
Sistem Gatcha Keberuntungan Pembasmi Parasite
Yuan_bee|Bersambung
- Jumlah kata
- 72.4K
- Popular
- 1.4K
- Subscribe
- 124
- Jumlah kata
- 72.4K
- Popular
- 1.4K
- Subscribe
- 124
Sinopsis
Zaman semakin maju, "sistem" menjadi jalan pintas untuk mewujudkan keinginan secara instan. Namun, di balik semua itu, sistem yang dianut mereka adalah parasit berbahaya bagi siapa saja. Pardi sebenarnya tak mau terlibat pada masalah itu. Namun, sejak menemukan artefak misterius yang kini terikat padanya, ia mendapatkan misi menghentikan sistem itu. Masalahnya, tidak semua orang ingin diselamatkan, karena beberapa dari mereka sudah terlena dengan apa yang dimiliki. Rantai itu terus menyebar diam-diam, cepat, dan mematikan seperti ponzi. Lantas, mampukah Pardi menyelamatkan orang-orang dari sistem parasit itu?
Ulasan
8 ulasan
Fateemah Ali
19/7/26 05:07
hai Thor, cerita ini sungguh menegangkan, membuat siapapun yang membaca di bab awal di penuhi teka teki rahasia, banyak alur yang sulit di tebak membuat pembaca penasaran. semangat terus ya thor
CakeMacha
15/7/26 13:59
Author, semangat ya! Ceritanya bikin aku susah berhenti baca. Ditunggu update berikutnya! Jangan menyerah, Kak. Novel ini punya potensi besar. Aku bakal setia ngikutin sampai tamat.
Bab 1 Artefak Aneh
James Maulana Vardy atau kerap dipanggil Pardi, tak bisa meninggalkan kebiasan buruknya, setiap malam sebelum tidur, ia selalu menatap gambar gadis pujaannya – Anggun teman kuliahnya yang dikenal cantik dan berparas aduhai.
Foto di ponsel ia tatap, tak lupa tisu pun disiapkan, lalu ritual malam pun dimulai.
Gerakan tangan kanannya begitu lincah dan temponya teratur, seolah sudah terbiasa dan menjadi rutinitas yang wajib dilakukan.
Dengan cara itu, Pardi melampiaskan kesepian dalam dirinya. Sebab, ia hanyalah mahasiswa tanpa memiliki apa-apa. Keluarga tak punya, apalagi harta. Tak ayal, dia menjadi bahan olok-olokan beberapa mahasiswa lain yang iri padanya. Itulah kenapa ia tak memiliki teman.
Pardi mampu berkuliah hanya mengandalkan beasiswa saja. Tanpa itu semua, hidupnya tiada arti.
Setelah aktivitasnya selesai, ia belum bisa tidur karena lapar.
Pardi akhirnya, ia pergi ke warung kecil di pinggir jalan. Namun, setelah selesai makan dan berjalan beberapa meter, ia mendengar suara langkah kaki yang berat, cepat dan tidak teratur. Seperti seseorang yang sedang dikejar.
Ia menoleh, dan benar saja, seorang pria berusia sekitar tiga puluhan berlari ke arahnya. Wajahnya pucat, napasnya kacau dan kemejanya berantakan. Matanya liar, seperti binatang yang sedang mencari jalan keluar.
Tiba-tiba, sebuah peluru mengenai kakinya. Tembakan itu hanya terdengar oleh orang yang dekat, karena pistol memakai peredam.
Pria itu tersentak, langkahnya goyah karena tembakan tadi tepat mengenai salah satu kakinya. Namun, ia tetap berusaha berlari meski pincang.
Pardi membeku sesaat, merasakan semuanya terjadi terlalu cepat. Tembakan kedua dilesakkan, kali ini ia tidak sanggup lagi bergerak. Tubuhnya terhuyung, lalu ambruk tepat beberapa langkah di depan Pardi.
Pardi refleks mundur. Jantungnya berdetak keras melihat kejadian yang seharusnya ia hindari. Tangannya dingin dan kakinya terasa berat, seolah menolak bergerak.
Pria itu tergeletak di aspal, napasnya tersengal. Darah mulai merembes dari sisi tubuhnya. Rupanya tembakan kedua tadi tepat mengenai pinggang, tembus ke perutnya. Pardi sebenarnya bergidik ngeri, apalagi melihat darah yang keluar itu.
Mata orang tadi perlahan mengarah ke Pardi.
“Anak muda ....” Suaranya serak.
Pardi tidak bisa menjawab. Ia sebenarnya ingin lari saja, tapi rasa penasaran dan ingin tahu mendominasi pikirannya.
“Jangan takut,” lanjut pria itu, memaksakan senyum tipis yang justru terlihat menyakitkan.
Sementara itu, suara langkah kaki dari kejauhan semakin mendekat. Rupanya, pria itu kemungkinan sedang diburu.
Pria itu gemetar, lalu merogoh sakunya dengan susah payah untuk mengambil sesuatu. Sebuah benda kecil yang aneh pun berada di genggaman. Seperti layar LCD ponsel, tipis dan bentuknya trapesium.
Ia menyodorkannya ke arah Pardi.
“Ambil ini,” bisiknya.
Pardi ragu. “Tapi ... aku, enggak bisa ....”
“Kalau kau butuh uang, ambil saja, ini juga dompetku sekalian!” suaranya terdengar parau dan lemah.
Pardi refleks meraih kedua benda itu.
“Simpan, jangan sampai hilang, kalau kau butuh uang lagi, selesaikan misinya!” napasnya semakin berat.
"Misi apa?"
“Pergi sekarang, karena benda itu ada yang mengincarnya, usahakan jangan sampai digunakan oleh orang lain,” lanjutnya dengan bicara susah payah, seolah nyawanya sudah di ujung hidupnya.
“Pergi dan selamatkan hidupmu! Cepat! Sebelum orang itu mendekat!”
Mata pria itu perlahan meredup. Tangannya jatuh lemas.
Pardi menatapnya.
“Om, ini maksudnya apa?” tanya Pardi dengan suara pelan, tapi tidak ada jawaban karena orang itu sudah mati.
Tiba-tiba, suara tembakan lain terdengar dari arah yang sama. Dua orang terlihat muncul dari balik kegelapan malam, memakai pakaian serba hitam.
Pardi tersentak. Refleksnya bekerja. Ia menggenggam benda itu bersama dompet pria tadi dengan erat, lalu berbalik dan berlari.
Beberapa detik kemudian, dua pria bersenjata itu tiba di lokasi.
Mereka berhenti di depan tubuh yang tergeletak. Salah satu dari mereka berjongkok untuk memeriksa kondisinya.
“Dia sudah mati.”
Yang satu lagi mengumpat pelan. “Sial .…”
Matanya menyapu sekitar, tapi yang mereka lihat hanya malam yang kosong.
“Benda itu di mana?”
Pria yang berjongkok menggeledah tubuh korban. Ia lalu mengangkat wajahnya.
“Tidak ada.”
“Sial! Kita terlambat.” nada suaranya berubah tajam. “Seseorang sudah mengambilnya.”
Pria itu berdiri perlahan, matanya menyipit ke arah jalan gelap yang ditinggalkan Pardi.
"Ayo kita kejar sebelum dia menjauh!”
Pria yang satunya mengangguk, lalu meninggalkan tubuh yang tak bernyawa itu.
Sementara itu, Pardi tidak berhenti berlari sampai kakinya hampir tidak kuat lagi.
Ia baru melambat ketika sudah jauh dari tempat itu. Napasnya terengah, jantungnya berdetak kencang, sementara tangannya masih menggenggam kedua benda itu dengan kuat.
Beberapa saat kemudian, ia pun akhirnya sampai di sebuah kamar kos. Lampu menyala redup. Pintu akhirnya ia kunci dan jendela ditutup rapat agar orang tadi tidak mengetahui keberadaanya. Jadi, untuk sementara aman, meski pikirannya masih was-was.
Ia duduk di tepi ranjang, tapi tubuhnya masih tegang. Setiap suara kecil di malam itu membuatnya menoleh.
“Mereka nggak mungkin tahu aku di sini, kan?” gumamnya pelan.
Tapi bayangan dua pria bersenjata itu terus terulang di kepalanya. Tak hanya mereka, tapi juga pria yang mati di depan matanya tadi.
Pardi menelan ludah. Tangannya perlahan membuka genggaman. Benda itu masih utuh, sementara tangan satunya tadi menggenggam dompet milik orang yang tewas tadi.
Ia memutar-mutar benda itu, mencoba memahami. Namun, tidak ada petunjuk apa-apa. Hanya benda aneh yang tidak jelas. Pardi ragu sejenak, lalu menggerakkan benda itu dengan gerakan mengocok naik turun dan maju mundur sesuai dengan ritual yang selalu ia jalani setiap malam.
Seketika, sengatan listrik menjalar dari ujung jari ke seluruh tubuhnya. Sengatan itu terus menjalar hingga sampai ke otaknya. Sepertinya, benda itu dan tubuhnya sudah saling terhubung satu sama lain.
“AH!” Pardi tersentak. Refleks, menjatuhkan benda itu ke lantai. Jantungnya berdegup kencang.
“Apa itu tadi?! Mengapa tubuhku bergetar?”
Ia menatap benda itu lagi dan saat itulah, sesuatu muncul di area yang datar seperti layar pada ponsel, berupa tulisan, yang awalnya samar, tapi lambat laun terlihat jelas. Pardi pun membeku.
Tulisan itu perlahan terbentuk dengan jelas: “Majikan baru terdeteksi.”
Pardi menatapnya tanpa berkedip. Tangannya semakin gemetar. Sementara tulisan itu belum juga hilang.
“Majikan baru terdeteksi.”
Pardi menatapnya lama. Jantungnya masih berdegup kencang setelah sengatan tadi.
Ia mengibaskan benda itu pelan, seolah berharap tulisan itu lenyap seperti ilusi, tapi tulisan itu tetap ada.
Lalu, lambat laun berubah.
Huruf-hurufnya bergeser perlahan, seperti sedang diketik oleh sesuatu yang tidak terlihat.
“Inisialisasi .…”
“Sinkronisasi .…”
Pardi langsung melempar benda itu ke kasur karena ia merasa, tubuhnya kembali bergetar lagi seperti tadi. “Apaan, enggak jelas!”
Beberapa saat kemudian, tulisan itu sudah berubah lagi.
“Sinkronisasi selesai.”
“Akses diberikan.”
Setelah itu, tulisan baru muncul dengan tulisan yang lebih jelas.
“Misi tersedia.”
Pardi langsung menegang, berusaha memahami apa sebenarnya tulisan itu.
“Target terdeteksi.”
“Status: Terinfeksi Sistem.”
Membaca tulisan “Terinfeksi Sistem” membuatnya takut. Namun, setelah ia ingat pesan orang sebelum ia mati, “Kalau kau butuh uang, selesaikan misi itu” membuatnya berpikir panjang.
Kondisi saat itu memang ia tak memiliki uang dan ingin segera kaya. Ia pikir, mungkin benda itu bisa membantu untuk mewujudkan keinginannya.
Kini, tulisan di benda itu menyala lebih terang dari sebelumnya. “Sistem aktif.”
Tangannya gemetar saat meraih benda itu lagi.
“Baik, kalau gitu, akau kugunakan benda ini, tapi apa yang harus aku lakukan?”
Tulisan itu berubah cepat, seolah menunggu pertanyaan itu. “Target ditandai.”
Di bawahnya muncul sesuatu yang baru, bukan teks biasa, tapi gambar. Seperti bayangan lokasi di GPS. “Eliminasi inang Sistem.”
Pardi menatapnya diam, matanya kosong. Tak tahu apa maksud dari tulisan itu.
“Jadi, aku harus gimana untuk menyelesaikan misi?”
Namun, tidak ada jawaban. Hanya satu kalimat yang muncul:
"Waktu tersisa 23:58:22.”
Daftar bab
67 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








