Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Alvin Perang Antar Malaikat

Alvin Perang Antar Malaikat

Heru Author | Bersambung
Jumlah kata
134.6K
Popular
818
Subscribe
191
Novel / Alvin Perang Antar Malaikat
Alvin Perang Antar Malaikat

Alvin Perang Antar Malaikat

Heru Author| Bersambung
Jumlah Kata
134.6K
Popular
818
Subscribe
191
Sinopsis
FantasiIsekaiPertualanganPahlawanAnak Yatim Piatu
Alvin menghabiskan masa kecil hingga remajanya di sebuah panti asuhan bernama Haven. Pria itu merasa kemalangan hidupnya adalah sebuah kutukan dan dia tak henti-hentinya menyalahkan Tuhan atas semua itu. Alvin itu sama sekali tidak tahu, bahwa apa yang dia sebut kemalangan itu sebenarnya adalah sebuah kamuflase untuk menjaga dirinya agar tetap hidup! Alvin bukanlah seorang pria biasa seperti yang dia kira selama ini. Di dalam dirinya terdapat rahasia yang bisa mengguncang surga, maupun neraka!
Bab 1 (Avin)

Mendung menggelayut di langit kota Miandi, Alvin baru saja menyelesaikan pekerjaan sehari-harinya di Panti Asuhan, saat Rina, teman sepantinya datang memberi tahu bahwa dia dipanggil oleh Ibu Kepala Panti agar segera menghadap di kantornya. "Alvin, apalagi yang kamu lakukan kali ini Bocah usil?" tanya anak perempuan yang menjadi sahabat dekat bocah itu.

Dia hanya mengangkat bahunya sambil meraih ember yang baru saja dia gunakan untuk membawa baju-baju yang sudah di jemur dibawah sinar matahari yang enggan menampakkan wajahnya hari ini.

"Kamu selalu saja menuduh yang tidak-tidak! Memangnya aku saja yang suka berbuat usil disini?" Alvin balas bertanya sambil tertawa.

Dia dan Rina memang adalah biang kerok berbagai macam kenakalan yang sering terjadi di panti. "Berhentilah bercanda, aku benar-benar khawatir. Ibu Kepala Panti terlihat sangat serius dan agak cemas!”

"Benarkah? Kalau begitu aku harus cepat-cepat menyelesaikan pekerjaanku dan pergi menghadap Ibu Kepala Panti" tak urung bocah itu menjadi cemas juga mendengar ucapan Rina.

"Tidak, kamu tak harus menyelesaikan pekerjaanmu, karena Ibu Kepala Panti mengharapkan agar kamu segera menghadap sekarang ini juga!" suara Rina terdengar mendesak.

Malah hanya membuat hati Alvin menjadi tambah cemas. Pria kecil itu lalu meletakkan ember yang sedari tadi di pegangnya, lalu melangkah tergesa menuju ke arah bangunan utama Panti Asuhan yang sudah 14 tahun ini menjadi rumahnya. Sejak kecil, Alvin sudah kehilangan Ayah dan Ibunya dalam sebuah kecelakaan mobil yang mengerikan. Pada saat itu, Alvin masih berumur 4 tahun. Mungkin bagi sebagian orang, usia seperti itu masih terlalu kecil bagi seorang anak untuk mengingat hal-hal yang terjadi dalam hidup mereka. Tapi tidak dengan Alvin.

Anak laki-laki itu kadang terbangun ditengah malam dengan keringat yang bercucuran di sekujur tubuhnya, karena dia bermimpi buruk tentang kecelakaan malam itu. Dia tak bisa mengingatnya dengan jelas, tapi potongan-potongan kejadian itu selalu menghantui tidur malamnya. Teriakan Ayah dan Ibunya, sekelebat sinar terang yang menyilaukan dari arah depan, bunyi benturan mobil, hingga darah yang berceceran, semua itu menjadi penghias tidur malam Alvin. Anak laki-laki itu sangat tersiksa.

Sesaat setelah kejadian kecelakaan itu terjadi, Alvin terbangun di sebuah kamar Rumah Sakit yang bersih dan berbau desinfektan sangat tajam. Hal yang pertama di lihatnya adalah seorang wanita berusia kira-kira seumuran dengan Ibunya. Dia memakai blazer dan rok hitam dengan baju dalaman berwarna coklat muda dan sepatu senada.

Wanita itu ditemani oleh seorang polisi, dan seorang wanita berkulit hitam, yang nantinya setelah Alvin berusia lebih tua, dia tahu bahwa wanita itu adalah seorang psikolog anak. "Mana Ibu dan Ayahku?" Alvin mengajukan pertanyaan normal yang sudah pasti akan ditanyakan oleh seorang anak saat melihat orangtuanya tidak ada.

Ketiga orang dewasa itu saling memandang dengan tatapan prihatin, seperti ingin bertanya, siapa diantara kita yang akan menyampaikan kabar buruk ini? Tentu saja sang Psikolog Anak, bukankah itu sudah tugasnya? Dan memang dia yang pada akhirnya membuka suara.

"Namamu Alvin, ya?" tanya wanita itu dengan lembut. Bocah itu hanya mengangguk pelan. Kecelakaan yang lumayan parah itu entah mengapa hanya melukainya dengan sebuah goresan di lutut, yang membuatnya mendapat 3 jahitan. Bahkan bekas luka itu sekarang hampir tak terlihat. Lalu kalimat-kalimat penghiburan deras mengalir setelah dia memberitahu selembut mungkin tentang keadaan Ayah dan Ibu Alvin. Mereka sudah meninggal.

Alvin kecil hanya terisak. Saat itu dia bahkan belum tahu apa arti 'Meninggal'. Tapi wanita berkulit hitam memberi tahu dia secara panjang lebar bahwa dia tak akan lagi pernah bisa menemui Ayah dan Ibunya. Bocah kecil itu menangis sejadi-jadinya, lalu menatap ketiga orang didalam kamar Rumah Sakit itu dan bertanya,

"Ibu dan Ayah ku mana?"

Ketika orang dewasa itu hanya saling memandang lalu terdiam dalam keheningan yang tidak nyaman. Mereka tak tahu harus berkata apa lagi.

Tiga hari berikutnya, Alvin yang masih bingung, di bawa keluar dari Rumah Sakit. Seseorang membawakannya baju baru yang terlihat rapi juga formal berwarna hitam, sepatu senada, serta sepasang kaos kaki putih pendek yang memiliki renda di sekeliling atasnya.

Perawat Rumah Sakit membantu dia untuk mandi dan berpakaian, setelah itu dia di naikkan ke kursi roda, lalu di bawa menuju ke depan lobby Rumah Sakit, di mana sudah menunggu sebuah mobil semi Limousine berwarna hitam yang membawanya pergi ke suatu tempat yang suram. Mereka membawanya ke sebuah kompleks Pekuburan yang sunyi, di mana dia terpaksa melihat upacara pemakaman kedua orangtuanya. Dia bahkan tak di ijinkan untuk melihat wajah mereka berdua yang terakhir kalinya!

Bocah kecil itu merasa sangat hancur. Dia baru berusia empat tahun, dan harus melihat kedua orang yang sangat la cintai, yang selalu menjaga dan menyayanginya sejak bayi, perlahan dimasukkan ke dalam liang lahat. Dia tak akan bisa melihat mereka lagi untuk selama-lamanya.

Semua orang menatapnya dengan penuh rasa kasihan, namun tak ada yang bisa merasakan kepedihan di dalam hati seperti yang Alvin kecil rasakan. Semua kemalangan itu hanya sebuah awal dari kemalangan-kemalangan berikutnya, karena setelah itu dia mulai mengalami begitu banyak keburukan dalam hidupnya.

Alvin kecil lalu dibawa oleh petugas dari Dinas Sosial untuk tinggal di sebuah Panti Asuhan yang berada di pinggiran kota. Bangunan tua berusia kira-kira sudah seratus tahun lebih menjadi rumah pertama Bocah itu. Pada awalnya, Alvin merasa sangat senang, karena melihat ada begitu banyak anak-anak yang berusia sama dengannya disana. Dia pikir, bahwa dia pasti akan memiliki banyak teman, dan mereka bisa bermain dan bersenang-senang bersama.

Ternyata perkiraan bocah itu meleset jauh dari yang dia pikirkan. Panti Asuhan tua itu malah lebih mirip seperti sebuah penjara. Di kelola oleh sepasang suami-istri yaitu Tuan dan Nyonya Rushman, Panti Asuhan itu memiliki tanah pertanian di bagian belakang seluas 25 hektar, yang penuh dengan berbagai macam tanaman, serta sebuah kandang besar berisi 100 ekor sapi perah.

Anak-anak yang berusia mulai dari sepuluh tahun keatas ditugaskan untuk bekerja di ladang, mengurus ternak sapi dan juga pekerjaan rumah tangga, sedangkan anak-anak dibawah umur sepuluh tahun bertugas untuk mengurus anak-anak yang masih bayi dan belum bisa mandiri. Alvin kecil agak sedikit beruntung, karena Anak laki-laki itu masuk dalam kategori 'usia netral', dimana anak-anak berumur seperti dia di nyatakan terlalu kecil untuk bisa bekerja di ladang, dan belum cakap untuk mengurus bayi. Jadi mereka hanya dibiarkan begitu saja, bebas untuk bermain, meski sesekali oleh kakak-kakak panti yang mengurus bayi di mintai pertolongan seperti mengambil popok atau baju bayi.

Untung saja ada Sister Agnes, kepala pengurus anak-anak yang baik hati dan selalu menolongnya dalam setiap kesulitan yang Alvin temui. Wanita berwajah teduh itu selalu membela Alvin bahkan saat dia melakukan kesalahan di sepanjang masa hidupnya di Haven!

Lanjut membaca
Lanjut membaca