

***
"Lepasin gue!"
Januar meronta. Namun, cengkraman di lengan kanan dan kirinya terlalu kuat. Kaki Januar terseret di atas aspal kasar menuju area belakang sekolah yang terbengkalai. Pintu gudang tua itu ditendang hingga terbuka, menimbulkan bunyi berdentum yang memekakkan telinga. Tubuh Januar dilempar ke tengah ruangan yang pengap dan penuh debu.
Beberapa waktu lalu— ketika hendak meninggalkan area sekolah, Januar diseret paksa oleh dua orang siswa yang tidak lain adalah Vicky dan Seno, teman sekelasnya. Januar tahu tujuan mereka, tapi dia tidak bisa melawan. Selain karena dicengkeram, Januar juga dibisiki ancaman yang membuat mulutnya tertutup rapat.
"Akhirnya mainan gue datang juga."
Januar yang semula menunduk, menoleh ke asal suara. Dari sisi gelap ruangan, muncul sosok tidak asing yang membuat dia mengumpat di dalam hati. Gavin, cowok berseragam sama dengan Januar itu, melangkah maju sambil memasukan kedua tangannya ke saku celana. Dia menatap Januar hina, seolah sedang melihat sampah yang menjijikan.
"Gue lagi nggak mau berurusan sama lo, Vin. Jadi jangan sekarang, gue ada kerjaan," ucap Januar sambil mendongak, menatap Gavin yang berdiri angkuh di depannya.
Dia bukan sekadar siswa dan teman sekelas untuk Januar, tapi penguasa. Statusnya sebagai cucu dari pemilik yayasan tempat Januar bersekolah, membuat Gavin bak raja yang tak tersentuh oleh siapa pun.
Gavin punya kuasa. Jika dia mau, dia bisa memilih siapa pun untuk dijadikan kelinci permainannya. Namun, karena Januar yang paling beda dari siswa lain—dari segi status sosial, Gavin menjadikan Januar yang terfavorit. Seminggu dua kali, Gavin membawa Januar ke gudang belakang sekolah.
"Penting mana kerjaan lo sama mood gue yang rusak gara-gara nilai lo lebih tinggi dari gue?" tanya Gavin. "Hari ini lo udah diminta buat nggak serius kerjain ulangan dari Miss Agatha, tapi nilai lo kenapa seratus?"
"Ulangan hari ini penting, Vin. Gue butuh beasiswa lagi buat kuliah. Jadi nilai gue harus bagus supaya peluang gue gede," jawab Januar, coba membela diri.
"Terus lo pikir ulangan hari ini enggak penting buat gue?" tanya Gavin. "Kakek gue janjiin mobil baru kalau nilai ulangan gue paling tinggi, tapi gara-gara lo, semuanya berantakan. Lo bikin gue keliatan bego."
Januar tidak menjawab, sementara Gavin menoleh pada teman-temannya sambil memberikan isyarat dengan jari.
"Mandiin dia."
Di detik berikutnya—sebelum Januar sempat menghindar, satu ember penuh tepung terigu diguyurkan, membuatnya terbatuk dalam kepulan putih. Januar berniat menghirup udara, tapi bau busuk lebih dulu menyerang indranya. Air comberan yang hitam dan berbau sampah disiramkan perlahan ke sekujur tubuhnya, mengubah tepung di tubuh Januar menjadi adonan menjijikkan yang lengket dan berbau bangkai.
"Gimana? Segar?" Gavin tertawa puas, diikuti gelak tawa teman-temannya yang menggema di langit-langit gudang.
Januar menunduk, tangannya mengepal di atas lantai yang kotor. Dia ingin melawan, tapi sedikit saja perlawanan yang Januar berikan, beasiswanya terancam. Januar yang tiga tahun bersekolah tanpa harus membayar, bisa didepak dengan mudah karena power yang Gavin miliki.
"Sekarang bersihin sepatu gue," perintah Gavin, sambil memajukan salah satu kakinya, menaruh sneakers seharga belasan juta itu tepat di depan hidung Januar. "Jangan pakai tangan, tapi pakai mulut. Jilat sampai mengkilap."
Rahang Januar mengeras. Di bawah tatapan mengancam dan tawa ejekan teman-teman Gavin, ia tidak punya pilihan. Dengan harga diri yang hancur, ia terpaksa melakukan hinaan itu. Dinginnya sol sepatu dan rasa kotor memenuhi indranya, sementara air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Cukup. Hukuman lo hari ini selesai, next time gue lanjutin kalau lo bikin masalah lagi," ucap Gavin, sambil menarik kembali sepatunya dengan perasaan puas. Dia melirik teman-temannya lalu memberi kode untuk keluar.
Januar ditinggalkan begitu saja di dalam gudang. Mereka mengunci pintu dari luar selama beberapa menit, sebelum akhirnya terdengar suara kunci dilepaskan—bersamaan dengan tawa yang semakin menjauh. Januar bersimpuh di sana, sendirian, dikelilingi bau busuk dan kesunyian yang menyakitkan.
"Kali ini gue diam, tapi suatu saat gue bakalan balas semuanya, Gavin. Gue bersumpah."
Napas Januar tersengal-sengal menahan tangis yang akhirnya pecah. Tubuhnya yang lengket karena adonan tepung dan air comberan terasa sangat berat, seberat harga dirinya yang baru saja diinjak-injak. Ia butuh waktu beberapa menit hanya untuk mengumpulkan kekuatan, bangkit dengan sisa tenaga, dan menyeret langkahnya keluar dari sana.
Perjalanan pulang terasa begitu berat. Januar berjalan menunduk, melewati gang-gang sempit menuju kontrakannya sambil berusaha menutupi seragamnya yang berantakan. Tatapan jijik dari orang-orang yang berpapasan dengannya karena bau menyengat itu tidak sebanding dengan rasa sesak di dadanya.
Januar ingin mengadu, tapi dia tidak punya siapa pun. Hidup berdua dengan sang ibu sejak kecil, Januar sebatang kara setelah di usianya yang ke sepuluh, Serayu—ibu kandungnya berpulang. Tanpa keluarga, dan hanya dibantu tetangga sesekali, Januar bertahan hidup sendirian di tengah kota besar.
"Gue harus buru-buru mandi sebelum bau sampah ini makin nempel."
Begitu sampai di kontrakan kecilnya, Januar langsung menuju kamar mandi. Ia menyalakan kran, kemudian mengguyur tubuhnya berulang kali, dan menggosok kulitnya dengan sabun hingga memerah.
Januar Ingin menghapus semua jejak penghinaan Gavin dari kulitnya, meski dia tahu memori di kepalanya tak akan hilang semudah itu. Ini bukan pertama kalinya Januar diperlakukan buruk oleh Gavin, tapi setelah tiga tahun bersekolah di SMA Pelita dan menjadi kelinci mainan, baru sekarang Januar merasa sangat terhina. Padahal, dia tidak merasa melakukan kesalahan besar pada teman sekelasnya itu.
"Kalau Ibu masih ada, Ibu pasti marah lihat gue diginiin. Gue udah diam, tapi diamnya gue ternyata nggak berguna sama sekali."
Cukup lama di kamar mandi, Januar keluar mengenakan kaos lusuh yang bersih, lalu pergi ke kamarnya kemudian terduduk lesu di pinggir tempat tidur. Dia larut dalam lamunan dan diselimuti sunyi, hingga suara ketukan di pintu kontrakan membuyarkan semuanya.
"Siapa?" Januar menoleh, lalu bangkit dengan waspada.
Kedua kakinya berjalan menuju pintu, lalu dengan sangat hati-hati Januar membukanya. Dia terpaku. Di depannya berdiri dua pria tegap mengenakan setelan jas hitam yang sangat formal, kontras dengan dinding kontrakan Januar yang berjamur.
"Saudara Januar Adam?" tanya salah satu pria itu.
"Iya, saya. Ada apa, ya?" tanya Januar penasaran, sekaligus tidak enak hati.
"Perkenalkan, Tuan muda, kami pegawai Tuan Besar Handoko. Sore ini kami diutus oleh Tuan Besar untuk membawa anda pulang ke kediaman utama keluarga Kusuma," ucap pria itu dengan nada bicara yang sangat sopan, tapi tegas. "Setelah pencarian panjang, kami akhirnya menemukan Anda."
Januar mengerutkan kening, jantungnya berdegup kencang. Dia familiar dengan nama yang baru saja disebut. "Pak Handoko?" tanyanya memastikan. "Maksudnya pemilik yayasan SMA Pelita?"
"Benar, Tuan Muda. Beliau adalah kakek kandung anda, karena anda adalah anak dari mendiang putra sulung beliau," lanjut pria itu.
Mendengar nama itu, mata Januar membelalak. Debaran jantungnya semakin kencang, tapi bukan karena senang, melainkan karena rasa takut yang masih tersisa dari sekolah. Pikiran Januar ke mana-mana, coba menerka maksud sebenarnya dari ucapan pria asing di depannya.
"Bapak pasti salah orang," ucapnya kemudian, coba membantah informasi yang menurutnya tidak masuk akal. "Atau kalian disuruh Gavin buat ngerjain saya lagi. Iya, kan?"
Januar melangkah mundur, matanya menyiratkan kecurigaan yang besar.
"Tidak, Tuan Muda, kami—"
Brak!
Januar menutup pintu sebelum pria asing di depannya selesai berbicara.
"Pergi! Jangan ganggu saya lagi!" seru Januar.
Dia menyandarkan punggungnya di pintu yang rapuh itu dengan napas yang memburu. Januar berpikir ini adalah bagian dari prank kejam Gavin lainnya. Namun, dari luar, suara pria asing itu kembali terdengar, lebih lembut, tapi penuh keyakinan.
"Kami tahu ini mengagetkan untuk anda, tapi kami membawa bukti yang kuat, Tuan Muda. Silakan menunduk, saya membawa hasil tes DNA Tuan Muda dan Tuan Besar Handoko."
Januar menunduk, melihat sebuah map kulit berwarna coklat gelap diselipkan melalui celah bawah pintunya. Dengan tangan gemetar, dia mengambil map itu. Begitu membukanya, sebuah foto lama jatuh ke lantai. Itu adalah foto ayahnya saat masih muda, berdiri merangkul seorang pria tua yang wajahnya sangat sering Januar lihat di papan pengumuman sekolah. Pak Handoko.
"Selain hasil tes DNA, di map tersebut ada pula foto Ayah Tuan Muda bersama Tuan Besar. Wajahnya mirip dengan Tuan Muda, tidak perlu diragukan lagi."
Januar tidak menjawab, tapi tangannya perlahan bergerak, membuka amplop putih yang dia dapati di dalam map. Debaran jantungnya semakin tidak menentu, sementara kertas berisi hasil tes DNA terbuka secara perlahan—menampilkan deretan tulisan yang tidak Januar pahami. Namun, di bagian bawah dia mendapati sebuah angka yang membuatnya tercengang. 99,9% DNAnya cocok dengan Pak Handoko—pemilik yayasan tempatnya bersekolah sekaligus kakek Gavin.
"Enggak, ini enggak mungkin," bisik Januar, suaranya bergetar nyaris hilang. "Ini terlalu enggak masuk akal."
Januar larut dalam ketidakpercayaan, sementara ingatannya ditarik paksa ke momen kecilnya bersama sang Ibu yang hidup dalam kesederhanaan. Sejak lahir, Januar tidak pernah bertemu langsung dengan ayah kandungnya, karena Serayu berkata ayah kandung Januar sudah meninggal. Tidak ada cerita detail tentang sang ayah, yang Januar tahu hanyalah; ayah kandungnya wafat di perantauan dan dimakamkan di sana.
"Tolong percaya pada kami, Tuan Muda. Kami tidak membohongi anda sama sekali."
Januar tersentak dari lamunan. Dia menoleh ke arah jendela, memandang pria asing yang mengaku anak buah Handoko, dengan perasaan yang gelisah. Januar buntu. Dia tidak tahu harus apa saking mengagetkannya kejadian sore ini.
"Kalau Tuan Muda masih belum juga percaya, kami akan menghubungi Tuan Besar Handoko biar beliau yang bicara sendiri pada anda. Bagaimana?"
Januar bergeming, sebelum akhirnya membuka kembali pintu.
"Kalian punya memangnya nomor Pak Handoko?" tanya Januar—membuat pria di depannya terkekeh.
"Tentu saja punya, Tuan Muda. Saya akan hubungi Tuan Besar sekarang, tapi dengan satu syarat. Bagaimana?"
Januar menaikkan sebelah alisnya. "Syarat apa?"
"Kalau Tuan Besar Handoko mengiakan semua pernyataan saya, Tuan Muda harus ikut bersama kami ke rumah Tuan Besar. Setuju?"