
Warisan Penjaga Gerbang
kopi Hitam|Bersambung
- Jumlah kata
- 34.6K
- Popular
- 347
- Subscribe
- 40
- Jumlah kata
- 34.6K
- Popular
- 347
- Subscribe
- 40
Sinopsis
Berawal dari musibah yang menimpa Budi mendapat sebuah warisan yang membuatnya sakti
Ulasan
1 ulasan
Kamarulzain Abd Razak
17/10/26 03:31
aiya lagi sambung....aiya...aiya...aiya...kasi tulis cepat sikit..mau koin tak?aiya.apa LA....cepat sikit ma aiyaaa
Empat Sekawan
"Hei, tarik cepat! Pelampungmu sudah tenggelam itu!" seru Anto sambil menunjuk permukaan air.
Budi tampak tegang, lalu segera menarik joran pancingnya dengan sekuat tenaga.
drrrr…
Senar pancing menegang, perlahan sesuatu mulai terangkat naik ke permukaan.
byuuur…
"Hahaha!"
Mereka semua tertawa melihat apa yang muncul di ujung kail. Ternyata hanya sepasang sepatu bot tua yang tersangkut! Dengan kesal, Budi membanting sepatu bot itu ke tepi kolam.
"Heh, awas, kena aku!" keluh Ade yang duduk di sebelahnya.
"Hehe, maaf ya!" Budi tersenyum malu—air yang menggenang di dalam sepatu itu tumpah ke mana-mana.
"Eh, itu apa?" gumam Budi. Ia melihat sesuatu bergerak di dalam sepatu bot itu.
Ia mencondongkan badan, menatap ke dalam dengan saksama.
"Wahhh!"
byuur!
Anto sengaja mengejutkannya dari belakang. Budi meloncat kaget dan terperosok jatuh ke dalam kolam!
"Hahaha!" Nurul, Ade, dan Anto tertawa terbahak-bahak melihat Budi basah kuyup.
"Ah, kalian ini ya!" gerutu Budi sambil naik ke tepi. Ia meraih jaring pancingnya.
sisir…
"Wah, ikan gabus!" seru Ade. Tiga ekor ikan gabus lumayan besar terperangkap di jaring itu.
"Wah, beruntung kamu, Bud!" seru Anto.
"Alhamdulillah… rezeki hamba yang diberkahi," ucap Budi tulus.
Budi, Anto, Ade, dan Nurul selalu bermain bersama meski tidak bersekolah di tempat yang sama. Ponsel adalah barang langka bagi mereka—lebih baik membeli beras daripada membelinya, belum lagi biaya pulsa dan kuota yang tak sedikit.
Anto dan Nurul adalah kakak-beradik. Mereka berdua sudah putus sekolah karena keterbatasan biaya; ayahnya hanya buruh tani, ibunya buruh cuci harian. Di antara mereka berempat, hanya Nurul perempuan.
Kehidupan Ade lumayan lebih tenang—ayahnya sopir angkot milik sendiri, dan keluarganya punya toko kelontong kecil.
Sedangkan Budi… ia hidup sebatang kara. Orang tuanya meninggal dunia dalam kecelakaan tepat saat ia lulus SD, lima tahun lalu. Ia diasuh oleh neneknya dan tetap disekolahkan, namun setahun yang lalu neneknya pun pergi karena demam berdarah. Sejak saat itu, Budi hidup sendiri. Berkat bantuan biaya dari sekolah, ia tetap bisa belajar. Untuk makan sehari-hari, ia mengerjakan apa saja yang bisa—sering kali menjadi kondektur angkot bersama ayah Ade.
Tubuhnya kekar karena biasa bekerja berat, wajahnya tampan dengan garis-garis tegas yang menenangkan. Hari ini ia libur—mobil ayah Ade disewa warga untuk berwisata ke Pantai Pasir Putih. Maka Budi pergi memancing, dan ketiga sahabatnya ikut menemaninya.
"Sudah mau maghrib, ayo pulang?" ajak Budi melihat matahari mulai turun.
"Ayo, aku juga sudah mau pulang!" sahut Ade. Anto dan Nurul mengangguk. Nurul tampak sedikit kecewa—ia hanya mendapat satu ekor ikan yang tak terlalu besar.
"Ini, ambil saja untukmu," Budi menyodorkan dua ekor ikan nila merah miliknya. Ia sendiri mendapat tiga ekor gabus yang lumayan besar dan lima ekor nila.
"Hihi, makasih ya!" Nurul tersenyum lebar, manis sekali.
Mereka berjalan pulang sambil bercanda.
"Eh, rambutan sudah matang itu!" tunjuk Anto ke kebun Pak Sigit. Buah merah menggantung lebat di dahan yang menjulur ke luar pagar.
"Ya sudah, minta saja ke sana," kata Budi.
"Minta ke siapa? Tak ada siapa-siapa. Biasanya Bu Nilam ada di kebun jam segini, hari ini tak kelihatan," kata Ade.
"Sudah, yang penting minta izin dulu," putus Budi.
"Bu… boleh ambil rambutannya?" panggil Ade.
"Iya, silakan ambil saja!" Nurul meniru suara Bu Nilam dengan jenaka.
Mereka tertawa, lalu memetik beberapa buah yang terjangkau dari luar pagar. Rumah mereka berdekatan—rumah Ade dan Anto berdampingan, sedangkan rumah Budi terpisah dua bangunan.
Sambil menenteng ikan, Budi melangkah pulang. Seorang lelaki paruh baya menghampirinya.
"Adik, itu ikan gabus ya?" tanyanya ramah.
"Iya, Pak. Ikan gabus. Ada apa, Pak?" tanya Budi sopan.
"Kebetulan sekali. Saya tadi mencarinya di pasar tak dapat. Boleh saya beli?"
"Boleh saja, Pak. Tapi maaf, untuk apa ya?"
"Istri saya baru saja dioperasi. Kata dokter, ikan gabus bagus untuk mempercepat penyembuhan luka operasinya," jelas lelaki itu.
"Kalau begitu, silakan ambil saja, Pak. Tak usah dibeli, saya ikhlas memberi." Budi menyerahkan ketiga ikan itu yang diikat dengan sehelai jerami.
"Terima kasih, Nak. Terima kasih banyak." Lelaki itu menyodorkan sebuah amplop. Budi menolak, namun ia memaksa hingga Budi akhirnya menerimanya.
Lelaki itu melanjutkan perjalanan dan berpapasan dengan Nurul yang baru keluar rumah. Mereka menyapa. Nurul melihat ikan yang dibawanya.
"Kok belum masuk?" tanya Nurul melihat Budi diam menatap amplop di tangannya.
"Itu siapa, Rul?"
"Oh, itu Pak Suryo. Rumahnya di ujung jalan sana," tunjuk Nurul. "Kamu mau ke mana?"
"Mau ke rumahmu. Kamu pasti belum memasak ikannya kan?"
"Belum sampai rumah pun belum. Lagian ikan gabusnya sudah saya berikan ke Pak Suryo," tunjuk Budi pada amplop itu.
"Sudahlah, yang ada saja yang dimasak. Ayo!" Nurul menarik tangannya.
"Hei, pelan-pelan, nanti jatuh!" tertawa Budi.
"Aku mandi dulu ya. Nanti kita masak bersama," kata Budi sambil meraih handuk.
"Pergilah mandi sana, biar aku yang menyiapkan. Nanti Anto dan Ade pasti datang juga," seru Nurul. Ia mulai membersihkan ikan nila.
Tak lama kemudian, terdengar salam. Benar saja—Anto dan Ade datang. Aroma ikan goreng yang harum mulai tercium, membuat perut Budi terasa lapar seketika. Nurul memang pandai memasak; ia bisa mengubah bahan sederhana menjadi hidangan yang lezat.
"Lho, ikan gabusnya ke mana?" tanya Ade melihat hanya ikan nila yang tersaji.
"Diberikan ke Pak Suryo tadi," jawab Budi.
"Wah, dibeli berapa? Ikan gabus sekarang mahal, sekitar seratus dua puluh ribu rupiah sekilo kan?"
"Entahlah. Ini amplopnya saja belum kubuka. Sebenarnya ingin kuberikan saja, tapi beliau memaksa," Budi mengangkat amplop itu.
"Buka saja dulu," saran Anto.
Budi menyerahkan amplop itu kepada Nurul. "Tolong bukakan."
Nurul membukanya, matanya terbelalak.
"Wah, Budi… ini lima ratus ribu rupiah!"
"Kok sebanyak itu?" Budi terkejut.
"Sudah, tak usah dipikirkan. Pak Suryo memang begitu. Kalau merasa terbantu, ia tak pelit berterima kasih. Mungkin kamu dianggap berharga baginya," kata Anto. Keluarganya sering dibantu oleh Pak Suryo.
"Bagaimana kalau kita kembalikan sebagian?" tanya Budi.
"Tak akan diterima, Bud," tegur Anto.
"Sudah, lebih baik simpan saja untuk kebutuhanmu sendiri," saran Nurul.
"Begini saja… ini rezeki yang kita dapat bersama-sama. Bagilah rata saja di antara kita," usul Budi.
"Ih, tak mau, Bud. Itu hakmu sendiri," tolak Nurul. Anto dan Ade mengangguk setuju.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kamu yang mentraktir kami?" tawar Ade.
"Boleh! Kalian mau apa?"
"Mie tek-tek malam ini saja, bagaimana?" usul Anto.
"Wah, setuju! Sudah lama tak makan itu!" seru Nurul gembira.
Mie tek-tek selalu lewat setiap malam. Penjualnya memukul-mukul dinding kuali dengan alat kayu, bunyi tek-tek-tek terdengar dari kejauhan, itulah asal namanya. Ada mie rebus dan mie goreng, keduanya sama lezatnya.
Daftar bab
32 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








