

Langit di atas Desa Sukamaju tampak mulai meredup, menyisakan semburat jingga yang muram, seolah ikut merasakan beban berat yang menindih bahu Wira. Di hadapannya, sebuah rumah mewah dengan pilar pilar beton berdiri angkuh, sangat kontras dengan pemuda bersahaja yang kini berdiri gemetar di terasnya. Wira, pemuda dengan kacamata berbingkai tebal yang sedikit miring—hasil sisa masa SMA—hanya bisa menunduk. Ia tahu, langkah kakinya dan ibunya, Bu Darmi, ke rumah ini bukanlah untuk bertamu, melainkan untuk menggadaikan harga diri.
"Pinjam uang lagi? Dua juta? Kamu pikir dua juta uang sedikit apa?" Suara melengking itu menyambar telinga Wira seperti cambuk.
Wati, istri Pak RT yang juga merupakan saudara mendiang ayah Wira, berdiri dengan bertolak pinggang. Wajahnya yang dipulas bedak tebal tampak sinis menatap dua sosok di depannya. "Lagian kalau miskin ya miskin aja, gak usah belagu sok sokan mau kuliah segala. Buat makan sehari hari aja susah, ini malah mau gaya gayaan jadi mahasiswa!"
Wira mengepalkan tangannya di samping paha. Perih. Kata kata itu lebih tajam dari sembilu. Padahal, Wira bukanlah pemuda pemalas. Sejak SD hingga SMA, ia adalah langganan juara kelas. Kecerdasannya sudah diakui desa, hingga pemerintah memberinya beasiswa penuh untuk kuliah di sebuah universitas ternama di Bandung. Namun, beasiswa hanya mencakup biaya pendidikan, bukan urusan perut dan tempat tinggal.
"Tolong, Wat... bantu saya. Wira dapat beasiswa dari pemerintah, kuliahnya gratis. Cuma untuk biaya ngontrak sama kebutuhan sehari harinya itu loh, Wat. Saya gak tahu lagi harus lari ke mana," ucap Bu Darmi dengan suara gemetar, nyaris memelas.
Wati mendengus kasar. Ia melirik suaminya, Pak RT, yang hanya diam mematung di ambang pintu, seolah tak mau ikut campur urusan "rakyat jelata".
"Dua juta itu bukan uang sedikit, Darmi! Hutang kamu saja yang kemarin kemarin kamu pinjam buat beli beras masih belum dikembalikan, sekarang masih mau pinjam lagi? Apa jaminannya? Rumah reyot itu? Gak sebanding, Darmi! Dijual pun nggak ada yang mau beli kandang burung kayak gitu!" cetus Wati ketus.
Wira merasakan matanya mulai panas. Ia menatap lantai teras yang mengkilap, sangat berbeda dengan lantai papan di rumahnya yang seringkali mengeluarkan bunyi derit setiap kali dipijak. Ia ingin sekali mengajak ibunya pulang, ingin berteriak bahwa ia tidak perlu kuliah jika harganya adalah penghinaan seperti ini. Namun, ia melihat punggung ibunya yang semakin membungkuk, menahan beban hidup yang seolah tak pernah usai.
"Saya... saya bisa kerja di sawah kamu, Wat. Saya juga bisa bantu bantu semua pekerjaan di rumah ini. Nyuci, beres beres, setrika... saya kerjakan semuanya. Nggak usah kamu bayar, Wat. Asal Wira bisa berangkat ke Bandung," lirih Bu Darmi.
Wira tersentak. Ia menatap ibunya dengan tatapan tak percaya. Ibunya yang sudah tua, yang tangannya sudah kasar karena bertahun tahun menjadi buruh tani, kini menawarkan diri menjadi pembantu tanpa bayaran demi mimpinya. Hati Wira hancur berkeping keping.
Wati menghela napas panjang, tampak berpikir sejenak. Matanya yang tajam menatap Wira dari ujung kepala sampai ujung kaki, seolah sedang menilai barang rongsokan. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik masuk ke dalam kamar, diikuti oleh suaminya.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Tak lama kemudian, Wati muncul kembali. Di tangannya ada sebuah amplop putih. Tanpa sedikit pun rasa hormat, ia melemparkan amplop itu ke arah kaki Wira dan ibunya.
Plaaaak!!!!
Amplop itu terjatuh di atas lantai keramik dingin.
"Dua juta gak ada, adanya satu juta. Ingat Darmi, mulai besok kamu harus sudah ada di sini jam enam pagi. Semua pekerjaan rumah ini jadi tanggung jawab kamu!" ucap Wati tanpa beban.
Wira tak bisa lagi membendung air matanya. Satu tetes jatuh, diikuti tetesan berikutnya yang membasahi pipinya yang tirus. Ia melihat ibunya hendak merangkak mengambil amplop itu, namun Wira segera menahan lengan ibunya.
"Bu, jangan, Bu... udah, nggak usah. Wira nggak usah kuliah. Wira mau kerja aja di pabrik atau di sawah. Jangan kayak gini, Bu..." isak Wira. Suaranya pecah, penuh dengan keputusasaan.
Bu Darmi menoleh. Tangan kasarnya yang pecah pecah mengusap air mata di pipi anak semata wayangnya itu. "Kamu harus kuliah, Nak. Kamu satu satunya harapan Ibu. Jangan khawatirkan Ibu, Ibu masih kuat. Ibu masih bisa kerja di sini."
Wira ambruk di bahu ibunya yang rentan. Di bawah tatapan sinis Wati, dua jiwa itu saling menguatkan dalam kemiskinan yang mencekik. Akhirnya, dengan tangan gemetar, Bu Darmi memungut amplop itu. Setelah mengucapkan terima kasih yang hanya dibalas dengan dengusan oleh Wati, mereka pun pamit.
Perjalanan pulang terasa sangat panjang. Mereka menyusuri jalan setapak berupa tanah merah yang becek sisa hujan semalam. Di ujung kampung, berdiri sebuah gubuk panggung dari anyaman bambu atau bilik yang sudah bolong di sana sini. Atapnya dari jerami yang sudah menghitam, dan lantainya hanya berupa papan kayu yang rapuh. Jika ada orang asing lewat, mereka mungkin akan mengira itu adalah kandang ternak, bukan tempat tinggal manusia.
Mereka masuk melalui pintu belakang, satu satunya pintu yang masih bisa berfungsi dengan baik. Dapur mereka masih beralaskan tanah. Di sudut ruang, sebuah tungku kayu bakar masih menyisakan bara api yang kemerahan. Di atasnya, bertengger sebuah panci hitam legam yang sudah penyok.
Bu Darmi duduk di lantai papan yang menghadap ke arah tungku. Sisa sisa tangis masih terlihat di matanya yang mulai merabun. Wira, yang melihat ibunya begitu terpukul, bangkit menuju rak kayu di sudut ruangan. Ia mengambil gelas plastik berwarna hijau yang sudah kusam, menuangkan air dari teko, lalu memberikannya kepada ibunya.
"Minum dulu, Bu," ucap Wira lembut.
Bu Darmi mendongak, memaksakan sebuah senyuman yang paling tulus meski hatinya luka. Ia meminum air itu perlahan. "Besok jam berapa berangkatnya, Wir?"
"Besok subuh, Bu. Wira harus sudah sampai di Bandung jam delapan pagi untuk daftar ulang dan ikut ospek hari pertama," jelas Wira.
Matahari pun benar benar tenggelam, digantikan oleh langit jingga kemerahan yang perlahan menggelap. Wira keluar rumah, mengambil handuk lusuh yang sudah menipis dari jemuran bambu. Ia berjalan menuju kamar mandi yang lebih mirip bedeng di samping rumah. Dengan tenaga yang tersisa, ia menimba air dari sumur tua, mengisi ember plastik, dan mulai membersihkan diri. Air sumur yang dingin seolah sedikit membasuh luka hatinya, namun tekadnya justru semakin membara. Satu juta ini harus jadi titik balik hidupku, batinnya.
Setelah mandi, Wira masuk ke kamarnya—sebuah sekat kecil di dalam gubuk itu. Ia membuka lemari kayu yang pintunya sudah copot. Di sana, hanya ada beberapa potong baju. Ia mengambil sebuah kaos yang kerahnya sudah lusuh dan warnanya memudar karena terlalu sering dicuci.
"Wira... Wir, makan dulu, mumpung nasinya masih anget," panggil Bu Darmi dari dapur.
Wira menyahut pelan dan menghampiri ibunya. Di atas lantai papan, sudah tersedia bakul nasi yang masih mengepulkan uap dan sepiring oseng daun ubi hasil petikan di pinggir sawah. Tak ada daging, tak ada telur. Hanya nasi dan sayur pahit, namun rasanya begitu nikmat karena disiapkan dengan cinta seorang ibu. Mereka makan dalam diam, sesekali terdengar suara sendok yang beradu dengan piring seng.
Selesai makan, Wira membantu membereskan piring piring kotor ke dalam baskom di bawah lantai tanah, sementara ibunya menyimpan sisa nasi ke atas meja kayu yang kaki kakinya sudah diganjal batu agar tidak goyang.
Malam semakin larut. Suara jangkrik dan kodok dari sawah di depan rumah bersahutan, menjadi musik pengantar tidur yang pilu. Wira merebahkan tubuhnya di atas kasur kapuk yang sudah keras dan tipis. Spreinya terbuat dari kain sarung yang dijahit tangan oleh ibunya. Ia menatap langit langit rumah, melihat celah celah di atap jerami yang menampakkan sedikit cahaya bintang.
Ia meraih ponselnya—sebuah ponsel pintar model lama yang layarnya sudah retak dan hanya bisa bertahan hidup karena diikat karet gelang. Itu adalah pemberian temannya saat SMA. Dengan teliti, ia mengatur alarm untuk jam empat pagi.
Wira memejamkan mata. Di balik kelopak matanya, ia membayangkan gedung gedung tinggi di Bandung, perpustakaan yang megah, dan masa depan yang lebih layak. Ia bersumpah dalam hati, suatu saat nanti, ia akan kembali ke desa ini bukan untuk meminjam uang, melainkan untuk menjemput ibunya dari penderitaan ini. Ia akan membuktikan bahwa anak dari "kandang ternak" ini bisa menjadi orang yang bermartabat.
Perlahan, kelelahan fisik dan batin membawanya masuk ke dalam lelap, di bawah atap jerami yang menyimpan ribuan mimpi.