Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Nakalnya Si Joni

Nakalnya Si Joni

Coky Junior | Bersambung
Jumlah kata
52.3K
Popular
2.0K
Subscribe
532
Novel / Nakalnya Si Joni
Nakalnya Si Joni

Nakalnya Si Joni

Coky Junior| Bersambung
Jumlah Kata
52.3K
Popular
2.0K
Subscribe
532
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifePertualangan21+Rumah Tangga
Kisah si Joni yang selalu beruntung. Meski sudah punya istri cantik, masih saja kepengen cewek lain. Profesinya sebagai tukang ojeg, membuatnya harus mencari usaha lain. Bagaimana kisah asmaranya? Apakah istri pertama Joni akan tahu? Ikuti petualangannya yang penuh intrik.
Bab 1-Kolor Kebalik

"Mas Joni, aku berangkat dulu ke pasar!" seru Risma yang sudah menenteng tas besar.

"Ya, Ris! Hati-hati di jalan!" sahut Joni yang lagi nyuci motornya.

"Oh ya, Mas! Aku lagi masak nasi, tapi belum matang. Nanti tolong matikan kompor dan angkat kalau udah matang ya, Mas!" seru Risma mengingatkan.

"Iya, Ris! Nanti Mas angkat!" sahutnya dengan santai.

Setelah Risma pergi beberapa menit, pandangan Joni teralihkan oleh sosok wanita sedang menjemur pakaian samping rumahnya.

Wanita yang usianya sekitar 30'an itu hanya menutupi tubuhnya yang montok dengan handuk. Gak henti-hentinya Joni menatapnya, tanpa berkedip sedetik pun.

Wanita yang dikenalnya beberapa bulan dan baru pindah itu, memang hidupnya selalu ditinggal suaminya. Suaminya sibuk dengan bisnisnya, dan sering dinas ke luar kota, hingga dia jarang pulang ke rumah.

Joni memanggilnya tante Lisa, karena dia merasa lebih muda dari wanita itu. Tante Lisa yang merasa terus diperhatikan oleh Joni, sengaja berlama-lama saat menjemur pakaiannya. Kadang dia melirikkan matanya ke arah Joni, yang membuat Joni jadi salah tingkah.

Joni menghentikan aktifitas mencuci motornya yang belum selesai dan masih kotor. Lalu dia melangkah ke pinggir tembok pagar rumahnya yang sebatas pinggang.

"Tante! Boleh saya bantu menjemur pakaiannya?" tanya Joni berpura-pura.

"Gak usah, Jon! Tinggal sedikit lagi koq," jawabnya dengan senyum manja.

"Saya belum pernah berkunjung apa lagi masuk ke dalam rumah Tante, bolehkan saya main dan masuk ke rumah Tante?" tanya Joni berharap.

"Boleh! Siapa yang melarang?" tanya balik Tante Lisa yang semakin menggoda hati Joni.

Joni masih menatap tubuh mulus Tante Lisa yang hanya berbalut handuk saja. Tubuh Tante Lisa yang memang montok dan dadanya membusung tajam ke depan, membuat air liur Joni seakan menetes.

Tanpa ragu lagi, Joni pun masuk ke dalam rumah Tante Lisa yang terlihat bersih dan tertata rapi. Begitu dia masuk, harum aroma parfum yang sangat menyegarkan tercium olehnya, yang membuat suasana semakin romantis.

Tante Lisa masih belum berganti pakaian, dia masih membalut tubuhnya dengan handuk saja. Jantung Joni semakin berdegup dengan kencangnya. Joni yang hanya memakai celana kolor sebatas dengkul dan kaos oblong, meraba ke arah pangkal pahanya.

Dia merasa, adiknya sudah bangun dan tegang berdiri sejak tadi. Hingga kolor yang dipakainya terlihat munjung akibat adiknya terbangun.

"Jon, mau Tante buatkan kopi?" tanya Tante Lisa menawarkan.

"Oh, boleh!" sahutnya sambil menatap bokong Tante Lisa saat melangkah ke dapur.

Joni terus meraba-raba dan mengelus adiknya yang masih tegang itu. Beberapa saat kemudian, Tante Lisa sudah kembali sambil membawa secangkir kopi hitam, dan meletakkan di atas meja.

Tanpa disengaja oleh Tante Lisa, dia melihat ke arah pangkal paha Joni yang sudah berdiri tegang.

"Silakan diminum kopinya, mumpung masih panas!" serunya sambil duduk di samping Joni.

Tante Lisa melirik ke arah selangkangan Joni yang membuatnya gemas ingin mencekalnya dengan kuat.

"Kenapa Tante senyam senyum sendiri? Apa ada yang aneh dengan saya?" tanya Joni pura-pura heran.

"Gak apa-apa, Jon! Itu adiknya sudah bangun!" sahut Tante Lisa sambil menunjuk dengan muncung bibirnya ke arah selangkangan Joni.

Merasa adiknya diperhatikan, dia segera merapikan kolornya, tapi tetap saja masih terlihat dengan jelas.

"Kenapa, Jon? Kamu malu?" tanya Tante Lisa yang tangannya mulai meraba paha Joni. Dan perlahan-lahan tangannya mulai menjalar ke bagian tempat bersemayam adiknya Joni.

Jantung Joni berasa ingin copot dan jatuh ke lantai, saat adiknya dicekal dengan lembut oleh Tante Lisa.

"Jon! Kamu bisa memijit, gak?" tanya Tante Lisa.

"Bisa, Tante! Malah saya sering memijit istri saya," jawab Joni.

"Kalau begitu, tolong pijitin Tante dong!" pintanya.

"Oh, boleh!" sahut Joni bersemangat.

"Tapi jangan di sini, Jon! Malu nanti dilihat orang," elak Tante Lisa.

"Di mana, Tante?" tanya Joni polos banget.

"Di dalam kamar, kan enak Tante bisa sambil rebahan," jawabnya.

Sesaat Joni terpana dengan ajakan Tante Lisa yang memintanya memijit dalam kamarnya. Tangan Joni dipegang oleh Tante Lisa, lalu menariknya ke dalam kamar.

Saat Joni masuk ke dalam kamar Tante Lisa, tercium harum semerbak yang membuat adiknya semakin tegang.

Tante Lisa merebahkan tubuhnya dengan posisi telungkup, Joni semakin bergetar saat melihat posisi tante Lisa tersebut. Birahi Joni bergejolak semakin kuat, napasnya tersengal-sengal.

"Jon! Punggung Tante tolong dipijat!" pintanya.

Joni mendekat ke arah ranjang Tante Lisa, dan mulai memijat punggung Tante Lisa dengan perlahan.

"Lebih kuat lagi, Jon!" pinta tante Lisa.

Jari-jari Joni mulai gemetar, air liurnya sudah keluar dan menetes. Handuk yang dipakai Tante Lisa, perlahan-lahan mulai tersingkap. Tangan Tante Lisa sengaja menyingkapkan handuknya agar terlepas semua.

Joni semakin terangsang, birahinya sudah tidak bisa dibendungnya lagi. Tangan kanan Joni terus memijat punggung Tante Lisa, sedangkan tangan kirinya mengelus paha tante Lis yang mulus dan halus.

Tante Lisa mulai mendesah pelan, tangannya pun mulai meraba bagian sensitif Joni.

"Jon!" panggilnya.

"Ya, Tante!"

"Tante udah gak kuat," sahutnya.

Joni melihat adiknya diremas-remas oleh tangan halus Tante Lisa. Tangan Joni pun mulai menyingkap handuk Tante Lisa hingga terbuka semuanya.

Terlihat tubuh Tante Lisa tanpa sehelai benang pun, membuat Joni panas dingin.

"Jon, oh...!"

Tante Lisa terus mengocok adiknya Joni dengan cepat. Karena Joni cuma memakai kolor yang gak begitu ketat, Tante Lisa dengan mudah melorotkannya.

Tangan kanan Joni yang masih memijat punggung Tante Lisa, mulai gerayangan ke bagian gunung kembar. Harum tubuh Tante Lisa pun semakin membuat Joni melayang dan mabuk kepayang.

Tiba-tiba Tante Lisa bangun dan duduk, dan wajahnya tepat di depan adiknya Joni.

Joni yang bediri di pinggir ranjang, dibuat kelepek-klepek, saat adiknya dikulum oleh Tante Lisa.

Tante Lis terus mengulum adiknya Joni dengan ganas, Joni semakin gak karuan saja.

Kedua tangannya meremas gunung kembar Tante Lisa, dan pinggulnya didorong ke depan ke belakang. Tante Lisa kemudian merebahkan tubuhnya dengan posisi terlentang, darah Joni semakin mendidih dibuatnya.

Joni membenamkan wajahnya di pangkal paha Tante Lisa. Joni mulai menjilati dan mencium bagian sensitif Tante Lisa yang harum kayak duren baru mateng.

Tante Lisa mendesah halus dan panjang, seakan mendapat kenikmatan yang jarang didapat dari suaminya sendiri.

"Ooh...!"

Joni terus menjilati bagian sensitif Tante Lisa itu, sesekali jarinya dimasukan ke dalam goa penuh rumput ilalang.

Desahan Tante Lisa membuat Joni udah gak tahan, ingin memasukan adiknya ke liang goa itu.

"Jon,.. Tante gak kuat!"

Cepat dong, Jon!" pinta Tante Lisa terus mendesah.

Wajah Joni naik ke gunung kembar milik Tante Lisa, dan adiknya mulai dimasukan ke goa Tante Lisa.

Beberapa kali Joni mencoba memasukan adiknya, belum berhasil. Joni merasa, Tante Lisa masih perawan meski udah menikah. Adiknya Joni sering terpeleset saat masuk ke goa Tante Lisa.

"Jon, Tante masih perawan!" ungkap Tante Lisa.

"Apa? Bukankah Tante udah lama menikah?" tanya Joni pura-pura bego.

"Tante belum pernah disentuh sekalipun oleh suami," ungkapnya lagi.

"Pantas saja! Adik saya kewalahan masuk," celetuk Joni.

"Pelan-pelan ya, Jon! pinta Tante Lisa.

Joni berusaha menjebolkan adiknya ke gawang yang belum pernah kemasukan itu. Setelah beberapa kali dicoba, akhirnya Joni berhasil menjebolkan gawang tersebut.

"Ooh...!"

Joni mulai menggejot tubuhnya dengan kuat. Desahan panjang Tante Lisa semakin membuat napasnya memburu.

"Joni,.. Ooh...!"

Gerakan pinggul Joni semakin cepat, adiknya pun semakin cepat gerakannya. Tubuh Tante Lisa menggelinjang akibat gerakan adik Joni yang begitu cepatnya.

"Ooh... Jon,..!"

Joni merasakan goa Tante Lisa memang sempit, adiknya gak kuat pengen muntah saking sempitnya goa itu.

Joni mencapai klimaksnya, sedangkan Tante Lisa belum.

Tante Lisa sedikit kecewa dengan muntahnya adik Joni yang begitu cepat. Padahal dia belum mencapai klimaksnya.

"Jon! Adik kamu payah sekali!" gerutu Tante Lisa.

"Maaf, Tante! Mungkin yang kedua kalinya agak lama muntahnya," elak Joni yang kepengen lagi.

"Sudahlah! Lihat itu, adikmu sudah tidur!" seru Tante Lisa sambil menunjuk ke arah adiknya Joni yang mulai tidur.

Tiba-tiba ada panggilan dari luar rumah memanggil Joni.

"Mas Joni! Mas di mana?"

Lanjut membaca
Lanjut membaca