
- Jumlah kata
- 2.6K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0

Katanya kalo ada bapak yang strict parah sama anak ceweknya, itu berarti dulu bapaknya pernah jadi cowok brengsek. "Halah emangnya bocah ingusan kaya kamu punya apa berani deketin anak saya?" "Punya iman dan taqwa om." "Bocah stress. Pergi dari rumah saya!" ……… "Mau kamu bawa kemana anak saya?" "Izin ya om, saya ajak main bentar. Nanti saya jajanin sampe kenyang gak bakal kelaparan pas dipulangin kok, om tenang aja." ……… "Pulangin anak saya sekarang atau kamu gak perlu ketemu anak saya lagi!" "Yaelah om baru juga jam 8, masih sore ini om." ……… "Saya gak akan biarin anak saya deket sama anak geng motor berandalan kaya kamu." "Weh jangan salah om, badung gini saya tetap anak kesayangan bunda juga sangat menyayangi dan mencintai anak om." ……… "Langkahi dulu mayat saya kalo kamu mau pacarin Asa." "Yaudah om, rebahan dulu biar saya gampang ngelangkahinnya." "BERANI SAMA SAYA KAMU?!" "AMPUN OMMM!" ……… Meski ratusan kali di tolak dan dihempas, tapi Jake Arlanka Navarro masih punya ribuan cara untuk mendekati Asara Deena Adinata, sang pujaan hati yang sialnya punya bapak yang galaknya kebangetan, Evan Mahesa Adinata. Rion pantang nyerah, ogah mundur, meskipun halangan dan cobaan terberatnya adalah ayahnya Asa sekalipun akan Jake terabas. Walaupun tiap hari harus ngebatin nelen semua omongan pait om Evan yang ngena banget di hati. "Serius dah anying omongan om Evan dirasa-rasa bisa ngalahin pedesnya sambel buatan bunda gue saking nyelekitnya. Kalo kaga demen sama anaknya udah gua slepet itu bapak-bapak satu." - Suara hari Rion yang udah kelewat rungsing tapi tetep ok gas terabas semua rintangan demi neng Asa.
Dentingan terakhir tuts piano menggema di udara, nada-nada yang mengalun lembut itu akhirnya luruh, menutup penampilan solo memukau seorang gadis yang baru saja memainkan lagu klasik di bawah sorot lampu utama. Di atas panggung megah itu, seorang gadis cantik bernama Asara Deena Adinata tampak bersinar.
Sorak tepuk tangan membahana dari ratusan penonton yang memenuhi aula. Suara riuh itu menyambut sang gadis yang perlahan bangkit dari kursi pianonya. Dengan senyum manis yang sanggup meruntuhkan pertahanan siapa pun yang melihatnya, Asara membungkuk ringan beberapa kali ke arah penonton, sebuah gestur elegan sebelum ia meninggalkan panggung dengan anggun.
Namun, di tengah gemuruh tepuk tangan yang berkelas dan penuh wibawa itu, ada satu anomali yang merusak estetika.
Seorang cowok dengan penampilan kelewat mencolok—berbalut jaket kulit hitam berlogo tengkorak di punggung, kaos putih polos yang pas di badan, dan celana jeans senada yang berdiri tegak. Ia bertepuk tangan dengan semangat yang sangat berlebihan, nyaris seperti orang yang sedang menonton konser rock atau balapan liar, alih-alih resital piano klasik.
Saking antusias dan hebohnya tepuk tangan cowok itu, pergerakannya sampai mengusik ketenangan di barisannya. Ia sukses besar membangunkan empat cowok lain yang duduk berjejer di samping kanan dan kirinya.
Keempat cowok yang baru bangun itu memiliki penampilan yang tak jauh berbeda: dominasi jaket kulit, kaos oblong, hoodie gelap, dan celana jeans.
Sebuah pemandangan yang sangat kontras dan mencolok mata jika disandingkan dengan mayoritas penonton di aula tersebut yang mengenakan pakaian semi-formal, kemeja rapi, batik, gaun malam, bahkan ada yang terlihat terlalu formal dengan setelan jas lengkap.
Beruntung, acara resital malam ini tidak menerapkan aturan berpakaian yang terlalu ketat. Mengingat acara ini digelar bukan dalam skala orkestra nasional yang masif, pihak panitia cukup membebaskan asal sopan. Pakaian rapi saja sudah cukup untuk masuk, tanpa perlu dress code resmi. Meski begitu, tak bisa dimungkiri, penampilan urakan kelima cowok ini tetap saja mencuri perhatian di antara kerumunan yang didominasi busana elegan dan wangi parfum mahal. Terlebih lagi, hawa malam Bandung yang sedang dingin-dinginnya di luar sana seolah terbawa masuk oleh aura mereka yang kelewat 'jalanan'.
Cowok yang bersorak paling antusias, berdiri paling tegap, dan tersenyum paling lebar bak orang tidak waras itu adalah Jake Arlanka Navarro.
Sementara empat temannya, yang terpaksa ditarik paksa dari alam mimpi karena suara tepuk tangan Jake yang mengganggu telinga, perlahan mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan dengan respons yang beragam:
Jordan Revaldo, merenggangkan kedua lengannya ke atas lalu menguap selebar mungkin tanpa repot-repot menutup mulut, berusaha keras mengusir kantuk yang masih menggelayut manja di pelupuk matanya. "Nggghh... anjir, pegel bener leher gue."
Seno Kaiser, menggosok-gosok matanya dengan kasar. Kelopak matanya masih terasa sangat berat setelah terpejam nyaris dua jam Lebih. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, menatap panggung dengan pandangan buram, berusaha mencerna di mana ia berada.
Rion Azaleano, duduk tegak namun dengan ekspresi wajah yang tampak plonga-plongo seperti orang linglung yang baru saja diculik alien dan dikembalikan ke bumi. Matanya mengerjap bingung melihat sekeliling yang penuh dengan orang-orang bertepuk tangan.
Dan Arlend Gavintara, bersandar lemas di kursi empuknya, seolah masih “nge-bug” di dimensi lain sambil berusaha mengumpulkan nyawa yang tercerai-berai. Ia menatap kosong ke arah langit-langit aula, otaknya loading memproses realita.
Keempatnya baru benar-benar tersadar dari tidur nyenyak yang—jika boleh jujur—sudah dimulai sejak lima menit pertama acara dibuka.
Alunan lembut dan mendayu dari lagu-lagu klasik gubahan Beethoven dan Chopin yang dimainkan sepanjang resital rupanya terlalu menenangkan bagi saraf-saraf mereka. Bagaikan lullaby maut yang langsung menyeret mereka menuju alam mimpi tanpa perlawanan.
Bagi anak-anak geng motor seperti mereka, yang gendang telinganya lebih terbiasa dihajar oleh deru knalpot racing, musik berirama cepat, dan dentuman keras EDM dari club malam, suasana resital ini jelas bukan habitat alami mereka.
Berada di sini ibarat ikan hiu yang tiba-tiba dipaksa berenang di akuarium ikan mas koki.
Alih-alih berada di arena balap yang menantang adrenalin, atau berkumpul di basecamp sambil main billiard, mereka justru tersesat ke aula musik tempat resital piano digelar. Membayangkan jika panitia tadi mewajibkan mereka mengenakan jas rapi, kemeja dikancingkan sampai leher, dengan rambut tersisir klimis belah pinggir—hah! Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk Jordan berdiri geli.
Semua kekonyolan dan penderitaan batin ini terjadi murni karena ulah satu orang: Jake, bos mereka.
Dialah satu-satunya makhluk dari tongkrongan mereka yang bertahan memaksakan diri untuk tetap segar, melawan kantuk yang menyerang brutal, hingga acara benar-benar usai.
Mata Jake tak sedetik pun berkedip menatap ke arah panggung. Alasan Jake begitu bersemangat siapa lagi tentu saja adalah sang primadona, gadis pemain piano yang barusan tampil menutup pertunjukan orkestra malam itu: Asara Deena Adinata.
Gadis cantik yang mahir memainkan piano, dan yang telah berhasil mengacak-acak kewarasan seorang Jake Arlanka Navarro.
Dan kalau mau ditarik mundur, semua kegilaan tak masuk akal ini bermula sejak enam bulan yang lalu.
---
[Enam bulan yang lalu]
Malam itu hujan turun cukup deras di luar basecamp mereka yang terletak di sebuah ruko dua lantai.
Di dalam, suasana riuh seperti biasa. Suara mesin motor yang sedang dioprek Seno berpadu dengan alunan musik rock dari speaker di sudut ruangan. Asap rokok mengepul tebal, bercampur dengan aroma kopi hitam dan oli mesin.
Rion sedang asyik scroll TikTok sambil ngerokok, Jordan sibuk menyeduh kopi instan, sementara Arlend fokus memainkan game online di ponselnya sambil sesekali memaki.
Hari ini tidak ada jadwal balapan, jadi daripada buang duit dengan nongkrong di cafe atau warkop tempat biasa mereka berkumpul. Mereka lebih memilih buat leha-leha ngabisin waktu di basecamp mereka.
Semuanya masih tampak normal hingga tiba-tiba, pintu basecamp berderit terbuka.
Jake melangkah masuk. Angin basah ikut menerobos masuk ke dalam ruangan, namun bukan itu yang membuat keempat temannya menghentikan aktivitas. Melainkan ekspresi di wajah Jake.
Bayangkan, seorang Jake Arlanka Navarro, ketua geng yang biasanya tampil sangar, yang kalau jalan auranya seolah menantang seluruh dunia, yang memiliki tatapan mata tajam dan sorot dingin bak elang mengintai mangsanya tiba-tiba melangkah masuk dengan langkah ringan. Ia melepaskan jaketnya yang sedikit basah, lalu duduk di sofa yang bersebrangan dengan Rion.
Lalu, hal yang paling tidak masuk akal terjadi. Jake tersenyum. Manusia yang paling irit ekspresi itu tersenyum!
Seketika suasana basecamp jadi merinding, mengira jika Jake abis ketempelan setan makanya berlaku abnormal begitu.
Bukan senyum miring yang meremehkan, bukan seringai kemenangan sehabis memenangkan balapan. Tapi senyum konyol yang mengembang lebar, matanya menerawang jauh, membuat wajah garangnya seketika terlihat seperti remaja kasmaran yang kehilangan separuh IQ-nya.
"Kayaknya gue jatuh cinta pada pandangan pertama deh," ucap Jake tiba-tiba, suaranya mengalun lembut, hampir terdengar seperti bisikan di tengah suara hujan.
Hening.
Selama lima detik penuh, tidak ada suara apa pun di dalam basecamp selain rintik hujan dan musik yang mendadak terasa salah tempat.
Lalu, kekacauan meledak.
Sumpah, perkataan itu adalah hal paling konyol, cringe, dan menggelikan yang pernah mereka dengar keluar dari mulut seorang Jake.
Saking shock-nya mendengar pengakuan itu, Rion yang sedang menghembuskan asap rokoknya refleks tersedak parah. "Uhuk! Uhuk! Anj—uhuk!" Ia memukul-mukul dadanya sendiri, wajahnya memerah karena asap yang salah masuk ke saluran napas.
Di pojok dapur kecil, Jordan yang baru saja menyeruput kopinya yang masih panas, membelalakkan mata. Ia berusaha keras menelan cairan hitam itu, namun gagal total. Ujung-ujungnya kopi itu menyembur keluar dengan kecepatan tinggi.
Celakanya, Seno yang kebetulan sedang berjongkok di dekat Jordan untuk mengambil obeng, menjadi korban tak bersalah. Wajah Seno basah kuyup tersiram kopi hangat bercampur ludah Jordan.
"JORDAN BANGSAT!" raung Seno, mengusap wajahnya yang lengket dengan lap oli kotor karena panik, yang justru membuat wajahnya makin cemong tak karuan. "MATA GUE WOY! PANAS ANJIR!"
"B-bukan salah gue, No! Sumpah!" Jordan membela diri sambil terbatuk-batuk, menunjuk ke arah sofa. "Tuh, dengerin si Jake ngomong apaan barusan! Otak gue refleks error!"
Dan terakhir, Arlend. Cowok yang biasanya paling santai itu seketika mematung. Jemarinya berhenti menekan layar ponsel hingga karakter game-nya mati dibantai kerumunan massa. Ia kehilangan kata-kata, speechless, memandang Jake dari atas ke bawah seolah cowok yang duduk di sofa itu adalah doppelgänger alien, atau seolah Jake baru saja mengumumkan teori konspirasi dunia bahwa bumi ini sebenarnya berbentuk segitiga.
"Lo... habis kejedot stang motor?" tanya Arlend ngeri.
Jake tak memedulikan kekacauan yang terjadi akibat kalimatnya. Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, tersenyum lebar menatap langit-langit yang bocor sedikit.
"Namanya Asara," gumam Jake, seolah nama itu adalah mantra sihir. "Asara Deena Adinata. Anak kelas musik. Gila... gue baru tau ada bidadari yang milih sekolah di tempat kita."
Sehari lalu, adalah kali pertama Jake bertemu Asara dalam sebuah ketidaksengajaan yang sangat klise—sebuah adegan yang seolah dicopas mentah-mentah dari novel romansa picisan.
Saat itu Jake sedang dalam suasana hati yang sangat buruk. Ia berjalan menyusuri koridor sekolah dengan langkah lebar dan wajah ditekuk, rahangnya mengeras karena baru saja dipanggil ke ruang BK (lagi) akibat masalah perkelahian dengan sekolah sebelah.
Padahal yang ikut tawuran banyak tapi yang dipanggil cuma dia. Jake merasa gak adil!
Pandangannya lurus, tak memedulikan murid-murid lain yang otomatis menyingkir memberinya jalan layaknya laut merah yang terbelah.
Hingga di tikungan dekat ruang seni, ia berbelok terlalu tajam dan—
BRUK!
Ia menabrak seseorang. Tumpukan partitur musik, buku tebal, dan sebuah kotak pensil jatuh berserakan di lantai keramik.
"Punya mata tuh dipa—" Kalimat makian yang sudah berada di ujung lidah Jake terhenti seketika. Menggantung di udara dan tertelan kembali ke tenggorokannya.
Gadis yang ditabraknya sedang berjongkok, memunguti kertas-kertasnya yang berhamburan. Saat gadis itu mendongak, waktu di sekitar Jake seolah melambat. Gerakan lambat yang dramatis.
Gadis itu menatapnya. Rambut hitam lurusnya jatuh membingkai wajah putihnya yang bersih. Mata besarnya yang jernih memancarkan kepanikan kecil, dan aroma parfumnya—aroma bunga lily yang lembut bercampur wangi hujan—langsung menelusup ke indra penciuman Jake, menggantikan bau keringat dan debu yang biasa ia hirup.
"M-maaf, gue yang kurang hati-hati jalannya," ucap gadis itu, suaranya halus bagai alunan melodi, sangat kontras dengan bentakan-bentakan kasar yang biasa Jake dengar setiap hari.
Saat itu juga, di detik itu juga, sistem operasi di otak seorang Jake Arlanka Navarro mengalami malfungsi fatal. Benteng pertahanan ego seorang berandalan runtuh tak bersisa hanya karena tatapan polos dari seorang Asara.
Dan sejak hari itu, hidup Jake tidak pernah sama lagi.
---
[Kembali ke Masa Kini]
Sudah hampir enam bulan keempat cowok ini harus rela terjebak di berbagai aula besar, gedung kesenian, atau auditorium sekolah di antara alunan nada-nada musik klasik yang mematikan saraf sadar mereka.
Sudah hampir enam bulan pula Jake terpikat, bucin tingkat dewa, dan secara sukarela menyerahkan harga dirinya demi mengejar gadis bernama Asara itu.
Ia sering datang diam-diam ke tempat latihan piano Asara, membawakan minuman yang tak pernah berani ia berikan langsung, atau memaksa menonton resital demi resital, meski harus menyeret teman-temannya yang jelas-jelas sama sekali tidak tertarik.
Bagi Jordan, Seno, Rion, dan Arlend, musik klasik itu ibarat pelajaran matematika yang dinyanyikan—membingungkan, bikin pusing, dan membuat ngantuk akut. Namun, dengan tidak beradabnya Jake memveto hak asasi mereka.
Ia menyeret mereka ke aula musik mana pun cuma untuk menonton resital piano asalkan Asara yang tampil. Dan mungkin karena takut dimarahi atau dihajar bos mereka jika menolak, keempatnya mau tidak mau pasrah diajak ke tempat yang sama sekali bukan "dunia" mereka.
Yang lebih membuat teman-temannya geleng-geleng kepala dan merasa miris, Jake yang biasanya perhitungan soal uang—Jake yang terkenal pelit kalau diajak patungan beli rokok atau sekadar beli gorengan di kantin—mendadak berubah menjadi donatur dermawan.
Demi melihat Asara, cowok itu rela menguras dompetnya untuk membeli lima lembar tiket yang harganya cukup mahal. Gak tanggung-tanggung, cowok itu pasti selalu membeli tiket deretan depan atau kelas VIP.
Alasannya? Sederhana. Biar bisa melihat Asara dari dekat, mengamati lentik jari gadis itu menari di atas tuts piano dengan sangat jelas tanpa terhalang kepala botak penonton di depannya.
"Gue masih nggak habis pikir," bisik Rion suatu kali saat mereka sedang mengantre masuk. "Si Jake beli tiket VVIP seharga sparepart motor balap cuma buat dengerin orang main piano? Kemarin suruh ganti duit buat beli bensin aja dia ngilang ke toilet!"
"Namanya juga bucin, Yon," balas Jordan getir. "Logika udah putus. Otaknya udah pindah ke dengkul. Padahal status aja belom ada."
Untung saja Jake anak orang kaya. Kalau tidak, mungkin geng motor mereka sudah gulung tikar karena uang kasnya habis dipakai mendanai obsesi ketua mereka.
Saat Asara benar-benar telah meninggalkan panggung dan menghilang di balik tirai velvet merah marun, Jake masih berdiri tegak di tempatnya. Matanya berbinar-binar seperti anak kecil yang baru saja melihat pertunjukan kembang api paling megah di dunia.
Ia membalikkan badannya menghadap teman-temannya yang masih terlihat seperti zombie kurang darah.
"Luar biasa, kan cewek gue?" kata Jake, suaranya dipenuhi nada kagum yang tulus, senyum lebar masih terpatri di wajahnya. Ia seolah benar-benar tak menyadari—atau mungkin sengaja mengabaikan—fakta bahwa teman-temannya baru saja bangun dari “hibernasi” panjang mereka.
Seno mendengus dan menatap malas pada Jake yang masih keliatan sumringah abis liat gebetannya. "Cewek gue cewek gue. Pacaran juga belom udah seenaknya ngehak milik."
"Ya kan ini gue masih pdkt, bentar lagi juga jadi cewek gue beneran."
Jordan menguap lagi untuk kesekian kalinya, kali ini sampai mengeluarkan air mata fisiologis saking ngantuknya. "Iya, luar biasa, luar biasa bikin gue mimpi ketemu kakek gue yang udah meninggal saking sepinya ni lagu."
Rion ikut mencibir ucapan Jake, "Kayak yang berani aja sama bapaknya. Kemarin aja diusir pas mau ngajak anaknya berangkat bareng."
"Ah elah lu jangan bikin gue pesimis dong, Yon."
"FAKTA! Luluhin dulu bapaknya, baru dah tuh bebas pacarin."
Arlend memandang kosong ke arah panggung yang kini kosong, mencoba mengumpulkan kesadarannya sambil merapikan kerah jaketnya. "Bos, sumpah, kalau bulan depan lo ngajak ke mari lagi, mending lo iket gue di rel kereta deh. Punggung gue encok gara-gara kelamaan duduk, nggak cocok gue disini."
Jordan, yang nyawanya baru kumpul sekitar lima puluh persen, masih linglung menatap jam tangannya. "Ini jam berapa, sih? Balapan di alun-alun udah mulai belum? Perasaan gue tadi baru merem bentar, pas melek orang udah pada bediri aja."
Arlend kembali bersuara menyuarakan isi hatinya. "Besok-besok kalo lo ngajak nongkrong lagi kaga bakal gue ikut. Dasar tukang PHP lu. Perasaan tadi sore kita janjian mau nongkrong di burjo, endingnya malah terdampar di tempat yang bukan habitat gue."
Mendengar rentetan keluhan teman-temannya, Jake sama sekali tidak tersinggung. Cowok itu hanya terkekeh pelan, tawa rendah yang terdengar ringan dan tanpa beban. Ia tak peduli dengan gerutuan mereka.
Bagi Jake, bisa melihat Asara tersenyum setelah penampilan gadis itu, melihat gadis itu bersinar melakukan hal yang dicintainya, adalah sebuah bayaran yang setimpal. Itu adalah alasan yang lebih dari cukup untuk hadir di tempat ini—bahkan jika itu berarti ia harus mengorbankan egonya, menurunkan gengsinya, dan menyeret empat temannya yang lebih cocok berada di bengkel motor berminyak atau di aspal trek balap.
"Udah, jangan banyak protes," ucap Jake sambil menepuk bahu Rion dan Seno secara bergantian. "Gue terharu ngelihat kalian tetep mau nemenin gue biarpun kalian tidur kaya kebo pingsan. Sebagai gantinya..."
Mata keempat temannya mendadak berbinar, rasa kantuk mereka menguap seketika mendengar nada menjanjikan dari bos mereka.
"Sebagai gantinya, Bos?" kejar Jordan antusias. "Makan besar nih? Steak? Atau All You Can Eat?"
Jake menyeringai usil. "Sebagai gantinya, gue traktir kalian cilok depan gedung ini sampai muntah. Tapi sekarang bantuin gue dulu."
"Ah anjir gak sepadan banget bayarannya!" Seru Jordan.
"Bantuin apaan?" tanya Arlend curiga.
Jake merapikan rambutnya ke belakang, memasang tampang percaya diri tingkat tinggi, lalu menunjuk ke arah pintu samping yang menuju area backstage dan foyer tempat para pemain biasanya berkumpul setelah acara.
"Bantuin gue nyegat bidadari gue. Gue mau ngasih bunga." Jake mengeluarkan sebungkus kecil permen dari sakunya dan menyodorkannya pada Seno. "Nih, makan dulu permen mint-nya biar mulut lo pada nggak bau naga. Ayo gerak, pasukan!"
Dan dengan langkah tegap penuh keyakinan —seolah ia adalah pangeran berkuda putih—Jake memimpin teman-temannya yang masih menggerutu menuju area foyer, siap menjalankan misi pendekatannya yang entah keberapa ratus kalinya, dan tentu saja, bersiap untuk kembali menghadapi rintangan terbesar dalam kisah cintanya: Evan Mahesa Adinata, ayah Asara yang galaknya minta ampun.
To be continued
1 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.







