

"Sial! Deras banget hujannya!" Asep mengumpat kencang saat tiba-tiba terguyur hujan deras.
Dia lalu mempercepat tarikan gas untuk masuk ke restoran dan melepas atribut ojeknya yang sudah basah kuyup.
"Untung kemejanya aman," gumamnya menatap kemeja yang ia masukkan ke dalam kantong plastik.
Dia lalu segera berganti pakaian, tapi sayangnya penampilannya tidak berubah signifikan.
Celana bahan yang dikenakannya sudah lembab, sementara sepatu kulit andalan yang hanya dipakai untuk acara-acara penting, sudah terisi penuh dengan air.
Asep menunduk menatap sepatu itu sejenak sebelum menghela napas dan melangkah masuk ke dalam pintu restoran.
Hari ini adalah acara reuni kelasnya di SMA setelah lebih dari 20 tahun lulus.
Karena itu, saat mengetahui lokasi reuni ternyata dekat dengan tempat tinggalnya, Asep langsung memutuskan untuk datang.
Selama seminggu terakhir, dia on-bid lebih lama untuk menambah penghasilan. Itu semua agar tidak kekurangan uang saat makan bersama teman-teman lamanya nanti.
Setelah bertanya pada pelayan letak ruangan, Asep langsung diantar menuju meja tempat teman-temannya berkumpul.
Dari jauh, Asep bisa melihat kalau teman-temannya yang duduk itu berpakaian rapi dengan setelan jas serta gaun mahal. Asyik menikmati makanan sambil mengobrol santai.
"Halo, semua!" seru Asep sambil melambai ke arah meja tersebut. "Duh maaf banget terlambat, di luar hujan deras banget. Untung nggak banjir!"
"Eh, Septian! Tumben datang! Lagi ketiban rezeki?" sahut seorang perempuan sambil menatap remeh ke arah Asep.
Septian adalah nama lengkap Asep. Ia dipanggil Asep sebagai plesetan dari 'Apes' karena selalu dilingkupi kesialan.
Sambil tersenyum lebar, Asep mendekat ke arah meja. Ia menarik salah satu kursi, lalu duduk bersama teman-temannya yang menyambutnya dengan cukup antusias.
"Bener-bener gak berubah lo ya! Dari jaman SMA sampe sekarang, masih aja naik motor!" sahut seorang pria, Robi, sambil tertawa.
"Iya lagi. Konsisten banget lo, Sep! Hahaha! Memang nggak mau naik mobil?" sahut Abdi menimpali.
"Tau nih. Makanya lebih keras dong kerjanya! Biar beli mobil!" tanya Robi dengan nada merendahkan.
Beberapa orang di meja tersebut pun ikut tertawa mendengar lelucon Robi.
Asep tidak merespon, bukan karena tidak marah, tapi karena ucapan mereka memang benar. Sejak kecil hidupnya memang sangat jauh dari kata cukup. Setelah orang tuanya meninggal, Asep terpaksa hidup seadanya di panti asuhan. Karena itu, kemiskinan memang sudah mewarnai hidupnya sejak dulu.
Motor yang ia miliki saat ini pun hanya motor butut peninggalan ayah angkatnya. Hanya motor tersebut lah satu-satunya benda mewah yang diberikan kepadanya sebelum ayah angkatnya meninggalkannya dengan terlalu cepat. Motor inilah yang ia pakai untuk menopang hidup sampai sekarang, dengan menjadi tukang ojek online.
"Beb! Jangan gitu ah!" desis seorang wanita bernama Gita sambil menyenggol lengan Robi.
Wanita yang masih terlihat sangat cantik di usia empat puluhannya itu adalah cinta pertama Asep sewaktu sekolah.
Sayangnya, ada pria yang jauh lebih beruntung dari Asep, dan pria tersebut adalah Robi.
Kalau Asep adalah pria yang sangat sial, Robi malah sebaliknya. Hidup Robi sudah bergelimang harta sejak ia masih di dalam rahim.
Ayahnya adalah seorang anggota dewan daerah, yang sudah memastikan kalau anaknya tidak akan kekurangan apapun selama hidupnya.
Bahkan Robi selalu diantar oleh supir kemanapun ia pergi.
Selepas SMA, Robi langsung berangkat untuk kuliah di luar negeri, sebelum akhirnya pulang, menikahi Gita dan melanjutkan jejak karir ayahnya sebagai anggota dewan hingga saat ini.
"Jadi, lo kerja apaan sekarang?" tanya Abdi penasaran.
"Ojek online, Di," ujar Asep pelan.
"Ojek online? Emang cukup buat bayar makanan di sini, Sep?" tanya Abdi sambil menahan senyumnya.
"Cukup kok, Di. Aman," ujar Asep sambil tersenyum.
Abdi adalah sahabat dekat Robi. Kelas ekonomi keluarga Abdi sewaktu sekolah sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Asep dan teman-teman mereka yang lain.
Hanya saja, Abdi berhasil memanjat tangga sosial dengan cara menjilat sahabatnya. Dengan bantuan Robi lah, ia bisa mencapai kesuksesannya hingga saat ini.
"Gapapa Sep, biar gue yang bayarin," ujar Robi santai.
"Eh, ga usah Rob! Aku bisa kok!" sahut Asep panik.
"Terima aja, Sep. Ga usah dipaksain. Mending duitnya lo pake buat idup sehari-hari. Lumayan tuh bisa buat makan sebulan! Hahaha!" sahut Abdi sambil tertawa.
Robi dan teman-teman Asep yang lain pun ikut tertawa. Hanya Gita yang tidak ikut tertawa, ia tetap merasa kalau ucapan suaminya dan Abdi terhadap Asep itu berlebihan.
Namun Asep tetap tersenyum, bercandaan seperti ini sudah tidak mempan lagi untuknya, sudah bertahun-tahun ia berusaha menerima nasibnya sebagai yatim piatu yang tidak pernah beruntung dalam hidup.
Makan malam pun berlanjut dalam gelak tawa, sampai Robi berinisiatif untuk melanjutkan acara malam ini.
"Eh, lanjut karaoke yuk!" sahut Robi mengusulkan.
"Boleh boleh!" sahut teman-teman mereka bersamaan.
Semua orang pun terlihat bersemangat, termasuk Asep. Walau ada percakapan yang tidak menyenangkan sebelumnya, tetap saja ia senang karena bisa kembali menghabiskan waktu bersama teman-temannya, di tengah hidupnya yang sepi belakangan ini.
"Lo ikut juga Sep? Yakin? Harga minumannya mahal loh di sana!" sahut Abdi dengan nada merendahkan.
"Gapapa Di, yakin kok," ujar Asep yakin.
"Udah gapapa, ada gue," ujar Robi santai. "Gue yang traktir, Sep. Biar lo juga bisa ngerasain minuman mahal. Kapan lagi, kan?"
Saat semua teman-temannya kembali tertawa karena bercandaan Robi, Asep hanya mengangguk pelan sambil tersenyum kecut. Dalam hati ia berniat untuk membayar sendiri apa yang diminumnya nanti, walaupun itu akan menghabiskan isi dompetnya.
Semuanya kompak beranjak dari kursi ketika makan malam selesai dan sepakat untuk bertemu di tempat karaoke yang sudah ditentukan. Namun sayangnya, ketika mereka berjalan keluar dari pintu depan, ternyata hujan masih turun dengan derasnya.
"Mau ikut kita aja, Sep?" tanya Gita dengan lembut.
"Iya. Motor lu simpen aja dulu sini!" ujar Robi sambil melirik ke arah motor Asep. "Gak bakal ada yang ngambil juga, motor tua gitu!"
"Gapapa. Kalian duluan aja, kalau hujan reda nanti aku nyusul," ucap Asep sambil tersenyum.
Semua teman-temannya pun melambai ke arah Asep sambil memasuki mobil masing-masing.
Saat semua mobil mewah tersebut sudah melaju pergi, Asep berjongkok di depan kaca restoran sambil menyalakan rokok dan menunggu hujan reda.
Cukup lama Asep menunggu di depan restoran, beberapa batang rokok sudah habis ia hisap, tapi hujan belum juga reda.
Asep lalu mengeluarkan ponsel dan membuka sosial medianya. Sebuah unggahan tiba-tiba menarik perhatiannya, sebuah foto beramai-ramai dalam sebuah ruangan karaoke dengan keterangan:
"Reuni seru angkatan 2015."
Cukup lama Asep memandangi foto tersebut. Tidak ada wajahnya, tentu saja. Tapi ia juga bisa membayangkan betapa tidak cocoknya ia masuk di antara mereka, di antara pakaian-pakaian mewah itu, di antara senyuman akrab itu.
"Pulang aja lah!" ujar Asep sambil mematikan rokoknya.
Asep lalu menyalakan motornya, tidak peduli seberapa deras hujan menghantam tubuhnya, ia tetap memutuskan untuk pulang.
Dalam perjalanan pulang, Asep melewati jalur yang biasa ia lewati bersama teman-temannya dulu sepulang sekolah, jalur ini menuju warnet langganan mereka, tempat biasa mereka bermain game online sepulang sekolah.
Demi menghargai sisa rasa nostalgia yang masih bergemuruh di dadanya, Asep menepi dan singgah di warnet tersebut.
"Paket begadang, Bang!" sahut Asep sambil mencari komputer kosong.