
GERILYAWAN SINGO GUNUNG
Maulana Kurniawan|Bersambung
- Jumlah kata
- 2.3K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
- Jumlah kata
- 2.3K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
Sinopsis
Setelah kehilangan tunangannya dalam serangan udara Belanda, Kapten Ali mengira penderitaannya telah mencapai puncak. Namun, di pos rahasia Singo Gunung Lawu, ia menemukan kenyataan yang lebih pahit dari kematian: sebuah rahasia kelam tentang cinta yang tak terbalas dan mata-mata yang mengancam nyawa seluruh gerilyawan.Ketika lima pesawat tempur mulai membayang di cakrawala, Ali tersadar bahwa maut sudah di depan mata. Sebuah prosa fiksi sejarah yang memadukan cinta, duka, dan keberanian di jantung rimba Ngawi.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Gerilyawan Singo Gunung
Aku terus berlari walau suasana tak seberingas beberapa menit yang lalu. Yang aku bawa hanya sepucuk senapan yang tinggal beberapa butir peluru di dalamnya. Kakiku berdarah deras mengalir dari paha kaki kiriku meski telah ku perban.
Aku tak tau sampai mana aku bisa bertahan. Aku masih mencari pos rekan-rekanku. Pasukan kecil pecahan dari pasukan gerilya panglima besar kami, Jendral Sudirman, walaupun nampak mustahil, setidaknya kami berniat jihad menghadang agresi militer kedua Belanda yang kami sebut londo.
Kira-kira setengah jam berselang setelah aku lari dari base camp di kaki gunung lawu, suara desingan senapan kembali aku dengar dari desa sebelah perempatan desa talang banyu. Aku bergegas menuju sumber suara berharap ada bala bantuan medis dan juga rekan rekan Gerilyawan Singo Gunung masih bertahan disana.
Kontak senjata mereda, semoga mereka masih bisa bertahan. Aku mengendap-endap melewati pinggiran sungai, sesekali kupandangi kejauhan, melihat tanda asap ataupun api, namun tak satupun yang ku terima tanda keberadaannya. Akupun memutuskan untuk menuju pos rahasia bila keadaan darurat, di perbatasan alas Soco.
Semalam anggota Singo Gunung merangsek menuju pusat kecamatan Kendal, mencoba menggempur pertahanan londo yang menduduki gudang beras dan senjata milik para gerilyawan, rampasan dari Jepang. Sepuluh hari yang lalu mereka membombardir rumah lingkungan camat Kendal dengan 2 pesawat tempur mereka.
Kami para gerilyawan mengalah meninggalkan pusat kecamatan dengan senjata dan bahan makanan sebisa kami bawa. Sebagai pimpinan regu gerilya, bukan kesedihan karena kehilangan lumbung yang ku rasakan saat ini, ini masalah pribadiku, aku sangat terpukul melihat kenyataan Lintang, Gadis yang telah menerima pinanganku itu tewas terkena hujan geranat yang dilemparkan londo dari pesawat, ia adalah perawat paling rajin, itu menurut rekan-rekanku sampai pada akhir hayatnya ia sempatkan untuk menolong seorang anak kecil yang menangis ketakutan di tengah serangan pesawat londo.
Saat itu aku berteriak-teriak agar dia tak keluar dari persembunyian untuk menolong, tapi ia tak menggubrisnya, baginya nyawa anak itu lebih penting dari pada menuruti rasa takutnya. Dan akhirnya pesawat itu datang. Membawa malaikat maut yang dengan sekejap mata mengantarnya ke pangkuanNya. Ia syahid, itu yang membuatku sedikit bisa merelakan kepergiannya. .
Setelah berjam jam berlalu, aku dapati pos dalam keadaan ramai.. Mereka berkerumun seperti sedang merundingkan sesuatu. Sayup ku dengar suara Umar membentak-bentak, sekuat tenaga aku berlari menuju kerumunan itu, terkejut ia melihat keadaanku.
”Kau selamat kapten, mana Linatang bukankah terakhir kali aku ketemu, dia bersamamu” Umar menyambutku dengan pelukan.
”Panjang ceritanya teman, nanti aku ceritakan. Ada apa di sana?”
Kami berjalan menuju kerumunan, pertanyaan umar seakan membuka sedikit kenanganku terakhir kali melihat Lintang tergeletak terkena serpihan geranat, aku coba memendam kesedihanku dengan tetap tersenyum tanda aku bahagia telah menemukan kelompokku kembali.
Aku membelah kerumunan, seorang perempuan yang tak asing bagiku menatap mataku dengan tatapan sinis, ia berada di tengah kerumunan, terikat dengan kondisi setelah dihajar terlebih dahulu, tak ada istilah perempuan atau laki-laki bagi penghianat.
” Ha..ha, ku masih hidup rupanya Kapten Ali yang terhormat, aku kira wajahmu yang tampan itu telah hancur bersama Lintang pujaanmu.”
Kalimat pertamanya membuatku geram, tapi ku tahan amarahku yang mulai meledak-ledak di dalam dadaku, ku ambil nafas panjang untuk mengontrol emosiku.
” Umar, jangan! katakan kepadaku, kenapa dia diikat seperti ini?” tanyaku pada umar yang telah siap menendang mulut perempuan itu,
” Sepuluh hari yang lalu sebelum terjadi penyerangan, aku memergokinya bertemu londo di belakang sumur desa. sesekali aku mendengar kata serang dan lumbung dari mulutnya, gerak-geriknya mencurigakan kapten, dia selama ini mata-mata londo, bunuh saja kapten, sebelum semua diketahui londo. Tadi pagi aku menemukannya di perempatan Macanan, ku seret dia kemari”
Keterangan dari umar membuat semua pertanyaan di otak ku tentang bagaimana londo mengetahui lokasi lumbung senjata terjawab. Arum, biang keladinya, gadis bunga desa Dadapan inilah yang menjadi mata-mata londo selama ini.
Kerumunan gerilyawan segera aku bubarkan untuk menghindari intimidasi terhadap arum saat ku interogasi. Umar menemaniku sambil mengobati luka yang mulai membiru di pahaku,
” Parah Kapten, untung segera kau beri ramuan daun, kalau tidak, mungkin sekarang harus diamputasi, ini semua gara-gara kau Pelacur londo!”
Amarah umar masih meledak-ledak setiap kali melihat wajah wanita itu.
” apa masalahmu sehingga ku menghianati kami? ”
Mendengar pertanyaan tersebut arum tertunduk, ia tiba-tiba menangis
” Karena kamu Al, kamu telah mempermainkan perasaanku!”
” Aku, perasaan ???”
” Aku mencintaimu sejak sebelum lintang datang di desa ini dan merebut perhatianmu dari aku Ali, dan betapa perhatianku selama ini kepadamu serasa percuma dan hatiku hancur berkeping-keping saat malam kau pinang Lintang” ucapnya terbata-bata
Memang hubungan aku dan arum dulu sangat erat, teman-teman bahkan menganggap bahwa antara aku dan dia sama-sama saling suka dan bahkan kami sempat dikabarkan akan menikah. Tapi aku tekankan untuk diriku sendiri, Arum tak layak untuk jadi istriku, karena perbedan materi yang begitu mencolok di antara kami, dia anak juragan kebun teh di Sine, sedangkan aku pria yatim piatu tanpa penghasilan tetap. Selain itu, ayahnya sangat dekat dengan londo, musuh bebuyutan para gerilyawan Singo Gunung. Selama ini aku tak tau mengapa Arum lebih memilih membelot dari perintah ayahnya untuk menjauhi kehidupan kami, tapi kini aku tau jawabannya, dia diam-diam menyukai aku
Umar dan rekan rekan yang sejak tadi menunggui kami berdua seolah paham, mereka keluar dari tenda untuk membiarkanku menyelesaikan masalah asmara berujung nestapa ini.
” Maafkan aku jika semuanya menjadi seperti ini Al, aku menjadi sangat dendam terhadapmu dan juga lintang karena ikatan kalian, aku tak rela jika dia yang menjadi istri kamu nantinya, bukan aku, maka lebih baik dia mati! ” ucap Arum sembari sesekali sesenggukan menahan tangisnya.
” tapi bukan hanya Lintang yang mati, Ingat Mayang? Anak kecil yang selalu kau bawa tiap kau menemaniku di sawah ikut mati bersama dia, digeranat londo!”
Sejenak aku diam, api kemarahanku masih membuat nafasku terengah-engah, aku mencoba mengaturnya supaya aku dengan mudah mengintrogasinya dan mengorek keterangan sebanyak-banyaknya tentang londo dari mulut arum. Setengah jam aku menanyainya dengan berbagai macam pertanyaan tentang pergerakan londo, tapi yang arum tau hanya sedikit. Ngawi telah diduduki londo, paron telah didukuki Londo, dan hanya daerah kaki gunung lawulah yang belum dijarah karena terlalu banyak gerilyawan yang bersembunyi di hutan-hutan daerah Ngrambe dan Kendal.
Setelah ku rasa proses interogasi telah cukup, aku melangkah keluar, baru menyingkapkan kain tenda untuk keluar Arum memanggilku sambil tetap terisak,
”Kapten Ali, yang mungkin perlu kau ketahui sebelum ajal menjemput kita, aku sangat mencintaimu, tapi aku terlalu kotor utukmu sekarang”,
ucapan itu membuatku kembali mendekati Arum,
”Ajal kita kau bilang? Dan juga terlalu kotor? Apa maksudmu?”
”semalam sebelum aku dibuang belanda ke daerah ini, aku diperkosa para jendral londo bajingan itu, aku tak suci lagi Ali” tangisnya semakin meronta-ronta
” lantas mengapa ajal kita??” tanyaku
” aku dibuang, tetapi tak sendirian, londo masih memata-matai setiap langkahku, ada yang mengikuti aku, mjungkin tempat ini sebentar lagi atau mungkin beberapa detik lagi akan ada serangan udara, kita akan mati Ali, ”
Kata-katanya membuat mataku terbelalak
” Sejujurnya aku dulu pernah mencintaimu juga Arum, tapi persetan semua sekarang...”
Aku berlari terpincang pincang keluar mulutku hampir tak bisa berkata-kata lagi, aku gugup.
”Semuanya.... sembunyi cepat evakuasi barang-barang, kita lari, londo telah mengetahui tempat ini, lari!”
Suasana menjadi gaduh, banyak warga yang tak percaya, aku frustasi, aku berlari terpincang-pincang masuk satu persatu tenda,membangunkan penghuninya yang istirahat. Tapi, semuanya telah terlambat, kulihat 5 pesawat telah menuju kearah pos. Kakiku terasa keram dan hanya teriakan yang bisa ku keluarkan,
"Allahu Akbar!.
Daftar bab
2 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








