
Tukang Idaman Nyonya
@sky_blue|Bersambung
- Jumlah kata
- 89.8K
- Popular
- 9.9K
- Subscribe
- 1.1K
- Jumlah kata
- 89.8K
- Popular
- 9.9K
- Subscribe
- 1.1K

@sky_blue|Bersambung
PERINGATAN BANYAK ADEGAN 21++ 🔞🔞 Bukan cuma jago benerin genteng bocor, tapi juga pinter benerin hati para nyonya yang rapuh. Bagi orang awam, Jack hanyalah seorang kuli bangunan biasa. Penampilannya sangat sederhana: kaus oblong lusuh, celana jeans kusam, helm kuning, dan tas kain berisi perkakas tempur seperti cetok, tang, serta meteran. Namun, di balik sosoknya yang hemat bicara dan santai, Jack menyimpan bakat luar biasa. Ia adalah mantan spesialis rekayasa dan taktik lapangan yang memilih pensiun dini demi hidup tenang sebagai tukang harian. Kehidupan tenangnya mendadak berubah saat ia menerima proyek perbaikan di Green Residency—kompleks perumahan elit tempat tinggal para elite kota. Semuanya bermula ketika Jack dengan sigap memperbaiki kebocoran instalasi pipa rumit di rumah Nyonya Bella, seorang pengusaha kaya. Tak cuma benerin pipa, Jack juga secara tak sengaja menggagalkan aksi perampokan di rumah itu hanya berbekal kunci inggris dan semen instan! Berita tentang "Tukang Ajaib" ini cepat menyebar di grup Wasap perumahan. Dalam waktu singkat, rumah-rumah para nyonya kaya mendadak "rusak secara misterius": Nyonya Siska sengaja merusak saklar lampu kristalnya demi punya alasan mengundang Jack minum teh sore. Nyonya Valeri, seorang influencer glamor, sengaja meminta Jack merakit furnitur impor sambil merekamnya diam-diam hingga video Jack viral di media sosial. Jack yang polos hanya fokus pada satu hal: gaji harian, uang lembur, dan borongan selesai tepat waktu. Namun, semakin ia bersikap profesional, semakin gigih para nyonya kaya berlomba-lomba memanjakan—dan memperebutkan—perhatian Sang Tukang Serba Bisa. Membuka akses bagi Jack untuk menjadi orang yang paling di segani.
1 ulasan
rhya17
19/8/26 13:28
kayak nya seru nih cerita nya semangat thor nulis nya, tulisannya rapi dan enak di baca. jangan lupa mampir juga ya ke tulisanku " Harold king of olam"
"Kamu ini tukang macam apa, hah?!"
Suara Nyonya Bella melengking, memecah kesunyian rumah mewah nomor tujuh. Wanita itu berdiri berkacak pinggang di ruang tamu, mengenakan daster satin merah yang pendek. Wajah cantiknya memerah padam.
Jack berdiri di hadapannya tanpa ekspresi. Helm kuning masih tergantung di lengan kirinya, kotak perkakas berkarat di tangan kanan. Kaus oblong abu-abunya berlubang kecil di dekat perut.
"Saya sudah nunggu dari jam dua siang, Mas! Ini jam empat sore! Kalau kerja itu yang tepat waktu, jangan kayak siput!" omel Bella tanpa jeda. "Tukang sebelumnya gak becus juga, bilang lantai harus dibongkar. Kalau kamu cuma modal omong doank dan kerjanya lambat, bodoh, nggak becus—mending angkat kaki sekarang! Nggak usah sok bisa kalau aslinya cuma tukang abal-abal!"
Jack menggaruk pelan jenggot tipis di dagunya. "Maaf, Nyonya. Tadi di gerbang satpam lama, KTP saya dicek satu-satu. Terus jalanan macet."
"Alasan! Alasan klasik tukang males!" Bella mendengus tajam, melipat tangan di depan dada. "Udah, sana ke lantai dua! Cek pipa pembuangan yang mampet di kamar mandi. Kalau lantai porselen Italia saya lecet sedikit aja, kamu nggak bakal saya bayar sepeser pun. Saya aduin ke aplikasimu sampai di-blacklist! Dengar?!"
"Iya, Nyonya," jawab Jack datar.
Jack melangkah pergi, menaiki tangga marmer. Bella masih berdecak kesal di belakangnya, membusungkan dada sebal.
Di kamar mandi lantai dua yang luas, Jack berjongkok membuka tutup besi saluran air. Sambil bekerja, telinganya menangkap suara gaduh dari bawah.
Brak! Brak!
Pintu utama didobrak. Hantaman benda keras, teriakan. Jack mengernyit, menghentikan pekerjaannya sejenak dan melongok ke arah koridor.
Di lantai bawah, situasi sudah berubah mencekam. Lima pria berbadan kekar, bertopeng hitam, merangsek masuk. Bella yang mencoba lari ke dapur langsung disergap. Dua perampok mencengkeram lengannya, menyeretnya kembali ke ruang keluarga, dan melemparkannya ke sofa besar.
"Tolong! Jangan apa-apain saya!" jerit Bella histeris.
"Diam!" bentak pemimpin perampok.
Kelima orang itu mengerubuti sofa. Bella meronta-ronta ketakutan, air mata tumpah deras saat tangan-tangan kasar mulai merobek dasternya. Kain satin merah itu sobek di beberapa tempat, memperlihatkan kulit putihnya. Bella menjerit, memejamkan mata rapat-rapat, tubuhnya gemetar hebat dalam keputusasaan.
Si pemimpin menyeringai, menarik sisa kain di tubuh Bella sambil melepas ikat pinggangnya sendiri.
Bruk!
Sebelum sempat terjadi apa-apa, Jack melompat masuk dari lantai dua.
Helm kuning masih terpasang. Tangan kanannya menggenggam kunci inggris jumbo.
"Woi," geram Jack berat.
Kelima perampok itu terkejut. Tiga orang langsung berbalik, menghunus pisau tajam.
"Bangsat, ada tukang nyusruk! Bunuh dia!" teriak salah satu.
Jack tidak gentar. Dia maju menerjang. Saat salah satu perampok mengayunkan pisau, Jack mengelak tipis. Sabetan itu tetap mengenai bahu kirinya, merobek kaus oblong dan meninggalkan luka sayatan kecil.
Jack mengernyit sebentar. Tangan kirinya yang bebas melesat telak menghantam rahang si perampok.
BUK!
Pukulan itu membuat perampok itu terpental menabrak lemari. Melihat rekannya tumbang dalam satu pukul, ke empat perampok lainnya ciut. Ditambah postur Jack yang tinggi besar dan tatapan matanya yang dingin, mereka panik.
"Sialan, ni orang kuat! Kabur!" teriak sang pemimpin sambil buru-buru menaikkan celana.
Kelima perampok itu kocar-kacir melompat lewat jendela dan pintu belakang, kabur terbirit-birit.
Suasana mendadak sunyi.
Bella terengah-engah di sofa, tubuhnya hampir telanjang karena daster yang robek dimana-mana, bergetar hebat penuh syok. Air mata masih basah di pipinya. Dia menatap Jack yang berdiri tegak dengan helm kuning, napas terengah, darah segar mengalir perlahan dari bahu kirinya.
Jack melangkah mendekat. Dia mengambil selimut tebal dari sandaran sofa dan melemparkannya ke Bella.
"Nyonya, tidak apa-apa?" tanya Jack datar. Suaranya sama sekali tidak bergetar, meski baru saja melihat Bella dalam kondisi terhimpit.
Bella menarik selimut itu menutupi dadanya dengan tangan gemetar. Suaranya tercekat. Air matanya tumpah lagi—bukan karena takut, tapi karena rasa malu dan bersalah yang luar biasa. Tadi dia menghina Jack habis-habisan. Sekarang pria itu justru menaruh nyawanya.
"Mas... kamu... kamu menyelamatkan saya..." bisik Bella terbata-bata. "Kamu terluka... darahnya..."
"Cuma goresan," jawab Jack tenang. Dia melirik jam tangannya yang retak. "Waktu lembur saya sisa sepuluh menit, Nyonya. Kalau mau lapor polisi, tolong cepat ya, biar enggak lewat jam kerja."
Bella turun dari sofa, selimut melilit tubuhnya. Dengan langkah gemetar, dia mengambil kotak P3K dari laci.
"Mas Jack, biar saya obati... sebagai terima kasih... padahal tadi saya sudah jahat banget..." suaranya parau, penuh penyesalan.
Jack terdiam sejenak, lalu duduk di tepi sofa membiarkan Bella membersihkan darah di bahunya dengan kapas beralkohol. Perih. Tapi wajah Jack tetap lempeng.
Setelah lukanya ditutup plester, Jack berdiri memungut kotak perkakasnya.
"Sudah beres, Nyonya. Urusan perampok selesai. Pipa di lantai dua tadi juga sudah saya benerin sebelum mereka datang. Saya permisi. Sudah lewat jam kerja."
Jack melangkah pergi. Bella hanya bisa menatap punggungnya dengan perasaan campur aduk.
Tak lama, polisi datang mengangkut satu perampok yang tertinggal. Suasana rumah berangsur tenang, meski jantung Bella belum sepenuhnya stabil.
Sambil duduk bersandar di sofa dengan selimut masih membalut tubuhnya, Bella memegang ponsel dengan jemari yang masih sedikit gemetar. Dia membuka wasap, mengetik ke grup komplek: WARGA GREEN RESIDENCE OFFICIAL.
Bella: Teman-teman, barusan rumah saya disatroni lima orang perampok. Mereka hampir... hampir melecehkan saya. Tapi tukang yang saya panggil tadi datang menolong. Pukul satu kali, pelaku langsung kalah. Asli, badannya gagah, jago berantem, dan postur tubuhnya... besar.
Bella melampirkan foto candid Jack saat sedang memegang kunci inggris besar, helm kuning miring di kepala.
Pesan itu langsung memantik kehebohan.
Nyonya Siska: Ya ampun, Bella! Kamu nggak apa-apa?! Syukurlah ada yang nolong! Btw... foto tukangnya kok gagah banget ya? Itu beneran tukang dari aplikasi?
Nyonya Valeri: Gila sih badannya, berotot kayaknya. Seriusan postur tubuhnya besar, Bel?
Nyonya Rina: Helm kuningnya polos lucu, tapi tatapan matanya dingin banget. Kayak pria berbahaya tapi menarik.
Nyonya Siska: Bella, dia masih di rumahmu nggak? Aku punya masalah sama saklar lampu kristal nih, bahaya kalau nggak dibenerin.
Nyonya Valeri: Lemari pakaian di kamar saya goyang parah, mau roboh! Kayaknya harus dicek!
Bella: Baru saja pulang. Katanya sudah lewat jam kerja.
Nyonya Siska: Gimana caranya supaya dia mau kesini?! Gue mau dia bantu malam ini!
Nyonya Valeri: Sama! Aku sewa tiga kali lipat harganya!
Di luar gerbang Green Residence, Jack baru saja menuntun motor bebek tuanya. Langit sore berubah gelap. Dia merogoh saku, mengeluarkan rokok batangan.
Belum sempat korek dinyalakan, dua mobil mewah—Mercedes putih dan BMW silver—melintang memotong jalannya. Pintu terbuka. Siska dan Valeri turun dengan pakaian rumahan, memasang wajah panik dibuat-buat.
"Mas Tukang! Tunggu!" teriak Siska.
"Mas! Lemari saya mau roboh, genting banget!" sambung Valeri.
Jack melepaskan rokok dari bibirnya, menatap kedua wanita itu bergantian dengan tatapan datar. Dia merogoh dompetnya, melihat lembaran uang dua ratus ribu hasil kerja dari Bella.
Jack menghela napas panjang, menutup dompetnya kembali.
"Nyonya, sekarang sudah jam 5" ucap Jack berat. "Jam kerja saya sudah lewat."
"Tapi ini darurat, Mas!" seru Siska memelas.
"Iya, lemari saya bisa nimpa saya pas tidur!" timpal Valeri sambil mendekat.
Jack menatap tas perkakasnya, lalu melirik kedua nyonya di hadapannya. Dia tahu betul ini bukan soal lemari.
"Oke," kata Jack akhirnya, nada pasrah. "Tapi dihitung lembur. Tiga kali lipat. Dan syaratnya, saya minta es teh manis duluan sebelum mulai. Saya haus."
Siska dan Valeri saling berpandangan, lalu tersenyum penuh kemenangan.
"Deal, Mas!"
Jack menaiki motornya kembali. Dia melihat ke langit yang kini benar-benar gelap, menggeleng pelan, dan menyalakan mesin.
75 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.