
RAHASIA TANGAN TANGAN KOTOR
barak|Bersambung
- Jumlah kata
- 1.1K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
- Jumlah kata
- 1.1K

barak|Bersambung
Robin pemuda biasa yang hidup di tengah keluarga sederhana dengan cinta kasih yang utuh hanya dari ibunya. di tengah kota yang hiruk pikuk ibunya berjuang dan memperjuangkankan hidup Robin semampunya tanpa sosok ayah yang bertanggung jawab, ayahnya? hanya pulang untuk membuat onar. dari kecil Robin dipaksa melihat sosok ayah nya pemabuk berat, pulang sempoyongan tengah malam, membuat kegaduhan di lingkungan sekitar, saat ibunya mencoba membantunya untuk jalan dengan benar pun pada akhirnya tak luput dari tendangannya, yah dia juga seorang ayah yang sering melakukan kdrt pada istrinya. Robin sejak kecil bahkan ingin melenyapkan sosok ayahnya dari hidupnya namun tak mampu karena dialah ayah yang dicintai ibunya. memendam benci begitu dalam namun tak mampu meluapkan rasa, menyiksa Robin hingga membuatnya demam, kala itu Robin berusia sekitar 12 tahun, ibunya begitu hawatir karena demam Robin lebih lama dari biasanya. dibawanya ia ke dokter, obatpun tak mampu mengurangi demam tingginya. berhari hari robin tak sadarkan diri. ia koma. saat malam ia tersadar melihat ibunya terlelap disampingnya. ia mengusap rambut ibunya penuh kasih sesaat ia menyentuhnya, wangi aroma bunga mawar keluar dari tubuh ibunya. Robin bertanya tanya sejak kapan ibunya suka memakai parfum. belum terjawab pertanyaan dalam pikirannya, ibunya terbangun. tersenyum penuh sayang sekaligus bahagia melihat anak semata wayangnya tersadar, sang ibu mencium seluruh wajah Robin tanpa tersisa satu centi pun tertinggal. "nak jangan sakit lagi, ini sangat menyiksa ibu. kumohon" ucapnya sambil memeluk Robin erat. sejak itu ia memutuskan tidak ingin sakit untuk menyiksa ibunya. lalu tiba tiba..BRAKK..suara pintu terbanting, sang ayahnya lagi lagi rupanya mabuk datang melihat Robin di rumah sakit, untungnya kali ini dia tidak begitu mabuk. pikir Robin "bajingan ini masih tahu batasan juga". ayahnya mendekati Robin, seperti biasa menyodorkan tangannya untuk menyalami Robin. sesaat ia menyentuh tangan ayahnya, bau amis, seperti bangkai ikan menyeruak hidung Robin, ia sontak melepas tangan ayahnya untuk menutup hidungnya"sial tangan bajingan ini busuk amat" pikir Robin. sementara ayah dan ibunya memandang nya terheran. "kenapa kau ini" ucap ayahnya kasar. sementara ibunya mengusap kepala Robin " kenapa nak?' heran ibunya seperti tidak mencium apapun. sepergi ayahnya Robin dengan polosnya bertanya "ibu kenapa tangan ayah berbau begitu amis dan busuk seperti bangkai? apa karena ayah bau ibu memakai parfum saat ini?" ibunya terheran namun menjawab "bau apa nak, ibu tidak mencium bau apapun. rumah sakit ini hanya berbau obat bagi ibu". tiba tiba seorang perawat perempuan datang untuk memeriksa keadaan Robin, " begitu perawat menyentuh tangan Robin. aroma wangi bunga melati menyeruak hidung Robin. ia memejamkan mata menikmati aroma itu. "suster wangi sekali" celetuknya, sang suster terheran namun memilih diam. sementara ayahnya memandang penuh amarah dan jijik pada Robin. dia mencurigai sesuatu...
senja mulai menelan matahari diujung barat. Robin duduk tenang di atas kursi angkringan kopi yang menghadap bebas ke arah persawahan, ditemani kopi tubruk favoritnya, setiap Jumat ia duduk di tempat yang sama memandang matahari yang sama namun dengan isi pikiran dalam kepala yang berbeda.
seruputan kopinya tak mampu meredakan keributan dalam kepalanya, seperti ribuan lebah beterbangan di atas kepalanya. menerawang jauh memandang senja yang makin pekat pikirannya kembali pada kejadian kemarin petang.
"mas Robin..mas Robin" teriak Kayla bocah perempuan cilik tetangga rumahnya memanggil manggil namanya dari luar rumahnya "ada apa dek..?". bergegas Robin keluar rumah kearah sumber suara yang ia tahu betul suara siapa itu. ia melihat air mata sudah membasahi pipi wajah mungil nya, dan rambut sebahunya yang awut awutan lepek bercampur keringat. "mas ..mamaku..mamaku pingsan. tolongin." rengeknya sambil menarik tangan Robin. Robin bergegas menggendong Kayla berlari ke arah belakang rumah yang hanya terpisah oleh sungai. Robin berlari menyebrang jembatan kayu menuju rumah tetangganya itu.
rumah sederhana itu dibuka Robin dengan tergesa gesa. pemuda yang tinggi semampai itu sangat mengenali anggota keluarga rumah itu. ia melihat ibu Reni ibu Kayla sudah tergeletak jatuh di bawah kasurnya.
segera ia mengangkat tubuh ibu Reni dan menaruhnya di atas kasur nya, menepuk lembut pipi ibu Reni berharap ia akan tersadar namun ternyata hanya diam membisu. sejenak setelah Robin menyentuh tubuh ibu Reni, aroma wangi melati menabrak hidungnya. ia menghela nafas dalam. lalu mengangkatnya kembali keluar rumah menuju rumah bidan terdekat. orang orang kampung terbiasa mengandalkan keberadaan bidan kampung untuk pertolongan pertama.
"Kayla.. mas Robin bawa mamamu ke ibu bidan Yeti. kamu tunggu dirumah!" perintah Robin pada gadis cilik itu, dengan polosnya gadis kecil itu mengangguk patuh.
rumah bidan itu dibuka perawatnya setelah Robin berteriak untuk membuka pintu. dengan tergesa, Robin meletakkan Bu Reni di atas kasur pemeriksaan. wajah bu Reni semakin pucat Pasih tetap tidak sadarkan diri. "kenapa dia Robin?" tanya bidan Yeti " entahlah Bu bidan, Kayla hanya bilang mamanya sudah pingsan". bidan Yeti dengan sigap memeriksa pupil mata Bu Reni, dan denyut jantungnya.
Robin keluar ruangan memberikan keleluasaan Bu Yeti bertindak. Robin tahu Bu Reni sudah lama sakit sakitan. ia mengeluhkan mengidap gerd akut. tapi tidak pernah juga ia pingsan mendadak seperti ini. tiba tiba Kayla yang entah dari kapan berada diluar menghampiri Robin dengan bercucuran air mata. "mas Robin.. apa ibu akan sembuh?" tanya Kayla. Robin mengerti kehawatiran gadis berusia 8 tahun itu, selama ini ia begitu dekat dengan ibunya. sementara ayahnya bertabiat sama dengan ayah Robin sendiri, pulang tidak pulang semaunya. berusaha Robin menenangkan gadis cilik itu dengan mengusap air matanya dan berkata "Kayla sayang.. mas pikir mamamu akan membaik seperti biasanya..". "Kayla pergi kesini karena takut papa mas robin.papa barusan balik lagi dan marah marah lihat mama tidak ada dirumah". jelas Kayla. "papa Kayla tahu mama reni mas bawa ke bidan?" tanya Robin. "tahu mas, Kayla bilang mas Robin yang nolongin bawa mama ke bidan karena pingsan, tapi papa malah bentak Kayla dan marah marah". tak sempat Robin menanyakan kelanjutan cerita. ambulance rumah sakit berhenti di depan rumah Bu bidan.
bergegas petugas ambulance memasuki rumah Bu bidan Yeti yang ternyata untuk membawa Bu Reni ke rumah sakit. Robin memeluk gadis kecil itu yang ia lihat mulai terisak menangis melihat mamanya di bopong untuk ke rumah sakit besar.
Bu Reni juga mengikuti petugas ambulance dan masuk ke mobil tanpa banyak berkata. namun raut wajahnya penuh ketegangan. sekilas ia dan Robin berpandangan seakan akan berkomunikasi tanpa kata namun Robin memahami maksudnya. ini tidak bagus.
sore di hari yang sama dikabarkan kabar duka Bu Reni telah tiada. Robin mengikuti setiap prosesi pemakaman bu Reni tak sedikitpun menjauh dari Kayla yang tidak henti hentinya menangisi kepergian ibunya. ayah Kayla dengan raut muka sedih menyalami para pecinta takziah. namun Kayla tak mau ayahnya menyentuhnya sedikitpun "Kayla tidak mau sama papa.papa jahat" berulang kali Kayla berteriak histeris saat ayahnya hendak memeluk atau mengambil Kayla dari Robin. semua warga terheran heran dengan sikap Kayla yang tidak mau dengan ayahnya sendiri.
sehari setelah bu Reni tiada. pagi itu Robin kembali membawa Kayla pulang ke rumahnya namun ia menolak. ia menginap dirumah Robin semalaman menangisi mamanya tiada henti. ibu Robin. Bu Dewi juga turut prihatin dengan sikap Kayla namun juga mencurigai pernyataan Kayla yang secara mendadak membenci ayahnya.
"kasihan sekali anak ini rob.." kata ibunya subuh tadi. "ia baru saja bisa menidurkan matanya, benar benar kehilangan mamanya." Bu dewi pun tak kuasa menahan air mata atas gadis kecil tetangganya itu. "biarkan ia disini sementara buk..dia merasa tidak nyaman dirumahnya sendiri selama papanya disitu." balas Robin sambil menghisap rokoknya di depan teras rumahnya. Bu Dewi hanya mengangguk tak banyak bicara lalu kembali masuk ke dalam rumah.
Robin dengan pikirannya kembali mengingat aroma wangi itu. "Bu Reni.. ada apa denganmu? ketidak Adilan apa yang menimpamu? kenapa aroma melati itu keluar dari tubuhmu? " pikir Robin dengan banyak pertanyaan yang tidak bisa ia jawab. "Aku harus bertemu pak Rudi, kenapa Kayla tidak mau denganya?". kesal bercampur bingung berkecamuk dalam batin Robin.
siang itu tepat sebelum pak Rudi berangkat kerja sebagai ojol, Robin menghentikan langkah pak Rudi. dengan basa basi ia memberitahukan kondisi Kayla yang sudah mulai tenang tidur dirumahnya. dengan inisiatif Robin mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan tetangganya itu, pak Rudy dengan senyumnya yang ramah mengulurkan tangannya. sesaat tangannya menyentuh tangan Robin, terciumlah bau bangkai anyir, serupa bangkai ikan menyeruak menabrak hidungnya. dengan menahan nafas memaksa Robin tetap tersenyum padanya dan berkata " ibuk saya sangat sayang dengan Kayla, biarkan sementara ini dia ikut dengan kami sampai ia sendiri yang mau kembali." dalam benaknya. ia berkesimpulan. "kau bersalah pak Rudi...salah apa kau ini? adakah hubungannya dengan istrimu sendiri?". setelah berjumpaan singkat itu. Robin gelisah apakah harus mengungkapkan misteri kematian bu Reni ini atau hanya pura pura menganggap fakta kematian ini murni karena sakit yang di derita selama ini?
haruskah Robin kembali mengungkap misteri berdasarkan indra penciumannya yang tidak wajar seperti sebelum sebelumnya?. "sial, yang ini pun harus kuselesaikan, Bu Reni adalah tetangga sekaligus teman ibuku," pikir Robin.
kopi Robin dingin seperti udara disekitarnya. ia tersadar saat seseorang menyenggol bahunya. "mas Robin, tolong ditungguin angkringannya yah, Aku mau solat dulu ke surau seberang sawah sana" ucap Doni penjaga angkringan kepada Robin. sesaat itu aroma wangi bunga kenanga menyeruak hidungnya.
"dasar bocah polos ini, aromanya tak berganti dari dulu" batin Robin tersenyum kecil. "berangkat sana, tapi ntar gorengin aku tempe mendoan yah" canda robin. sambil menyeruput kembali kopi pahit dingin yang tetap saja diminumnya. dalam hatinya berkecamuk selama ini adakah yang bisa mencium aromaku? akankah Aku seharum bunga ibuku ataukah sebusuk ayahku?.
1 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.