
MISTERI DI BALIK GUNUNG TANGKIT TEBAK
papa_arrasya|Bersambung
- Jumlah kata
- 9.1K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
- Jumlah kata
- 9.1K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
Sinopsis
Namaku Alvin Rivaldo, pemuda asal Bukit Kemuning, Lampung Utara. Sejak kecil aku selalu memandangi Gunung Tangkit Tebak yang menjulang di belakang rumahku. Orang-orang kampung percaya gunung itu menyimpan rahasia yang tak boleh disentuh manusia. Konon, setiap puluhan tahun sekali, kabut hitam turun dari puncaknya. Mereka yang masuk ke dalam hutan saat kabut muncul tak pernah kembali. Sebagian mengatakan mereka dimakan makhluk gaib, sebagian lagi percaya mereka tersesat ke dunia lain. Aku tak pernah mempercayai cerita itu. Sampai suatu malam, ayahku menghilang ketika mencari damar di lereng gunung. Pencarian selama tujuh hari tidak menemukan jejak apa pun. Yang ditemukan hanya parang milik ayah, penuh goresan aneh, serta sebuah batu hitam berukir simbol yang belum pernah kulihat. Sejak hari itu hidupku berubah. Aku bersumpah akan mendaki Gunung Tangkit Tebak, menemukan ayahku, dan mengungkap rahasia yang selama ratusan tahun disembunyikan gunung itu. Namun aku tidak tahu... Bahwa gunung itu bukan sekadar gunung. Ia adalah gerbang.
Ulasan
1 ulasan
papa_arrasya
7/8/26 14:29
Novel misteri petualangan lokal yang wajib dibaca! Ceritanya tentang Alvin yang nekat mengungkap rahasia gelap di balik Gunung Tangkit Tebak, Lampung Utara, demi mencari ayahnya yang hilang secara misterius. Suasana mistisnya dapet banget, alurnya bikin penasaran terus di setiap bab, dan banyak teka-teki kuno yang menegangkan. Dijamin ketagihan bacanya!
bab 1 Gunung di Belakang Rumah
Namaku Alvin Rivaldo.
Aku lahir, tumbuh, dan menghabiskan sebagian besar hidupku di Bukit Kemuning, sebuah kecamatan di Kabupaten Lampung Utara yang dikelilingi oleh hamparan perkebunan kopi, lada, serta hutan hujan tropis yang lebat dan seolah tak berujung. Setiap pagi, udara dingin turun bersama embun tebal yang menyelimuti atap-atap rumah warga, sementara matahari perlahan-lahan merangkak naik dari balik perbukitan timur, memancarkan cahaya keemasan yang menghangatkan tanah pedesaan.
Dari halaman depan rumah kami yang sederhana, satu pemandangan selalu menjadi pusat perhatian dan mendominasi cakrawala.
Gunung Tangkit Tebak.
Puncaknya hampir tidak pernah terlihat jelas karena hampir sepanjang tahun diselimuti oleh kabut tipis yang misterius. Saat fajar menyingsing, kabut itu tampak berwarna keemasan. Menjelang siang, warnanya berubah menjadi putih kebiruan yang kontras dengan hijaunya pepohonan di lereng bawah. Namun, ketika malam tiba, gunung itu berubah wujud menjadi siluet bayangan raksasa yang gelap dan menjulang tinggi, seolah sedang mengawasi seluruh aktivitas penduduk kampung dengan mata tak kasat mata.
Sejak kecil, aku adalah anak yang memiliki rasa penasaran yang tidak ada habisnya. Aku sering berdiri di beranda rumah sambil memandangi puncak gunung itu, lalu bertanya kepada ayah yang sedang menyeruput kopi hangatnya.
"Yah, kenapa orang-orang kampung tidak pernah ada yang berani mendaki sampai ke puncaknya?" tanyaku kala itu, ketika usiaku masih sepuluh tahun.
Ayah hanya tersenyum tipis, meletakkan cangkirnya perlahan, lalu menepuk kepalaku.
"Karena tidak semua tempat di bumi ini diciptakan untuk didatangi manusia, Alvin," jawab ayah dengan suara tenang yang selalu menenangkan.
Jawaban itu tak pernah bisa memuaskanku. Aku tumbuh menjadi pemuda yang lebih suka menjelajah alam bebas ketimbang bermain bola di lapangan dusun. Sepulang sekolah, aku sudah biasa menyusuri jalan setapak di antara kebun kopi, menghafal setiap aliran sungai kecil, bukit-bukit terjal, dan lekukan lembah di sekitar kampung kami.
Namun, ada satu garis batas yang tidak pernah berani kulewati.
Hutan lebat di lereng bawah Gunung Tangkit Tebak.
Bukan karena aku dikuasai rasa takut yang berlebihan. Melainkan karena sejak kecil, para orang tua di dusun selalu menanamkan aturan-aturan ketat yang diturunkan dari generasi ke generasi. Peringatan itu diulang-ulang setiap kali kami bermain terlalu dekat dengan batas hutan:
* "Jangan masuk ke dalam hutan itu terlalu jauh."
* "Kalau kabut hitam mulai turun dari puncak, segeralah berlari pulang."
* "Dan kalau di tengah malam kau mendengar seseorang memanggil namamu dari arah pepohonan, jangan pernah sekali-kali menjawabnya."
Awalnya, aku mengira kalimat-kalimat itu hanyalah cerita dongeng seram yang sengaja dibuat oleh para orang tua agar anak-anak kecil tidak tersesat di dalam hutan lebat.
Sampai akhirnya, sebuah peristiwa nyata meruntuhkan semua keraguanku dan mengubah cara pandangku terhadap gunung tersebut untuk selamanya.
Saat usiaku menginjak lima belas tahun, seorang pencari madu liar bernama Pak Hasan pergi ke dalam hutan lereng gunung bersama dua orang temannya. Mereka hanya berniat mengambil sarang lebah hutan yang bergelantung di dahan pohon besar. Menjelang sore hari, dua orang temannya kembali ke dusun dengan napas tersengal-sengal dan wajah pucat pasi.
Pak Hasan tidak ikut pulang.
Mereka bersumpah di hadapan kepala dusun bahwa di tengah pencarian, Pak Hasan tiba-tiba berjalan melangkah pergi begitu saja, mengikuti sesosok bayangan berpawang putih yang melintas di dalam lebatnya semak belukar. Padahal, saat itu di dalam hutan sama sekali tidak ada orang lain selain mereka bertiga.
Tim pencari gabungan dibentuk oleh warga dusun. Mereka menyisar kawasan lereng gunung selama tiga hari berturut-turut tanpa kenal lelah.
Namun, yang ditemukan di dekat aliran sungai kecil hanyalah sebuah keranjang rotan milik Pak Hasan.
Isi keranjang itu masih utuh, penuh dengan sarang madu liar, tetapi pemiliknya lenyap tanpa jejak seolah ditelan bumi. Sejak hari itu, suasana di sekitar dusun berubah drastis. Tidak ada lagi pemburu babi hutan yang berani memasang jerat di dekat lereng gunung. Bahkan para petani kopi memilih memutar jalur perjalanan mereka jika kebun mereka berbatasan langsung dengan kaki gunung tersebut.
Kini, usiaku sudah menginjak dua puluh tiga tahun.
Hari-hariku kuhabiskan untuk membantu ayah mengurus perkebunan kopi milik keluarga, dan sesekali mencari getah damar di pinggiran hutan untuk dijual ke pasar kecamatan. Kehidupan kami berjalan sederhana, tenang, dan damai di antara keramahan warga Bukit Kemuning.
Ayah adalah sosok lelaki paruh baya yang sangat dihormati. Beliau pendiam, jarang bicara banyak, tetapi selalu bertindak tepat dalam situasi apa pun. Beliau tahu persis bagaimana membaca tanda-tanda alam, kapan musim panen kopi tiba, dan bagaimana mengenali arah angin di pegunungan.
Suatu pagi, ketika kami sedang sibuk memetik buah kopi yang sudah berwarna merah di lereng bukit, ayah tiba-tiba menghentikan pekerjaannya. Beliau berdiri tegak, mematung, lalu memandangkan pandangannya lurus-lurus ke arah utara—ke puncak Gunung Tangkit Tebak.
Wajah ayah yang biasanya tenang seketika berubah tegang. Kerutan di keningnya semakin dalam.
"Alvin," panggil ayah dengan suara berat.
"Iya, Yah? Ada apa?" tanyaku heran, meletakkan keranjang petik di atas tanah.
"Kau lihat puncak gunung itu?"
Aku mengikuti arah pandangnya. Jantungku langsung berdegup sedikit lebih cepat.
Di atas sana, langit yang tadinya cerah mendadak dikelilingi oleh gulungan awan aneh.
Kabut hitam.
Bukan kabut putih tipis seperti biasa. Warnanya kelabu pekat, legam, dan perlahan-lahan bergerak turun menggulung lereng gunung dengan kecepatan yang tidak wajar.
"Itu... kabut apa, Yah?" tanyaku cemas.
Ayah langsung merespons dengan cepat. Beliau mencengkeram keranjang kopinya lebih erat, lalu menatapku dengan sorot mata mendesak.
"Kita pulang sekarang. Jangan banyak tanya."
Untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku melihat ayah benar-benar dilanda kepanikan yang nyata. Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, beliau berjalan cepat meninggalkan area kebun, menuruni jalan setapak menuju rumah.
Setibanya kami di halaman rumah, ibu yang sedang merapikan jemuran langsung menyambut kami dengan wajah penuh tanya.
"Ada apa, Pak? Kenapa kalian pulang cepat sekali?"
Ayah menjawab singkat, napasnya masih sedikit memburu. "Kabutnya turun lagi."
Ibu yang biasanya tegar seketika terdiam. Tangannya yang memegang kain jemuran terhenti. Malam itu, suasana di seluruh dusun Bukit Kemuning terasa sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada anak-anak kecil yang berlarian bermain di jalan tanah. Tidak ada suara orang dewasa bercengkerama sambil meminum kopi di warung balai dusun. Pintu-pintu rumah warga ditutup rapat lebih awal dari biasanya. Bahkan anjing-anjing penjaga yang biasanya menggonggong bersahutan di malam hari mendadak membisu seribu bahasa. Keheningan malam itu terasa sangat pekat dan mencekam.
Menjelang tengah malam, aku terbangun dari tidurku karena merasa ada sesuatu yang janggal.
Aku mendengar suara langkah kaki di luar rumah.
Pelan. Berat. Diseret di atas tanah basah, seolah seseorang sedang berjalan mengitari dinding luar kamar tidur kami.
Aku beranjak pelan dari tempat tidur, berjalan mengendap-endap menuju jendela kayu, lalu mengintip melalui celahnya.
Di halaman luar, di bawah temaram cahaya bulan, tidak terlihat siapa-siapa. Kosong.
Namun, di atas permukaan tanah berlumpur di bawah jendela, tercetak sebuah jejak kaki.
Ukuran jejak itu sangat besar. Jauh melampaui ukuran telapak kaki manusia normal. Bentuknya lebar dengan cakar-cakar dalam yang menancap di tanah.
Sebelum aku sempat mencerna apa arti jejak itu, sebuah suara lirih berbisik pelan dari arah kegelapan di belakang rumah.
"Alvin..."
Seluruh darahku mendadak berdesir dingin. Tubuhku membeku di tempat.
Suara itu terdengar sangat jelas, lembut, dan familier.
Mirip sekali dengan suara ayah. Padahal, aku tahu persis ayah sedang tidur lelap di kamar depan.
"Alvin... buka pintunya..." suara itu kembali memanggil.
Tanganku tanpa sadar terulur hendak mendorong daun jendela. Namun, di detik-detik terakhir, ingatanku berkelebat pada peringatan warga dusun yang sudah mendarah daging:
*Kalau ada seseorang yang memanggil namamu dari kegelapan hutan di tengah malam... jangan pernah menjawabnya.*
Aku menarik napas dalam-dalam, menelan ludah dengan susah payah, lalu menutup rapat-rapat daun jendela kayu itu.
Esok paginya, saat matahari terbit, jejak kaki besar di tanah halaman itu telah lenyap tanpa bekas, seolah tak pernah ada. Ayah tidak mengatakan sepatah kata pun ketika kuceritakan kejadian malam itu. Beliau hanya menarik napas panjang, menatap kosong ke luar jendela.
Dan sore harinya, takdir hidup kami benar-benar berubah ketika ayah memutuskan pergi ke lereng gunung untuk mencari damar, membawa serta kalung kayu berukir misterius yang kemudian menyeretku ke dalam pusaran rahasia terbesar di Gunung Tangkit Tebak.
Daftar bab
7 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








