
Djati Mahameru The Last Boxer
Bunyen_Heha|Bersambung
- Jumlah kata
- 91.9K
- Popular
- 300
- Subscribe
- 80
- Jumlah kata
- 91.9K
- Popular
- 300
- Subscribe
- 80
Sinopsis
Karier petinju muda Djati Mahameru hancur dalam semalam setelah menolak mengalah demi permainan mafia judi tinju. Dikeroyok hingga sekarat, dia hanya punya dua pilihan. Mati atau bertahan. Di ambang kematian, mendiang kakeknya muncul dan meninggalkan satu pesan aneh, ‘Cari cincin tua di gudang rumah.’ Sejak mengenakan cincin itu, Djati mampu berkomunikasi dengan sang kakek, mantan petinju legendaris yang ternyata menyimpan rahasia besar tentang keluarganya. Namun, cincin itu bukanlah sumber kekuatan instan. Untuk bangkit, Djati harus membangun kembali tubuhnya dari nol, sementara mafia yang ingin membungkamnya terus mengawasi setiap langkahnya. Di balik dunia tinju yang dipenuhi uang, pengkhianatan, dan taruhan berdarah, Djati perlahan menyadari bahwa dirinya bukan sekadar seorang petinju. Dia adalah ahli waris terakhir sebuah warisan yang seharusnya telah punah. Kali ini, Djati tidak akan bertarung hanya demi kemenangan. Dia bertarung untuk mengakhiri permainan mereka.
Ulasan
1 ulasan
Bunyen_Heha
25/8/26 14:28
Gaes, ayo mampir ke buku baru aku, dong. Kasih ulasan yang bagus dan menarik ya, biar aku semakin semangat. thank you.
BAB 1 : Mati di Ujung Ring
Bugh!
Tendangan keras menghantam rusuk kanan Djati, melempar tubuhnya hingga membentur dinding gudang tua.
Napasnya tertahan seketika. Rasa nyeri menusuk tajam dari rusuk hingga tembus ke punggung. Belum sempat Djati menghirup udara, genggaman kasar meremas rambutnya, menarik kepalanya ke atas secara paksa.
Pukulan telak kembali mendarat, kali ini tepat di pelipis kiri.
Pandangan Djati berkunang-kunang. Darah hangat merembes melewati alis, lalu menetes perlahan ke lantai semen yang lembap.
Lima pria bertubuh besar mengepungnya dalam cahaya remang-remang, dan wajah mereka tertutup masker hitam. Salah seorang memegang besi ulir, yang lain memegang rantai kapal, dan sisanya memamerkan genggaman tangan kosong.
Djati mengepalkan jemarinya yang gemetar.
Andai mereka bertarung satu lawan satu di arena, dia yakin bisa merobohkan semuanya dalam hitungan menit. Namun, orang-orang ini datang bukan untuk bertanding. Mereka datang untuk memastikan dia tak akan pernah naik ring lagi.
Seorang pria bertubuh tambun melangkah maju. Berbeda dari orang-orang di sekelilingnya, pria ini mengenakan setelan jas dengan jemari berhias beberapa cincin emas bermata batu akik berukuran besar.
Tatapannya dingin, penuh amarah yang tertahan.
"Kamu tahu berapa banyak uangku yang menguap gara-gara ulahmu?"
Djati mendongak dengan susah payah. Bibirnya yang pecah terangkat sedikit, membentuk senyum tipis.
"Kalau kalah taruhan, jangan salahkan petinjunya."
Plak! Tamparan keras melayang, melempar wajah Djati ke samping.
"Kamu seharusnya tumbang di ronde terakhir!" bentak pria berjas itu.
Djati meludah. Darah bercampur ludah membentuk noda merah di semen. "Nggak ada petinju yang naik ring buat pura-pura kalah."
Pria itu tertawa sinis. "Lugu sekali."
Dia melangkah mengitari Djati yang bersimbah darah. "Kamu pikir pertandingan profesional itu cuma soal siapa yang paling kuat memukul? Ini bisnis. Ini taruhan. Semua orang sudah dapat bagiannya."
Langkahnya terhenti tepat di depan Djati. "Cuma kamu yang merusak semuanya!"
Kata-kata itu membuat ingatan Djati melayang pada pertandingan beberapa jam yang lalu.
Sorak-sorai ribuan penonton masih terdengar tipis di telinganya. Lampu spotlight yang menyilaukan, bau minyak angin, dan riuhnya atmosfer ring.
Lawannya malam ini adalah petinju senior dengan rekor dua belas kemenangan beruntun.
Di sudut ring sebelum ronde terakhir dimulai, pelatihnya sempat berteriak.
"Satu ronde lagi, Djati! Tinggal selangkah lagi!"
Djati hanya mengangguk.
Begitu bel berbunyi, dia langsung mengambil alih serangan. Jab, cross, hook kiri, dilanjutkan body shot. Lawannya mulai goyah, pertahanannya terbuka lebar.
Tanpa ragu, Djati memutar pinggang dan melepaskan uppercut terkeras dalam kariernya.
Brak!
Tubuh sang juara terangkat sesaat sebelum ambruk, tak bergerak di atas ring.
"Delapan ... sembilan ... sepuluh!"
Bel berbunyi. Wasit mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Kemenangan itu seharusnya menjadi batu lompatan besar. Namun malam ini, kejujurannya justru menyeretnya ke gudang terbengkalai kotor, bau karat dan amis darah.
"Promotor sudah memberi peringatan, tapi kamu malah sok idealis," ujar pria berjas itu pelan.
Djati menatapnya lurus. "Aku petinju, dan tugasku adalah menang."
Wajah pria itu mengeras. "Hajar dia."
Dua kata itu memicu kemarahan yang semakin brutal.
Besi ulir mendarat telak di punggungnya. Djati jatuh berlutut, menahan erangan. Belum sempat dia mengumpulkan napas, tendangan demi tendangan mulai menghantam perut, dada, dan wajahnya tanpa ampun.
Instingnya memaksa kedua lengan menutupi kepala, tetapi tubuh manusia tetap memiliki batas.
"Masih bernapas?" tanya salah satu preman.
Seseorang mengangkat batang besi tinggi-tinggi. Benturan keras di belakang kepala menjadi pukulan pamungkas.
Seketika, riuh pertarungan dan rasa sakit yang membakar tubuh Djati menghilang. Suara-suara di sekitarnya meredup, berganti dengan keheningan yang asing dan hampa.
Di tengah kegelapan itu, sebuah suara memanggilnya.
"Djati ...."
Suara yang sudah sangat lama tidak dia dengar. Hangat dan tenang.
"Djati ...."
Perlahan, Djati membuka mata.
Gudang tua itu sudah tak ada. Di sekelilingnya hanya ada hamparan putih tanpa batas. Tak ada langit, tak ada pijakan tanah, hanya cahaya lembut yang menentramkan.
Beberapa langkah di depannya, berdiri seorang lelaki tua berambut putih. Tubuhnya masih tegap meski garis-garis usia terukir jelas di wajahnya.
"Kakek?" panggil Djati dengan suara serak.
Dia melangkah maju hendak merangkul sangat Kakek, tetapi kakinya seolah tertahan oleh batas tak kasatmata.
"Jangan dipaksa. Kita belum berada di tempat yang sama," ucap sang kakek lembut.
Djati mengepalkan tangannya. "A-aku ... sudah mati?"
"Belum."
"Lalu ini apa?"
"Kamu sedang berdiri di ambang pintu." Sang kakek menatapnya teduh, "antara hidup dan mati."
Djati menunduk, menatap kedua tangannya. Tak ada luka, tak ada lebam. Rasa sakit yang tadi meremukkan badannya mendadak sirna.
"Kamu harus kembali," lanjut kakeknya.
Djati menggeleng pelan, senyum getir menghiasi wajahnya. "Untuk apa? Karierku hancur. Orang-orang itu nggak akan berhenti memburuku."
"Perjalanan kamu bahkan belum dimulai, Djati."
"Aku nggak mengerti."
Sang Kakek melangkah mendekat, menatap cucunya dengan raut serius. "Keluarga kita menyimpan sesuatu yang tersembunyi."
"Maksud Kakek?"
"Pergilah ke gudang di belakang rumah."
Djati terdiam, mendengarkan.
"Cari kotak kayu tua di tumpukan barang bekas. Di dalamnya ada satu cincin milik Kakek."
"Cincin?"
"Kamu akan tahu saat memegang bentuknya."
"Kenapa Kakek baru bilang sekarang?"
Sang kakek tersenyum tipis. "Karena baru sekarang kamu berada di titik di mana kamu siap menerimanya."
Sosok lelaki tua itu mulai memudar, perlahan terurai bersama cahaya putih di sekeliling mereka.
"Kakek! Tunggu!" Djati mengulurkan tangan secara refleks.
Suara kakeknya terdengar semakin menjauh, memantul di dalam kepalanya.
"Djati, ingat baik-baik. Jangan pernah gunakan kekuatan itu sekadar untuk membalas dendam."
"Lalu buat apa?"
"Gunakan untuk menjaga harga dirimu dan melindungi mereka yang tidak mampu melawan.”
Cahaya putih mendadak menyilaukan mata.
"Djati! Anda bisa dengar saya?"
Kelopak matanya terasa amat berat saat dipaksa terbuka.
Aroma antiseptik melingkupi indra penciumannya. Di atasnya, lampu rumah sakit menyilaukan pandangan. Seorang dokter dan dua perawat tampak mengelilingi brankarnya.
"Syukurlah, respons pupilnya bagus," ucap dokter itu seraya mencatat sesuatu di papan jalan.
Dia menatap Djati dengan p lega. "Gegar otak ringan, dua tulang ruperasaanuk retak, dan lebam di sekujur tubuh. Secara medis, fisik Anda sangat kuat bisa bertahan dari trauma seperti itu."
Djati tak benar-benar menyimak ucapan sang dokter. Suara dengung di telinganya perlahan tertutup oleh ingatan yang berputar terus-menerus di kepalanya.
Cari kotak kayu tua. Di dalamnya ada sebuah cincin.
Apakah itu sekadar halusinasi akibat benturan keras di kepala? Atau, kakeknya benar-benar datang di batas antara kehidupan dengan kematian?
Keesokan sorenya, begitu diizinkan pulang, Djati menolak untuk langsung beristirahat.
Dengan perban yang melilit dada dan langkah yang tertatih, dia berjalan menyusuri pekarangan belakang rumah peninggalan kakeknya.
Pintu gudang tua berdecit nyaring ketika dibuka. Udara pengap, debu tebal, dan aroma kayu lapuk langsung menusuk hidung. Gudang ini tak pernah tersentuh bertahun-tahun.
Dengan sisa tenaganya, Djati menggeser tumpukan perkakas tua di sudut paling gelap. Di sana, tersembunyi di balik lembaran kain terpal usang, sebuah kotak kayu kecil berukiran kasar tergeletak berselimut debu.
Jantung Djati berdegup kencang. Sembari menahan rasa nyeri di rusuknya, dia membuka tutup kotak kayu tersebut.
Di atas padatan kain lusuh, terbaring sebuah cincin logam berwarna hitam pekat. Permukaannya dihiasi ukiran kuno yang tak pernah dia kenali sebelumnya.
Begitu jemarinya menyentuh permukaan cincin yang dingin itu, sensasi aneh menjalar dari ujung jarinya, dan udara di dalam gudang mendadak terasa membeku.
Daftar bab
82 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








