Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Secangkir Kopi, Sejuput hati

Secangkir Kopi, Sejuput hati

Gieh1405 | Bersambung
Jumlah kata
72.1K
Popular
1.4K
Subscribe
148
Novel / Secangkir Kopi, Sejuput hati
Secangkir Kopi, Sejuput hati

Secangkir Kopi, Sejuput hati

Gieh1405| Bersambung
Jumlah Kata
72.1K
Popular
1.4K
Subscribe
148
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeMiliarderPria Miskin21+
Samuel yang biasa dipanggil dengan sebutan El, seorang pria muda dengan semangat membara untuk meniti karir sebagai barista di sebuah cafe terkenal ibu kota. Harus merasakan pahitnya kehidupan setelah ditinggal sang ayah. Menjadi tulang punggung bagi keluarga di desa dan harus membiayai sekolah adik perempuannya. Di sisi lain ada seorang wanita muda bernama Jenny, lulusan luar negeri yang kembali ke Indonesia menjadi penerus bisnis ayahnya, seorang pengusaha sukses dan ternama. Mampukah secangkir kopi dari El, dibalas sejuput hati dari Jenny ?
Hari baru di tempat baru

“Kriiiiiiiiiiiiing"

Suara jam wekerku membangunkanku, pertanda matahari sudah benderang dan waktu menunjukan pukul 07:00.

Begitulah pagi ini aku terbangun di kamar kos ku setelah semalam aku terjaga sampai jam 01.00 karena teringat akan hari pertamaku ini.

Aku El, seorang pemuda rantau asal Surabaya yang memilih untuk pindah ke Jakarta setelah harus berhenti kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya. Memiliki perawakan tinggi 175cm, berat 80kg. Wajahkupun bisa dibilang lumayan tampan, setidaknya good looking.

Saat ini usiaku 25 tahun dengan status masih lajang. Bukan karena tidak laku, namun aku masih merasa memiliki kewajiban untuk membahagiakan ibuku yang tinggal di kampung sebelum akhirnya mencari wanita baru untuk aku jadikan seorang yang istimewa.

Aku sulung dari 2 bersaudara, adikku perempuan dan saat ini masih kuliah di kampus swasta di Surabaya dan mengambil jurusan keperawatan. Setelah ayahku meninggal, akulah yang harus bekerja keras untuk menghidupi keluargaku, ditambah saat itu adikku baru mau masuk akademi keperawatan yang sebagaimana kita tahu memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Mungkin itulah salah satu alasan mengapa aku merasa masih belum mau berkomitmen dengan wanita. Karena masih merasa perlu membahagiakan keluargaku.

Aku sendiri saat ini baru diterima bekerja sebagai seorang peracik kopi, atau yang biasa dikenal dengan sebutan barista. Aku sudah menekuni bidang ini selama 4 tahun sampai akhirnya pindah ke ibukota ini. Selama 4 tahun pula aku sudah beberapa kali pindah dari cafe ke cafe di Surabaya, sebelum akhirnya aku pindah ke salah satu cafe nasional dan ditempatkan di Jakarta .

Disini aku baru saja diterima dan diinformasikan bahwa akan mulai bekerja jam 9 pagi. Aku langsung bersiap dan segera berangkat ke tempatku bekerja. Dengan menggunakan sepeda motor, aku membelah jalan ibu kota yang ternyata sangat jauh berbeda dengan di Surabaya. Kemacetan terjadi di hampir 60% perjalananku. Untungnya aku tiba tepat waktu dan memberikan kesan baik di hari pertamaku.

Di hari pertama aku diminta untuk menemui manager di tempatku bertugas untuk mengetahui tugas dan tanggung jawab serta peraturan di tempat baruku. Di awal kerja, aku akan menjalani proses training selama 3 bulan sekaligus masa penilaianku selama bekerja disini dan menentukan apakah aku lanjut atau hanya bekerja 3 bulan.

Untuk gaji, aku rasa disini sudah lumayan besar karena sudah menerima UMP Jakarta yaiut sejumlah Rp. 5.000.000 per bulannya. Belum ditambah uang lembur jika memang ada hitungan jam kerja yang lebih selama ku bertugas.

Sistem kerjanya dibuat per shift dan setiap orang bekerja selama 10 jam per hari, jam buka dari 10.00 pagi sampai tutup 23.00 setiap harinya kecuali weekend yang mengharuskan outlet tutup pukul 24.00.

Untuk shift 1, kami masuk pukul 09.00 s/d 18.00, sedangkan shift 2 akan masuk di 15.00 s/d 24.00. Selama masa training aku akan dishifting setiap 2 minggu, sedangkan teman-teman lain shiftingnya bergerak setiap minggu.

Demikian rincian awal pekerjaan ku. Aku harus mencatat agar tidak ada kesalahan sedikitpun sebagai junior di tempat baru. Sekalipun aku sudah memiliki banyak pengalaman di bidang serupa, aku tetap harus mempelajari flow kerja di cafe ini, karena biasanya akan berbeda dari masing-masing cafe.

Di hari pertama, aku dipasangkan dengan dengan mas Ical di kitchen, mas Indra sebagai SPV ku dan Nisa sebagai kasir. Sedikit tentang temanku. Mas Ical ini agak kaku, namun dia baik dan ramah. Bekerja di dapur membuatnya sedikit “panas” sehingga agak ketus jika sedang bekerja. Mas Indra spv ku, sangat baik sekali karena membantuku tentang racikan minuman disini, dia harus double shift karena akan mengajariku hari ini. Sedangkan Nisa, gadis cantik yang berdiri di bagian kasir, usia nya masih muda dan sangat friendly walaupun aku anak baru.

Di jam pertama, mas Indra sibuk mengajariku sambil melayani pesanan pembeli, bisa dibilang aku training sambil bekerja secara langsung. Cukup memberiku sedikit tekanan. Sebenarnya aku sudah biasa membuat kopi, namun harus beradaptasi dengan racikan di tempat baru, sehingga harus sedikit melambat agar tidak terjadi kesalahan.

Rencanaku, di bulan awal ini aku akan mengikuti flow di tempat ini. Setelah itu aku akan coba mengajukan beberapa racikan yang selama ini sudah aku pelajari di dunia kopi. Bukan bermaksud sombong atau ingin mencari muka, namun aku ingin banyak orang juga mencicipi racikanku yang menurut penilaianku enak.

Kembali ke hari pertamaku bekerja. Tempat ini memiliki lingkungan kerja yang sangat nyaman. Semua anggota saling support. Tidak ada satupun yang saling menjatuhkan. Tiba saatnya kami istirahat, Nisa mengajakku untuk makan bersama. Dia membawaku ke suatu warung makan tidak jauh dari cafe.

“Mas El tidak bawa bekal ?” tanya Nisa padaku

“Tidak Nis, aku di kos tadi pagi bangunnya terlalu mepet.” Jawabku sambil tersenyum

Aku temanin mas makan ya, sebenarnya aku bawa bekal tapi mesti ngajak anak baru makan.” Senyumnya manis padaku.

Kesempatan makan bersama ini aku gunakan untuk bertanya-tanya mengenai lingkungan dan kenapa posisi yang aku tempati sekarang kosong.

Eh iya Nis, kamu sudah berapa lama bekerja disini ?” tanyaku padanya

Aku sudah 2 tahun mas. Kenapa ?” Jawabnya.

“Tidak apa. Posisiku saat ini sudah berapa lama kosong Nis ?” Tanyaku to the point.

Belum begitu lama mas, mungkin 2 minggu.” Jawabnya sambil mengingat.

Oooooh, kenapa orang sebelumku resign Nis ?” Tanyaku

Sebelumnya mas Angga yang jadi barista mas, dia harus resign karena menikah dengan mba Lita, kasir shift 1 nya.” Katanya menjelaskan padaku.

hmmmm, jadi tidak diperbolehkan ya cinlok di sini.” Masih ingin mengorek banyak informasi dari Nisa.

Nisa pun menjelaskan tentang aturan – aturan yang terdapat disini. Aku hanya menyimak dan sesekali menanggapi tanda aku memahami perkataannya. Sedikit tentang Nisa, dia merupakan anak bungsu dari 3 bersaudara. Kakak – kakaknya sudah menikah semua sedangkan ayah ibunya sendiri pensiunan ASN yang setiap bulan masih mendapatkan dana pensiunan dari negara. Sehingga bisa dibilang dia bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri. Nisa gadis yang cantik dengan kacamata, membuatnya terlihat semakin imut. Tubuhnya kecil, tingginya hanya sebahuku. Kulit putih bersih. Cantik dan usianya pun hanya 1 tahun di bawahku.

Kami kembali bekerja di bagian masing-masing sampai akhirnya digantikan dengan shift selanjutnya. Di shift 2 pun orangnya ramah. Kami masih tugas bersama beberapa jam karena memang di jam itu pelanggan sangat ramai. Sehingga shift 1 dan 2 harus bersamaan mengerjakan pesanan dari pelanggan.

Tak terasa jam pulang tiba, team shift 2 masih harus lanjut sampai malam sedangkan kami dari shift 1 mulai bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing.

Aku dan Nisa pun pulang bersama, karena ternyata tempat kos kami searah. Dengan begini sepertinya akan ada tanda-tanda bahwa aku dijadikan tumpangan setiap hari. Hehehehe

Tidak apa, hitung – hitung menambah relasi dan saudara di tempat rantau. Karena jauh dari keluarga, maka orang terdekatlah yang menjadi keluarga kita selama di tempat rantau.

Inilah kasih hari pertamaku, masih banyak kisah seru di hari berikutnya. Jadi, nantikan terus di bab berikutnya……

Lanjut membaca
Lanjut membaca