

"Mas, yakin mau ambil kamar ini? Kasurnya tipis, lho, ntar badannya yang kekar itu malah pegal-pegal," celetuk Bu Mirna sambil melirik nakal ke arah lengan Saka yang kencang saat menggendong tas ransel besarnya.
Saka menoleh, lalu menyunggingkan senyum lebar yang ramah hingga deretan giginya yang rapi terlihat.
"Wah, kalau pegal tinggal saya pijat sendiri saja, Bu. Yang penting suasananya asik dan harganya pas di kantong perantau seperti saya," jawabnya dengan nada suara yang hangat dan menyenangkan.
Wanita di depannya itu, Bu Mirna, tampak sedikit tersipu. Sosok janda kembang yang usianya mungkin sudah masuk kepala empat itu langsung membalas senyuman Saka dengan lebih genit.
Daster batiknya yang ketat seolah ingin menunjukkan lekuk tubuhnya yang masih terjaga.
Ia sengaja merapikan rambut sanggulnya yang sedikit berantakan sambil terus memandangi Saka dari ujung kepala sampai ke dada bidangnya yang tercetak jelas di balik kaos singlet hitam yang basah oleh keringat.
"Duh, bisa saja Mas ini. Ya sudah kalau maunya begitu. Kamarnya yang di pojok itu ya, nomor tujuh. Deket kamar mandi umum. Kalau ada apa-apa, atau kalau... beneran butuh dipijitin karena kasurnya keras, ketok aja kamar Ibu di depan. Ibu siap bantu kok," tambahnya dengan kerlingan mata yang penuh arti.
"Siap, Bu Mirna. Terima kasih banyak ya, sudah diizinkan ngekos di sini," jawab Saka sopan sambil sedikit menundukkan kepala sebelum melangkah pergi.
Saka berjalan menyusuri lorong kosan dengan langkah yang santai. Pikirannya kembali ke perjalanan panjang yang baru saja ia lalui.
Saka adalah seorang perantau yang datang dari sebuah desa terpencil di Jawa. Sebelum Ia pergi merantau ke Jakarta, Ia tinggal bersama sang kakek karena orang tuanya telah meninggal karena sebuah insiden.
Tapi karena penyakit serius yang diderita kakeknya, akhirnya kakek Saka pun pergi meninggalkan Saka sendirian. Namun tentu saja Saka yang pantang menyerah akhirnya memantapkan diri untuk merantau ke Jakarta, dengan bermodalkan ilmu pijat kakeknya Ia melangkah.
Beberapa jam lalu, ia masih terjepit di antara kerumunan Terminal Kalideres. Jakarta menyambutnya dengan hawa panas yang menyengat, debu yang beterbangan, dan suara klakson yang tak henti-henti.
Bau asap bus dan aroma makanan kaki lima bercampur menjadi satu. Bagi Saka, Jakarta adalah rimba beton yang menantang, tapi ia menjalaninya dengan optimisme. Ia bukan tipe pemuda yang suka mengeluh.
Ia masuk ke kamar nomor tujuh. Ukurannya kecil, mungkin hanya dua kali tiga meter. Cat dindingnya mulai kusam dan hawanya terasa pengap karena sirkulasi udara yang minim.
Benar kata Bu Kos, kasur busa di lantai itu sudah kempes di tengah, ditutupi sprei motif bunga yang warnanya sudah pudar dimakan usia.
Saka meletakkan ranselnya, lalu segera membuka jendela kecil satu-satunya di sana. Ia mulai membereskan barang-barangnya dengan cekatan.
Dari dalam tas, ia mengeluarkan sebuah kain beludru hitam yang membungkus botol kaca tua. Begitu kain itu dibuka, tampaklah botol berisi minyak kuning kental.
Saka membuka tutup kayunya sejenak. Seketika, aroma rempah yang kuat, hangat, dan menenangkan langsung memenuhi ruangan.
Aroma itu merayap keluar lewat celah pintu, memenuhi koridor kosan yang tadinya berbau lembap. Saka tersenyum kecil, mencium aroma yang mengingatkannya pada petuah sang kakek di desa.
Setelah membereskan kamar, perutnya mulai berteriak. Saka memutuskan keluar menuju warteg di depan gang.
Di sana, suasana sangat ramai. Saka masuk dengan senyum ramah, menyapa beberapa bapak-bapak yang sedang asik mengobrol.
"Permisi, Pak... numpang makan ya," sapanya sopan.
"Oh, anak baru ya? Gagah bener badannya, Mas," sahut salah satu bapak tukang ojek.
"Iya, Pak. Baru sampai tadi siang. Saya Saka," jawabnya sambil menjabat tangan beberapa orang di sana dengan erat. Keramahannya langsung membuat suasana warteg menjadi lebih akrab.
Ia memesan nasi setengah dengan lauk tongkol dan orek tempe, lalu makan dengan lahap sambil sesekali menanggapi candaan orang-orang di sekitarnya.
Selesai makan, Saka kembali ke kosan. Hari mulai gelap dan lampu kuning di koridor mulai menyala remang-remang.
Saat melewati kamar mandi umum, ia berpapasan dengan seorang wanita muda yang hanya mengenakan handuk, nampaknya baru selesai mandi.
"Eh, selamat malam, Mbak," sapa Saka ramah sambil memberi jalan.
Wanita itu tertegun, matanya sempat terpaku pada otot dada Saka yang terlihat kokoh di balik singlet hitamnya.
"M-malam, Mas... penghuni baru ya?" jawabnya malu-malu sambil mempererat lilitan handuknya.
"Betul, Mbak. Saya Saka di nomor tujuh. Mari, Mbak," ucapnya santun lalu melanjutkan langkah.
Masuk ke dalam kamar, Saka langsung mengunci pintu. Ia melepas singletnya, membiarkan tubuh atletisnya terpapar udara malam.
Di bawah cahaya lampu yang temaram, guratan otot di perut dan lengannya tampak sangat jelas.
Saka mendapatkan bentuk tubuh ini bukan karena olahraga mahal, melainkan hasil dari bertahun-tahun membantu kakeknya bekerja kasar dan melakukan latihan pernapasan khusus.
Saka berdiri di depan cermin kecil yang retak. Ia mengatur posisi kaki, lalu menarik napas panjang melalui hidung. Udara itu ia tekan turun hingga ke pusat perutnya.
Setiap tarikan napas membuat dadanya membusung dan perutnya mengeras seperti baja. Saat ia membuang napas pelan melalui mulut, sekujur tubuhnya mulai bergetar halus.
Ia menyalurkan energi hangat dari inti tubuhnya menuju telapak tangan. Tangannya yang besar perlahan menjadi panas, seolah-olah ada arus listrik statis yang bermain di ujung jari-jarinya.
Inilah warisan kakeknya. Kemampuannya bukan sekadar kekuatan otot, tapi seni menyalurkan energi panas ini untuk memperbaiki saraf yang tersumbat.
Cahaya lampu yang redup memantul di kulitnya yang mulai mengkilap karena keringat. Ia menatap pantulan dirinya, mengepalkan tangan, dan merasakan kesiapan fisik yang luar biasa.
Ia yakin, esok hari papan kayu yang ia pasang di depan pintu akan menarik perhatian mereka yang butuh bantuannya.
Saka memejamkan mata, mengakhiri latihan napasnya dengan desisan panjang. Tiba-tiba, terdengar ketukan pelan di pintunya. Ketukan yang halus dan terdengar ragu.
"Mas... Mas... belum tidur?" suara itu lembut, sedikit serak karena rasa lelah.
Saka melangkah menuju pintu, masih bertelanjang dada. Begitu pintu dibuka sedikit, ia melihat Mbak Lastri, wanita penjual jamu yang kamarnya berada di sebelah.
Lastri berdiri di sana dengan daster batik yang basah oleh keringat di bagian punggungnya. Ia meringis sambil memegangi pundaknya sendiri.
Mata Lastri mendadak melotot saat menatap langsung ke arah dada telanjang Saka yang berpeluh. Ia seolah lupa dengan rasa sakitnya sejenak.
"Aduh, Mas... ganggu ya?" tanya Lastri terbata, wajahnya mendadak merah padam saat matanya tak sanggup berhenti memandangi pahatan otot perut Saka yang bergerak mengikuti napas sang pemuda.
"Pundak saya... kaku banget, Mas. Kayaknya salah urat habis gendong bakul jamu seharian. Mas beneran bisa bantu urut? Kalau memang bisa besok saya bakal jadi pelangan pertama Mas." Ucap Mbak Lastri.
"Bisa dong Mbak, besok saya akan buktikan pijatan super warisan kakek saya ke Mbak." Balas Saka dengan senyuman.
…