

“Ayo, sentuhlah bulatan padat milikku ini! Bukankah sedari tadi kamu memandanginya?”
Oliver Rahardja mendapati tangannya dipegang oleh Dona Gomez, seorang wanita cantik berusia 20 tahun lebih tua darinya yang merupakan atasan Oliver di kantor tersebut. Di kantor Bamba Corp. Perusahaan besar di kota Kemuning ini, saking besarnya, hingga gaji para karyawannya di Bamba Corp melebihi UMR di kota tersebut.
Pegangan wanita itu begitu kuat. Kedua tangan Oliver ditariknya mendekati dua tonjolan di dada miliknya yang tampak kenyal itu.
“Hentikan, Bu Manajer. Tolong!” ucap Oliver.
Wanita yang telah memepetnya hingga punggung Oliver menempel di dinding ini adalah manajer Bamba Corp., sebuah perusahaan terkemuka di kota tempat Oliver bekerja sebagai kurir pengantar barang.
Meskipun usianya sudah 48 tahun, perawatan mahal yang dijalaninya secara rutin membuat sang manajer terlihat muda, seakan-akan masih berada di awal usia 30-an.
Dua tonjolan padat itu sesekali bergoyang saat ia memepet Oliver. Wanita tersebut memang sengaja membuka tiga kancing depan kemejanya, membuat belahan indah miliknya terlihat jelas oleh Oliver.
Bra seksi berwarna merah gelap membuat dua gundukan kenyal itu tampak semakin menggiurkan.
“Sudahlah. Sentuh saja. Jangan berpura-pura. Aku tahu kamu sebenarnya sudah ingin meremas-remasnya dari tadi,” ujar Dona, sambil menarik kedua tangan Oliver dengan lebih kuat.
Telapak tangan Oliver kini menyentuh dua aset menonjol milik wanita itu. Seketika mata Oliver terbelalak, mulutnya terbuka, dan rasa haus yang kuat menyerangnya.
Dua bulatan di hadapannya itu padat, kenyal, serta terasa hangat, begitu menggemaskan. Oliver bahkan bisa merasakan kehadiran tonjolan kecil di kedua bulatan itu yang masih tertutupi bra seksi Dona.
Tanpa diperintah, bagian vital Oliver langsung berdiri dan menegang dengan cepat.
“Bagaimana? Pernahkah kamu merasakan yang lebih kenyal dari punyaku ini?” tanya Dona, dengan senyum nakal.
Belum sempat Oliver menjawab, Dona bergerak cepat menarik ke atas ujung kaus yang dikenakan Oliver, hingga memperlihatkan perut sixpack-nya.
“Wah, wah... aku tak menyangka kurir sepertimu punya perut seseksi ini. Sepertinya kamu sering pergi ke gym. Lihat saja ini, padat dan kotak-kotak. Seksi sekali!” puji Dona.
Oliver merasakan tangan hangat Dona bergerak di perutnya, mengusap-usap, dan sesekali menggelitiknya hingga membuat ia menyeringai geli.
“Coba lihat dadamu,” kata Dona, kemudian.
Ia terus menarik ke atas kaus seragam kurir Oliver sehingga dadanya yang bidang ikut terekspos.
“Wuih, seperti yang kuduga. Dadamu juga seksi, bidang, dan keras. Aku ingin sekali menjilatinya,” cetus Dona.
Wanita itu benar-benar menjulurkan lidahnya dan mendekatkan kepalanya ke arah dada Oliver.
Sadar akan hal itu, Oliver berusaha menahan Dona karena situasi bisa menjadi gawat jika wanita tersebut memainkan lidahnya di sana.
Sialnya, tanpa disadari, Oliver justru meremas kedua bulatan milik Dona dengan cukup kuat.
Sentuhan itu memicu desahan dari Dona yang langsung membuat hasrat primitif Oliver semakin mencuat.
“Lagi! Lakukanlah lagi! Lebih keras!” pinta Dona.
Oliver langsung melepaskan cengkeramannya dan menjauhkan tangannya dari dada wanita itu.
Dona tampak kecewa, namun sesaat kemudian ia tersenyum. Dengan gerakan kilat, ia kembali menarik ujung kaus Oliver ke atas hingga pemuda itu sepenuhnya bertelanjang dada.
Slurrp...
Begitulah bunyi yang terdengar di telinga Oliver saat wanita di hadapannya kembali menjulurkan lidah, bertingkah seolah-olah sedang sangat kehausan.
Dona lalu melepaskan sisa kancing kemejanya dengan gerakan cepat. Ia menanggalkan kemeja tipis itu dan menjatuhkannya begitu saja ke lantai.
Kini, manajer Bamba Corp. itu hanya mengenakan bra di bagian atas tubuhnya, membuatnya tampak jauh lebih menggoda dan membuat Oliver semakin kesulitan menahan diri.
Lipstik Dona yang sewarna dengan bra-nya semakin mendekat. Bulatan kenyal itu menempel dan menekan dada Oliver, menghadirkan sensasi haus yang kian menyiksa.
“Ayolah, Kurir Tampan. Kenapa kamu masih saja menahan diri? Kapan lagi kamu ditawari untuk menjamah tubuh manajermu sendiri? Apakah aku kurang seksi?” goda Dona.
Tangannya terus bergerak di perut sang kurir sementara tubuhnya menempel erat.
Oliver yang semakin tergoda mencoba menahan diri dengan menengadah dan memejamkan mata. Namun, cara itu justru membuatnya semakin haus dan ingin menuruti tawaran Dona.
Akhirnya, Oliver merasakan tangan wanita itu bergerak ke bawah, berusaha melepaskan celananya.
Sontak Oliver membuka mata dan mencegah tindakan tersebut.
“Hentikan, Bu Manajer! Tolong hormati saya!” protes Oliver.
Ia berhasil menjauhkan tangan Dona dan mencengkeram kedua pergelangan tangan wanita itu agar tidak berulah lagi.
Dona menatap Oliver dengan tatapan yang menyiratkan kekesalan.
“Menghormatimu? Memangnya kamu pikir kamu ini siapa sampai-sampai aku harus menghormatimu? Ngaca dong! Kamu itu hanya kurir pengantar barang di perusahaan ini, sedangkan aku manajermu! Sadari posisimu!” sergah Dona, dengan nada mengintimidasi.
“Kamu lupa untuk apa kamu menemuiku, hah? Kamu mau meminjam uang padaku, dan aku mau meminjamkan 50 juta rupiah asalkan kamu mau melayaniku. Kalau kamu bisa memuaskanku, aku bisa saja menjadikanmu simpananku sehingga kamu tidak perlu repot memikirkan biaya hidup lagi. Pikirkan itu!” sambungnya.
Ucapan Dona memang ada benarnya.
Tujuan Oliver mendatangi ruangannya adalah untuk meminjam uang sebesar 50 juta rupiah guna menyogok oknum polisi korup yang menahan ayahnya di kantor polisi.
Ayahnya merupakan salah satu karyawan Bamba Corp. yang dibawa polisi atas tuduhan penyelewengan dana perusahaan alias korupsi. Oliver tidak percaya ayahnya melakukan hal tersebut, dan saat ini fokus utamanya hanyalah membebaskan sang ayah.
Alasan Oliver nekat meminjam uang kepada Dona adalah karena ia tahu sang manajer tertarik padanya.
Beberapa kali berpapasan di gudang, lobi kantor, atau kantin, Oliver kerap mendapati lirikan nakal dari Dona.
Bahkan, suatu waktu Dona pernah menyelipkan nomor ponsel pribadi sambil berbisik bahwa ia ingin mencoba berhubungan badan dengannya, paling tidak sekali saja.
Oliver sadar betul konsekuensi dari kedatangannya ke ruangan Dona, tetapi ia tidak menyangka wanita itu akan bersikap seagresif ini.
“Lepaskan tanganku dan biarkan aku melakukan apa yang ingin kulakukan dengan tubuhmu! Lepaskan, atau kamu tak akan bisa membebaskan ayahmu dari penjara!” ancam Dona.
Kening Oliver berkerut mendengar ancaman itu.
“Tunggu! Bagaimana Bu Manajer bisa tahu soal ayahku yang sedang ditahan?” tanya Oliver.
Dona Gomez hanya tersenyum sinis.
“Kamu tebak saja sendiri. Kalau kamu pintar, kamu akan melepaskan tanganku dan membiarkanku menjamah tubuhmu. Pikirkan kondisi ayahmu. Bukankah dia suka sakit-sakitan? Kamu tidak mau ayahmu mati di penjara, kan?”
Oliver menatap Dona Gomez dengan penuh kebencian. Rahangnya mengeras dan gigi-giginya bergemeretak.
Dengan berat hati, Oliver melepaskan cengkeramannya.
Dona langsung kembali menggerayangi tubuh atletis Oliver. Pemuda itu kembali memejamkan mata dan menengadah, mencoba membayangkan situasi sang ayah di kantor polisi demi mengalihkan perhatian dari hasrat primitif yang kian membakar.
“Luar biasa! Aku penasaran berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk memiliki tubuh sesempurna ini!” ucap Dona dengan penuh kekaguman dan syshwat yang tinggi.
Tangan kirinya meluncur ke bawah, menyentuh bagian vital Oliver yang sudah mengeras.
“Wow! Besar dan panjang sekali!” puji Dona, saat meraba bagian tersebut.
Ia dengan cepat membuka dan menurunkan celana Oliver hingga pemuda itu hanya mengenakan celana dalam, membuat bagian vitalnya menonjol dengan jelas.
“Sumpah, ini besar sekali! Besar dan panjang!” serunya.
Sepasang mata wanita itu membulat menatap milik Oliver.
Dona bergerak cepat seperti cacing kepanasan, membuka dan menurunkan roknya begitu saja, lalu melepas kaitan bra dan melemparkannya ke lantai dengan mata yang tidak lepas dari Oliver.
Oliver menelan ludah. Manajer Bamba Corp. itu kini berdiri di hadapannya dengan pakaian dalam saja, sementara dua gunung indahnya berayun pelan setiap kali ia bergerak.
Gila! Mimpi apa aku semalam, sampai-sampai sekarang ada seorang wanita seksi menggodaku dalam keadaan hampir telanjang! batin Oliver.
Dona seolah bisa mencium rasa haus Oliver. Ia tersenyum, kembali mendekat, memepet tubuh pemuda itu, dan mengarahkan tangan Oliver ke dua aset miliknya.
“Bagaimana rasanya? Langsung tanpa penutup apa pun,” bisik Dona, tepat di telinga kanan Oliver.
Oliver tidak sanggup menjawab. Ia hanya memejamkan mata dan menyandarkan kepala ke dinding.
Merasa telah menguasai situasi, Dona melancarkan ciuman panas ke leher Oliver, turun ke dada, dan terus bergerak ke bawah.
Oliver semakin kesulitan menahan gejolak panas di dalam dirinya. Membayangkan kondisi ayahnya di kantor polisi pun kini tidak lagi mampu meredam gairahnya.
Apakah ia harus menyerahkan keperjakaannya kepada wanita yang seumuran dengan almarhum ibunya?
Tepat saat pertanyaan itu melintas di benaknya, pintu ruang kerja Dona Gomez terbuka dan membuat Oliver seketika membuka mata.
Di ambang pintu, berdiri Sisilia Gomez, putri tunggal Dona Gomez.
Dalam posisi tersebut, sepasang mata Oliver langsung beradu pandang dengan mata indah Sisilia. Wajah Oliver kontan memerah karena malu.
Dona Gomez menoleh ke belakang.
“Mama?” Sisilia terbelalak.
Ia melihat sang ibu sedang menyentuh bagian vital Oliver yang tampak membesar. Wajah Sisilia seketika ikut merona merah.
“Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Sisilia Gomez.
“Rupanya kamu. Aku kira siapa. Cepat tutup pintunya, lalu kunci,” ujar Dona Gomez tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Apa?” tanya Sisilia, kebingungan.
“Mama bilang tutup pintunya, terus kunci. Cepat, sebelum ada yang lihat,” ulang Dona.
Meski tampak bingung, Sisilia menuruti permintaan ibunya. Oliver sendiri merasa sama bingungnya; ia benar-benar tidak mengerti apa yang ada di dalam pikiran Dona Gomez.
Sesekali Oliver melirik Sisilia Gomez, dan begitu pandangan mereka bertemu, keduanya langsung memalingkan muka.
Jantung Oliver berdebar kencang. Telinganya terasa panas, mungkin sudah semerah pipinya saat itu.
Apa yang dilakukannya bersama Dona Gomez jelas merupakan sebuah kesalahan. Oliver pun berjongkok, berniat menarik kembali celananya.
Akan tetapi, ...
“Eits, jangan dulu!” cegah Dona, menahan tangan Oliver.
“Mama ini apa-apaan sih? Apa yang ada di pikiran Mama?” protes Sisilia, tidak menyangka ibunya masih berniat melanjutkan aktivitas orang dewasa itu.
Dona menoleh, menatap Sisilia dengan ujung mata sambil tersenyum miring.
“Sisilia, Mama tidak keberatan kalaupun kamu mau menyaksikan apa yang akan Mama lakukan dengan kurir tampan ini. Atau, kalau kamu mau ikutan, boleh juga. Kita main bertiga. Bagaimana?”