Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pendekar Pedang Bulan

Pendekar Pedang Bulan

Aruna Baruna | Bersambung
Jumlah kata
77.5K
Popular
108
Subscribe
15
Novel / Pendekar Pedang Bulan
Pendekar Pedang Bulan

Pendekar Pedang Bulan

Aruna Baruna| Bersambung
Jumlah Kata
77.5K
Popular
108
Subscribe
15
Sinopsis
FantasiFantasi TimurPedangDunia GaibSilat
Akmal, pemuda asal Parung, sedang berada di titik terendah dalam hidupnya setelah ditinggal menikah oleh Sari. Frustrasi, ia mabuk sambil membaca komik silat klasik. Dalam keadaan setengah sadar, ia menemukan sebuah cawan perunggu berukiran naga dan maung yang memancarkan cahaya. Saat ia menuangkan sisa minumannya ke sana dan meminumnya, sebuah pusaran waktu terbuka, menariknya masuk. Ia jatuh ke sebuah zaman kuno di dimensi lain, tepat di tengah hutan lebat berkabut. Di hari pertamanya, Akmal hampir mati diterkam Siluman Tengkorak, sebelum diselamatkan oleh Ki Joko Lelowo, seorang kakek tua yang langsung mengakui Akmal sebagai muridnya karena Akmal di tubuh Akmal kini mengandung isi Cawan Bulan. Terjebak di dunia yang penuh pertumpahan darah, arwah penasaran, dan dunia silat, Akmal mau tidak mau belajar ilmu kanuragan. Latihannya brutal dan horor—bermeditasi di kuburan, berlatih meringankan tubuh dengan menghindari kejaran pasukan pocong, dan mengalirkan qi di bawah air terjun berdarah. Di saat bersamaan, Ratu Siluman Candra Geni menyadari keberadaan cawan tersebut dan mulai mengirim pasukan iblisnya untuk memburu Akmal. Dalam perjalanannya melarikan diri dan mencari jalan pulang, Akmal bertemu Nona Lin, seorang pendekar wanita yang desanya dihancurkan oleh siluman. Mereka bersekutu. Merasa bertanggung jawab atas nyawa teman-teman barunya, mental Akmal mulai terbentuk. Puncaknya, ketika Ki Joko Lelowo mengorbankan diri demi menahan serangan Ratu Siluman, Akmal akhirnya berhenti lari dari kenyataan. Ia mewarisi pedang pusaka gurunya, menyatukannya dengan energi Cawan di tubuhnya, dan membangkitkan ilmu Jurus Pedang Pembelah Bulan. Pada pertempuran akhir yang bersimbah darah dan dikelilingi ribuan arwah, Akmal berhasil memenggal sang Ratu Siluman, mengukuhkan namanya sebagai Pendekar Pedang Bulan, dan dihadapkan pada pilihan: menggunakan kekuatan cawan untuk pulang dan kembali ke Sari, atau menetap di dunia magis sebagai pelindung.
Mabuk Lagi

"Lu beneran mau kawin, Sar?" Akmal menatapnya. “Dengerin gue, Sar, liat sini dong, Sar.”

Suara Akmal gemetaran, nyaris tenggelam oleh dentuman musik dangdut dari sound system raksasa di halaman rumah Sari. Matanya merah, menahan tangis dan kurang tidur. Ia menatap nanar janur kuning yang melengkung angkuh di depan pagar. Di bawah tenda biru, belasan tamu asyik tertawa sambil mengunyah dadar gulung.

Sari, perempuan yang tiga tahun mengisi harinya, berdiri berkacak pinggang di balik pagar besi. Kebaya brokat pink membuatnya tampak luar biasa cantik. Sayangnya, kecantikan itu bukan lagi milik Akmal.

Sari memicingkan mata. Tak ada lagi kehangatan yang dulu selalu ia berikan saat mereka berboncengan vespa tua keliling Banjar.

"Mata lu buta, Mal? Udah jelas ada janur kuning, tenda, keluarga besar kumpul semua. Masih nanya juga?" balas Sari judes.

Akmal mencengkeram besi pagar. "Tapi kemarin lu bilang kita cuma butuh waktu buat break! Buat introspeksi! Terus sekarang, tiba-tiba gue datang ke sini mau minta maaf, lu udah lamaran? Sama siapa, Sar? Cowok yang lu bilang cuma 'teman kerja' itu?!"

Sari membuang muka, menghela napas kasar sebelum menatap Akmal dari atas sampai bawah dengan tatapan merendahkan.

"Denger ya, Mal," ucap Sari, matanya mendelik. "Gue ini perempuan, butuh kepastian! Butuh masa depan yang jelas! Coba lu ngaca deh. Umur dua puluh dua tahun, kerjaan serabutan, nongkrong nggak jelas. Tiap hari kerjaannya cuma baca komik silat di pos ronda. Lu mau ngasih gue makan pakai tenaga dalam? Pakai jurus naga?!"

"Sar, gue janji bakal cari kerja tetap. Gue lagi usaha—"

"Usaha apaan?!" potong Sari tajam. "Mas Hendro itu manajer pabrik! Dia punya mobil, punya rumah, dan yang paling penting, dia punya masa depan! Lah, elu? Motor aja sering mogok, bensinnya mesti beli eceran. Tolong deh, Mal. Sadar diri. Kasta kita udah beda. Mending lu balik sebelum Mas Hendro atau bapak gue lihat. Jangan bikin malu."

Tanpa menunggu balasan, Sari berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah.

Dada Akmal sesak. Rasanya seperti ditusuk ribuan jarum. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tercekat. Sambil menunduk menelan sisa harga dirinya yang hancur lebur, Akmal berbalik pergi, diiringi dentum bass musik dangdut yang terasa mengolok-oloknya.

Langkah Akmal sempoyongan menjauhi keramaian. Tangan kanannya menggenggam erat sebotol arak oplosan murah. Di saku jaket denimnya yang pudar, terselip komik silat klasik berhalaman keriting.

Teguk.

Cairan panas itu membakar tenggorokannya, tapi rasa sakitnya tak sebanding dengan perih di dada.

"Manajer pabrik... brengsek," rutuknya melantur. “Gue itu pacaran udah lama, kampret!”

Bruk! Kakinya tersandung batu. Akmal terhuyung dan menabrak pohon pisang, lalu jatuh terduduk di tanah berumput. Gelap malam dan udara dingin mulai menusuk tulang, menandakan ia sudah masuk terlalu jauh ke pinggiran hutan desa.

"Biarin dah... biarin gue mati mabuk di sini. Biar puas lu, Sar!" teriaknya pada angin malam. Air matanya mengalir, bercampur dengan keringat.

Saat ia merangkak mencari botol araknya yang menggelinding, ekor matanya menangkap sesuatu. "Eh, apaan tuh terang-terang?"

Dari balik semak berdaun lebar di dekat akar beringin tua, memancar pendaran hijau keemasan. Warnanya redup, tapi berdenyut seolah bernapas.

Didorong rasa penasaran dan otak yang sudah tumpul karena alkohol, Akmal menyibak semak berduri itu.

Sebuah cawan kecil tergeletak di atas lumut. Cawan perunggu tebal yang terlihat sangat kuno. Permukaannya penuh ukiran detail—seekor Naga melilit tubuh seekor Maung. Cahaya hangat memancar dari benda itu.

Akmal memungutnya dan tertawa sumbang. "Buset... Gelas antik siapa nih ketinggalan di mari?"

Benda itu terasa dingin, namun pas di genggaman. Akmal melirik botol arak di tangan kirinya yang tersisa separuh. Senyum sinis mengembang di bibirnya.

"Hari ini gue ditinggal kawin. Seenggaknya, semesta ngasih gelas cakep buat gue minum. Bersulang buat pendekar pemabuk sebelum mati konyol!"

Tanpa pikir panjang, ia menuangkan semua sisa arak ke dalam cawan itu.

Anehnya, saat cairan bening itu menyentuh dasar perunggu, cahayanya makin terang. Arak murahan itu mendadak mendidih bergelembung tanpa suhu panas, mengeluarkan wangi aneh—campuran teratai, dupa kuno, dan bau amis darah.

Tapi Akmal yang setengah mabuk sudah tidak peduli logika. Ia mengangkat cawan itu tinggi-tinggi ke arah bulan sabit.

"Buat Sari, dan buat Mas Manajer Pabrik yang terhormat! Selamat kawin! Semoga kalian berdua bahagia sampai mampus!" teriaknya menembus keheningan.

Glek!

Satu tegukan panjang, dan dunia Akmal seketika berhenti.

Bukan rasa panas arak yang menjalar, melainkan sengatan listrik dahsyat yang menghantam ulu hati. Mata Akmal membelalak ngeri.

"Uhuk! Gila, a-apaan nih?!" jeritnya tersedak.

Cawan perunggu itu mendadak sepanas besi tempa. Akmal berusaha melemparnya, tapi benda itu seolah menempel mati di telapak tangannya. "Woy! Lepas! Lepasin tangan gue!"

Ukiran Naga dan Maung di cawan itu tiba-tiba bergerak hidup. Lolongan harimau meledak di dalam kepalanya, disusul pekik naga yang menggetarkan tanah pijakannya. Cahaya hijau keemasan meledak terang benderang, menelan tubuhnya.

Ruang dan waktu seolah robek. Tubuh Akmal tersedot paksa ke dalam pusaran cahaya yang menyilaukan. Ia berteriak, tapi suaranya hilang ditelan hampa sebelum akhirnya semuanya menjadi gelap gulita.

Tik. Tik.

Tetesan air dingin mengenai dahi Akmal. Kepalanya berdenyut hebat seakan baru digebuk palu godam. Perutnya bergejolak parah. Sambil mengerang, ia memaksa matanya terbuka.

"Aduh... kepala gue..." keluhnya parau.

Ia mengerjap menyesuaikan cahaya. Bukannya langit-langit pos ronda atau jalanan aspal di Parung, pandangannya justru dipenuhi rimbunan pohon bambu raksasa berbatang hitam legam yang menjulang menutupi langit.

Akmal duduk dengan gemetar. Cawan perunggu tadi sudah lenyap tak berbekas. Kabut tebal keabu-abuan melayang setinggi lutut.

Ia mengendus udara. "Anjir, bau apa ini? Bau... darah?"

Belum sempat otaknya memproses realita, suara angin berdesir tajam memecah kesunyian dari atas kepalanya.

WUSSH! WUSSH! WUSSH!

Akmal mendongak kaget. Matanya terbelalak lebar. Di sela-sela kabut, bertengger di atas dahan bambu setinggi dua puluh meter, ia melihat tiga siluet manusia berjubah hitam. Mereka melompat seringan kapas dari dahan ke dahan, menggenggam pedang yang memantulkan cahaya bulan sabit warna merah.

Jantung Akmal nyaris copot. Mulutnya menganga.

Ia mencubit pipinya sendiri sekuat tenaga. "Aduh! Ibuuu!"

Napasnya memburu. Ini bukan halusinasi dari botol oplosan. Udara dingin yang menusuk paru-parunya ini terlalu nyata. Tanah basah ini terlalu nyata. Orang-orang terbang itu apalagi.

Ia merangkak mundur, menatap horor ke sekeliling hutan kuno yang sunyi dan mencekam ini. Langit gelap gulita, tak seperti langit kelam di desanya di Parung. Tak ada rumah Pak Kades, apalagi jalanan menuju rumah Sari.

"Anjir..." bisiknya dengan tubuh gemetar hebat. "Gue ada di mana ini?!"

Lanjut membaca
Lanjut membaca