
Iyal Nauli: Jalan Dao Tanpa Nama
Bangden16|Bersambung
- Jumlah kata
- 85.6K
- Popular
- 243
- Subscribe
- 23
- Jumlah kata
- 85.6K

Bangden16|Bersambung
IYAL NAULI: JALAN DAO TANPA NAMA Di balik pegunungan yang menjulang tinggi dan hutan yang tak pernah tersentuh peta kerajaan, terdapat sebuah desa kecil bernama Huta Lumban. Desa itu begitu terpencil hingga keberadaannya bahkan tidak tercatat dalam peta dunia. Di sanalah seorang pemuda bernama Iyal Nauli menjalani kehidupan sederhana bersama kedua orang tuanya. Setiap hari Iyal pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Ia tidak pernah membayangkan bahwa di balik kehidupan sederhana tersebut terdapat dunia lain yang jauh lebih luas—dunia para kultivator, tempat manusia dapat menembus batas tubuh, mengendalikan energi spiritual, menggunakan teknik luar biasa, bahkan mengejar keabadian. Semuanya berubah ketika seorang kultivator datang ke wilayah dekat desanya dan membuka kesempatan bagi anak-anak berbakat untuk memasuki dunia kultivasi. Iyal pun mengikuti ujian dengan harapan dapat mengubah nasib keluarganya. Namun hasil pemeriksaan justru membuatnya menjadi bahan ejekan. Meridiannya tidak sempurna. Aliran energi spiritual di dalam tubuhnya terputus dan tidak stabil. Lebih buruk lagi, akar spiritual yang dimilikinya tidak memiliki nama dan tidak tercatat dalam kitab sejarah mana pun. Di mata para kultivator, Iyal hanyalah pemuda fana dengan bakat buruk. Meski demikian, Iyal berhasil diterima sebagai murid luar sebuah sekte yang berdiri di ujung kota. Di sana, kehidupan yang selama ini dikenalnya berakhir. Ia menghadapi penghinaan, persaingan, kegagalan, luka, dan kekalahan. Berkali-kali ia mencoba menerobos batas kultivasi, tetapi berkali-kali pula ia gagal. Murid lain yang dahulu berada di bawahnya perlahan meninggalkannya jauh di belakang. Namun Iyal tidak menyerah. Setiap kegagalan justru membuatnya semakin memahami tubuhnya sendiri. Hingga suatu hari, dalam sebuah perjalanan ke hutan, Iyal menemukan seekor semut kecil yang terluka. Ia menyelamatkan makhluk itu tanpa mengetahui bahwa semut tersebut bukanlah makhluk biasa. Semut itu kemudian menjadi sahabat sekaligus partner perjalanan Iyal. Ia menamakannya Natu. Natu memiliki kemampuan yang sangat aneh. Ia mampu menemukan tanaman spiritual, mineral, material langka, mendeteksi bahaya, membawa benda yang jauh lebih berat daripada tubuhnya, bahkan membantu Iyal dalam memahami berbagai benda spiritual. Tanpa disadari Iyal, pertemuan sederhana tersebut menjadi salah satu titik balik terbesar dalam hidupnya. Namun takdir masih menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar. Dalam sebuah misi sekte, Iyal tersesat dan menemukan sebuah gua kuno yang telah tersegel selama ribuan tahun. Di dalam gua tersebut tertancap sebuah pedang besar berwarna gelap. Pedang itu tidak memiliki nama. Tidak ada seorang pun yang mampu mengangkatnya. Iyal pun gagal. Tetapi berbeda dari orang lain, Iyal tidak meninggalkan pedang tersebut. Ia duduk di hadapannya dan mulai bertapa. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Dan setelah bertahun-tahun kegagalan dalam kultivasi, untuk pertama kali...
IYAL NAULI: JALAN DAO TANPA NAMA
Langit yang Tidak Pernah Dikenal
Pada zaman ketika manusia masih percaya bahwa langit hanyalah hamparan biru tanpa ujung, terdapat sebuah dunia yang jauh lebih luas daripada yang mampu dibayangkan oleh manusia fana.
Dunia itu terbagi menjadi ribuan kerajaan, jutaan kota, dan wilayah-wilayah yang bahkan tidak pernah disentuh kaki manusia.
Di sana, manusia tidak hanya hidup dengan bertani dan berburu.
Mereka berkultivasi.
Dengan menyerap energi spiritual dari langit dan bumi, manusia mampu memperkuat tubuh, memperpanjang usia, mengendalikan api, menggerakkan gunung, membelah sungai, bahkan menentang hukum alam.
Mereka disebut...
Kultivator.
Bagi manusia fana, kultivator adalah keberadaan yang hampir seperti dewa.
Namun para kultivator sendiri mengetahui sebuah kenyataan yang jauh lebih mengerikan.
Di atas mereka masih terdapat Raja Spiritual.
Di atas Raja Spiritual terdapat Kaisar.
Di atas Kaisar terdapat para Penguasa Surgawi.
Dan bahkan para Penguasa Surgawi hanyalah debu jika dibandingkan dengan makhluk yang berdiri di puncak alam.
Seluruh makhluk mengejar satu tujuan.
Keabadian.
Namun tidak semua orang memiliki kesempatan untuk menempuh jalan tersebut.
Karena untuk menjadi kultivator, seseorang harus memiliki akar spiritual.
Dan setiap akar spiritual memiliki batas.
Setidaknya... itulah yang dipercaya seluruh dunia.
Jauh dari pusat peradaban, melewati tiga pegunungan dan sebuah hutan tua yang dipenuhi kabut sepanjang tahun, terdapat sebuah desa kecil.
Namanya Huta Lumban.
Tidak ada dalam peta.
Tidak tercatat dalam wilayah kerajaan mana pun.
Tidak memiliki sekte.
Tidak memiliki ahli kultivasi.
Bahkan sebagian besar kerajaan tidak mengetahui bahwa desa itu ada.
Penduduknya menjalani kehidupan sederhana.
Mereka bertani.
Berburu.
Memelihara ternak.
Dan mencari kayu bakar dari hutan di sekitar desa.
Di antara mereka terdapat seorang pemuda berusia sembilan belas tahun.
Namanya...
Iyal Nauli.
Pagi itu, matahari baru saja muncul dari balik pegunungan.
Iyal berjalan menyusuri hutan sambil membawa kapak tua di bahunya.
Rambut hitamnya sedikit berantakan karena tertiup angin.
Pakaiannya sederhana.
Celana kain yang telah beberapa kali ditambal dan baju lusuh peninggalan ayahnya.
Di punggungnya tergantung sebuah keranjang besar yang hampir penuh oleh potongan kayu.
Iyal berhenti di depan sebuah pohon tua.
Ia mengusap keringat di dahinya.
"Kalau satu pohon lagi, sepertinya cukup untuk hari ini."
Ia mengangkat kapak.
Duk!
Kapak menghantam batang.
Duk!
Sekali lagi.
Duk!
Setelah beberapa puluh pukulan, sebuah bagian batang akhirnya retak.
Iyal tersenyum.
"Berhasil."
Ia duduk sebentar di atas akar pohon.
Matanya menatap langit yang terlihat di antara celah dedaunan.
Sudah sembilan belas tahun ia hidup.
Sembilan belas tahun tanpa pernah meninggalkan desa.
Kadang-kadang ia bertanya-tanya...
Seperti apa dunia di luar sana?
Ayahnya selalu mengatakan bahwa dunia luar sangat berbahaya.
Ibunya juga selalu melarangnya pergi terlalu jauh.
Namun Iyal sering merasa ada sesuatu yang menunggunya di balik pegunungan.
Sebuah perasaan aneh.
Seolah-olah...
hidupnya seharusnya tidak berhenti di desa ini.
Iyal menggeleng.
"Sudahlah."
Ia berdiri.
"Daripada memikirkan hal aneh, lebih baik pulang."
Namun tepat ketika hendak mengambil kayu, Iyal tiba-tiba berhenti.
Angin menghilang.
Burung-burung di atas pohon berhenti berkicau.
Hutan menjadi terlalu sunyi.
Iyal mengerutkan kening.
"Aneh."
Kemudian...
BOOM!
Sebuah suara ledakan terdengar dari kejauhan.
Tanah bergetar.
Iyal hampir terjatuh.
Ia menatap ke arah pegunungan.
Asap hitam membubung tinggi dari balik pepohonan.
"Apa itu?"
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Iyal melihat sesuatu yang tidak pernah ada di desanya.
Sebuah cahaya biru melesat menembus langit.
Kemudian sebuah cahaya merah menyusul.
Kedua cahaya itu bertabrakan.
DUARRR!
Awan di langit terbelah.
Iyal membeku.
Dari kejauhan terdengar suara yang mengguncang seluruh hutan.
"Manusia fana berani merebut warisan milikku?!"
Suara lain menjawab.
"Warisan itu bukan milikmu!"
Kemudian...
sebuah sosok jatuh dari langit.
BRAK!
Tubuh seseorang menghantam tanah tidak jauh dari tempat Iyal berdiri.
Iyal terkejut.
Tangannya langsung menggenggam kapak.
Debu perlahan menghilang.
Seorang pria berjubah putih terbaring di dalam kawah kecil.
Darah mengalir dari sudut bibirnya.
Namun yang paling mengejutkan Iyal bukanlah luka pria tersebut.
Melainkan benda yang berada di tangannya.
Sebuah batu kristal berwarna hitam.
Kristal itu berdenyut seperti jantung.
Duk... duk... duk...
Iyal merasakan sesuatu dari benda tersebut.
Bukan suara.
Bukan cahaya.
Melainkan sebuah panggilan.
Seolah-olah ada sesuatu di dalam kristal yang sedang memanggil namanya.
"Iyal..."
Pemuda itu membeku.
"Siapa?"
Pria berjubah putih perlahan membuka mata.
Tatapannya langsung tertuju kepada Iyal.
Dalam sepersekian detik, ekspresinya berubah menjadi ketakutan.
"Mustahil..."
Iyal mundur satu langkah.
"Ada apa?"
Pria itu menatap tubuh Iyal dari kepala hingga kaki.
Kemudian pandangannya berhenti tepat di bagian dada Iyal.
"Meridian..."
Wajah pria itu semakin pucat.
"Bagaimana mungkin?"
"Apa maksudmu?"
Pria tersebut berusaha berdiri.
Namun tubuhnya kembali terjatuh.
Dia menggigit bibir dan berkata dengan suara lemah.
"Pergilah."
Iyal mengerutkan kening.
"Ke mana?"
"Sejauh mungkin."
"Apa?"
"Sebelum mereka menemukanmu."
Tiba-tiba langit kembali bergemuruh.
Pria berjubah putih menatap ke atas dengan wajah panik.
"Mereka sudah datang."
Iyal mengikuti pandangannya.
Tiga sosok muncul di langit.
Mereka berdiri di udara.
Tidak menggunakan sayap.
Tidak menggunakan apa pun.
Mereka hanya berdiri di sana.
Mata Iyal melebar.
Bagaimana mungkin manusia bisa berdiri di udara?
Salah satu dari mereka mengangkat tangan.
Energi merah berkumpul di telapak tangannya.
Pria berjubah putih langsung berteriak.
"LARI!"
Sebuah cahaya merah melesat turun.
BOOOM!
Hutan berguncang.
Namun sebelum serangan itu mencapai Iyal, pria berjubah putih berdiri di hadapannya.
DUARR!
Tubuh pria tersebut terpental.
Darah menyembur dari mulutnya.
Kristal hitam di tangannya terlempar.
Iyal secara refleks menangkapnya.
Dan pada saat jarinya menyentuh kristal tersebut...
dunia seakan berhenti.
Suara angin menghilang.
Suara ledakan menghilang.
Bahkan tiga sosok di langit seakan membeku.
Kemudian sebuah suara terdengar di dalam pikirannya.
Suara yang sangat tua.
Sangat dalam.
Dan seolah-olah telah menunggu selama jutaan tahun.
"Akhirnya..."
Iyal menahan napas.
"Pemilik Jalan Tanpa Nama telah lahir."
Retakan muncul pada kristal hitam.
Krek.
Kemudian...
Pecah.
Cahaya hitam masuk ke dalam tubuh Iyal.
Rasa sakit luar biasa menjalar dari dadanya menuju seluruh tubuh.
Iyal berteriak.
"AARRRGHHH!"
Di dalam tubuhnya, sesuatu yang tidak pernah aktif selama sembilan belas tahun mulai bergerak.
Satu demi satu...
meridian yang tidak sempurna mulai menyala.
Namun bukan dengan cahaya spiritual biasa.
Melainkan dengan cahaya yang bahkan tidak memiliki warna.
Pada saat yang sama, jauh di tempat yang tidak diketahui siapa pun...
sebuah mata raksasa perlahan terbuka.
Mata itu berada di antara kehampaan.
Di luar ruang.
Di luar waktu.
Sebuah suara tua terdengar:
"Dia telah lahir."
Makhluk-makhluk kuno yang telah tertidur selama ribuan tahun mulai terbangun.
Di sebuah kuil yang telah runtuh...
sebuah lonceng berbunyi sendiri.
TANG!
Di dasar lautan...
seekor makhluk raksasa membuka matanya.
Di puncak gunung...
seorang pertapa tua yang telah duduk selama sepuluh ribu tahun tiba-tiba membuka matanya.
Dan di sebuah tempat yang bahkan para dewa tidak mengetahui keberadaannya...
sebuah prasasti kuno mulai retak.
Di atas prasasti tersebut hanya terdapat satu kalimat:
"Ketika seseorang tanpa akar memasuki jalan tanpa nama, langit lama akan runtuh dan langit baru akan lahir."
Di hutan kecil yang tidak tercantum di peta dunia...
Iyal Nauli masih berteriak kesakitan.
Ia belum mengetahui apa yang terjadi.
Belum mengetahui tentang kultivasi.
Belum mengetahui tentang sekte.
Belum mengetahui tentang Dao.
Belum mengetahui bahwa dunia di luar desanya jauh lebih luas daripada yang pernah dibayangkannya.
Ia juga belum mengetahui...
bahwa mulai hari itu, kehidupan sederhananya sebagai manusia fana telah berakhir.
Suatu hari nanti, namanya akan mengguncang kerajaan.
Kemudian mengguncang sekte.
Kemudian mengguncang alam.
Dan pada akhirnya...
bahkan langit akan gemetar ketika mendengar namanya.
Namun saat ini...
Iyal hanyalah seorang pemuda desa berusia sembilan belas tahun.
Seorang anak dari keluarga sederhana.
Seorang pencari kayu bakar.
Seorang manusia fana yang bahkan belum tahu bagaimana cara mengendalikan energi spiritual.
Dan perjalanan menuju puncak...
baru saja dimulai.
63 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.







