
Sistem Terserah Tuan Rumah
R251Aje|Bersambung
- Jumlah kata
- 44.4K
- Popular
- 197
- Subscribe
- 43
- Jumlah kata
- 44.4K

R251Aje|Bersambung
Raka hanya punya dua pilihan setelah dipecat dari pekerjaannya, pulang sebagai pecundang atau mempertaruhkan sisa uangnya untuk mengubah hidup. Ia memilih yang kedua. Namun sebelum sempat mengambil keputusan, sebuah kecelakaan membuat hidupnya berakhir. Ketika membuka mata, Raka justru mendapatkan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan—sebuah sistem misterius yang memilihnya sebagai tuan rumah. Anehnya, sistem itu tidak memberinya misi. Tidak juga menyelesaikan tugas. Bahkan tidak peduli jika Raka memilih bermalas-malasan sepanjang hari. Satu-satunya aturan sistem hanya tiga kata. Terserah Tuan Rumah. Awalnya Raka mengira dirinya mendapatkan sistem paling tidak berguna di dunia. Sampai ia menemukan satu fitur tersembunyi yang membuatnya sadar bahwa dirinya telah mendapatkan kesempatan kedua untuk menjadi kaya. Ia bisa mendapatkan keuntungan berlipat hanya dengan membantu orang biasa menghasilkan uang. Dari seorang pedagang kecil yang hampir bangkrut, Raka mendapatkan bisnis pertamanya. Berawal dari seorang petani yang kesulitan menjual hasil panen, ia membangun jaringan distribusi. Dari toko kecil, ia membangun perusahaan. Lewat sebuah perusahaan kecil, ia membangun kerajaan bisnis. Dan setiap kali banyak orang ikut mendapatkan keuntungan, saldo kekayaannya justru meningkat semakin gila. Namun ada satu hal yang jauh lebih mengejutkan daripada sistem tersebut. Sistem itu ternyata memiliki seorang penjaga. Wanita cantik bernama Sera. Cantik, seksi, cerdas, dan selalu muncul di saat Raka membutuhkan bantuan. Sera mampu menghitung peluang bisnis dalam hitungan detik, membaca situasi pasar, bahkan membuat para pengusaha besar tidak berkutik. Masalahnya, Sera terlalu patuh. Apa pun yang dianggap Raka sebagai perintah akan dilakukannya tanpa ragu. Akibatnya, niat Raka untuk membuka usaha kecil berubah menjadi perusahaan raksasa. Keinginannya membeli sebuah toko berubah menjadi akuisi seluruh jaringan bisnis. Bahkan ketika Raka hanya ingin hidup tenang, namanya justru mulai dikenal sebagai pengusaha misterius yang mampu mengguncang dunia. Orang-orang yang dahulu menertawakannya mulai berebut ingin menjadi temannya. Para pengusaha besar mulai mencarinya. Musuh-musuh mulai mengincarnya. Dan semakin kaya Raka, semakin banyak pula rahasia yang terungkap tentang sistem yang berada di dalam tubuhnya. Ternyata sistem tersebut tidak muncul secara kebetulan. Ada alasan mengapa Raka dipilih, Sera bisa menjadi manusia. Dan ada seseorang yang sejak awal diam-diam mengendalikan semua kejadian dalam hidupnya. Ketika kebenaran akhirnya terbuka, Raka dihadapkan pada pilihan yang bahkan tidak bisa diselesaikan dengan uang sebanyak apa pun. Ia bisa mengambil seluruh kekuatan sistem dan menjadi manusia paling berkuasa di dunia. Atau kehilangan Sera untuk selamanya.
Hujan turun deras malam itu ketika Raka berdiri sendirian di bawah kanopi sebuah minimarket, menatap layar ponselnya yang retak. Saldo rekeningnya tinggal Rp127.500. Di layar yang sama, sebuah pesan dari mantan atasannya masih terbuka. "Besok tidak perlu datang lagi."
Raka membaca pesan itu untuk ketiga kalinya sebelum akhirnya tertawa kecil. “Hebat,” gumamnya. “Tiga tahun kerja, akhirnya cuma dapat pesan singkat.”
Ia memasukkan ponsel ke dalam saku celana. Perutnya sudah lapar sejak siang, tetapi uang yang tersisa harus cukup untuk bertahan beberapa hari. Kontrakan masih harus dibayar. Tagihan listrik menunggu. Belum lagi utang kepada pemilik warung di dekat tempat tinggalnya.
Raka berjalan menerobos hujan. Ia tidak punya payung. Tidak punya kendaraan. Dan malam itu, ia benar-benar tidak tahu harus pergi ke mana. Tiba-tiba saja sebuah mobil melaju kencang dari arah belakang. Raka hanya sempat mendengar suara klakson panjang.
“AWAS!”
BRAK!
Tubuhnya terlempar. Dunia mendadak berputar. Suara hujan semakin jauh. Lampu kendaraan berubah menjadi garis-garis cahaya yang kabur. Lalu semuanya menjadi gelap.
“Apakah Tuan Rumah sudah sadar?” Suara seorang wanita terdengar begitu dekat.
Raka membuka mata perlahan. Semuanya putih. Tidak ada rumah sakit, dokter, atau suara mesin. Ia justru berdiri di sebuah ruangan kosong yang tidak memiliki dinding, lantai, maupun langit-langit.
Raka menatap sekeliling. “Ini di mana?”
“Ruang kesadaran.”
“Ruang apa?”
“Ruang kesadaran.”
Raka mengerutkan kening. “Jangan ulangi jawaban yang sama.”
“Baik.” Seketika seorang wanita muncul di hadapannya.
Raka terdiam. Wanita itu mengenakan gaun hitam sederhana dengan rambut panjang yang jatuh melewati bahunya. Wajahnya terlalu sempurna untuk terlihat nyata. Kulitnya putih bersih, matanya tajam, dan senyum tipis di bibirnya membuatnya terlihat seperti seseorang yang tahu terlalu banyak rahasia.
Raka tanpa sadar mundur selangkah. “Kamu siapa?”
“Sistem.”
“…” Raka menatapnya cukup lama. Kemudian ia mengusap wajah. “Sepertinya aku belum sadar.”
“Saya bisa memastikan bahwa Tuan Rumah sudah sadar.”
“Kalau begitu aku pasti mati.”
“Benar.” Jawaban itu terlalu cepat.
Raka membeku. “Apa?”
“Tubuh Tuan Rumah sudah kehilangan fungsi kehidupan.”
Raka menatap wanita itu dengan wajah pucat. “Jadi aku sudah mati?”
“Benar.”
“Lalu kenapa aku masih bisa bicara?”
“Karena kesadaran Tuan Rumah telah dipilih.”
“Dipilih oleh siapa?”
“Sistem.”
Raka menghela napas panjang. Entah kenapa semuanya terdengar seperti lelucon buruk.
“Jadi sekarang aku punya sistem?”
“Benar.”
“Ada misi?”
“Tidak ada.”
“Hadiah?”
“Tidak ada.”
“Hukuman?”
“Tidak ada.”
Raka semakin bingung. “Lalu gunanya apa?”
Wanita itu menatapnya tenang. “Semuanya terserah Tuan Rumah.”
Raka terdiam. “Hanya itu?”
“Benar.”
“Jadi sistem ini tidak akan memberiku misi?”
“Tidak.”
“Tidak akan memberiku target?”
“Tidak.”
“Tidak akan memberiku perintah?”
“Tidak.”
Raka menggaruk kepalanya. “Kalau begitu kau sistem paling malas yang pernah ada.”
Wanita itu tidak tersinggung. “Sistem tidak memiliki sifat malas.”
“Lalu apa yang bisa kau lakukan?”
“Saya bisa membantu Tuan Rumah.”
“Bagaimana?”
“Memberikan informasi, membuka kemampuan, menyediakan peluang, dan memberikan hadiah sesuai perkembangan Tuan Rumah.”
Raka menyipitkan mata. “Hadiah?”
“Benar.”
“Kalau begitu aku mau uang.”
“Berapa?”
Raka langsung terdiam. Ia tidak menyangka sistem akan bertanya seperti itu.
“Seratus juta.”
“Permintaan terlalu besar untuk tahap awal.”
“Sepuluh juta?”
“Masih terlalu besar.”
“Lima juta?”
“Masih terlalu besar.”
Raka menghela napas. “Seratus ribu?”
“Bisa.”
Raka hampir tersenyum. Namun sebelum ia sempat meminta, wanita itu melanjutkan. “Dengan syarat Tuan Rumah memperoleh keuntungan pertama melalui kemampuan sendiri.”
“Jadi kau tidak akan memberiku uang gratis?”
“Benar.”
Raka menghela napas. “Kalau begitu apa kelebihanmu?”
Wanita itu mengangkat tangannya. Sebuah layar transparan muncul di udara.
[SISTEM TERSERAH TUAN RUMAH]
Status: Aktif
Modal Awal: Rp100.000
Kemampuan: Analisis Peluang Dasar
Fitur Terkunci: Kekayaan Rakyat
Raka menatap angka modal awal itu. Ia tertawa.
“Serius?”
“Serius.”
“Aku baru saja mati dan mendapatkan sistem dengan modal seratus ribu?”
“Benar.”
“Bahkan orang yang baru membuka warung punya modal lebih besar.”
“Sistem tidak dapat menyangkal pernyataan tersebut.”
Raka menatap wanita itu, ia merasa sistem ini benar-benar aneh. “Kalau begitu, aku mau kembali.”
“Ke dunia manusia?”
“Ya.”
“Keadaan dunia tidak sama seperti sebelumnya.”
Raka terdiam. “Apa maksudmu?”
“Satu tahun telah berlalu sejak kematian Tuan Rumah.”
Wajah Raka berubah. “Satu tahun?”
“Benar.”
“Lalu keluargaku?”
“Informasi tersedia.”
Raka menelan ludah. Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, cahaya putih menyelimuti tubuhnya. “Satu hal lagi,” kata wanita itu.
“Apa?”
“Saya memiliki nama.”
Raka menatapnya. “Siapa?”
Wanita itu tersenyum tipis. “Sera.”
Cahaya semakin terang.
“Selamat datang kembali, Tuan Rumah.”
Raka membuka mata. Bau obat langsung menusuk hidungnya. Langit-langit putih berada tepat di atas kepalanya. Suara monitor terdengar dari samping. Ia berada di rumah sakit.
Seorang perawat yang sedang memeriksa alat langsung terkejut. “Dokter! Pasien nomor tiga sadar!”
Beberapa menit kemudian, ruangan dipenuhi dokter. Raka hanya diam. Semuanya terasa nyata. Ia benar-benar kembali. Setelah menjalani pemeriksaan selama beberapa jam, Raka akhirnya ditinggalkan sendirian.
Tangannya meraba saku celana. Ponselnya masih ada. Layarnya masih retak. Namun ketika dinyalakan, tanggal yang tertera membuat dadanya sesak. Benar. Satu tahun telah berlalu. Raka membuka daftar kontak. Beberapa nomor sudah tidak aktif. Ia mencoba menghubungi teman lamanya. Tidak tersambung. Ia mencoba nomor pemilik kontrakan. Nomor itu juga sudah tidak aktif.
Raka menatap layar dengan perasaan kosong. Hidupnya yang lama benar-benar sudah berakhir. Kemudian suara familiar terdengar di kepalanya.
[Tuan Rumah telah kembali.]
Raka tersentak. “Kau masih di sini?”
[Sistem selalu berada bersama Tuan Rumah.]
Raka menarik napas. “Buka status.”
Layar transparan muncul.
[Saldo Sistem: Rp100.000]
[Kemampuan Analisis Peluang Dasar: Aktif]
[Fitur Kekayaan Rakyat: Terkunci]
[Syarat pembukaan: Menghasilkan keuntungan pertama sebesar minimal Rp10.000.]
Raka menatap angka itu. Sepuluh ribu rupiah. Jumlah yang dulu mungkin dianggap kecil. Tetapi sekarang, justru menjadi langkah pertamanya. “Baik.”
Ia turun dari ranjang. Kakinya masih sedikit lemas. Namun matanya berbeda. Setelah sekian lama akhirnya Raka memiliki kesempatan untuk memulai lagi.
Ia tidak tahu bagaimana masa depannya. Tetapi ia tahu satu hal. Ia tidak akan kembali menjadi orang miskin yang hanya menunggu nasib. Raka keluar dari rumah sakit. Di luar, kota telah berubah. Gedung-gedung baru berdiri di tempat yang dulu kosong. Harga tanah melonjak. Bisnis berkembang. Dan di sebuah gang kecil tidak jauh dari rumah sakit, Raka melihat seorang wanita tua sedang berusaha menjual puluhan kotak makanan yang hampir tidak laku.
Raka berhenti. Matanya tertuju pada makanan itu. “Berapa satu kotak?”
Wanita tua itu mengangkat kepala. “Sepuluh ribu.”
Raka menghitung uang yang ada di dompetnya. Ia hanya punya sedikit uang tunai. Namun kemudian suara Sera terdengar.
[Peluang terdeteksi.]
Raka tersenyum. “Kalau aku beli semuanya?”
Wanita tua itu membelalakkan mata.
“Semuanya?”
“Ya.”
“Untuk apa?”
Raka menatap puluhan kotak makanan tersebut. Senyumnya semakin lebar. “Aku juga belum tahu.”
[Analisis peluang dimulai.]
[Keuntungan potensial: 37%...]
[Peluang pengembangan: 89%...]
Raka baru hendak mengambil uang ketika layar sistem tiba-tiba berubah. Angka merah muncul di hadapannya.
[PERINGATAN.]
[Peluang ini bukan sekadar bisnis.]
Raka mengerutkan kening. “Apa maksudnya?”
[Karena orang yang sedang menjual makanan itu... adalah seseorang yang seharusnya sudah meninggal tiga tahun lalu.]
42 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.