

*bab 1*
Dosakah aku yang menyukai wanita lain, disaat aku sedang menjalin hubungan. Namun perasaan ini semakin jauh tertanam bersama dengan semakin indahnya dirimu.
Di kantin sebuah perusahaan percetakan terbesar di Jakarta.
“Gab,,, lu yakin membatalkan acara pertunanganmu dengan Ray?” tanya salah satu teman Gaby, saat mereka sedang makan siang bersama.
“selama ini aku tidak benar benar menyukainya, jadi untuk apa aku melanjutkan sandiwara ini.” jawab Gaby.
“maksud kamu, selama ini perasaanmu terhadap Ray hanya pura pura.” Rani masih tidak paham dengan perkataan Gaby.
Gaby yang masih asyik dengan makan siangnya, tidak peduli dengan pertanyaan Rina.
“Gab, lu jangan gila deh. Ray begitu menyukaimu, gak mungkin lu hanya mempermainkan dia kan.” Rani mulai sedikit emosi dengan rekan kerjanya itu.
“Ran, Dua tahun buat aku udah cukup bermain main dengan Ray. Lagian sudah setahun ini aku bersama dengan orang lain yang lebih aku cintai daripada Ray.”
“maksudmu.? kamu berselingkuh dari Ray.?” Rani tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Gaby hanya tersenyum, menjawab pertanyaan Rani. Kemudian menghabiskan es jeruknya dan beranjak dari kursinya.
“ayo kita kembali, ada yang harus aku kerjakan. aku ingin segera menyelesaikan pekerjaanku agar aku bisa pulang lebih cepat. Aku ada janji dengan Robin.”
Rani kemudian juga beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mengikuti teman kerjanya sekaligus roommatenya itu. “setelah ini, jangan libatkan aku dengan segala urusan percintaan mu.” ucap Rani kesal.
Saat berjalan di belakang Gaby, Rani melihat Ray yang duduk tidak jauh dari mereka. Rani yang terkejut hampir saja menyebut nama Ray, namun Ray segera menggelengkan kepalanya untuk tidak memberi tahu Gaby.
Ray, Gaby dan Rani adalah rekan kerja disebuah perusahaan percetakan terbesar dan ternama di kota Jakarta.
Rani adalah seorang Design grafis, sedangkan Gaby adalah seorang marketing. Sedangkan Ray, tidak ada yang tahu posisi dia sebenarnya di perusahaan.
Terkadang Ray mendapatkan proyek untuk pembuatan iklan, yang artinya dia juga seorang marketing. Terkadang juga dia juga membantu Rani untuk membuat Design jika Rani mengalami kesulitan dalam menemukan ide dan tidak jarang juga Ray membuat perencanaan untuk diajukan ke perusahaan yang sedang membutuhkan konsultasi.
Benar benar tidak ada yang tahu posisi Ray di perusahaan tersebut, hingga banyak orang yang memiliki pemikiran bahwa Ray hanyalah pekerja freelance atau serabutan di perusahaan percetakan tersebut.
Saat baru duduk di kursinya, ponsel Rani berdering. Sebuah notifikasi dari pesan whatsapp masuk.
dari Ray, batin Rani
‘jangan mengatakan apapun kepada Gaby.’
‘aku sudah mendengar semua percakapan kalian tadi.’
‘aku ingin tahu yang sebenarnya.’
‘jadi tolong bantu aku’
Beberapa pesan yang dikirimkan oleh Ray kepada Rani.
‘baik.’
jawab Rani, membalas singkat.
Saat mendekati jam pulang, Ray mendatangi meja kerja Gaby yang kebetulan ada di seberang meja kerja Rina.
“Gaby, ayo kita makan malam bersama. Aku akan mengajakmu ke tempat makan mie ayam biasanya.” ajak Ray.
Gaby yang sedang asyik berbalas pesan dengan seseorang terkejut dengan kemunculan mendadak ray, yang kemudian dengan spontan membalikan layar ponselnya agar Ray tidak melihatnya. Namun tanpa Gaby sadari bahwa Ray sudah berada di belakangnya beberapa menit sebelumnya.
“eeh, sayang.. Aduh maaf sekali, hari ini aku sudah ada janji dengan Rina akan ke mall bareng. Ini aku akan mengirim pesan ke kamu, eh taunya kamu udah ada di sini. Benar kan Ran.?” ucap Gaby meminta persetujuan dari Rani.
Rani yang sebelumnya tidak tahu menahu dengan rencana Gaby, tentu saja kelabakan bingung harus menjawab apa kepada Ray.
“kapan kita akan pergi bareng.?” jawab Rani dengan bingung, memandang ke arah dua orang yang saat ini ada di depannya.
“ih Rani, bukannya tadi waktu makan siang kita udah janjian akan ke mall setelah pulang kerja ini.” ucap Gaby meyakinkan dengan memainkan matanya ke arah Rani.
Hal itu tentu saja membuat Rani bingung, karena Rani tidak merasa membuat janji dengan Gaby, dan lagi hari ini dia harus menjemput adiknya yang akan datang ke tempat kosnya untuk berkunjung.
“udah iih jangan bercanda mulu, udah jam lima nih, ayo kita berangkat.” ucap Gaby sembari berdiri dan menarik tangan Rina agar segera membantunya pergi dari hadapan Ray.
“sayang maaf ya,,, kamu telat sih ngajak janjian akunya. Besok deh aku janji bakal nemenin kamu makan mie ayam favorite kita, okay.” Gaby berusaha merayu Ray dengan bergelayut manja di lengan kekar pria itu agar tidak curiga..
“Gaby, sudah satu minggu ini kita gak pulang bareng. Kamu kenapa sih.?” tanya Ray, masih berusaha bersikap biasa saja.
“maaf ya sayang, aku banyak kerjaan di minggu minggu ini, jadi harus berangkat ke kantor pagi pagi sekali. Aku Tidak Ingin merepotkanmu, jadi aku naik motor sendiri saja.” jawab Gaby manja.
“aku tidak pernah merasa direpotkan kamu kok, lagian selama ini kita juga udah sering berangkat dan pulang bareng kan. Kecuali kalau memang aku lagi dinas keluar kota.” ucap Ray.
“gapapa sayang, aku juga gak mau jadi cewek yang terlalu manja. Jadi tidak ada salahnya kan, kalau sekarang aku bawa motor sendiri. Kan kita masih bisa bertemu di kantor.” ucap Gaby meyakinkan Ray.
Tidak ingin membuat keributan, Ray akhirnya menyudahi percakan mereka dan membiarkan Gaby pergi..
“baiklah kalau kamu maunya begitu. Besok pagi aku akan menjemputmu, okaiy.” ucap Ray.
“baiklah kita bertemu besok pagi. Kita duluan ya sayang, Byee…” Gaby berpamitan kepada Ray dan menarik lengan Rani untuk menjauhi Ray.
Ray hanya menatap keduanya pergi meninggalkannya.
Saat mata Ray masih memperhatikan kedua orang yang memasuki lift, seorang gadis mendekatinya.
“apakah masih menyimpan kecurigaan kepadanya.?” tanya gadis yang saat ini sudah berdiri tepat di samping Ray, yang juga memperhatikan kedua gadis yang sedang memasuki lift.
Tanpa menoleh ke arah gadis yang ada di sampingnya, Ray menjawab.
“kecurigaanku semakin besar, tapi aku belum memiliki bukti.” jawb Ray.
“kenapa kau tidak langsung menanyakan kepadanya saja.”
“aku tidak ingin membuat hubungan kami menjadi tidak nyaman, sebelum aku menemukan bukti.”
“bukankah saat ini, kau sudah merasa tidak nyaman.?” tanya gadis itu.
Mendengar pertanyaan itu, Ray memalingkan wajahnya menatap gadis yang ada di sampingnya.
“Mika, kalau kau menjadi aku apa yang akan kau lakukan.?” tanpa menjawab pertanyaan Mika, Ray memberikan pertanyaan balik kepada gadis yang ada di sampingnya.
“aku tidak tahu, karena aku tidak berharap berada di posisimu.” jawab Mika, sambil berjalan ke arah pantry untuk membuat coklat hangat untuk dirinya sendiri.
“memang selama ini kau tidak pernah punya masalah dengan pasanganmu.?” tanya Ray, sambil mengikuti langkah Mika.
“aku tidak pernah punya masalah dengan pasanganku. Karna aku tidak punya.” jawab Mika sambil memberikan kopi untuk Ray.
“terima kasih.” ucap Ray menerima kopi dari Mika.
“serius, selama ini kau tidak punya pacar.?” Ray bertanya dengan nada tidak percaya.
“kenapa reaksimu seperti itu.?” tanya Mika sembari duduk di samping Ray.
“Mika, kau cantik dan mempunyai karir yang bagus, kenapa kau tidak punya pacar.? apa seleramu terlalu tinggi.?” tanya Ray, sembari memperhatikan Mika dari atas hingga kebawah.
“bisa jadi seleraku adalah CEO tampan dan tajir melintir, tapi sayangnya aku bukan selera mereka.” Mika menjawab dengan asal.
“hahahaha… Kau hanya terlalu fokus bekerja, cobalah bersosialisasi, mungkin kau akan menemukan mereka.” Ray tertawa dan mencoba memberikan solusi untuk Mika.
“kau kira aku tidak pernah bersosialisasi.? kau kira aku ini hidup di goa.?” tanya Mika dengan kesal.
“ooiya…?” Ray bertanya dengan nada tidak percaya.
“ikut aku setelah ini.” ucap Mika, misterius.