
Sentuhan Magis Sang Mantan Narapidana
Gatchan|Tamat
- Jumlah kata
- 128.0K
- Popular
- 18.7K
- Subscribe
- 2.8K
- Jumlah kata
- 128.0K
- Popular
- 18.7K
- Subscribe
- 2.8K
Sinopsis
Baru saja bebas dari penjara setelah menjalani hukuman selama tiga tahun, Bayu Anggara terpuruk dalam kemiskinan. Tanpa uang dan masa depan, hidupnya semakin menderita. Namun, sebuah warisan medis misterius yang didapatkannya di dalam lapas memberikan ia kemampuan luar biasa untuk menyembuhkan segala jenis penyakit. Dengan kekuatan barunya, Bayu bertekad bangkit, meraup kekayaan, dan membahagiakan kedua orang tuanya yang sudah tua. Lantas jika kemampuannya juga turut menarik perhatian wanita-wanita cantik di sekitarnya, siapa yang bisa menolak?
Ulasan
8 ulasan
kiann'szee
19/6/26 14:43
permisi izin promosi novel baru judul = ren ashborn : dari dibuang menjadi raja harem jangan lupa mampir dijamin ga bosen 🤗
Resia Noir
14/5/26 11:50
Izin Promosi novel saya ya kk. Judul : Bupati Muda yang Misterius Penulis : Resia Noir Dulu Mika hanya anak supir yang hidup di belakang pasar dan dihina semua orang. Kini… ia kembali sebagai Bupati termuda di Kabupaten Arunika. Namun jabatan itu bukan untuk kekuasaan. Ia datang membawa dendam, rahasia, dan pencarian tentang kematian ayahnya yang misterius. Di balik dunia politik yang penuh korupsi, pengkhianatan, dan permainan kekuasaan… Mika harus melawan orang-orang paling berbahaya di kotanya sendiri. Dan saat hatinya mulai terusik oleh seorang pustakawan sederhana bernama Alena, rahasia besar perlahan mulai terungkap. 🔥 Penuh misteri 🔥 Politik dan balas dendam 🔥 Romance yang bikin baper 🔥 Banyak plot twist dan rahasia gelap 📖 BUPATI YANG MISTERIUS Siapkah kamu masuk ke dunia Mika Ardian?
BAB 1
“Mati kamu, bocah ingusan…!”
“Haaa…!”
“Heaaa…!”
Lima orang tahanan Penjara Kolong Buntu menyerang Bayu secara berbarengan. Siang itu, mereka menantang Bayu di area luar gimnasium rumah tahanan tempat mereka mendekam. Hanya karena, dia berkata dirinya tidak peduli terhadap mereka.
Rupanya, ada yang melaporkan kata-kata Bayu tersebut pada para pembunuh bayaran, bos mafia, dan entah apalagi citra yang disandang oleh orang-orang tersebut. Sehingga, mereka berang. Sekarang, lima-limanya ingin menghabisi dia.
Set…! Set…! Set…!
Bam…! Bugh…! Dhuast…!
Bruk…! Bruk…! Bruk…!
Di atas kertas, Bayu seharusnya berada di ujung tanduk. Lima lelaki berwajah tidak ramah itu merupakan para penyakitkan yang tidak bisa dianggap remeh. Banyak tahanan Kolong Buntu takut terhadap mereka, karena reputasi orang-orang tersebut.
Tetapi sekarang, lima lawan Bayu roboh satu demi satu. Satu agresi dari mereka hanya dibalas menggunakan satu serangan oleh Bayu. Kini, mereka berlima sudah terbaring di lantai sambil meringkuk juga mengerang.
“Akhhh…”
“Ughhh…”
Satu dari narapidana yang ditaklukkan oleh Bayu itu memandang ke arah dia. Ia bisa melihat, Bayu tetap berdiri di tempatnya. Dia tidak tampak seperti baru saja berkelahi. Lantas, Bayu berujar.
“Apa kamu lihat-lihat…? Kalian beruntung masih bisa hidup. Sebab, aku bisa membuat hasil otopsi kematian kalian disebabkan oleh penyakit kronis…!”
“HAHAHAHA…!”
Gelak tawa para napi yang menyaksikan perkelahian Bayu dengan lima orang itu merebak di gimnasium Penjara Kolong Buntu. Bemaksud mengeroyok lawan, sekarang mereka menjadi bahan tertawaan.
Satu di antara napi yang dicap garang itu bangkit dan pergi dari sana dengan tergopoh-gopoh karena malu. Yang lain menyusul menghilang dari situ sembari memegang bagian tubuh mereka yang terasa nyeri. Bahkan seorang di antaranya tampak menangis.
“YEAAAAH…!” sorak para tahanan yang masih berada di sana tanda mereka mendukung Bayu.
“Semoga saja hukumanku tidak ditambah gara-gara ulah para penjahat itu…!” harap Bayu dalam benaknya.
Apa yang sempat terilntas dalam hati Bayu tersebut tidak pernah terjadi. Sebaliknya. Semestinya, dia divonis tiga tahun penjara. Akan tetapi, ia mendapat potongan masa hukuman dua tahun karena jasa David sang Kepala Penjara.
Perkelahian dia itulah yang menjadi alasan bagi David untuk mengajukan remisi bagi Bayu, dan berhasil. Sebab, lima napi tersebut adalah penyebab terbentuknya geng-geng, kekacauan, bahkan aksi kriminal dari dalam Penjara Kolong Buntu.
Tapi semenjak Bayu membuat mereka kapok, lima orang tersebut tidak lagi berani macam-macam.
“Selamat menghirup udara kebebasan, Bayu…!”
“Kami akan merindukanmu, Bayu…!”
Hari itu adalah hari di mana Bayu meninggalkan Penjara Kolong Buntu. Dia dilepas oleh teman-temannya bagai seseorang yang sangat berpengaruh di sana. Padahal, mereka merupakan narapidana dengan predikat yang mengerikan.
“Tetaplah menjadi orang baik setelah aku pergi teman-teman… sampai bertemu di luar sana!” seru Bayu berpamitan pada teman-temannya.
Begitu keluar dari pintu lapas, Bayu mendongak seraya menarik napas dalam-dalam. Ia sama sekali tidak menyangka. Kemampuan yang dirinya miliki sekarang membuat dia dapat menikmati kebebasan lebih cepat dari semestinya.
“Terima kasih telah membantu kami untuk meredam para napi sinting itu, Bayu. Tanpa kamu, kami pasti dibuat sibuk hampir setiap hari,” puji David yang berdiri di sebelah Bayu.
Bayu memalingkan badannya, kemudian menanggapi. “Akulah yang seharusnya berterima kasih pada Bapak, karena sudah membantuku mendapatkan remisi.”
“Ah…, sudahlah. Kamu memang tidak pantas untuk ada di sini, Bayu. Sekarang pergilah, sambut hari kebebasanmu!”
Bayu pun tiba di Kota Mirakas. Ia menuju ke kawasan pusat kota dengan menumpangi angkutan kota. Dia bermaksud mengadu nasib di sana. Karena, ia belum memiliki uang yang cukup. Di dalam kendaraan yang dirinya tumpangi. Bayu bak melamun.
“Aku sangat merindukan kedua orang tuaku,” batin dia. Kemudian, sorot matanya tampak menjadi tajam. Seolah, ia tengah memandam amarah. Dia kembali berkata-kata dalam hati.
“Yahya Solosa, Ella Wartono… kalian telah bersekongkol sehingga aku berstatus mantan narapidana sekarang. Lihat saja nanti. Hari pembalasan akan datang bagi kalian…!” geram Bayu tanpa bersuara.
Setibanya ia di alun-alun kota, Bayu santap siang di sebuah restoran bakmi kecil menggunakan uangnya yang terbatas. Usai menyantap semangkuk mi yang paling murah di sana, ia pun berkata pada pemilik restoran.
“Tante, apakah Tante membutuhkan karyawan? Saya sedang butuh uang. Saya bersedia untuk kerja apa saja,” mohon Bayu pada wanita yang duduk di belakang meja kasir itu.
Si pemilik restoran memandangi Bayu sejenak. Wajahnya tampak menyiratkan kebingungan. Pasalnya, sosok Bayu sama sekali jauh dari kesan pengangguran. Kulitnya tampak bersih terawat. Pun, parasnya menawan.
“Hmmm…, saya memang sedang butuh seseorang untuk bantu-bantu di sini. Tetapi, kamu harus bisa apa saja. Membantu menyiapkan bakmi, bersih-bersih… pokoknya melakukan semuanya. Bagaimana?” ujar si tante.
“Saya mau, Tante…!” jawab Bayu segera.
Kehidupan baru Bayu selepas meninggalkan Kolong Buntu dimulai. Sebagai seseorang yang tidak memiliki latar belakang di dunia kuliner, menjadi tukang bakmi tidaklah gampang. Sesekali, dia melakukan kesalahan.
Selain itu, dia belum memiliki tempat tinggal. Tak bisa memberitahu si tante pemilik restoran bakmi bahwa dirinya adalah seorang bekas napi, Bayu memutuskan untuk menumpang di pos keamanan taman alun-alun kota.
Siang itu, Bayu baru saja pulang bekerja. Ia duduk di teras pos keamanan dan mulai berpikir untuk mendapatkan uang menggunakan cara lain.
“Aku mesti memanfaatkan kemampuan medisku. Tapi hingga hari ini, aku belum menemukan orang sakit yang bisa aku rawat…!” pikir Bayu agak kocak.
Pada saat dia sedang memutar otak, Bayu melihat. Ada sebuah mobil sport mewah diparkir tidak jauh dari tempat dirinya berada.
Seorang laki-laki perlente keluar dari kendaraan berwarna merah menyala tersebut. Ekspresi orang itu terlihat tidak ramah. Ia menekuk wajah layaknya tengah memendam amarah.
“Suatu saat nanti, aku akan menjadi seperti dia,” batin Bayu. Kemudian, ia membuka kotak nasi rames pemberian tante bakmi dan mulai menyantapnya.
Sementara, Bayu terus memperhatikan si laki-laki yang tampak datang dari kalangan atas itu. Ia mendatangi dua orang yang sepertinya telah menanti dia di salah satu bangku taman.
“Selamat siang, Tuan Muda Rifal…”
“Apa kabarmu, Tuan Muda…?”
“Kalian semua sama sekali tidak berguna…!” tiba-tiba, pria bernama Rifal itu membentak dua orang yang menyambut dia. “Aku dan keluargaku telah membayar kalian dengan sangat mahal untuk merawat kakekku. Tetapi lihta… beliau tidak kunjung sembuh…!”
Bayu yang sedang asyik menikmati makanannya segera memandang ke arah Rifal. Dua orang yang ia bentak hanya bisa tertunduk lesu.
“Bagaimana kalian itu, hah…?! Mesti seberapa besar lagi duit yang aku keluarkan untuk kalian agar kakekku bisa sembuh? Apakah kalian berniat untuk—”
Tiba-tiba saja, Rifal berdiri dengan kaku. Ia melangkah mundur dengan terhuyung-huyung. Orang-orang yang berbicara dengannya tampak kebingungan.
“Tuan Muda, apakah kau baik-baik saja…?”
“Ada apa, Tuan Muda…?”
Begitu kata dua orang tersebut. Tapi tahu-tahu saja, Rifal roboh. Kemudian, badannya mengalami kejang-kejang.
“Tuna Muda…, Tuan Muda…!”
Kedua orang yang bersama dengan Rifal itu tak mampu berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa menjongkok. Tangan mereka mengarah pada tubuh Rifal, tetapi menyentuh pun tidak berani.
“Maaf, bapak-bapak…, biar saya memeriksa tuan ini.”
Daftar bab
121 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
121 bab








