
Di Antara Takdir dan Pilar Larangan
Athena99|Bersambung
- Jumlah kata
- 1.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
- Jumlah kata
- 1.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2

Athena99|Bersambung
Sumatra Timur, 1912. Adrian van der Velde selalu hidup di atas segalanya, kekuasaan, kehormatan, dan darah bangsawan Belanda yang membuat semua orang tunduk padanya. Ia memiliki segalanya. Kecuali kebebasan. Hingga suatu malam, ia bertemu Sekar Ayuningrat. Putri seorang bupati pribumi yang terlalu anggun untuk dilupakan… dan terlalu berbahaya untuk dicintai. Sekar bukan wanita yang memohon perhatian Adrian. Ia menantangnya. Menatapnya tanpa takut. Dan perlahan, membuat Adrian kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Apa yang awalnya hanya rasa penasaran berubah menjadi hubungan rahasia yang dipenuhi tatapan terlarang, sentuhan sembunyi-sembunyi, dan malam-malam yang seharusnya tidak pernah terjadi. “Kalau seseorang melihat kita?” bisik Sekar gemetar ketika tubuhnya terjebak di antara dinding dan dada Adrian. Adrian menunduk, napasnya menyapu kulit leher wanita itu perlahan. “Biarkan mereka melihat,” ucapnya lirih. “Agar mereka tahu… aku tidak berniat melepaskanmu.” Namun cinta mereka adalah dosa di mata dunia kolonial. Keluarga Adrian menganggap Sekar tidak pantas karena darah dan bangsanya. Para pejabat Belanda mulai membicarakan hubungan mereka sebagai skandal memalukan. Dan semakin dekat Adrian pada Sekar, semakin ia sadar bahwa mungkin harus menghancurkan keluarganya sendiri demi mempertahankan wanita itu. Tetapi Sekar juga menyimpan rahasia. Rahasia yang dapat menghancurkan nama Adrian, meruntuhkan keluarga Van der Velde, dan mengubah cinta mereka menjadi bencana yang tak bisa diperbaiki. Di antara kekuasaan, gairah, dan pengkhianatan… Berapa harga yang harus dibayar untuk cinta yang tidak seharusnya ada?
Hujan turun tipis di atas perkebunan tembakau Deli ketika kereta kuda hitam itu melaju perlahan melewati jalan berlumpur. Kabut sore menggantung rendah di antara pepohonan, membuat dunia terlihat pucat dan dingin. Dari balik jendela kereta, seorang pria muda bersandar malas sambil memandang keluar dengan sorot mata jenuh.
Namanya Adrian van der Velde.
Putra tunggal keluarga bangsawan Belanda yang memiliki pengaruh besar di Sumatra Timur.
Di usia dua puluh delapan tahun, Adrian sudah dikenal sebagai pewaris yang sempurna. Tampan, terdidik, berbicara empat bahasa, dan memiliki ketenangan yang membuat banyak wanita Eropa tergila-gila padanya. Namun di balik pakaian mahal dan sikap aristokratnya, Adrian menyimpan sesuatu yang jarang diketahui orang.
Ia membenci dunia tempatnya lahir.
“Perkebunan kita menghasilkan lebih sedikit bulan ini, Tuan Muda,” ucap lelaki tua di seberangnya. Willem, kepala administrasi keluarga Van der Velde. “Para pekerja pribumi mulai sulit diatur.”
Adrian tidak menjawab.
Matanya tetap tertuju pada hamparan ladang yang luas. Ia melihat beberapa pekerja berjalan di tengah hujan, tubuh mereka basah kuyup, sementara pengawas Belanda berdiri di bawah payung.
Pemandangan itu membuat dadanya terasa sesak.
“Kau mendengarkanku?” tanya Willem lagi.
“Aku mendengar,” jawab Adrian pendek.
“Kalau begitu—”
“Tapi aku tidak tertarik.”
Willem terdiam.
Adrian menoleh perlahan, matanya dingin.
“Setiap hari aku mendengar hal yang sama. Keuntungan, pekerja, pajak, politik. Apa tidak ada topik lain di dunia ini?”
Willem menarik napas pelan. “Tuan Besar ingin Anda mulai mengambil alih urusan keluarga.”
“Tentu saja.”
Kereta kembali sunyi.
Hanya suara roda yang menghantam genangan air.
Adrian memejamkan mata sesaat. Sejak kecil, hidupnya sudah ditentukan. Menjadi pewaris keluarga Van der Velde. Menikahi wanita bangsawan Eropa. Mengurus perkebunan. Memperluas kekuasaan keluarga.
Semua sudah disiapkan.
Tanpa pernah ada yang bertanya apakah ia menginginkannya.
Kereta akhirnya memasuki kawasan kota kecil Kesultanan Deli. Bangunan-bangunan bergaya kolonial berdiri megah, kontras dengan rumah-rumah penduduk pribumi di sisi jalan.
Beberapa orang menunduk hormat ketika melihat lambang keluarga Van der Velde di sisi kereta.
Adrian membuang wajah.
Ia muak melihat tatapan takut itu.
“Tuan muda akan menghadiri pesta malam ini, bukan?” tanya Willem hati-hati.
“Pesta apa lagi?”
“Jamuan makan di rumah Bupati Langkat. Banyak pejabat Belanda datang.”
Adrian menghela napas panjang.
“Kalau aku menolak?”
“Nyonya Besar akan marah.”
“Itu sudah biasa.”
Namun pada akhirnya, Adrian tetap datang.
Malam itu rumah besar milik bupati dipenuhi cahaya lampu minyak dan suara musik klasik. Para pejabat Belanda berbincang sambil tertawa kecil, sementara para pelayan pribumi bergerak diam seperti bayangan.
Adrian berdiri di dekat balkon dengan segelas anggur di tangan.
Ia tidak menyukai pesta.
Terlalu banyak senyum palsu.
“Tuan Adrian.”
Seorang wanita muda Belanda menghampirinya dengan senyum manis. Gaunnya merah gelap dengan renda mahal di bagian leher.
“Lady Beatrice,” sapa Adrian datar.
“Aku sudah mencarimu dari tadi.” Wanita itu tersenyum menggoda. “Kau selalu menghindariku.”
“Karena aku tahu kau akan menemukanku.”
Beatrice terkekeh pelan.
Semua orang tahu keluarga mereka sedang mencoba menjodohkan mereka.
Dan Adrian sangat membencinya.
Saat Beatrice mulai berbicara soal pesta dansa di Batavia, perhatian Adrian justru teralihkan ke sisi ruangan lain.
Seorang wanita berdiri di dekat rak buku.
Bukan wanita Belanda.
Kulitnya cokelat keemasan, rambut hitam panjangnya disanggul sederhana dengan hiasan melati putih. Ia mengenakan kebaya sutra hijau tua dengan kain batik yang elegan.
Cantik.
Tapi bukan kecantikan mencolok seperti wanita Eropa.
Ada sesuatu yang tenang pada dirinya.
Sesuatu yang membuat Adrian sulit mengalihkan pandangan.
Wanita itu sedang membaca buku, seolah pesta mewah ini tidak menarik baginya.
“Aku tidak tahu keluarga bupati punya perpustakaan sebagus ini.”
Suara Adrian membuat wanita itu menoleh.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Adrian merasa sedikit terkejut.
Tatapan mata wanita itu sangat tajam.
Tidak takut.
Tidak tunduk.
“Aku juga tidak tahu bangsawan Belanda suka membaca,” jawabnya tenang.
Adrian tersenyum tipis.
“Aku harus menganggap itu hinaan?”
“Tergantung Anda cukup pintar untuk menyadarinya atau tidak.”
Jawaban itu membuat Adrian tertawa kecil.
Sudah lama tidak ada orang yang berbicara padanya tanpa rasa takut.
“Aku Adrian van der Velde.”
“Aku tahu.”
“Lalu siapa namamu?”
Wanita itu menutup bukunya perlahan.
“Sekar Ayuningrat.”
Nama itu terasa asing namun indah di telinga Adrian.
“Putri Bupati,” lanjut Sekar singkat.
Ah.
Pantas caranya berdiri begitu anggun.
Namun Adrian bisa melihat sesuatu yang lain dalam dirinya. Sesuatu yang tidak cocok berada di ruangan penuh pejabat kolonial ini.
“Kau tidak menikmati pestanya?” tanya Adrian.
Sekar melirik kerumunan bangsawan Belanda di aula utama.
“Mereka berbicara tentang tanah kami seolah itu barang dagangan.”
Nada suaranya tetap lembut, tetapi ada bara kecil di balik kata-katanya.
Adrian terdiam.
“Kau jujur sekali.”
“Ayahku bilang kejujuran lebih baik daripada kemunafikan.”
“Kalau begitu ayahmu pria yang bijak.”
Sekar tersenyum kecil.
Dan entah kenapa, senyum sederhana itu terasa jauh lebih memikat daripada seluruh wanita bangsawan yang pernah ditemui Adrian.
“Bukankah berbahaya mengatakan hal seperti itu di depan seorang Belanda?” tanya Adrian pelan.
Sekar menatapnya lurus.
“Apakah Anda akan menangkapku?”
Tidak ada rasa takut di sana.
Sama sekali tidak ada.
Adrian merasa dadanya berdebar aneh.
Ia tidak terbiasa diperlakukan seperti manusia biasa.
Kebanyakan orang terlalu hormat… atau terlalu takut.
Namun wanita ini berbicara padanya seperti mereka setara.
Dan Adrian menyukainya.
Suara langkah mendadak terdengar dari belakang.
“Tuan Adrian ternyata di sini.”
Beatrice muncul dengan wajah sedikit kesal ketika melihat Sekar berdiri dekat Adrian.
Tatapan matanya berubah tipis penuh penilaian.
“Oh,” ucapnya pelan. “Aku tidak tahu kalian saling mengenal.”
Sekar langsung membungkuk sopan.
“Permisi.”
Namun sebelum ia pergi, Adrian tanpa sadar menahan pergelangan tangannya.
Ruangan terasa sunyi sesaat.
Kulit Sekar terasa hangat di jemarinya.
Dan Adrian baru sadar apa yang ia lakukan ketika mata mereka bertemu.
Tatapan Sekar berubah terkejut.
Beatrice membeku.
Bahkan beberapa tamu mulai memperhatikan mereka.
Di lingkungan kolonial seperti ini, sentuhan sederhana antara bangsawan Belanda dan wanita pribumi bisa menjadi bahan gosip besar.
Adrian perlahan melepaskan tangannya.
“Maaf,” katanya pelan.
Sekar menunduk singkat lalu berjalan pergi meninggalkan mereka.
Namun Adrian masih memandang punggung wanita itu sampai menghilang di balik lorong.
Beatrice menatapnya tidak percaya.
“Kau serius?”
Adrian akhirnya mengalihkan pandangan.
“Apa maksudmu?”
“Itu perempuan pribumi.”
Nada suara Beatrice terdengar jijik.
Dan anehnya, Adrian langsung merasa kesal.
“Aku tahu.”
“Kau bahkan menyentuhnya di depan orang-orang.”
Adrian meminum anggurnya sampai habis.
“Lalu?”
Beatrice menatapnya tajam.
“Keluargamu tidak akan suka.”
Adrian tersenyum dingin.
“Sudah lama aku berhenti peduli.”
1 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.