik tidak seberapa dibandingkan hantaman di dalam dadanya. Di titik itu, di bawah terik matahari yang kejam dan sorot mata penuh jijik dari puluhan orang, kesadaran kelam menghantam jiwa Rangga dengan telak
‘Tidak ada satu pun tempat di dunia ini yang menginginkanku hidup. Aku benar-benar sendiri. Aku adalah sampah yang sia-sia…’
Ketika para pengikut Damar pergi sambil tertawa puas dan meninggalkan Rangga yang terkapar berlumur debu, pemuda itu tidak menangis. Air matanya sudah kering sejak bertahun-tahun lalu.
Dengan sisa tenaga yang ada, ia bangkit merangkak. Ia tidak kembali ke gubuk reot yang menjadi tempat tinggalnya. Langkah kakinya yang pincang berbalik arah, menjauhi keramaian desa, menuju ke hutan.
Pohon-pohon besar berdaun lebat langsung menaungi langkah Rangga begitu ia memasuki lebatnya hutan. Suasana di dalam sana mendadak sunyi, kontras dengan keriuhan area pasar tadi. Semakin jauh ia berjalan, semakin sunyi yang ia rasakan.
Tujuan Rangga hanya satu: sumur tua di jantung hutan. Orang-orang tua di desa sering berpesan agar anak-anak tidak pernah mendekati sumur itu karena dihuni oleh roh penasaran yang akan menyeret siapapun ke dalam dasar bumi. Bagi Rangga, ancaman itu kini terdengar seperti sebuah undangan yang manis.
Ia berpikir, kematian adalah satu-satunya kebebasan yang tersisa yang ia miliki. Dan kini ia menginginkan hal itu.
Tak lama kemudian, sebuah lubang sumur dari batu hitam yang ditumbuhi lumut hijau tampak di hadapannya. Itulah sumur tua yang konon kata orang merupakan sumur terkutuk. Bagian atasnya terbuka lebar, menganga seperti mulut siluman kelam yang siap menelan apa saja. Di sekitarnya, udara terasa aneh, dingin tak wajar, dan sesuatu yang sulit dijelaskan seolah terasa menjalar hingga ke tulang. Di sekitar tempat itu juga ada aroma aneh yang entah dari mana datangnya; aroma wangi bercampur anyir.
Rangga berdiri di tepi bibir sumur. Ia melongok ke bawah. Kegelapan pekat menyambut pandangannya, seolah dasar sumur itu tidak berujung.
Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang untuk terakhir kalinya di dunia yang kejam ini. Ia membayangkan wajah Damar, tatapan jijik para warga, dan rasa sakit dari luka-luka bakarnya yang tak pernah sembuh.
"Aku pergi," bisiknya lirih pada angin.
Tanpa ragu lagi, Rangga melompat.
Wush!
Tubuhnya meluncur deras menembus angin dingin sumur yang gelap gulita. Namun, alih-alih hancur berkeping-keping menghantam dasar yang berbatu, tubuh Rangga mendadak terasa ringan, seolah ditarik oleh pusaran angin tak kasat mata.
Bum!
Tubuh Rangga jatuh dan membentur sesuatu, bukan batu, melainkan pada sebuah genangan cairan kental dan membal di dasar sumur. Seketika itu juga, kesadaran Rangga direnggut paksa, terlempar ke dalam kegelapan yang jauh lebih pekat.
Di dalam kegelapan itu itu, sesuatu yang berasal dari masa lalu, yang haus darah, yang agung, tiba-tiba membuka matanya, merespon kedatangan Rangga di tempat terkutuk itu.
Daftar bab
38 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








