
- Jumlah kata
- 118.3K
- Popular
- 6.3K
- Subscribe
- 364
Sinopsis
Di usianya yang ke-20, seorang pemuda tampan yang menjadi idaman banyak wanita memutuskan untuk kuliah jauh dari rumah. Namun, siapa sangka, perjalanan barunya justru membawanya pada berbagai kenikmatan dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ketampanan dan pesonanya membuat banyak wanita tertarik kepadanya. Tanpa sadar, ia pun mulai terlena dan menikmati kehidupan barunya... [Lantas, bagaimana kisah perjalanan hidupnya? Akankah ia terus menjalani kehidupan seperti itu, atau ada sesuatu yang akan mengubahnya?]
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Episode 1
Bab 1 Awal Petualangan
Dua tahun telah berlalu sejak Jack lulus dari SMA. Selama itu, ia belum melanjutkan pendidikan karena masih mencari keputusan yang tepat untuk masa depannya.
Hingga akhirnya, di usia dua puluh tahun, Jack memutuskan untuk melanjutkan kuliah.
Kampus yang dipilihnya berada cukup jauh dari rumah. Karena jaraknya, Jack sadar bahwa ia tidak mungkin pulang-pergi setiap hari.
Untungnya, kakaknya, Brian, tinggal tidak terlalu jauh dari kampus tersebut. Setelah mengetahui Jack akan kuliah di sana, Brian pun menyarankan agar Jack tinggal bersamanya sampai menyelesaikan kuliahnya.
Awalnya Jack sempat ragu. Bagaimanapun, tinggal di rumah orang lain berarti ia harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru. Namun, setelah mempertimbangkannya, Jack akhirnya menerima tawaran tersebut.
Beberapa hari kemudian, Jack pun mulai tinggal di rumah Brian.
Malam itu, setelah menjalani hari yang cukup melelahkan, Jack tertidur lebih awal di kamar yang kini menjadi tempat tinggalnya selama kuliah.
Namun, tidur nyenyaknya tidak berlangsung sampai pagi.
Jack melihat jam di ponselnya yang menunjukkan pukul dua dini hari. Ia tak sengaja terbangun karena tenggorokannya terasa sangat kering.
Diraihnya botol minum yang berada di meja kecil di samping ranjang. Jack membuka botol tersebut, tetapi ketika hendak meminumnya, tak setetes pun air keluar.
"Yah, habis," keluh Jack kesal, meski matanya masih terasa berat karena mengantuk.
Sebenarnya ia cukup malas untuk pergi ke dapur dan mengisi kembali botol minumnya. Namun, karena tenggorokannya sudah benar-benar kering, Jack terpaksa bangkit dari tempat tidur.
Ia kemudian memutuskan untuk pergi ke dapur yang berada di lantai bawah.
Suasana rumah cukup gelap. Hanya beberapa lampu kecil yang masih menyala di sudut-sudut tertentu, menciptakan suasana yang tenang dan nyaman.
Kak Brian, seorang kartunis yang baru saja menikah dengan kak Vivi selama empat bulan, telah memiliki rumahnya sendiri sebelum menikah. Dua minggu lalu, Jack, adiknya, diterima di sebuah universitas yang lokasinya tidak jauh dari rumah kak Brian. Untuk menghemat biaya, kak Brian menyarankan Jack untuk tinggal bersama mereka daripada menyewa kamar indekos. Sejak seminggu yang lalu, Jack pun mulai tinggal bersama kak Brian dan kak Vivi.
Jack, yang sebelumnya merasa iri ketika mengetahui kakaknya akan menikahi Vivi, kini mencoba menyesuaikan diri dengan kehidupan baru sebagai bagian dari keluarga kecil itu.
Bagaimana mungkin kakaknya mampu menikahkan wanita yang begitu memesona, dengan kulit yang halus dan penampilan yang menarik seperti karakter wanita idaman dalam anime yang sering ia tonton? Perasaan ini tumbuh menjadi intrik di benak Jack, yang semakin menjadi-jadi setiap kali ia menyaksikan kakak dan kakak iparnya berduaan. Selalu ada rasa penasaran, kekaguman, dan iri hati yang mengikuti setiap langkah Vivi. Pertanyaan besar pun terus mengusik pikiran Jack, bagaimana cara kak Brian berhasil meraih hati wanita sesempurna itu?
Sesampainya di dapur, Jack segera mengisi botolnya dari dispenser. Setelah penuh, ia segera memuaskan dahaganya yang telah menyiksanya sejak tadi dan memaksanya untuk meninggalkan ranjangnya yang nyaman.
Namun, saat ia sedang minum, ia merasa seperti mendengar sesuatu. Setelah berhenti minum, Jack pun semakin menajamkan pendengarannya untuk mencari asal suara tersebut.
Ia pun berjalan perlahan-lahan sembari mencari asal suara yang ia yakin berasal dari seorang wanita. Setelah berada dekat pintu kamar kakaknya, ia berhenti dan terkejut bukan main. Kini suara yang ia dengar menjadi sangat jelas. Ternyata yang ia dengar sejak tadi adalah suara kakak iparnya.
Karena malu, Jack pun berbalik badan dan hendak kembali ke kamarnya. Tapi saat baru saja ia hendak berjalan, kak Vivi bersuara lebih keras lagi. Sontak saja pikiran Jack segera berpetualang dengan liar dan menerka-nerka apa yang sedang kakaknya lakukan sampai membuat kakak iparnya bersuara begitu keras.
Pergulatan batin pun terjadi. Antara ia ingin mengintip atau kembali ke kamarnya dan melanjutkan untuk tidur yang dimana sangat diragukannya untuk bisa dia lakukan.
Di dahi Jack sudah mulai bercucuran keringat dan pikirannya sudah benar-benar kalut. Dia pun memutuskan untuk kembali berbalik badan dan mengintip dari ventilasi atas pintu kamar kakaknya. Kebetulan di dekat pintu kamar kakaknya terdapat lemari yang berisi buku-buku koleksi kakaknya dan kursi yang dipakai untuk melahap buku-buku tersebut. Jack berencana menggunakan kursi itu untuk naik dan mengintip kakaknya.
Jack berjalan sembari berjinjit agar tidak menimbulkan suara apapun. Sesampainya di dekat pintu, Jack tersentak, ternyata pintu kamar kakaknya tidak tertutup dengan rapat. Karena itu juga ia bisa mendengar suara kakak iparnya dari kejauhan. Merasa sangat beruntung, Jack segera saja mengintip melalui sela pintu yang sedikit terbuka itu.
Mulutnya langsung menganga melihat kakak iparnya yang biasa ia temui setiap hari saat ini sedang duduk di tubuh kakaknya yang berbaring.
Jack terpesona melihat tubuh mulus dan putih kakak iparnya yang terkadang memang berpakaian sedikit terbuka walaupun di dalam rumah dan ada dia sekalipun.
Dia dapat melihat kakak iparnya yang bergerak dengan lembut. Melihat hal tersebut, kak Brian segera bangkit dan duduk, kemudian tangannya maju ke depan dengan lembut.
Sambil tak ketinggalan ia menciumi punggung istrinya yang membuat kak Vivi semakin menggila dan menggeliat tak karuan karena bercampurnya rasa geli dan nikmat yang sedang ia rasakan.
Dada Jack juga merasa sangat panas karena menyaksikan kedua kakaknya memadu kasih dengan saling mengejar kenikmatan bersama-sama.
Mendapat perlakuan istimewa dari suaminya seperti itu, sontak saja kak Vivi menjadi semakin menggila dan menggeliat karena merasa sangat enak. Bahkan ia sampai menggigit bibirnya sendiri agar tidak kelepasan yang dimana kali ini mungkin saja ia tidak lagi bersuara, namun berteriak dengan keras.
Kak Brian terus menggoyangkan pinggulnya dan saat ini kepalanya mendangak menghadap tembok yang dimana menunjukkan kalau ia juga merasa sangat keenakan.
Tubuh kak Vivi terasa bergetar dengan intensitas yang meningkat, membuatnya merasa seolah-olah kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Jack yang menyaksikan hanya bisa merasakan kekaguman yang mendalam.
Setelah beberapa saat, kak Brian menghentikan gerakannya dan kak Vivi tampak terengah-engah, wajahnya memerah karena kelelahan.
Dalam posisi yang sama, kak Brian kemudian menyatukan kedua kaki kak Vivi yang sebelumnya terbuka lebar, memberikan kesan yang lebih sopan dan terkendali.
Kak Vivi kemudian mengubah posisinya menjadi berjongkok dengan pinggul sedikit terangkat, sebuah gerakan spontan yang memberikan ruang bagi kak Brian untuk beristirahat sejenak.
Kak Brian bangkit untuk duduk namun kedua tangannya berada lurus ke belakang untuk menjadi penyangga tubuhnya. Dan kemudian ia pun kembali menggerakkan pinggulnya naik dan turun, menyalurkan energi dan emosi yang terpendam. Kak Vivi, meskipun tidak lagi mengeluarkan suara, terlihat menikmati kedekatan dan kehangatan yang mereka ciptakan bersama.
Jack merasa sangat bersemangat saat mendengar suara kak Vivi yang terdengar sangat menikmati. Dalam keadaan yang semakin tak terkendali, Jack merasa keinginannya juga harus terlampiaskan.
Namun, karena tidak ada lawan dan tidak mungkin juga untuk bergabung dengan kedua kakaknya, ia pun memilih untuk melayani dirinya sendiri di sana.
Sambil terus mengamati kedua kakaknya yang sedang berbagi keintiman, Jack juga terus berusaha menenangkan diri. Namun, gerakan tangannya tiba-tiba saja berhenti, ia pun segera bergeser dan bersandar pada tembok. Ia sangat terkejut dan jantungnya berdegup sangat kencang karena baru saja matanya bertukar pandang dengan mata kak Vivi.
Rasa bersalah namun juga menegangkan hinggap di hatinya. Ia ingin segera pergi dari sana namun apa yang ada di depannya seperti sebuah keindahan yang amat sangat sayang sekali kalau di lewatkan. Membuat dirinya enggan untuk pergi dan menyia-nyiakan kesempatan itu.
Daftar bab
104 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
104 bab








