
Kutukan Darah Ke 13
Akzara Mahyendra|Bersambung
- Jumlah kata
- 25.2K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
- Jumlah kata
- 25.2K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
Sinopsis
Terdesak kemiskinan ekstrem, Pak Mudita melakukan pesugihan dengan penguasa gaib tertinggi, Kyai Ageng Jayaseida. Namun, kekayaan itu tidak gratis—rumah mereka dijadikan "kantor" hirarki setan, dan keluarga Trah Mudita perlahan diperbudak secara gaib serta dipaksa mengorbankan kemanusiaan mereka sendiri demi mempertahankan harta.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1: Awal Mula
(Trah Mudita)
Dusun Karang Bringin selalu dikenal sebagai sudut terbuang di pinggiran Desa Bringin. Di dusun yang terapit oleh gundukan bukit batu, dan beberapa hutan di dekat banyaknya pohon beringin yang menghiasi tempat itu, berdirilah sebuah rumah panggung kayu beratap ilalang lapuk dengan nomor pendaftaran desa yang hampir terhapus: Gubuk No. 13. Di situlah Trah Mudita tinggal. Pria bertubuh kurus, tinggi itu sedang menikmati paginya dengan secangkir kopi sachet, dan koran usang di hadapannya. Ia mengelus-elus kumisnya yang tebal dan menonjol, dan mendecakkan lidahnya.
"Oalaah, sampai kapan hidup ku begini..? Rumah bagus tak punya, harta tak punya juga." keluhnya. Sempat beberapa tetangga nya lewat dan mencibirnya.
Beberapa kali sempat membuat ia muak dan ingin membuncahkan kemarahan. Tapi, ia tahan, karena ia orang yang miskin, tak punya kuasa untuk marah. Keluarga itu bukan sekadar miskin, mereka adalah tolak ukur kemiskinan di Karang Bringin. Mudita, pria paruh baya yang dahulunya seorang buruh cangkul harian, telah bertahun-tahun hidup dalam bungkukan tubuh yang layu akibat kelelahan dan rasa malu. Setiap kali berjalan melintasi pos ronda, sorot mata para tetangga dan cemoohan halus dari para tengkulak selalu menyambutnya. Bagi warga desa, Mudita adalah simbol kegagalan seorang kepala keluarga.
Ketidakberdayaan itu merembet ke dalam dinding kayu rumahnya. Sumi, istrinya, adalah wanita yang dulunya lembut namun matanya perlahan redup termakan penderitaan. Ia terbiasa menahan lapar demi memastikan kedua anaknya bisa makan nasi bercampur garam.
"Sudah to, biarkan saja, pak." sahut Sumi, seraya berjalan ke luar teras membawadua potong kue pasar yang ia beli di pasar pagi tadi dengan berhutang, untuk suaminya. Wanita paruh baya, bertubuh mungil, pendek itu memakai sendal lalu duduk di dekat suaminya. Ia merapihkan rambutnya yang awut-awutan, menguncirnya dengan karet gelang bekas.
Pak Mudita melihat istrinya sekilas, lalu mengerucutkan bibirnya, lalu melahap dua potong kue itu.
"Kue dari mana?" tanyanya ia melahap kue itu. Aroma manis kue klepon memenuhi mulutnya.
"Hutang, tadi pagi. Mas kamu itu ga mau nyari kerja di tempat lain...? Anak kita butuh sekolah! Mau sampe kapan Bagus dan Laras libur sekolah karena kita ga punya uang untuk biaya sekolahnya?" keluh Sumi. Mudita hanya terdiam dalam perasaan hina, karena dia di anggap gagal menjadi kepala keluarga.
Anak sulung mereka, Bagas (15 tahun), tumbuh menjadi pemuda yang pendiam dan peka. Bagus menyaksikan sendiri bagaimana harga diri ayahnya diinjak-injak hanya karena menunggak utang beras lima kilogram. Sedangkan si bungsu, Laras (8 tahun), adalah anak perempuan polos yang tumbuh dengan tubuh kurus dan wajah pucat akibat kurang gizi.
Bagi Trah Mudita, kemiskinan bukan lagi sekadar kekurangan uang, melainkan penyakit yang menggerogoti jiwa mereka pelan-pelan. Harus berapa topeng lagi yang mereka pakai untuk berhutang, dan menghadapi rasa malu yang kian membuat muka mereka hilang. Ibu Sumi merasa kecewa dengan suaminya yang hanya mengandalkan gaji buruh cangkul harian yang teramat sangat kecil.
Menjelang siang, matahari menggantung pucat di balik kabut tipis yang turun dari perbukitan. Angin berhembus melewati celah-celah dinding rumah panggung itu, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang membusuk. Di salam rumah, tidak ada suara selain detak jam tua yang sesekali berhenti sebelum kembali bergerak. Bau debu dan sarang laba-laba yang menggantung di ujung langit-langit memperkuat betapa kumuhnya rumah mereka.
Bagas duduk di sudut ruangan sambil memperhatikan buku pelajaran lamanya. Sampul buku itu telah menguning, beberapa halamanya copot. Tetapi ia tetap menjaganya baik-baik. Di hadapannya, Laras sedang menggambar menggunakan pensil pendek yang ujungnya hampir habis. "Kak.." panggil Laras pelan. Bagas mengangkat wajah, "Kenapa dek?" "Kalau kita sudah kaya nanti, kakak mau beli apa?" Bagas terdiam. Pertnyaan sederhana itu terasa jauh lebih berat daripada yang seharusnya.
Ia menatap adiknya. Untuk sesaat, ia ingin menjawab dengan sesuatu yang indah. Rumah baru, seragam sekolah, sepeda baru, atau makanan yang cukup. Atau mungkin sebuah kamar dengan jendela besar yang tidak berlubang. Namun, semua bayangan itu terasa seperti sesuatu yang hanya boleh mereka lihat dari kejauhan. "Yang penting Laras bisa sekolah lagi, jawab Bagas. Laras tersenyum kecil. "Aku mau beli sepatu." Laras menyunggingkan senyum simpul. "Sepatu?" "Iya, sepatu yang baru."
Bagas ikut tersenyum, meskipun hatinya terasa sesak. Dari luar, terdengar suara ibunya memanggil. "Bagas, lee...bantu ibu nak sebentar." Bagas segera bangkit. Di dapur kecil, Sumi sedang menghitung uang receh di atas meja. Koin-koin itu di susun menjadi beberapa kelompok, lalu di hitung kembali. Setelah selesai, ia menghela nafas panjang. "Oalaah, masih kurang..." gumamnya. "Untuk apa, to Bu?" Sumi tidak langsung menjawab. Ia memasukkan uang itu ke dalam kaleng bekas biskuit. "Uang hutang beras...!" Bagas menunduk. "Berapa bu...?" "Entahlah...! Bapak mu ini loh, kalo nda mau nyari kerja di tempat lain, ibu harus lebih banyak berhutang!" Bagas mengernyit. "Tapi, bu...." "Sudah, kamu diam saja...!" Nada ketus Sumi membuat Bagas terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang berbeda pada wajah ibunya. Bukan sekedar lelah. Ada ketakutan yang di sembunyikan terlalu lama. Sementara itu, Mudita berdiri seorang diri di belakang rumah. Ia memandang kebun kecil yang bahkan, tanahnya keras, kering, dan tandus. Cangkul tua itu tergeletak di dekat pagar bambu. Tangannya menggenggam gagang cangkul tersebut, tetapi tidak ada tenaga untuk mengangkatnya. Di kepalanya, suara-suara para tetangga kembali berputar.
"Orang miskin jangan banyak gaya."
"Anaknya sampai tidak sekolah."
"Kasihan Ibu Sumi, dapat suami macam begitu."
Mudita memejamkan mata. Dadanya terasa panas.
Selama bertahun-tahun ia menerima hinaan itu dalam diam. Ia bekerja ketika ada orang yang membutuhkan tenaga. Mengangkat benda, mencangkul sawah, memberishkan kebun. Namun, setiap rupiah yang di perolehnya, habis. Bahkan sebelum sempat terasa sebagai miliknya. Hari itu, untuk pertama kalinya, muncul sebuah pikiran yang selama ini selalu ia tolak.
Bukan bekerja lebih keras.
Bukan meminjam uang.
Bukan meminta belas kasihan.
Melainkan, mencari seseorang yang dapat membuat kemiskinan itu berakhir seketika.
Mudita pernah mendengar cerita tentang orang-orang yang mendadak kaya setelah mendatangi tempat-tempat tertentu. Cerita itu selalu di sampaikan dalam bisikan, seolah nama yang di sebut tidak boleh terdengar oleh telinga manusia biasa. Ia pernah menertawakannya, Namun kini, ketika melihat rumahnya, istri dan kedua anaknya, tawa itu tidak akan muncul lagi. Sore harinya, seorang lelaki tua datang ke rumahnya.
Mudita mengenalnya sebagai Mbah Sarda, seorang pengembara yang sesekali datang ke Karang Bringin. Lelaki itu berdiri di depan pagar tanpa mengucapkan salam. Tatapannya langsung menuju rumah Mudita. Rambut gimbalnya terlihat menyeramkan. Dengan aksesoris tulang-tulang yang menghantung di lehernya. Dan pakaian serba hitamnya, dia berkata... "Masih tinggal di sini, panjenengan..?" tanyanya. Pak Mudita mengangguk. "Njeh, Mbah...tesih." Mbah Sarda memperhatikan rumah itu beberapa saat. "Njeh mbah, karena rumah ini bekas peninggalan almarhum ayah saya."
Mata Mbah Sarda berhenti pada papan kayu tua yang tergantung di depan pintu. Nomornya hampir tidak terbaca. 13. Wajah lelaki tua itu berubah. "Jangan pernah meminta kekayaan kepada sesuatu yang tidak mengenal belas kasihan!" sahutnya. Mudita mengerutkan kening. "Maksud Mbah Sarda...?" Mbah Sarda tidak menjawab. Ia hanya berjalan pergi meninggalkan rumah itu. Sebelum menghilang di balik pepohonan beringin, ia berkata lirih...
"Kalau panjenengan ingin kaya, ikuti kata-kata ku..!"
Sore pun turun dengan hening. Pak Mudita bergidik ngeri.
Daftar bab
22 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








