
Badboy Sengklek
Anggrek Merpati|Bersambung
- Jumlah kata
- 81.1K
- Popular
- 508
- Subscribe
- 109
- Jumlah kata
- 81.1K
- Popular
- 508
- Subscribe
- 109
Sinopsis
Seorang pemuda yang bisa mendengar suara hati orang lain dan bisa melihat mahluk halus setelah mengalami terseret banjir bandang.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1
"Aaaargh!"
"Aaaargh!"
"Aaaargh!"
Teriak seorang siswa laki-laki dalam kelas di tengah proses ulangan yang sedang berlangsung. Parahnya lagi kedua temannya ikut berteriak yang membuat seisi kelas tiba-tiba menjadi gaduh.
"Huuuh!"
Seru seluruh siswa dalam kelas menyoraki ketiga siswa yang berteriak itu.
"Dasar trio sengklek! Bikin kaget aja kalian ya!" Ucap salah satu siswa.
"Noh! Anaknya Arion!" Tunjuk siswa yang duduk di bangku belakang. "Gue juga kaget bro!" Ucapnya lagi memegangi dadanya yang masih terasa jedag jedug.
"Hooh! Lo napa dah tiba-tiba teriak Ar? Bikin heboh satu kelas aja Lo!" Ucap teman sebangku siswa yang teriak itu.
Sedangkan remaja yang tiba-tiba teriak itu diam saja seolah tidak mendengar suara teman-temannya, wajahnya terlihat tegang dan berkeringat.
"Murid-murid tenang-tenang semuanya! Sudah jangan berisik!" Ucap pak guru di depan kelas sambil mengetuk-ngetuk papan tulis menggunakan penggaris kayu panjang. "Sekarang kerjakan kembali kertas tugas ulangan kalian." Perintahnya.
"Baik, pak guru!" Ucap semua murid serempak.
Seketika semua siswa terdiam begitu pula dengan ketiga remaja itu. Mereka mulai mengerjakan kertas soalnya kembali.
Perlahan suasana kelas mulai tenang. Namun tidak bagi remaja laki-laki yang tiba-tiba berteriak tadi. Suara-suara hati teman-temannya sungguh mengganggu indra pendengarannya hingga membuat kepalanya terasa sakit. Dia memegangi dan mencoba menggelengkan kepalanya agar suara-suara itu tak terdengar lagi di telinganya namun usahanya itu tak membuahkan hasil suara-suara itu tetap saja terdengar di telinganya seolah ingin merobek gendang telinganya.
'Ah! Asem memang susah sekali soal-soal ulangan ini.'
'Jangkriklah! Soal apaan ini otak gue rasanya mau pecah.'
'Bjiiirlah! Semalam gue kagak belajar.'
'Semalam gue begadang main game sampai pagi! Ngantuk wooy lah.'
Dan masih banyak lagi suara-suara hati teman-temannya berupa umpatan-umpatan yang membuat gendang telinganya serasa mau pecah. Bahkan suara hati kedua sahabat sengkleknya pun terdengar begitu berisik di telinganya.
'Ah! Otak imut gue berasa jadi kriting liat nih soal matematika, pusing euy.'
'Otak gue yang cuma seukuran 1MB ini malah di suruh ngisi soal matematika sama fisika pula hari ini. Huh!'
Suara-suara hati teman-temannya semakin lama semakin membuat gendang telinganya sakit. Sehingga membuatnya geram tanpa sadar remaja itu berdiri dan berteriak.
"DIAM KALIAN SEMUA!"
Seketika seluruh atensi siswa teralihkan dan berpusat padanya.
Kriiik... Kriiik... Kriiik...
Melihat seluruh pandangan mata teman-temannya berpusat padanya seketika membuatnya menjadi canggung dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Arkana ada apa?" Tegur pak guru di depan kelas. Arkana merasa semakin canggung dengan situasinya.
"Aduh! Kenapa lagi sih tuh bocah sengklek satu ini?" Lirih sahabat yang duduk semeja dengannya. Sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.
"Ar, Napa lagi sih Lo? Bikin malu aja! Duduk cepetan Lo cok!" Ucap pelan sahabatnya yang duduk di bangku belakang sambil menarik-narik ujung baju seragamnya.
Sambil cengengesan Arkana menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ti-tidak ada apa-apa pak, maaf!" Ucapnya kikuk sambil duduk kembali di kursinya.
-----------
Jam pulang sekolah telah tiba setelah berjam-jam mengisi soal-soal dengan rumus-rumus matematika yang membuat kepala ketiga remaja itu serasa mau pecah. Kini Arkana dan dua sahabatnya tengah berjalan menuju parkiran.
"Lo napa dah bro?" Ucap Vino merangkul pundak Arkana. "Gue perhatiin dari tadi Lo diam aja! Lo sakit?" Ucapnya memegang dahi Arkana. "Muka Lo juga pucet banget!" Ucapnya lagi memperhatikan wajah Arkana.
"Hooh! Lo napa dah Ar? Tadi pagi waktu dalam kelas Lo tiba-tiba teriak! Aneh banget sih Lo!" Ucap Novan yang berjalan di sampingnya.
"Kalau Lo butuh temen buat cerita kita siap kok dengerin cerita Lo!" Ucap Vino.
"Hooh! Kalau Lo butuh pundak! Pundak gue pun siap buat jadi sandaran Lo!" Sambung Novan.
Seketika Arkana memeluk kedua sahabat sengkleknya itu sungguh dia terharu dengan ucapan kedua sahabatnya itu.
"Thanks, ya! Kalian emang sahabat gue yang paling sengklek."
"Dih, Lo aja kali yang sengklek gue mah enggak!" Seru Vino dan Novan serempak seketika mereka pun tertawa.
"Laper nih! Cari makan dululah guys!" Ucap Novan.
"Ya udah kita ke cafe deket sekolah aja." Timpal Arkana.
"Ayo! Cabut!" Lanjut Vino mendahului.
Sesampainya di parkiran tanpa banyak drama seperti biasa Arkana langsung melajukan motornya tanpa memperdulikan dua sahabatnya yang terperangah melihat kepergiannya.
"Eh, bused! Kenapa lagi dah itu anak? Napa gak nungguin sih maen ninggalin aja!" Ucap Novan.
"Arkana! Wooy... Anaknya Arion!" Teriak Vino.
Mereka pun mengejar motor Arkana yang sudah melaju lebih dulu.
Sekitar lima belas menit berkendara. Arkana menghentikan motornya di depan cafe di ikuti Novan dan Vino di belakangnya. Mereka berjalan masuk kedalam cafe dan memilih duduk di meja yang dekat dengan kolam ikan buatan dalam cafe.
"Kalian pesan makanan biar gue traktir!" Ucap Arkana.
"Asiap Bos!" Ucap Vino dan Novan serempak.
Tak lama pelayan cafe menghampiri meja mereka.
"Mau pesan apa Adek-adek?" Ucap pelayan cafe sambil menyodorkan buku menu kehadapan mereka.
"Gue pesen minuman yang seger aja Bang, haus banget nih!" Ucap Arkana.
"Gue mau spaghetti carbonara, kentang goreng sama roti bakar Bang minumnya samain aja dah." Tambah Vino.
"Gue samain aja Bang." Sambung Novan.
"Siap, di tunggu ya!" Ucap pelayan cafe pergi meninggalkan meja tiga remaja itu.
Setelah kepergian pelayan cafe itu Vino memandang Arkana dengan pandangan yang serius.
"Ar, Lo kagak mau cerita sama kita!" Ucap Vino mendahului.
"Hooh! Lo kenapa sih Ar? Akhir-akhir ini gue lihat Lo agak aneh." Sambung Novan.
Arkana menarik nafasnya dalam.
Hening
Arkana terdiam cukup lama seolah ragu untuk bercerita pada dua sahabatnya. Bukan ragu. Tapi... Lebih ke takut dua sahabatnya tidak percaya dengan apa yang akan dia ceritakan. Apa yang dia alami mungkin tidak masuk akal di logika dua sahabatnya bisa-bisa dia di anggap tidak waras oleh mereka berdua.
"Cerita aja Ar! Kita siap kok dengerin cerita Lo." Ucap Vino.
"Iya Ar! Kita kan sahabat! Kita bisa jaga rahasia kok, Iya kan Vin?" Ucap Novan melihat kearah Vino.
Vino pun menganggukan kepalanya meyakinkan.
Setelah terdiam cukup lama Arkana menghembuskan nafasnya pelan.
"Janji dulu kalau gue cerita kalian berdua nggak akan ngetawain gue dan bisa jaga rahasia." Ucap Arkana menyodorkan jari kelingkingnya.
Vino dan Novan saling berpandangan kemudian mengangguk.
"Janji!" Seru mereka serempak dan saling manautkan jari kelingking mereka bertiga.
"Kalian berdua masih ingat gak sih?" Yang waktu kita tracking ke Curug yang ada di daerah Sukabumi." Tanya Arkana sebelum memulai ceritanya.
"Yang waktu kita lagi mandi di bawah air terjun tiba-tiba ada banjir bandang." Sambung Arkana lagi.
Kedua sahabatnya melihat kearah langit-langit cafe seolah sedang mengingat kejadian waktu itu yang membuat mereka agak trauma.
"Iya, gue ingat dan gue gak pernah lupa dengan kejadian seminggu yang lalu itu." Ucap Vino yang di angguki oleh Novan tanda setuju.
Bersambung...
Daftar bab
77 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








