Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pecundang Langit Yang Terbuang

Pecundang Langit Yang Terbuang

Bp. Juenk | Bersambung
Jumlah kata
138.5K
Popular
523
Subscribe
51
Novel / Pecundang Langit Yang Terbuang
Pecundang Langit Yang Terbuang

Pecundang Langit Yang Terbuang

Bp. Juenk| Bersambung
Jumlah Kata
138.5K
Popular
523
Subscribe
51
Sinopsis
FantasiFantasi TimurPecundang Balas DendamReinkarnasi
Seorang pecundang Penduduk Langit dari Dunia Atas yang terbuang. Terlahir kembali ke Dunia Bawah-Bumi di tubuh Seorang pemuda yang sakit-sakitan dan Kritis. Dengan Kemampuan penduduk langit Ia menjadi manusia terkuat di Dunia bawah-Bumi
1. Jiwa Asing

Bau sangit minyak kayu putih dan amonia menyengat hidungnya bahkan sebelum matanya sanggup terbuka.

Sensasi pertama yang dirasakan Indera Jaya bukanlah dinginnya embun surga atau kepulan asap dupa tempat tinggalnya di Negeri Atas, melainkan rasa terbakar yang membakar tenggorokan hingga ke dada sebelah kiri. Rasanya seolah ada sekepal bara panas yang dipaksa masuk dan bersarang di paru-parunya.

Indera Jaya mencoba menarik napas.

Kilasss.

Rongga dadanya menyempit seketika. Sebuah batuk yang amat keras tersembur keluar dari tenggorokannya tanpa bisa ditahan. Suara batuk itu terdengar sangat basah, serak, dan penuh penderitaan—suara milik tubuh yang sudah diambang kehancuran.

Udara yang berhasil dihirupnya tidak memberi kesegaran, justru memicu dorongan batuk kedua yang lebih menyiksa.

"Sid? Ya Allah, Rosid... kamu sudah sadar, Nak?"

Sebuah suara wanita yang bergetar penuh kecemasan terdengar mendekat. Langkah kaki tergesa-gesa di atas lantai semen yang dingin bergema pelan di dalam ruangan sempit itu.

Tak lama kemudian, sepasang tangan yang kasar, kering, dan bergetar mengusap punggungnya yang kurus. Usapan itu disertai bau minyak angin yang makin pekat.

Indera Jaya perlahan membuka matanya. Pandangannya kabur, berselaput bintik-bintik hitam akibat kekurangan oksigen. Atap yang pertama kali dilihatnya bukanlah langit-langit istana batu giok atau anyaman awan putih Negeri Atas, melainkan lembaran seng tua yang berkarat di beberapa sisinya, penuh noda bekas kebocoran air hujan.

"Ini... tempat apa?" gumam Indera Jaya. Suaranya asing di telinganya sendiri. Parau, tipis, dan begitu tak berdaya.

"Jangan banyak bicara dulu, Sid. Napasmu masih patah-patah begitu," ucap wanita setengah baya yang kini duduk di sisi pembaringannya.

Wajah wanita itu penuh kerutan, matanya sembap dan merah, memancarkan kelelahan luar biasa yang sudah menumpuk bertahun-tahun. Wanita itu memegang cangkir seng berisi air hangat yang asapnya masih mengepul tipis. "Ayo, minum dulu pelan-pelan."

Ingatan asing yang bukan miliknya tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam kesadaran Indera Jaya. Hantaman informasi itu begitu deras hingga membuat pelipisnya berdenyut nyeri.

Nama anak laki-laki ini adalah Rosid. Umurnya delapan belas tahun. Dan wanita di hadapannya adalah Rosnita, ibu kandungnya.

Ingatan-ingatan itu mengalir bagai air bah, masa kecil yang selalu dihabiskan di atas kasur kasur kapuk tipis yang sudah mengeras ini, bau ramuan obat pahit yang diminum setiap pagi, bayangan anak-anak sebaya yang berlarian di jalan tanah sementara Rosid hanya bisa memandang dari balik jendela kayu bercat mengelupas, hingga puncaknya... kemarin pagi.

Hari pertama Ujian Nasional untuk kelas tiga SMA. Hari yang sudah ditunggu-tunggu Rosid selama bertahun-tahun untuk mengubah nasib keluarganya.

Namun, di pagi yang naas itu, paru-parunya mendadak kolaps. Ia memuntahkan darah di atas seragam putihnya dan pingsan, memupuskan seluruh harapannya untuk ikut ujian dan lulus dari sekolah.

Rosid yang asli telah menyerah. Semangat hidupnya padam bersama rasa putus asa yang menumpuk, meninggalkan tubuh yang habis digerogoti penyakit ini tanpa jiwa.

Dan di saat yang persis sama, jiwa Indera Jaya—yang terhempas dan terbuang dari Negeri Atas—tertarik masuk mengisi kekosongan tersebut.

Pecundang... pikir Indera Jaya pahit.

Di Negeri Atas, ia hanyalah seorang pekerja kasar, penghuni tingkatan paling bawah yang dijadikan kambing hitam atas kehancuran salah satu artefak milik klan penguasa.

Ia disiksa, dilempar keluar dari batas alam atas, dan dibiarkan jatuh ke alam bawah untuk hancur menjadi debu.

Namun, takdir rupanya punya selera humor yang aneh. Ia tidak hancur, melainkan terlempar ke dalam tubuh manusia yang sama-sama seorang 'pecundang' dan tidak berdaya di dunianya sendiri.

"Sid? Kenapa melamun begitu? Masih sakit dadanya?" tanya Rosnita lembut. Tangan wanitanya dengan cermat menyapu keringat dingin yang membasahi dahi Indera Jaya.

Ada nada kepasrahan yang amat dalam dari suaranya, namun juga terselip rasa syukur yang besar karena anak tunggalnya masih bernapas.

Indera Jaya menerima cangkir seng itu. Jemarinya yang kurus dan pucat menyentuh permukaan cangkir yang hangat.

"Tidak apa-apa, Bu," jawabnya lambat. Bahasa di bumi terasa agak aneh di lidahnya, tetapi memori milik Rosid membuatnya bisa mengucapkannya secara alami.

"Hanya... sedikit pusing."

"Ibu sudah buatkan teh jahe hangat. Minum sedikit-sedikit ya," kata Rosnita.

Ia memperbaiki posisi bantal kapuk yang sudah kempes di belakang kepala anaknya agar Rosid bisa bersandar.

"Soal sekolah... jangan dipikirkan dulu, Sid. Pak RT tadi sempat datang, katanya nanti bisa ditanyakan lagi ke pihak sekolah kalau kondisimu sudah membaik. Yang penting kamu sembuh dulu."

Indera Jaya menyesap teh itu. Rasa hangat mengalir turun ke kerongkongannya, memberi sedikit kenyamanan pada dadanya yang terasa mencengkeram. Ia memandang ke sekeliling kamar.

Ruangan itu amat sangat sederhana. Sebuah lemari kayu dua pintu yang engselnya sudah dol, meja belajar kecil dengan tumpukan buku-buku sekolah yang kusam, serta dinding papan kayu yang dilapisi koran bekas untuk menahan angin malam.

Di tempat inilah manusia bernama Rosid ini menghabiskan sebagian besar hidupnya—sebuah penjara fisik yang diciptakan oleh tubuhnya sendiri.

"Ibu ke dapur sebentar ya, mau panaskan bubur," ucap Rosnita sembari menepuk pelan lutut anaknya sebelum berdiri dan berjalan keluar kamar dengan langkah layu.

Setelah ibunya menghilang di balik pintu kayu yang renggang, Indera Jaya memejamkan mata. Ia harus memeriksa apa yang tersisa dari dirinya.

Di Negeri Atas, Indera Jaya memang berada di tingkatan paling bawah, seorang pecundang yang selalu diremehkan oleh para prajurit dan tetua langit.

Namun, definisi 'paling bawah' di Negeri Atas tetaplah sebuah keberadaan yang memegang Jiwa Surgawi—energi murni yang ratusan kali lebih padat daripada apa pun yang ada di alam bawah ini.

Indera Jaya memfokuskan kesadarannya, menyelami bagian terdalam dari jiwanya.

Sret.

Sebuah titik cahaya keemasan yang amat kecil—tak lebih besar dari biji wijen—masih terapung di dalam pusat kesadarannya. Itu adalah sisa energi spiritual bawaannya dari Negeri Atas yang ikut terbawa saat jiwanya menyeberangi batas alam.

Rasa lega sempat terlintas di benaknya. Namun, ketika Indera Jaya mencoba menyentuh titik cahaya itu dan mengalirkannya sedikit saja ke saluran darahnya, bencana kecil terjadi.

Krrrrk!

"Nghhh!"

Indera Jaya mendesis keras, memegangi dadanya. Tubuh Rosid mendadak tegang. Tulang rusuknya terasa seperti dihimpit oleh dua bongkah batu besar, dan pembuluh darah di lehernya menegang menonjol.

Energi dari Negeri Atas itu terlalu padat, terlalu berat, dan terlalu ganas untuk wadah manusia yang rapuh ini. Mengalirkan satu tetes energi langit ke dalam tubuh Rosid yang penyakitan sama saja seperti menuangkan logam cair panas ke dalam cangkir plastik murah.

Cangkir itu akan meleleh dan hancur sebelum sempat menampungnya.

Dengan terengah-engah, Indera Jaya dengan cepat memutus kontak dengan energi keemasan itu. Ia bersandar layu ke dinding papan, napasnya naik turun tidak teratur, sementara peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya.

"Kurang ajar..." bisiknya lirih sembari mengusap darah segar yang kembali menetes dari sudut bibirnya.

"Tubuh ini... wadah ini benar-benar kaca retak."

Ia tertawa pelan, sebuah tawa pahit yang bergetar di tenggorokannya. Sungguh sebuah ironi. Di dalam jiwanya, ia menyimpan kekuatan yang sanggup meratakan desa ini hanya dengan satu hembusan napas jika dilepaskan sepenuhnya.

Namun, jika ia mencoba menggunakan lebih dari satu atau dua persen dari kekuatan itu sekarang, tubuhnya sendiri yang akan meledak hancur terlebih dahulu sebelum kekuatannya sempat keluar.

Ia adalah makhluk terkuat di tempat ini, namun sekaligus tersergap dalam tubuh yang paling lemah.

Dari luar rumah, suara samar bising kendaraan bermotor dan teriakan anak-anak kecil yang bermain di gang terdengar menyusup lewat celah dinding kayu. Dunia ini begitu asing, begitu padat, dan penuh dengan bau tanah serta debu.

Indera Jaya memandang kedua tangannya yang kurus. Jemarinya gemetar hebat, bukan hanya karena penyakit, tetapi juga karena sisa trauma dari penolakan energi tadi.

Namun, di balik mata sayu milik Rosid, kini menyala sebuah pendar cahaya yang berbeda. Cahaya dari jiwa seorang penghuni langit yang telah kehilangan segalanya, tetapi menolak untuk mati menggetani nasib.

"Jika wadah ini retak..." gumam Indera Jaya pelan, suaranya mantap meski dingin, "maka aku hanya perlu menempanya ulang. Satu demi satu."

Pintu kamar kembali terbuka sedikit, memperlihatkan ibunya yang berjalan masuk membawa mangkuk porselen retak berbau aroma beras hangat.

Indera Jaya menyunggingkan senyum tipis—senyum pertama yang terukir di wajah pucat Rosid setelah sekian lama. Perjalanan di dunia bawah ini baru saja dimulai.

Lanjut membaca
Lanjut membaca