

Beni sedang berdiri. Senyuman mengembang di bibirnya, karena kedatangan Vera, kekasihnya. Tapi senyuman Beni langsung hilang karena ternyata Vera tidak sendiri.
Vera masuk ke kamarnya dan keluar dari kamarnya di lantai 1 dan berdiri di depan kos dengan tas koper besar dan seorang pria bermobil mewah menghampirinya dan berdiri di sampingnya.
"Ben, kita putus."
Kalimat itu seakan menghujam di telinganya. Singkat, padat, dan sama sekali tidak menyisakan ruang untuk tawar-menawar. Vera mengucapkannya sambil memeriksa kukunya yang baru di-manicure.
Beni yang saat itu sedang membawa sapu hanya bisa terpaku. "Putus? Kenapa? Lalu bagaimana dengan investasi yang kamu bilang minggu ini balik modal? Uangnya kan uang kos-kosan ini, uang punya Paman."
Vera mengibaskan rambutnya. "Ya gimana ya, namanya juga investasi. Ada untung ada rugi. Kamu ngerti kan? Ah, kamu sih nggak ngerti apa-apa sih soal keuangan. Pinter dikit, dong."
"Tapi kamu bilang pasti untung. Kamu bilang seminggu kembali dengan untung dua kali lipat. Itu empat ratus tujuh puluh juta, Ver."
"Ya maaf ya," jawab Vera dengan nada yang sama sekali tidak terdengar seperti orang minta maaf. "Aku juga korban di sini. Masak kamu nyalahin aku terus, sih? Capek deh."
Beberapa penghuni kos yang sejak tadi mengintip dari jendela mulai berani keluar. Maya, mahasiswi semester akhir yang kamarnya tepat di samping kamar Vera, berjalan mendekat dengan tangan berkacak pinggang. "Nggak tau malu banget sih lo, Ver. Udah dikasih kamar gratis, biaya hidup ditanggung, sekarang habisin duit kos orang. Enak banget."
Vera memutar bola matanya. "Bawel banget sih. Iri bilang aja. Beni itu pacarku, jadi wajar dong aku dibiayain."
"Mantan," koreksi Maya dengan senyum puas. "Barusan lo yang mutusin. Jadi lo mantan yang bawa kabur duit orang."
Vera mendengus. Ia melirik ke arah mobil mewah yang masih menyala.
Leo, yang bersamanya berkata ke arah Vera. "Sayang, cepetan. Kita masih mau dinner."
Mendengar panggilan itu, Vera langsung beringsut. "Aku pergi ya. Jangan cari-cari aku lagi. Aku udah bukan level kamu."
Beni ingin menahan, ingin bertanya lebih banyak, tapi kedua kakinya seperti tertanam di tanah. Ia hanya bisa menonton Vera berjalan bersama Leo menuju mobil Leo, masuk, dan menghilang di tikungan jalan. Suara mesin mobil itu seperti tawa yang mengejek.
Begitu mobil menghilang, para penghuni kos langsung mengerumuni Beni. Rina, yang paling vokal, langsung membuka suara. "Tuh kan, Ben. Dari dulu kita semua udah bilang. Vera itu nggak bener. Lo sih nggak percaya."
"Kita sering lihat dia naik mobil beda-beda, Ben," tambah Sinta. "Pas lo lagi sibuk ngurus kos-kosan, dia jemput-jemputan di ujung gang. Kita nggak enak ngomongnya."
Maya mengangguk. "Dan soal anu lo yang katanya nggak bisa berdiri? Dia cerita ke kita semua sambil ketawa-ketiwi."
Wajah Beni memerah padam. "Dia... dia cerita itu ke kalian?"
"Ke seluruh lantai tiga, Ben. Bahkan sampai ke ibu-ibu warung depan. Udah viral pokoknya di kompleks sini."
Beni ingin bumi menelannya saat itu juga. Bukan hanya karena ditipu dan diputuskan, tapi juga karena aibnya sudah menjadi konsumsi publik. Bagian tubuhnya yang dulu gagah perkasa, yang sekarang lebih sering tidur daripada beraksi, setelah dia jatuh dari pohon dua tahun lalu, ternyata sudah menjadi bahan lelucon.
"Sekarang lo harus lapor paman lo, Ben," kata Rina serius. "Dan lapor polisi. Ini penipuan. Empat ratus tujuh puluh juta itu bukan uang receh."
Beni menggeleng pelan. "Paman pasti marah besar. Aku udah dipercaya bertahun-tahun. Uang kos nggak pernah dia ambil, dia titip semua ke aku. Sekarang habis gara-gara aku percaya sama Vera."
"Ya tapi kan bukan salah lo sepenuhnya. Lo kan ditipu."
***
Malam semakin larut dan para penghuni kos akhirnya kembali ke kamar masing-masing.
Beni duduk sendirian di tangga depan, menatap kosong ke arah jalan. Satu per satu lampu kamar kos padam. Hingga akhirnya hanya lampu teras yang tersisa.
Pukul dua belas malam. Beni berdiri, tapi bukan menuju kamarnya. Ia berjalan ke tangga darurat, menaiki anak tangga satu per satu. Lantai dua, lantai tiga, lantai empat. Kakinya terasa berat tapi terus melangkah. Lantai lima, lantai enam, lantai tujuh.
Beni menaikkan satu kakinya ke bibir atap. Angin malam membuat celananya berkibar. "Paman, maafin Beni. Beni bodoh. Beni cuma modal cinta tapi nggak modal otak."
"Dan modal lainnya juga nggak jalan," tambahnya getir, teringat perkataan Vera tentang bagian tubuhnya yang sering mogok kerja sehingga dia tidak pernah tidur dengan Vera.
Tepat saat ia akan mengangkat kaki satunya, sebuah suara berat terdengar di sampingnya.
"Anak muda, kalau mau bunuh diri, setidaknya pakai baju yang rapi. Itu sarungmu hampir lepas."
Beni hampir terjungkal ke depan saking kagetnya. Ia berpegangan pada tiang atap sekuat tenaga sambil memekik. "WOY! SIAPA ITU?!"
Di sampingnya, entah sejak kapan, berdiri seorang pria tua. Usianya mungkin tujuh puluhan, dengan rambut putih yang disisir rapi ke belakang. Kumisnya tebal seperti sikat sepatu, dan yang paling aneh, ia memakai piyama bermotif bebek kuning. Piyama itu terlihat sangat kontras dengan ekspresi bijaknya.
"Sejak tadi aku di sini," jawab pria tua itu santai. "Kamu aja yang nggak lihat."
"Bapak siapa? Kok bisa ada di atap? Ini properti pribadi, pak!"
"Aku lewat aja."
"Le... lewat?" Beni melirik ke sekeliling. "Ini lantai tujuh, Pak. Bapak lewat dari mana? Terbang?"
Pria tua itu terkekeh. "Bisa dibilang begitu. Urusan teknis, nggak usah dipikirin."
"Hah? Maksudnya?"
"Udah. Yang penting, kamu mau loncat, kan?"
Beni tidak menjawab. Ia masih berusaha mencerna situasi. Pria tua dengan piyama bebek di atap kos pukul dua belas malam. Ini terlalu aneh bahkan untuk ukuran drama kehidupannya yang sudah kacau.
"Iya. Aku sudah kehilangan semuanya. Aku ingin mati aja."
Pria tua itu menghela napas panjang. "Kamu itu terlalu bodoh."
"Ha?"
"Bunuh diri cuma gara-gara wanita dan uang? Itu mah nggak worth it. Kamu masih muda. Uang bisa dicari, wanita juga bisa dicari. Tapi nyawa cuma satu." Pria tua itu merogoh saku piyamanya, mengeluarkan sesuatu. Sebuah kalung dengan liontin emas berbentuk aneh, seperti koin kuno dengan ukiran yang tidak bisa dibaca Beni.
"Ini apa, Pak?" Beni garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia bingung karena kakek ini seolah tahu semua masalahnya.
"Ini solusi untukmu."
Beni menatap liontin itu dengan skeptis. "Jangan bilang ini kalung ajaib yang bisa mengabulkan permintaan. Saya udah nonton film Aladdin, Pak. Jin warna biru, nyanyi-nyanyi, itu mah fiksi."
Pria tua itu tertawa. "Bukan jin. Ini lebih canggih. Kamu cukup usap-usap liontin ini, maka urusanmu akan dipermudah. Kalau mau bukti, sekarang minta saja apa yang kamu mau, maka akan terwujud."
"Ahh, pasti bohong."
"Coba aja."
Beni masih ragu. Tapi apa salahnya mencoba? Ia sudah di titik terendah. Bahkan kalau pria ini cuma halusinasi yang muncul di otaknya karena kebanyakan makan mie instan, setidaknya mencoba, tidak akan membuat segalanya lebih buruk.
Ia mengambil kalung itu. Liontin emasnya dingin di tangannya. Dengan sedikit ragu, ia mengusap permukaannya.
"Aku mau... aku mau anuku berdiri," bisiknya. "Berdiri gagah."
Tidak ada yang terjadi selama tiga detik. Beni hampir melempar kalung itu dan menyumpahi pria tua penipu. Tapi kemudian ia merasakan sesuatu. Sensasi aneh dari bagian bawah tubuhnya. Hangat. Bergetar. Lalu...
"WOY!"
Liontin itu bergetar dan terus bergetar. Seketika, "pisang yang lemas" itu mulai membesar. Perlahan tapi pasti dan terus membesar.
Beni menonton dengan napas tertahan. Akhirnya, setelah beberapa detik yang terasa seperti beberapa jam, semuanya terlihat. Besar... Perkasa... kuat... berwibawa.
Beni menghela napas lega. "Syukurlah."
Ia kemudian tersadar. Ia baru saja membuktikan bahwa kalung ini benar-benar ajaib. Dan jika kalung ini benar-benar bisa mengabulkan permintaan, maka...
"Uangnya!" seru Beni. "Aku bisa minta uang empat ratus tujuh puluh juta! Bahkan lebih! Aku bisa ganti uang paman!"
Pria tua itu mengangguk puas. "Kalau soal itu tunggu dulu. Kamu harus tahu dulu cara, kerja dari liontin itu."
"Bagaimana caranya?"
"Cari tahu sendiri! Emang aku AI?" Orang tua itu nampak marah-marah.
Beni memutuskan untuk tidak melanjutkan debat soal itu. Ia menggenggam liontin emasnya erat-erat bagaikan harta karun yang sangat dia sayangi. Untuk pertama kalinya sejak Vera pergi, ia merasa ada harapan.
"Pak, boleh saya tahu siapa nama Bapak? Dan kenapa Bapak kasih kalung ini ke saya?"
Pria tua itu tersenyum misterius. Angin malam berhembus membuat piyama bebeknya berkibar sedikit. "Panggil aja Kakek Piyama. Soal kenapa aku kasih ke kamu... yah, anggap aja aku nggak suka lihat orang bodoh bunuh diri karena wanita. Mending hidup dan balas dendam."
Beni terdiam. Memang ada bagian kecil di hatinya yang ingin Vera merasakan penyesalan. Ingin Vera melihat Beni versi baru. Ingin Vera tahu bahwa "anu" yang dulu dicemoohkannya kini sudah jadi besar seperti batu.
Beni mengangguk-angguk.
Kakek Piyama tertawa renyah. "Bagus."
Kakek Piyama sudah berjalan menuju pintu tangga. "Selamat malam, Beni. Jaga kalungnya baik-baik."
"Saya bahkan belum kenalin nama saya! Kok Bapak tahu?!"
Tapi Kakek Piyama sudah menghilang di balik pintu tangga. Suara langkah kakinya terdengar menuruni tangga, diikuti suara senandung lagu lawas yang tidak dikenali Beni.
Beni berdiri sendirian di atap, satu tangan menggenggam liontin emas, satu tangan berusaha mengangkat sarungnya kembali. Angin malam masih berhembus, tapi entah kenapa rasanya tidak sedingin tadi.
Ia menatap liontin di tangannya. Emasnya berkilau diterpa cahaya bulan. Masa depannya yang tadi tampak gelap gulita kini seperti memiliki setitik cahaya di ujung terowongan.