
Hukuman yang tak tertulis
safrinafebrianti|Bersambung
- Jumlah kata
- 9.1K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
- Jumlah kata
- 9.1K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
Sinopsis
Di negara yang tenggelam dalam dosa dan rahasia, hukum bukan lagi soal benar atau salah. Melainkan siapa yang berani menulisnya. Kasus-kasus aneh mulai bermunculan. Para pelaku kejahatan ditemukan dalam kondisi mengenaskan, seolah dihukum oleh sesuatu yang tidak tercatat dalam sistem mana pun. Tidak ada jejak. Tidak ada saksi. Hanya satu pola yang mengerikan, setiap korban pernah lolos dari jerat hukum. Di balik kekacauan itu, bayangan gelap mulai menjadi bisikan di antara hakim, pengacara, aparat dan penjahat, sosok yang percaya bahwa keadilan sejati tidak membutuhkan persidangan. Ketika seorang penyelidik dengan masa lalu kelam mulai mengusut rangkaian kasus ini, ia justru menemukan sesuatu yang lebih mengganggu: setiap hukuman terasa... pantas. Terlalu pantas. Batas antara keadilan dan balas dendam mulai kabur. Dan saat kebenaran perlahan terungkap, satu pertanyaan menjadi semakin sulit dihindari. Jika hukum gagal menghukum mereka yang bersalah... apakah seseorang berhak menciptakan hukum itu sendiri? Atau... mungkin selama ini, hukuman itu memang tidak pernah perlu dituliskan.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Negeri tanpa timbangan
Hujan turun seperti kebiasaan yang tak pernah salah waktu. Deras, berat, dan seolah tidak pernah benar-benar berhenti, hanya bergantu intensitas antara satu jam ke jam berikutnya.
Air mengalir di sela-sela gedung tinggi, menyusuri beton, kaca, dan besi kota yang sudah lama kehilangan kehangatannya. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kuning pucat di genangan air, menciptakan bayangan yang goyah seperti kota ini sendiri yang tidak lagi punya keseimbangan.
Di negeri ini, hukum bukan lagi sesuatu yang berdiri tegak. Ia sudah lama miring. Bukan sekadar miring tapi seperti timbangan yang satu sisinya diisi emas, sementara sisi lain hanya diisi nama-nama orang yang tidak punya siapa-siapa.
Gedung-gedung pemerintahan menjulang tinggi di pusat kota. Dari luar, semuanya tampak teratur kaca-kaca bersih, pintu-pintu besar, penjaga yang berseragam rapi. Namun di balik itu, koridor-koridor panjang menyimpan percakapan yang tidak pernah dicatat. Ruangan-ruangn tertutup menyimpan keputusan yang tidak pernah diumumkan.
Di negeri ini, keadilan tidak hilang. Ia dijual.
Dan yang membelinya tidak pernah kekurangan uang. Di ruang sidang, suasananya selalu sama, dingin, formal, dan pura-pura suci.
Palu hakim diketuk bukan ketika kebenaran ditemukan, tetapi ketika kesepakatan sudah selesai dinegosiasikan di luar ruangan.
Jaksa membaca tuntutan dengan suara datar. Pengacara tersenyum tipis, seperti sudah tahu akhir cerita sejak awal. Terdakwa duduk, bukan sebagai seseorang yang sedang diadili, tetapi seperti figuran dalam pertunjukan yang sudah ditulis ulang sebelum ia masuk panggung.
Dan ketika keputusan dijatuhkan tidak ada yang terkejut. Hanya ada orang-orang yang pura-pura tidak tahu bahwa semuanya sudah diatur sejak hari pertama.
Uang adalah bahasa yang paling dipahami semua orang di negeri ini. Lebih kuat dari sumpah. Lebih sakral dari keadilan. Lebih tajam dari hukum itu sendiri.
Orang miskin tidak benar-benar diadili. Mereka hanya diumumkan hasil akhirnya. Nama mereka mungkin disebut di berita, mungkin dicetak di dokumen resmi, tapi nasib mereka sudah selesai jauh sebelum sidang dimulai.
Sementara itu, mereka yang kaya tidak sekadar bebas. Mereka berkembang. Mengakar di setiap institusi. Menyusup ke setiap keputusan. Membeli setiap keraguan sampai tidak ada lagi yang tersisa untuk disebut kebenaran.
Dan Hukum… Tidak pernah benar-benar rusak.
a hanya memilih untuk tetap bekerja untuk pihak yang sama.
—
Di lantai palin bawah sebuah gedung tua yang sudah kalah bersaing dengan menara kaca di sekitarnya, lampu neon berkedip seperti sedang kelelahan. Ruangan itu kecil, sempit, dan penuh tekanan yang tidak terlihat.
Di dalamnya, seorang laki-laki duduk membungkuk di kursi kerja yang sudah mulai berderit setiap kali digerakkan.
Namanya Alden Kaivan Adinata.
Pria itu tidak terlihat seperti seseorang yang sedang bekerja lebih seperti seseorang yang sedang tenggelam perlahan di antara pekerjaannya sendiri.
Di hadapannya, berkas-berkas bertumpuk tinggi. Terlalu banyak untuk satu orang. Kasus demi kasus. Nama demi nama. Foto-foto yang sudah mulai pudar di sudut kertas. Laporan yang sudah ia baca berulang kali sampai kata-katanya kehilangan makna.
Di antara tumpukan itu, beberapa halaman terlipat kasar. Ada yang disobek di pinggirnya, ada yang penuh coretan tinta hitam, seolah seseorang mencoba menghapus kenyataan di atas kertas.
Di lantai, kertas berserakan seperti salju yang kotor. Puntung rokok memenuhi asbak yang sudah terlalu penuh untuk disebut asbak.
Dan di meja itu, botol bir setengah kosong berdiri seperti saksi diam yang tidak pernah diminta untuk bicara. Alden mengangkat botol itu perlahan, lalu meneguknya tanpa ekspresi.
Rasanya sudah hangat. Sama seperti malam ini. Sama seperti pikirannya. a berhenti sejenak.
Matanya jatuh pada satu berkas di tengah meja.
Kasus pembunuhan. Tersangkanya jelas. Buktinya lengkap. Sampai ke titik di mana seharusnya tidak ada ruang untuk keraguan.
Tapi berkas itu sudah diberi cap. Dibebaskan. Alden tidak langsung bereaksi.
Beberapa detik hanya diisi suara hujan di luar jendela dan dengung lampu neon di atas kepalanya. Lalu ia tertawa. Pelan. Kering.
Seperti seseorang yang sudah terlalu lama tidak menemukan sesuatu yang lucu, tapi tetap dipaksa untuk mengakui bahwa dunia ini memang bercanda.
“Lucu…” gumamnya, hampir tidak terdengar.
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi. Matanya menatap langit-langit, tetapi pikirannya tidak ada di ruangan itu.
“Gue sudah lihat semuanya…” suaranya pelan, lebih seperti bicara pada dirinya sendiri.
“Orang salah dibebaskan. Orang benar dihancurka. Dan semua itu disebut prosedur.”
Tangannya mengepal, lalu mengendur lagi.
“Apa ini masih disebut hukum… atau cuma formalitas untuk menutupi siapa yang membayar lebih mahal?”
Ia diam sejenak. Lalu melanjutkan, lebih rendah.
“Negeri ini tidak akan runtuh karena perang…”
“…tapi karena orang-orang yang sudah berhenti peduli siapa yang harus jatuh.”
Pintu ruangan berderit pelan. Suara itu tidak keras, tapi cukup untuk memecah dunia kecil di dalam ruangan itu. Seorang laki-laki muda masuk dengan langkah hati-hati.
Namanya Asteroid Themis Arkananta.
Ada kisah dibalik nama tersebut
Di hamparan semesta yang sunyi, melintasi orbit yang tak terhitung jumlahnya, ada sebuah batu langit yang tidak seperti yang lain. Ia bukan sekadar pecahan dari masa lalu, melainkan saksi dari hukum yang menjaga keseimbangan jagat raya. Namanya adalah Asteroid Themis Arkananta.
Konon, asteroid ini terbentuk dari percikan cahaya ketika Themis menegakkan keadilan di antara para dewa dan manusia. Saat kebenaran dipertaruhkan, seberkas cahaya terpancar dari timbangannya cahaya itu tidak hilang, melainkan melesat ke langit, membeku menjadi sebuah asteroid yang terus berkelana.
Setiap kali dunia diliputi ketidakadilan, cahaya dari Arkananta dipercaya bersinar lebih terang, seolah mengingatkan bahwa kebenaran tidak pernah benar-benar ilang. Ia mungkin tersembunyi, mungkin terlupakan, tetapi selalu ada menunggu untuk ditemukan kembali.
Asteroid ini tidak memilih sisi, tidak berpihak pada kekuatan atau kelemahan. Ia hanya berpegang pada satu hal yaitu keseimbangan. Seperti Themis sendiri, ia adalah penjaga diam yang memastikan bahwa segala sesuatu kembali pada tempatnya.
Dan bagi mereka yang memahami maknanya, Asteroid Themis Arkananta bukan sekadar nama. Ia adalah simbol, bahwa di tengah luasnya semesta dan rumitnya kehidupan, keadilan adalah cahaya yang tak terbatas selalu ada, selalu bersinar.
Intinya orangtuanya suka dengan semesta. Ia baru beberapa detik berdiri di dalam ruangan, tapi langsung berhenti.
Matanya menangkap semuanya sekaligus. Kekacauan di lantai, berkas yang berserakan, botol kosong, dan pria di depan meja itu yang terlihat seperti belum tidur dengan benar dalam waktu yang terlalu lama.
Ia menghela napas pelan, bukan karena terkejut… tapi karena sudah mulai terbiasa melihatnya seperti ini. Tanpa banyak bicara, Aster mulai bergerak.
Ia berlutut, memungut kertas satu per satu. Menyusunnya kembali, meski beberapa sudah kusut dan tidak bisa benar-benar rapi lagi. Tangannya bergerak cepat, terlatih, seperti ini bukan pertama kalinya.
Alden tidak menoleh. Tapi ia tahu dia ada di sana.
“Pak…” suara Aster akhirnya pecah, pelan. “Anda belum pulang?”
Tidak ada jawaban langsung. Janya detik-detik panjang yang terasa seperti ditarik paksa.
“Gue gak ingat kapan terakhir kali pulang itu terasa masuk akal,” jawab Alden akhirnya.
Aster berhenti sebentar, lalu melanjutkan merapikan berkas di tangannya. Ia melihat satu halaman. Kasus yang sama. Ia menghela napas kecil.
“Ini lagi…” gumamnya. “Yang Anda bilang tidak mungkin lolos itu, kan?”
Alden tersenyum tipis tanpa menoleh.
“Di sini, yang gak mungkin…” katanya pelan, “…hanya berarti belum dibayar cukup mahal.”
Sunyi jatuh lagi. Aster tidak langsung menjawab.
Ia hanya melanjutkan pekerjaannya, tapi gerakannya sekarang lebih pelan.
Ada sesuatu yang tidak ia ucapkan sesuatu antara kasihan, lelah, dan mungkin sedikit rasa takut pada dunia yang sedang mereka tinggali.
Di luar, hujan masih turun. Dan di dalam ruangan itu. Seseorang sedang perlahan berhenti percaya bahwa hukum masih punya arti.
Sementara di tempat lain, di kota yang sama. Ada seseorang yang mulai percaya hal yang lebih berbahaya Kalau hukum tidak lagi bekerja…
Maka ia harus digantikan. Bukan dengan keadilan. Tapi dengan sesuatu yang tidak mengenal kata maaf.
---
*To be continued…*
Daftar bab
5 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








